
William meminta adiknya Willy untuk bertemu, ia harus memberitahukan kabar bahagia ini, masih teringat jelas dalam ingatannya sang adik yang kala itu di tinggalkan di panti masih balita, sehingga ia tak pernah melihat wajah mamanya dan terus menangis karena mencari mama.
Hingga akhirnya si kecil William yang mengasuh dan merawat Willy di bantu oleh ibu pemilik panti asuhan.
William kecil tidak membiarkan orang lain merawat Willy karena ia ingat pesan mamanya bahwa di dunia ini tidak ada manusia yang benar-benar baik dan tulus.
kalaupun ada hanya segelintir dan jangan mudah percaya orang.
Sebagai seorang anak kecil berusia tiga tahun setengah, seharusnya William masih bersikap kanak-kanak, namun ia dewasa sebelum usianya, sehingga ibu panti yang kasian membawa mereka berdua ke rumahnya.
membuatkan William kecil menjaga adiknya, menggantikan popok adiknya atau membantu membuatkan susu formula setelah ibu panti menyiapkan di botol susu dan air panasnya, karena tak mungkin anak sekecil itu bisa melakukanya sendiri.
sifat keras kepala dan kegigihan William untuk menjaga adiknya membuat ibu panti terenyuh.
Walau ibu panti sudah memberikan kasih sayang utuh, tak semudah itu William membuka diri, walau tak sepenuhnya menolak, hingga pada suatu saat pasangan Baskoro dan Ratih yang sengaja merayakan ulang tahun anaknya datang ke panti asuhan yang letaknya di luar kota itu, di tanah kelahiran Ratih
Setelah melihat kedua keponakanya, Ratih meminta izin suaminya untuk mengadopsi mereka dan merekapun di boyong ke Jakarta, sementara Ratna mama mereka masih trauma dan bersembunyi dari kejaran Jimmy Chou
"Woi, ngapain loe bengong, lagi mikir umur ya???" ucap Willy langsung menyambar minuman William dan menyeruputnya tanpa rasa bersalah
"Adik laknut loe, ayo ikut gue ke suatu tempat" ucap William bangkit
"Kak, loe ngajak ketemuan di cafe kenapa gak minum dulu kek, makan dulu kek, mending ketahuan janjian di pinggir jalan suek" gerutu Willy tersungut-sungut
"Astaga Willy, kita bertemu bukan untuk kencan, ini masalah serius" ucap William kesal, namun akhirnya tak tega juga melihat muka melas Willy, William akhirnya kembali duduk dengan malas
"Loe yang terbaik kak, gue cinta loe" ucap Willy manja
"Najis, dah cepat sana mau order apa??"
"Loe traktir ya kak?"
"Loe udah kerja kan?? masih minta traktir gue?" cibir William
"Sekali-kali loe juga uang banyak gak di pake buat apa-apa, anak gak punya, pacar juga gak punya apalagi istri, jomblo menahun" ucap Willy gantian menyindir kakaknya
"Loe niat banget ya menghinanya dasar adik durhaka" ucap William kesal
Sementara Willy hanya terkekeh tak perduli dengan kakaknya yang marah, ia sudah kebal dengan Omelan William. Willy tahu kakaknya Hanya berusaha bersikap keras dan tegas, namun jauh di dalam lubuk hatinya, William kakak yang baik dan penyayang.
"Gak mau pergi pesan juga????" ucap William menggeleng lalu menyodorkan dompetnya.
Willy tanpa ragu langsung mengambilnya, ia senang sekali melihat William marah.
Willy menyayangi kakaknya karena hanya dia keluarga yang ia miliki
__ADS_1
"Will, pesankan juga cake yang anak-anak serta yang orangtua suka, buat yang orangtua jangan yang terlalu manis sama minuman sekalian" ucap William terdiam, ia menggerakkan jari tangannya menghitung membuat kening Willy mengkerut bingung
"Belikan 6 minuman yang satu yang aman buat orangtua" ucap William kembali berkutat dengan ponselnya
"Kak, loe mau ke rumah siapa?? papa???
gue lagi gak mau kesana ada nenek lampir" protes Willy
"Udah cepet sana, ingat pesanan gue.
loe beli apa aja sesuka loe, pake aja kartu ATM gue, debet aja dari sana jangan pake cash, biar kalau ada perlu kakak bisa pakai" ucap William tanpa menoleh.
Willy sangat penasaran, namun ia urung bertanya karena percuma saat William sudah sibuk dengan ponselnya, ia akan berbicara dengan angin saja tanpa di hiraukan William
Dengan malas ia berjalan menuju meja kasir, berjalan ke showcase panjang yang memajang aneka desert.
Willy ingat William memintanya membelikan dua buah cake untuk anak-anak dan orangtua.
Awalnya ia memilih triple coklat slice namun mengingat kata anak-anak dan jumlah minuman, akhirnya pilihannya pada cake ukuran besar, lalu untuk orangtua dia berkonsultasi dengan pelayan cafe cake yang sesuai di berikan untuk orangtua, pilihannya jatuh ke cake jadul, carot cake.
Willy tak tahu apa itu sesuai atau tidak, ia juga membeli puding yogurt jaga-jaga jika pesanan dia tak sesuai mau William, lagi pula uang kakaknya itu, ia sengaja memesan banyak, kapan lagi mengerjai kakaknya.
Senyum jahat Willy muncul
Setelah selesai memesan, ia mengambil minumannya dan duduk dengan manis.
"Loh mana pesanan yang gue minta???"
"Emang mau ga di bungkus kerdus??? sabar bro, lagi di bereskan tuh" ucap Willy menyantap puding caramel nya sambil menyeruput leci tea pesanannya
William.hanya menghela nafas pelan, ia tak mau banyak komentar.
Willy meletakkan dompetnya serta struk pembelian, William hanya melihat sekilas, lalu ia sedikit penasaran berapa adiknya mengerjainya
"Willy, beli apa saja sampai dua juta??? tanya William menatap adiknya
"Cih banyak uang aja pelit, makanya belum kawin sampai sekarang.
Cepat cari pacar biar uangmu bisa di hambur-hamburkan kak, Aku hanya membantumu sedikit memakai uangmu itu, biar bermanfaat" ucap Willy ngeles, walau dalam hatinya bersorak Sorai senang karena untuk satu Minggu ke depan, ia tak perlu khawatir sarapan paginya.
Ia sengaja tadi meminta pelayan membungkus beberapa jenis croissant untuk di bawa pulang ke apartemennya
William kembali menggelengkan kepalanya melihat kelakuan adiknya
"Ayo cepat, kita perlu menjumpai seseorang yang ingin bertemu denganmu"
__ADS_1
"Denganku??? siapa?" tanya Willy menghentikan makannya
"Cepat habiskan makan mu" ucap William tak sabaran.
ia langsung bangkit dan berjalan menuju pintu keluar
"Kak pesanan kuenya bagaimana???" tanya Willy kesal kakaknya jalan duluan tanpa menunggunya
"Kau bawa semua" ucap William santai dan memilih berdiri di depan cafe menunggu adiknya mengambil pesanan mereka
Willy terlihat cemberut karena harus membawa empat tantangan plastik, dua dua cake, satu puding, dan minuman, di tambah lagi pesanan croissant untuk dirinya, sehingga tampangnya yang awalnya cool kadis seperti pesuruh William.
William sengaja mengerjai adiknya, ia tersenyum licik melirik Willy
"Itu balasan untuk adik yang mulutnya lemes" gumam William tertawa dalam hati
"Kak bantu bawa satu sih, gue susah nih" protes Willy mengikuti William menuju mobilnya
"Masuk, loe ikut mobil gue, biar mobil loe di bawa sama mang Maman ke apartemen loe, tuh kunci titip sama orang cafe sana"
"Loe mah, mobil gue baru kak, gimana kalau ilang.
lagian itu orang cafe mana bisa dipercaya" gerutu Willy menatap nanar mobil kesayangannya
"Tenang saja , cafe itu milikku" ucap William santai"
"Whaaaattt, terus gue tadi kenapa harus bayar?? kalau begitu apa gue bisa sering datang dan membawa beberapa croissant dari cafe loe kak??? disini desert nya enak-enak" Willy sengaja memuji kakaknya untuk mendapat keuntungan
"Gue owner saja membeli, bagaimana bisa loe yang bukan siapa-siapa gratis?" sindir William lalu langsung masuk ke dalam mobil
"Gue adik loe Will, gue ingatkan, mungkin aja loe lupa" sindir Willy kesal
"Tanpa terkecuali adik manis, semua yang makan dan minum harus bayar, bisnis is bisnis" ucap William santai
"Cepat, gue gak punya banyak waktu, jangan biarkan beliau menunggu loe" ucap William mulai kesal.
Tak lama seorang pelayan cafe menghampiri, William meminta kunci mobil Willy dan mengatakan sesuatu yang di balas anggukan hormat pelayan tersebut, lalu William melajukan kendaraanya meninggalkan cafe tersebut.
Assalamu'alaikum,
Hallo para reader ku tercinta
maaf beberapa hari ini author sangat sibuk jadi gak sempat upload chapter terbaru
semoga chapter ini bisa memuaskan kalian semua
__ADS_1
terima kasih
pooh