
"Pa, ini benar-benar kak Ayu ....!!!!!" pekik William
"Amankan situasi, jangan sampai ada yang tahu jika Ayu pingsan, dan jangan sebut nama Ayu, ingat disini namanya Jovanka, jangan buka penyamarannya.
Papa rasa ia punya alasan kuat untuk menutupi jati dirinya dan juga papa punya alasan juga untuk tidak membocorkan jati dirinya, papa harap kamu bisa menyimpan rahasia ini untuk sementara waktu dan urus kedua sekertaris ku agar bungkam, beri mereka insentif yang besar untu tutup mulutnya"
"Baik pa" ucap William lalu keluar dari ruangan Baskoro
William langsung briefing dengan dua sekertaris direksi yang bertugas di ruangan Baskoro, ia langsung mengarahkan semuanya agar apa yang terjadi di ruangan ini menjadi rahasia ruangan ini, jika sampai beritanya bocor keluar, sudah di pastikan mereka akan kehilangan pekerjaan mereka, dan Baskoro akan memback list orang tersebut, sehingga untuk mendapatkan pekerjaan di luar sulit.
Bukankah itu sama saja membuat mereka terlantar tanpa pekerjaan???
Setelah membereskan semua, William kembali masuk ke dalam ruangan Baskoro, ia melihat Baskoro yang masih terlihat panik, ia beberapa kali menghela nafas, menghalau perasaanya yang campur aduk.
William lalu duduk di samping papa angkatnya dan menenangkannya.
"Pa, Ayudia sebentar lagi juga akan siuman, ia hanya shock" ucap William yang di balas anggukan lemah Baskoro.
Sementara kedua mata tua itu tak pernah lepas memandang menantunya yang sudah lama hilang itu, perlahan Jovanka mengerjapkan mata beberapa kali.
Pandangannya yang kabur berlangsung kembali mendapatkan fokusnya, melihat Baskoro di ruangan itu, seketika kesadarannya kembali. Jovanka langsung bangkit duduk dan terlihat pucat pasi, ketakutan.
tangannya meremas blouse yang ia pakai karena panik
Baskoro mengerutkan keningnya bingung, pasalnya reaksi Jovanka bukan di buat-buat seolah ia sedang amat sangat ketakutan, seolah ia adalah orang jahat yang akan mencelakainya
"Ya Allah sebenarnya apa yang terjadi pada Ayu??? mengapa reaksinya seperti itu??? sepertinya ia sudah mengalami suatu kejadian yang amat menyakitkan sehingga ia trauma" gumam Baskoro dalam hati, tanpa sadar ada kabut di kedua mata tuanya
"Aaa.. aku mohon, lepaskan aku pa, aku berjanji akan berhenti bekerja disini dan aku pastikan kalian tidak akan melihatku lagi, aku mohon selamatkan aku kali ini saja pa, aku mohon lepaskan aku.
Anak-anakku, ah maksudku aku akan meninggalkan kota ini sejauh mungkin jika itu yang papa inginkan, tapi aku mohon jangan bunuh aku" ucap Jovanka langsung berlinangan air mata.
"*Apa ???? siapa yang mau membunuh ayu??? apa kepergiannya karena diancam akan di bunuh???? siapa yang melakukannya??? apakah wanita itu???” gumam Baskoro dengan mulut terbuka karena terkejut mendengar ucapan Jovanka .
__ADS_1
Baskoro dan William saling pandang,keduanya luar biasa terkejut kali ini dengan bola mata melotot seperti ingin keluar saking terkejutnya*
Sementara dalam pikiran Jovanka melayang kepada ketiga buah hatinya yang masih kecil, ia tak akan rela mati dan meninggalkan mereka seorang diri.
Bagaimana ketiga anaknya dapat hidup tanpa dirinya???
Jovanka ingin hidup dan melihat ketiga buah hatinya tumbuh besar, rasa ketakutannya membuatnya rela melakukan apapun asal papa mertuanya melepaskannya.
Jovanka sampai bersimpuh di kaki Baskoro sambil menangkup kedua telapak tangannya, Baskoro dan William yang masih belum hilang keterkejutan mereka, melihat apa yang di lakukan Jovanka keduanya amat terkejut dan langsung bangkit dari duduk mereka, mencoba membangunkan Jovanka
"Nak, nak Ayu, tenangkan dirimu.
Siapa yang mengancam mu?? sebenarnya apa yang terjadi padamu nak???, jelaskan sama papa pelan-pelan" ucap Baskoro bingung,
sementara William membantu Jovanka bangkit dan mendudukkan Jovanka disebelah Baskoro, tubuh Jovanka mengigil ketakutan, ia sungguh amat ketakutan, pertemuannya dengan Baskoro di luar prediksinya
Sebenarnya Jovanka sudah memprediksi bakal bertemu keluarganya atau keluarga mertuanya, namun tidak pernah menyangka jika pria tua yang menjadi mertuanya ini memiliki mata yang sangat jeli hingga mampu mengenalinya walau ia sudah merubah rambut, kulit wajah yang ia buat lebih gelap, warna mata pun ia sudah tutupi dengan memakai soft lens sebelum ia pakai kacamata tebal sebagai tambahan penyamarannya, lalu bagaimana Baskoro bisa mengenalinya semudah ini, apa ia sudah gagal dalam kelas make up nya????,
Willian menyodorkan segelas air putih, walau Jovanka awalnya nampak ragu, akhirnya ia menerima air tersebut setelah memastikan William tak terlihat memiliki niat jahat pada dirinya, ia baru menerimanya dan langsung menenggak air tersebut untuk membasahi
"Dengar nak, papa menemui mu karena papa memang mencari mu.
papa dan William tidak punya maksud jahat padamu, papa bersumpah demi nama orangtuamu yang merupakan sahabat papa"
Jovanka masih terdiam, mencari kebohongan dari kata yang di ucapkan Baskoro, nyatanya ia tak melihat ada keraguan di sana, begitu juga Willian, pria itu terlihat bingung dan khawatir secara bersamaan
"Bisa kamu ceritakan apa yang terjadi sebenarnya??? papa merasa ada hal besar di balik menghilangnya kamu nak" ucap Baskoro mencoba mengorek informasi dari Jovanka
"Apa yang akan papa lakukan jika sudah tahu???" tanya Jovanka balik
"Papa berjanji akan membantu mu mendapatkan keadilan"
"Apa ucapan papa bisa di pegang??? bagaimana jika orang yang dekat dengan papa yang membuatku menghilang???? Apa papa masih tetap bisa memegang ucapan papa???” tanya Jovanka menatap tajam Baskoro
__ADS_1
"Apa yang harus papa lakukan untuk membuatmu percaya???” tanya Baskoro balik
"Tak Ada" ucap Jovanka singkat
"Baiklah, papa akan mati jika papa mengingkari ucapan papa" ucpa Baskoro dengan penuh keyakinan
"Papaaaa....." ucap William tak senang papanya bersumpah demi nyawanya, Jovanka juga terkejut dan menggeleng pelan
"Aku gak berharap papa berkata demikian juga, aku percaya papa" ucap Jovanka lirih, ia merasa bersalah sudah meragukan papa mertuanya, namun pengalaman pahitnya yang hampir merenggut nyawanya membuatnya harus berhati-hati dengan siapapun,.
"Papa mengerti kekhawatiran mu, papa seorang pengusaha dan selalu memegang omongan papa nak" ucap Baskoro
"Baiklah pa, aku akan mengatakan semuanya"ucap Jovanka melirik William
"Tenang saja, dia juga adik iparmu, dia bisa di percaya" ucap Baskoro yang melihat pandangan mata Jovanka
"Adik ipar, bukankah dia...?????”
"Nanti papa akan jelaskan semuanya,
sekarang ceritakan apa yang terjadi padamu” tanya Baskoro tak sabaran
"Baiklah pa, enam tahun lalu, malam itu....” Jovanka mulai menceritakan semuanya secara detail kejadian yang menimpanya.
Di sela ceritanya , ia sempat berhenti lama karena Baskoro yang pucat pasi dan sangat shock mendengar penuturan Jovanka, setelah memberinya minum, Baskoro masih bersikeras ingin mendengar cerita lengkapnya dari Jovanka, ia harus mengetahui semuanya sehingga ia bisa memutuskan jalan apa yang harus ia tempuh untuk membantu menantunya
"Astaghfirullah, Ya Allah dosa apa yang telah aku lakukan hingga memiliki istri seperti dia??? wanita itu, ah bukan, dia lebih tepat iblis , benar-benar kejam.
Papa akan menjebloskannya ke penjara" ucap Baskoro bangkit namun William menahannya
"Pa, jangan gegabah, kita tidak punya bukti" ucap William mengingatkan ayah angkatnya
"Ya Allah, maafkan papa nak, papa tahu dosa papa padamu begitu besar , seharusnya papa mencari mu sejak dulu, maafkan papa, huhuhu.
__ADS_1
Adhi maafkan aku sudah mencelakakan putri semata wayang mu, maafkan aku" ucap Baskoro lalu Baskoro jatuh pingsan karena terlalu shock dengan berita yang ia terima, lagi-lagi William meminta dokter Rahmat