(Anak Genius) YANG TERBUANG

(Anak Genius) YANG TERBUANG
Hukuman Ernest


__ADS_3

Pagi itu hanya Ayudia , ketiga anaknya dan Arjuna yang sarapan pagi, sementara Adhi dan Khadijah memilih menikmati sarapan mereka di kamar, terlebih Khadijah mengalami kesulitan karena ulah suaminya yang di picu obat dari Angelo.


tak jauh berbeda dengan Adhi, Ernest dan suaminya pun menikmati sarapan pagi mereka di kamar, namun tak ada suara yang terdengar dari kamar Angelo, entah hukuman apa yang Ernest berikan pada suaminya itu.


Yang jelas semua orang tahu jika Angelo sedang di hukum, walau tak tega namun jika tak di beri pelajaran kakek usil itu akan mengulangi keusilannya lagi lain kali.


Sepanjang hari Angelo tidak keluar dari kamar, hanya Ernest yang untuk mengunjungi Khadijah.


saat melihat anak angkatnya pucat, Ernest melirik pada anak menantunya yang terlihat menunduk malu.


"Apa kau bahkan tidak bisa menahan sedikit, ini sangat menyakitkan untuk putriku, mengingat ini pertama kalinya" ucap Ernest tanpa menoleh ke arah Adhi


"Maaf ma"


"Ma, ini bukan salah mas Adhi, itu sudah kewajiban aku" ucap Khadijah merona merah karena malu


"Biar akan ku panggilan dokter memeriksa kondisimu" ucap Ernest menghela nafas


"Tidaaak" teriak Adhi dan Khadijah bersamaan.


Adhi yang tak mau istrinya di periksa oleh dokter keluarga, sementara Khadijah yang malu aib nya di ketahui orang membuat Ernest menggelengkan kepala tahu pemikiran anak dan menantunya.


"come on, aku juga tahu aturan, aku akan meminta Gladys memeriksanya, dia dokter kandungan wanita" ucap Ernest


"Ma... itu"


"Diam dan ikuti mama, apa kau mau organ mu ku bermasalah dan bagaimana kau melayani suamimu jika ..."


"Mama, stop,. aku ikut kata mama" ucap Khadijah yang merasa wajahnya merah seperti kepiting rebus.


Ernest orang yang blak-blakan bahkan mengenai maslaah ranjang, ia akan menasihati Khadijah tanpa lihat tempat.


Karena baginya edukasi untuk Khadijah yang di nilai lugu adalah penting.


walau Khadijah sudah berumur, ia tak pernah pacaran. jadi Ernest yakin seratus persen Khadijah Mash virgin dan awam urusan itu


"Sayang mengapa kau harus malu, Disni Hany ada suami mu dan mama.


ya sudah mama mau kembali ke kamar, papamu sedang menjalani hukumannya"


"Ma, jangan terlalu keras pada papa" ucap Khadijah merasa kasian. ia tahu hukuman apa yang Ernest berikan pada suaminya


"Ku selalu saja lunak pada papamu yang nakal itu, padahal gara-gara tua Bangka itu kau sampai tidak bisa jalan"


"ma..."


"Baiklah, baiklah mama pamit.


ingat kau harus puasa seminggu, awas kalau kau colek putriku sebelum ia sembuh benar" ancam Ernest membuat Adhi gelagapan


"Aku gak Bernai ma" ucap Adhi kemudian.


setelah Ernest pergi Adhi baru menghela nafas, rasanya beban dirinya lenyap


"Memangnya apa hukuman yang mama berikan???" tanya Adhi penasaran


"Itu, sebaiknya kau tak usah tahu" ucap Khadijah menhan tawa tapi juga kasian di saat bersamaan.


walau Adhi penasaran ia tak mencecar istrinya.


Seluruh keluarga sedang berkumpul di ruang keluarga, mendengarkan Davina sedang menyanyi, gadis kecil itu ternyata memiliki talenta menyanyi, anehnya saat berbicara suaranya seperti Kaleng rombeng, tapi saat menyanyi mengapa suaranya menjadi merdu???


semua bertepuk tangan setelah Davina menyanyi.


"Pa, apa papa melihat kakek?? sudah dua hari kakek tidak keluar" tanya Ayudia penasaran


"Itu, papa juga gak liat.


nenekmu sedang menghukumnya" ucap Adhi tersenyum puas


"Kira-kira hukuman apa yang nenek berikan sampai kakek gak keluar ya pa?"


"Papa juga sebenarnya penasaran.


mamamu tahu, tapi dia tak mau memberitahu papa.


Papa sih sedikit khawatir nenekmu sosok yang tegas, papa takut kakekmu menerima hukuman berat"


"Dia pantas mendapatkannya, papa lihat anak papa menganiayamu sampai....mmmppphhmmm" mulut Arjuna di bekap oleh ayudia kedua bola matanya melotot marah pada Arjuna.

__ADS_1


lalu matanya melirik pada ketiga anaknya yang menoleh ke arah mereka.


Arjuna hampir melupakan keberadaan putra dan putrinya.


Arjuna menaikkan tangannya mengerti


"Kau mau mati???" ucap Ayudia menatap marah


"Maaf aku lupa sayang, jangan marah-marah kau menggemaskan"


"Kau mantu menjijikkan" ucap Adhi langsung pergi mendengar gombalan Arjuna


" Pa, mau kemana??" tanya Arjuna tersenyum puas, ia sengaja demikian di depan mertuanya dengan maksud menggoda Adhi.


"Bukan urusanmu, memalukan" ucap Adhi membuat Arjuna tertawa terkekeh


"Kau tahu sayang Papamu pura-pura malu, tapi percayalah padaku, papa pasti belajar dari aku cara menaklukan mama"


"Kau tahu, kau suami memalukan"


Bugh


Ayudia melempar bantal sofa ke arah Arjuna


"Loh salahku dimana??? apa papa dana mamanya sedang datang bulan? huh sensi sekali seperti pinggiran bisul" ucap Arjuna lirih


"Salah papa adalah karena saat pembagian malu, papa datang belakangan sehingga tidak kebagian" ucap Daffa melenggang pergi


"Apa maksud bocah itu....


apaaaa dia mengatakan aku tak tahu malu, apa dia anakku???" tanya Arjuna seolah bertanya pada dirinya sendiri


"Apa papa tidak bisa bercermin? kak Daffa duplikat papa dari segala hal.


aku perpaduan mama dan papa sementara Davina duplikat mama sepenuhnya.


Tapi yang tidak ku tahu, dari mana kegenitan Davina??? apa itu menurun dari papa??" tanya Daffi menatap papanya


"Tidak mungkin, papa rasa mamamu genit ketika kecil dulu"


"Benarkah???" tanya Daffi menatap papanya


"Papa, kak Daffi, apa kalian sedang menggunjing ku?


telingaku panas" teriak Davina


"Kau terlalu banyak menonton sinetron gadis kecil, ayo kita jenguk nenekmu" ajak Arjuna


Setelah sampai depan kamar mertuanya, Arjuna menyuruh Davina mengetik pintu kamar Adhi, jika ia yng melakukan, sudah pasti Adhi akan mengomelinya


"Kakek, buka pintu" ucap Davina menggedor pintu kamar kakek dan neneknya


"Davina??? kok tumben ke kamar kakek???"


"Atu mau jenguk nenek, yuk pa" ajak Davina menarik tangan Arjuna, Adhi ingin memprotes, namun ia hanya bisa menyingkir dari depan pintu, memberi jln Arjuna dan kedua anaknya


"Nenek, atu Lindu"


"Ah sayang nenek, kamu jenguk nenek ya?" Davina mengangguk cepat, ia memeluk Khadijah dan menghadiahkan Khadijah dengan ciuman di pipinya


"Kata papa nenek sakit dan gak bisa jalan karena lecet, atu juga kalau jatuh lecet, mana atu tiup bir cepat sembuh nek???"


"Ucapan Davina membuat Arjuna langsung membekap mulut putrinya, bagaimana dia bisa mengatakan ingin meniupnya, jadi Davina mengira Khadijah terjatuh


Davina membuka selimut Khadijah dan memperhatikan kaki Khadijah


"Enggak jatuh, lecetnya mana nek???"


Khadijah merasa wajahnya Semerah tomat, sangat malu, ia tak tahu harus menjawab apa pada cucunya


"Anu, itu..."


"Nenek butuh istirahat, ayo kita pergi sayang" ajak Arjuna yang melihat tatapan membunuh Adhi


"Loh mas, Davina dan Daffi di kamar papa ya???


"Iya aku mau obati nenek, dia...."Arjuna membekap mulut anaknya, khawatir jika Ayudia akan mengamuk karena berbicara sembarangan pada putrinya


"Davina sayang, sebaiknya Davina sama nenek ya, Daffi juga, papa sama mamamu serta kakek ada perlu" ucap Arjuna menarik Adhi dan Ayudia keluar kamar

__ADS_1


"Kamu mu apa sih mas, aneh tarik-tarik" ayudia menghempas tangan arjuna


"Lepasin, apa kamu mau sama pecat jadi mantu.


lain kali kalau memberi alasan pada anakmu yang masuk akal.


Khadijah lecet tapi bukan jatuh.


Ayudia papa heran ya suamimu ini benar-benar bikin emosi papa"


"Kamu beneran ya mas, masa bilang lecet segala, pasti Davina mau meniup lukanya seperti yang biasa aku lakukan" ucap Ayudia sewot


"Itu, iya hehehe"


"Sudah sana mending kamu ngapain kek, jangan ganggu papa "


"Pa, pa tungguuu," ucap Arjuna menahan tangan Adhi


"Mau apa lagi sih kamu?? papa lagi kesel ya sama kamu"


"Kan aku dah minta maaf pa, papa hobby ngomel sih"


"Apa kamu bilang??" tanya Adhi kesal


"Aaaauuuwww sakit, sakit yank lepasin


"Tutup mulut mas kalau cuma bisa buat kesal"


"Pa lihat anak papa kejam, KDRT"


" Papa dukung nak, suamimu harus di beri pelajaran." ucap Adhi senang


"Astaga anak sama.bapak sama-sama macam"


"Apa kamu bilang mas???" tanya Ayudia


"Ah kamu salah dengar, mas ga bilang apa-apa kok" Arjuna menggaruk kepalanya yang tak gatal, mertua dan istrinya sama-sama galaknya


"Pa, sayang, apa kalian tidak penasaran dengan hukuman apa yang nenek berikan pada kakek???


aku sangat penasaran, pasalnya kakek sampai tidak keluar dari kamarnya walau sebentar sejak nenek menghukumnya.


ya walau kakek sedikit usil dan tidak berfikir panjang, tapi apa yang kakek lakukan juga tidak terlalu buruk"


ucap Arjun tersenyum penuh arti


"Apa kau membela kakek mas???" tanya Ayudia tak senang.


"Sebenarnya maksud kakekmu tak salah, hanya caranya yang salah" Adhi menimpali


"Ah baiklah, ayo kita tengok kakek sedang apa, sebenarnya ku juga sedikit khawatir" ucap Ayudia pada akhirnya


Mereka berjalan menuju kamar kakek dan neneknya yang berada di lantai dasar, Ayudia mengetuk pintu kamar, tak lama kemudian keluarlah Ernest


"Nenek, bolehkan kamu masuk??" tanya Ayudia yang di balas anggukan Ernest


Begitu mereka masuk terlihat sosok yang tak asing sedang duduk di kursi malas dengan rajutan di tangannya, dan memakai daster Ernest


Ayudia melongo tak percaya, sementara Arjuna tertawa terbahak-bahak melihat penampilan Angelo.


pria karismatik dan angkuh itu kini berubah seperti wanita tua yang sedang merajut.


nampak kuku tangannya di cat merah menyala seperti kuku tangan Ernest


Adhi ingin tertawa, namun ia masih bisa menahan karena khawatir mertuanya akan marah.


"Kakek???? sejak kapan kau transgender???" tanya Ayudia tak bisa menutupi keterkejutannya.


Arjuna makin tertawa sampai air matanya keluar, hukuman neneknya ternyata lebih sadis dari apapun.


pantas saja Pria tua itu tak berani keluar kamar jika tampilannya seperti ini


"Tutup mulut Kalian dan keluar" bentak Angelo yang tertangkap basah dalam mode hukuman.


"Bukankah dia sangat imut??"


"Maaf nek, itu bagi nenek, tapi bagi kami....." Ayudia langsung tertawa


"Kau seperti nenek tua yang membosankan kek" celetuk Ayudia membuat Angelo melotot

__ADS_1


__ADS_2