(Anak Genius) YANG TERBUANG

(Anak Genius) YANG TERBUANG
Pembalasan Davina


__ADS_3

Daffa dan Daffi menghela nafas setelah mendapat informasi terbaru, lebih tepatnya ada seseorang yang berbaik hati memberikan informasi itu cuma-cuma.


Karena penasaran keduanya berusaha mencari sumber informasi tersebut, dari mana berasal, namun semuanya sia-sia.


mereka bekerja terlalu rapih dan terperinci.


Dalam dokumen yang di kirim itu, terdapat berapa fakta yang sangat mengejutkan bagi mereka semua,


ini mengenai Minah, mengapa wanita. paruh baya itu menderita tekanan jiwa, siapapun mungkin akan bernasib sama jika berada di posisi Minah


Walau Daffa dan Daffi kurang suka pada wanita itu, mereka tak urung juga merasa kasian.


Mungkin Minah bersalah karena membawakan makanan yang sudah di beri racun, tapi ia di bawah tekanan Deswita, sehingga itu semua tak murni kesalahan Mirna.


#Flash Back on


Tujuh tahun lalu setelah Minah merasa bersalah, ia memilih kabur dari kediaman Baskoro secara diam-diam.


Selama ini ia bertahan demi ibunya yang sakit-sakitan dan membutuhkan uang, tapi jika ia tahu bahwa makanan yang ia bawa adalah Racun, ia tak kan pernah mau membawa makanan tersebut ke kamar Ayudia.


pasalnya Deswita mengatakan itu hanya obat sakit perut, Deswita mengatakan bahwa ia ingin memberi menantunya pelajaran.


Walau Minah enggan dan merasa kasian, ia bisa apa??


Minah hanyalah seorang pembantu rumah tangga yang mengadu nasib di kota besar.


Ketika malam Minah sedang mengambil minum di dapur, ia tanpa sengaja mendengar suara bisik-bisik Parno dengan yang ia paham benar majikan perempuannya, Minah bersembunyi di sudut gelap dapur yang tak terlihat, Parno yang membopong sesuatu yang besar, Minah langsung menebak itu adalah manusia.


di tambah iy mendengar gumaman pelan Parno yang melewati pintu, yang mengatakan jasad, kasian, perasaan Minah langsung tak enak.


Setelah Parno meninggalkan kediaman tersebut, Minah langsung masuk ke dalam kamar Ayudia dan tak mendapati sosok cantik Ayudia disana, hanya bekas muntahan Ayudia yang terdapat darah segar.


Tubuh Minah menggigil ketakutan, ia langsung berlari ke kamarnya dan menguncinya.


sepanjang malam Minah tak bisa memejamkan mata, ia menangis dengan tubuh menggigil ketakutan, hingga akhirnya ia lelah dan baru tertidur setelah adzan subuh.


Namun baru saja terlelap satu jam, Deswita membangunkannya, dan menyuruhnya membersihkan kamar Ayudia, Deswita juga mengancam akan membunuh Minah dan emaknya di kampung, bahkan Deswita memiliki foto emaknya ayang terlihat sedang menyiram kebun nya.


Tanpa menunggu perintah kedua, Minah langsung berlari membersihkan kamar Ayudia, dan Deswita langsung mengumumkan jika Ayudia kabur dari rumah dan sudah mempersiapkan bukti yang Minah tak tahu ia dapat dari mana.


Sebulan berlalu, namun Minah masih dihinggapi rasa bersalah, hingga puncaknya saat malam hari ia secara diam-diam, Minah tak kembali ke kampung halamannya, melainkan bersembunyi di perbatasan kota, lalu seminggu kemudian ia baru akan menjemput emaknya di kampung, namun yang ia dapat adalah emaknya gantung diri, Minah menangis sejadi-jadinya, ia sangat yakin emaknya tak akan melakukan itu semua, pasti majikanya yang menyeramkan itu yang melakukannya.


Saat Minah keluar dari desanya, ia di tangkap oleh orang Suriah Deswita, di sekap, bahkan di nodai beberapa kali secara bergiliran hingga Minah hamil yang entah anak siapa.


Minah ingin kabur namun ia tertangkap dan di siksa lebih parah, ia sampai di kota dan di nodai lagi hingga ia keguguran.


Minah merutuki nasibnya, ia terjerumus dalam jurang rasa malu, putus asa, benci, dan merasa kotor, hingga beberapa waktu kemudian ia hilang akal dan sering menangis atau tertawa sendiri.


Satu tahun kemudian di rasa aman, ia di lepaskan, namun bekas ikatan sudah membekas di tangan dan kakinya.


Beberapa bulan yang lalu Minah melihat Deswita, ia langsung mengamuk dan mengungkapkan semua kejahatan Deswita, Deswita yang panik mengira Minah sudah sembuh mengurungnya lagi, hingga akhirnya ia di selamatkan seseorang dan tinggal dalam perawatan seorang wanita tua yang merasa kasian.


# Flash Back Off


Daffi mendengarkan Daffi membacakan dokumen di depannya, ia termangu sambil menyangga dagunya berfikir keras


"Tidakkah ini aneh???


Orang itu tahu semuanya secara detail, dendam apa yang orang itu miliki sampai bisa menggali semua bukti???"


"Menurutku dia memiliki dendam yang sama dengan kita.


melihat kekejaman wanita itu, tak akan mengherankan jika ia memiliki banyak musik.


Mungkin saja itu. salah satu orang yang pernah ia sakiti dan meminjam tangan kita untuk membalas dendamnya, tanpa ia turun tangan sendiri"ucap Daffi menyimpulkan

__ADS_1


"Balas dendam.akan terasa manis jika di lakukan sendiri, buat apa menggunakan tangan orang lain untuk bales dendam, ini sangat aneh" ucap Daffa masih tak sepemikiran dengan orang di balik pengirim informasi tersebut.


"Apa mungkin dia Davina????" tebak Daffi sontak membuat Daffa melongo lalu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak


"Hahahaha, Davina?? si tukang makan dan gendut itu???


kak, kau sedang tidak salah makan kan??? atau terbentur sesuatu???


Sejak kapan anak cengeng itu se-jenius ini??? kita saja butuh orang lain untuk membantu kita, sedang Davina kau lihat sendiri, tingkahnya sangat normal.


Jauh dari kata jenius, malah...." Daffi tertawa sendiri sambil menutup mulutnya


"Kaaauuuu, ingat dia adik kita Daffi"


"Tumben kau membelanya kak, biasnaya kau akan ikut mem bully nya" protes Daffi


"Dia sedang tak melakukan kesalahan apapun yang membuatku tak senang, walau begitu dia adik kita yang malang" ucap Daffa yang ujungnya juga mengejek Davina.


Davina yang sedang berdiri di depan pintu hendak membawakan kue untuk kedua saudaranya, urung melakukan itu.


giginya gemeretak menahan marah, ia menghentakkan kakinya dan menaruh kue tersebut di depan pintu kamar kakaknya lalu mengibaskan rambutnya angkuh dan pergi


"Dasar pria kecil menyebalkan, lihat saja kalian akan dapat balasannya" ucap Davina kesal


"Hachim"


"Hachimmm"


Daffa dan Daffi bersin-bersin, keduanya merasakan tengkuk mereka dingin


"Kak, apa kau merasakan jika ada hawa menyeramkan barusan???"


""Iya hawa membunuh" ucap Daffa merasa heran, ia langsung menghubungi anak buahnya apakah ada yang mencurigakan di sekitar mereka, namun semuanya normal.


"Sudahlah, ayo kita mending main PlayStation daripada dikamar saja, yang ada mama nanti malah curiga" ucap Daffa mengajak adiknya, keduanya lalu saling merangkul dan berjalan keluar


Daffa dan Daffi menginjak piring kue di depannya lalu keduanya terpeleset dan jatuh, bokong kecil mereka menghantam lantai dengan keras


"Mamaaaaaaaaa" teriak keduanya berfikir jika itu perbuatan Ayudia, di balik tembok muncul Davina yang berkacak pinggang dan menyunggingkan senyum sinis


"Aduh duh duh, kasian dua anak kurcaci jatuh.


Mata kemana cil??? bocil satu, bocil dua.


Makanya kerjaan Jangan hobby bergunjing aja, itu mulut apa penyedot debu? demen banget nyedot dosa aku.


ingat kalau kalian ngomongin aku terus, dosaku kalian sedot, rasakan!!!!" ucap Davina mengibaskan rambutnya lalu pergi dengan gaya centil


Daffa dan Daffi melongo tak percaya, adik kecil mereka yang biasa mereka tindas berubah menjadi arang seperti macan betina.


Malah ia bisa mengerjai mereka berdua


dan kata-katanya, apa dia beneran Davina???


adik mereka yang polos dan menggemaskan????"


"Kak, itu beneran Davina???" tanya Daffi menatap lurus ke arah Davina pergi


"Ku pikir juga ia, tapi apa beneran adik kita? Sejak kapan dia punya taring???" tanya Daffa bingung


"Apa kau sepemikiran denganku jika..."


"Orang yang memberi informasi kita adalah adik kita sendiri, tapi bagaimana mungkin dia???


Apa sesuatu terjadi padanya??? apa ia mengalami suatu kejadian yang membuat otak bekunya mencair???" tanya Daffa berfikir

__ADS_1


"Atau memang sejak awal ia memang mempermainkan kita semua dan bertingkah lugu" Daffi menggeleng pelan masih tak percaya


"Selidiki segera" ucap Daffa langsung memberi perintah


"Bisakah nanti, kau tahu pinggangku rasanya patah" gerutu Daffi berusaha bangkit


"Pinggang ku juga" keluh Daffa meringis


"Astaghfirullah, anak-anak apa yang terjadi pada kalian????" tanya Ayudia yang menyusul ke lantai atas begitu mendengar asisten rumah tangga yang mengatakan jika putranya berteriak


"Mama, pinggangku patah" adu Daffi meringis kesakitan


"Kalian apa-apaan sih, makanan bisa berantakan begini.


mama buat cake ini cape ya, kalian buang-buang begini???" bentak Ayudia kesal


"Mama kami gak buang, tapi Davina meletakkannya di depan pintu dan kami gak lihat lalu terpeleset dan jatuh"


adu Daffa tak beda dengan adiknya


Ayudia membantu kedua putranya bangun dan membersihkan cake yang berantakan di kaki mereka


"Lain kali lebih hati-hati, jalan liat ke bawah.


Davinaaaa, davi..."baru Ayudia memanggil untuk kedua kali putrinya, Davina sudah datang dengan wajah polosnya


"Iya ma?" tanya Davina polos


"Kenapa kue kakakmu kamu taruh di depan pintu??? kamu tahu bahaya gak? lihat kakakmu sampai terjatuh, untung gak kenapa-napa" ucap Ayudia


"Maaf ma, tapi mereka meminta aku menaruhnya di depan pintu.


aku udah mengetuk pintu kamar mereka dan memberitahu jika mama memintaku membawakan kue untuk mereka, tapi mereka malah marah dan mengatai ku, memintaku jangan mengganggu mereka" ucap Davina menitikkan air mata lalu menangis.


Daffa dan Daffi saling melempar pandang, mereka tak percaya Davina bisa berbohong dengan begitu lancarnya, sejak kapan ia mengetuk pintu???


"Kaliaaaaannn, mau sampai kapan kalian selalu menindas adik kalian.


kalian laki-laki dan kakak Davina tapi kalian benar-benar mengecewakan mama" ucap Ayudia marah memandang Daffa dan Daffi yang shock karena ucapan Davina


"Sekarang kalian masuk, gak ada cemilan untuk kalian seminggu kedepan.


kalian bersaudara, seharusnya saling sayang dan melindungi, tapi kalian malah terus mem bully adik perempuan kalian, masuk kamar dan jangan keluar sampai makan malam" teriak Ayudia menunjuk ke arah pintu.


Daffa dan Daffi lalu menatap Davina yang menjulurkan lidahnya dan mengirimi Mereke kiss jauh, tanpa sepengetahuan Ayudia.


Setelah pintu tertutup Ayudia mengajak putrinya turun dan kekacauan yang di buat oleh Daffi dan Daffa di bereskan oleh asisten rumah tangga


"Ma, jangan marah lagi, mereka bersikap begitu karena mereka menyayangimu" ucap Davina


"Sayang, kamu sudah di jahati kakak-kakak mu, tapi kamu masih mau membela mereka.


Harusnya mereka beruntung punya adik sebaik dan seimut kamu"


"Ma, bisakah mereka hanya di hukum tiga hari saja???"


"Sayang, biar mereka merenungkan kesalahan mereka" ucap Ayudia masih emosi


"Ma, please.


Kasian kak Daffa dan kak Daffi, bagaimanapun mereka saudaraku, hatiku sedih melihat mereka di hukum" ucap Davina menunduk dengan mata berkaca-kaca


"Ya Allah, betapa baiknya anak gadis mama, baiklah jika kamu mau seperti itu. Jika mereka menindas mu lagi, segera beritahu mama" Davina mengangguk dan tersenyum licik,


"Kalian bocah kecil, kalian terlalu meremehkan ku.

__ADS_1


Sepertinya memberi mereka pelajaran gak ada salahnya kan???


Huh, aku memang sedikit genit dan imut, tapi apa yang salah??? ini sangat imut dan membuat mama dan papa senang melihatku," ucap Davina sambil mengeluarkan kaca dan memandang pantulan dirinya di dalam cermin mini itu


__ADS_2