
"Maafkan kami nek, awalnya kami ingin merahasiakan ini. Tapi Karen nenek sudah tahu kami akan beritahu pada nenek.
Sebenarnya saat kami melakukan pemeriksaan lengkap, kami mendapati bahwa....
Nenek Ratih menderita tumor otak, mungkin awalnya tak berbahaya, namun sepertinya tumornya berkembang karena ada suatu zat yang memicunya.
Kami menduga karena obat yang nenek Ratih konsumsi.
Semoga tumor itu hanya bersifat jinak, sehingga setelah pengangkatan kondisinya akan berangsur membaik." ucap Davina
"Amiinnn ya Allah, semoga kakakku bisa melewati semua cobaan ini dengan ikhlas"
"Amiinn" ucap Davina lirih.
"Nenek tolong jaga nenek Ratih, aku sedang menanti dokter yang akan mengoperasi nenek Ratih dan Axel.
kondisi Axel juga kritis.
Aku perlu membahas beberapa hal dengan para dokter itu"
"Baik nenek mengerti nak, kamu jangan lupa makan.
Nenek tahu seharusnya kami para orang tua yang mengurus semua, tapi semuanya kamu yang mengurus di usiamu yang....
Maaf dan terima kasih" ucap Ratna menatap cucunya sambil menggenggam tangan Davina
"Aku akan melakukan apapun untuk keluargaku nek, nenek jangan merasa terbebani, hanya saja kebetulan aku yang bisa melakukanya"
"Nenek percaya padamu" ucap Ratna menepuk-nepuk punggung tangan Davina.
"Sebentar lagi papa akan sampai, jadi nenek gak sendirian menunggu nenek Ratih, aku pamit dulu nek.
Jika ada sesuatu, nenek tinggal menelpon ku" ucap Davina mencium punggung tangan Ratna
"Kami juga pamit nek" ucap Daffa dan Daffi tiba-tiba muncul di dekat mereka
"Baiklah, hati-hati di jalan"
"Baik nek. Assalamu'alaikum" ucap mereka bertiga
"Wa'alaikum salam"
Di lapas perempuan
Sebastian sedang menatap sedih mamanya yang makin hari makin kurus, Rasanya hatinya sakit melihat wanita yang melahirkan ya terlihat menderita, namun tidak bagi Deswita.
Deswita kini memakai hijab. Hari ini Sebastian datang membawakan beberapa pakaian muslim dan juga hijab instan serta beberapa keperluan Deswita lainnya.
Deswita sudah terlihat ikhlas menerima semua, berbeda dengan mamanya beberapa bulan lalu.
Sebastian juga memberitahu berita penangkapan Jimmy Chou pada mamanya, walau bagaimanapun mamanya harus tahu juga.
"Alhamdulillah akhirnya pria itu di tangkap, mama lega" ucap Deswita dengan air mata yang tiba-tiba menetes dari sudut matanya
__ADS_1
"Mama sedih untuk pria itu???" tanya Sebastian tak suka
"Nak, bagaimana mama bisa sedih, pria itu adalah pria yang menghancurkan hidup mama, namun juga pria yang menjadi papamu"
"Cukup ma, aku tak mau dengar" ucap Sebastian mengepalkan jarinya menahan emosi
"Suka atau tidak suka itulah kenyataanya.
Mama senang karen akhirnya kejahatannya bisa berakhir. Semoga dia bisa bertaubat di hari tuanya.
Sebenci apapun kamu pada pria itu,dia tetap papa kandungmu nak, temui lah dia bukan berarti kau harus membantunya. Mama mau dia merasa bersalah yang dalam karena menelantarkan mu" ucap Deswita penuh kebencian
Namun ekspresinya berubah tak kala ia teringat putrinya, putrinya dengan Baskoro, dimana dia??? mengapa tak ikut Sebastian menjenguknya??? apa ..
anaknya itu pasti malu memliki seorang ibu kriminal, Deswita tak seharusnya berharap lebih untuk bertemu dengan Sania. Mengetahui putri kandungnya hidup saja ia harus bersyukur.
Mungkin jika Tuhan mengizinkan, ia harus mengucapkan terima kasih langsung pada Ratih yang telah membesarkan dan mendidik putrinya dengan penuh kasih sayang.
"Ma, Tian tahu mama memikirkan adik kan??
Sania belum siap ma, bukan karena dia tidak perduli.
Sania masih shock dengan semua kenyataan yang bertubi-tubi. harap mama mengerti"
"Mama mengerti nak, mama mengerti" ucap Deswita tersenyum
"Sania saat ini sudah berada rumah utama. Tapi kondisi mentalnya masih terguncang, di tambah mama Ratih juga masih sakit"
"Apa Ratih baik-baik saja nak??? bagaimana kondisinya??? mama ingin meminta maaf padanya nak"
"Semoga Allah mengangkat semua penyakitnya dan di beri kekuatan menjalaninya" ucap Deswita agamis.
Sebastian tersenyum dalam hatinya bersyukur mamanya menyadari kesalahannya, walau terlambat namun itu lebih baik daripada sudah terlambat saat pintu taubat tertutup menjelang ajal di depan mata.
"Alhamdulillah ya Allah, engkau bukakan pintu hidayah pada mama hamba, semoga mama bisa belajar dari kesalahannya dan memperbaiki diri" dia Sebastian dalam hati.
Sementara Karen Chou yang mengetahui kakaknya masuk penjara terlihat lesu dan tak bergairah.
Ia tak menyangka kejahatan makanya akhirnya terbongkar juga, Karen menyesali kesalahannya.
Jika saja ia tak terbongkar dan membungkam mulut Deswita selamanya, ia tak akan mungkin menyeret Jimmy Chou kakak tiri yang lebih seperti papa pengganti baginya.
Ia sungguh membenci Deswita, sangat membenci wanita liar itu.
gara-gara wanita itu pula Ratih yang seharusnya mati karena racun nya masih bisa bernafas sekarang.
Jika bukan karena wanita itu, ia pasti sudah menjadi wanita sah Baskoro, gara-gara wanita itu pula ia harus mendekam di penjara dan kehilangan cinta Baskoro.
Karen membenci Deswita sampai ke tulang sumsumnya.
Jika Karen diberikan kesempatan untuk bertemu Deswita, ia ingin menghabisi wanita itu dengan tangannya sendiri.
Kebenciannya pada Deswita sudah berada di tingkat dendam kesumat.
__ADS_1
Karen saat ini di tempatkan di ruang isolasi karena ia terus saja membuat ulah dan kegaduhan, ia belum pernah bertemu Deswita walau mereka sama-sama dalam satu rumah tahanan.
Mungkin jika mereka bertemu akan fatal bagi Deswita karena selain Karen jago memanipulasi orang, ia juga jago bela diri. sehingga jika terjadi pergulatan tentu bisa di pastikan bahwa Deswita akan babak belur di buatnya.
Sementara semua orang sudah berkumpul di ruang perawatan Ratih, tak terkecuali Sania.
Ratih memeluk Sania dan menangis dalam pelukan putri kesayangannya itu.
Walau Ratih dan Ratna saudara kembar, namun ada kecanggungan yang Ratih rasakan.
Ratih tak merasa nyaman meluapkan emosinya, hanya Sania yang membuatnya nyaman.
Hal itu wajar saja mengingat hubungan ibu dan anak itu.
mereka sudah melewati dua puluh tahun kebersamaan.
"Ma, istighfar.
Papa, maksud aku pria itu memang jahat.
Semoga dengan hukuman ini dia bisa bertaubat" ucap Sania tak tahu harus berkata apa
Sania mengerti bagaimana perasaan mamanya saat ini, itu pula yang ia rasakan, gamang.
Sania merasa pikirannya kacau.
Ia ingin menangis, berteriak, marah, memaki, tapi pada siapa??? toh semuanya sudah terjadi.
Pagi tadi Sebastian mengajaknya bertemu dengan mama kandung mereka, namun Sania belum siap.
Sania belum siap bertemu wanita yang merupakan mama kandungnya,.
Sania masih belum mempercayai kenyataan jika Ratih bukan mama kandungnya.
Sania sudah mendengar semua kejadian yang terjadi dalam keluarga besar Baskoro dan keluarga Ayudia.
Semuanya saling terkait satu dengan yang lainnya.
Kenyataan yang terungkap serba tiba-tiba dan membuatnya bingung.
Ia juga belum bisa menerima kenyataan itu sepenuhnya, bahwa mamanya seorang residivis dan dalam tahanan.
Sania butuh waktu untuk menguatkan hatinya, tapi tidak dalam waktu dekat ini.
Ratih sedang dalam kondisi yang tidak baik, ia tak mau beranjak walau selangkah pun dari Ratih.
Empat hari kemudian Dokter George mengoperasi wajah Axel. wajah Axel semakin parah, jika terlambat mengoperasinya dan mengangkat jaringan yang terinfeksi maka Axel akan selamanya cacat.
Demi itu pula Davina siang malam bergadang mencari obat untuk mengeringkan luka wajah Axel dan mengurangi kecanduannya, dan setelah dua hari Davina baru keluar dari lab nya dan membawa ramuan untuk luka infeksi Axel.
setelah itu ia tumbang selama dua hari, Baru hari ini ia keluar dari kamarnya dan langsung terlibat dalam operasi Axel.
Operasi ini sedikit berisiko karena Axel masih dalam pengaruh kecanduan narkotika, namun demi keselamatan Axel, Davina memutuskan akan tetap menjalankan operasi tersebut dengan catatan ia ikut dalam team dokter yang akan mengoperasi Axel.
__ADS_1
dan setelah Lima jam operasi yang mencengangkan akhirnya operasi Axel berjalan lancar dan perbannya baru bisa di buka dua Minggu kemudian.
Sementara satu hari sebelumnya Dokter Jhonson yang merupakan ahli bedah terkemuka mengoperasi tumor di kepala Ratih.