
Sudah seminggu Ayudia menjabat sebagai pimpinan di perusahaan mendiang mamanya, banyak yang ia rombak secara perlahan, ada yang ia pecat karena kedapatan korupsi, namun kali ini Aurel lolos.
Walau Ayudia tahu kakak tirinya itu korupsi, namun bukti setelah audit tidak di temukan sehingga ayudia tidak berhasil mendepak Aurel, walau sedikit kesal namun ia tak bisa berbuat apa-apa.
Banyak karyawan yang kini terang-terangan tak suka pada Aurel.
Yang dulunya hanya bisa menurut, kini mereka mencibir Aurel, terutama setelah tahu jika Aurel hanya anak tiri yang sok menjadi putri Eldrea.
Pantas saja wajah Aurel tak seperti Adhi ataupun Eldrea, walau karyawan yang baru bergabung tak tahu bagaimana Eldrea, namun foto pendiri perusahaan di pajang di ruang pimpinan.
Ayudia mengunjungi papanya yang sudah mulai beraktivitas di kantornya, semenjak ia sakit, Lia memaksa untuk menggantikannya, dengan berat hati Adhi meminta asistennya untuk membantu pekerjaan Lia, namun ternyata Lia hanya menggelapkan uang, wanita itu tak serius bekerja, ia meminta bekerja di kantor Adhi untuk maksud tertentu.
Ketika Ayudia sampai, terlihat di sedang stres dan kelelahan, ia membereskan maslaah yang di buat Lia, mantan istrinya, karena Lia sudah sah menjadi mantan istrinya sekarang.
"Assalamu'alaikum pa"
"Wa'Alaikum salam nak,tumben ke sini gak mengabari, apa anak-anak ikut???" Tya Adhi celingak celinguk mencari keberadaan si kembar
"Enggak pa, mereka di jemput supir.
Ayu mau ajak papa makan siang, tapi seperti ga papa sedang sibuk"
"Siapa bilang papa sibuk???, papa akan selalu punya waktu untuk menemani putri papa tersayang, tunggu lima menit" ucap Adhi membuat Ayudia tersenyum lebar.
Setelah merapihkan meja kerjanya, Adhi lalu mengajak putrinya makan siang.
Ternyata Ayudia sudah reservasi semua restoran keluarga dengan makanan Sunda, saat memasuki restoran mata Adhi menangkap sesosok wanita cantik yang sedang duduk menunggu mereka
Adhi tersenyum pada putrinya, rupanya Ayudia sengaja mengajaknya makan siang dan memberikannya kejutan,
"Mas kok disini?" tanya Khadijah terkejut melihat Adhi datang, pasalnya Ayudia hanya mengajaknya makan tanpa mengatakan dengan siapa,
"Mas juga gak tahu, tadi Ayudia jemput mas" ucap Adhi
"Ini baru makan keluarga," ucap Ayudia sumringah ,ia mendorong papanya duduk di sebelah Ayudia.
"Kurang cucuku, mereka...
papa merindukan cucu papa" ucap Adhi lirih
Ayudia tersenyum penuh arti, tak lama terdengar keributan suar. gaduh anak-anak, Adhi dan Khadijah menikah, keduanya berbinar senang melihat siapa yang membuat gaduh tak lain adalah ketiga cucunya yang berlari saling mendahului agar sampai ke tempat mama dan juga kakek serta neneknya
"Anak-anak jangan berlari, nanti jatuh" teriak Ayudia yang khawatir anaknya terjatuh, namun mereka tak menghiraukan teriakan mamanya
"Assalamu'alaikum" sapa ketiganya dengan nafas ngos-ngosan
"Wa'Alaikum salam sayang, mengapa kalian berlari, kalau jatuh kan sakit" ucap Adhi menasihati cucunya
"Atu ikut kak Daffa kek" ucap Davina yang mulutnya megap-megap karena kehabisan oksigen sehabis berlari
"Sudah duduk sini, mau minum apa?? apa kalian mau mkm.ice cream?" tanya Adhi pada cucunya
"Kakek, disini gak ada ice cream, ya kan ma?" ucap Davina sok tua
"Ada kok di depan kam mini market" ucpa Daffa santai
"Kalau gitu kau mau, tiga kek" teriak Davina antusias
"Woi liat tuh perut kamu udh kaya ikan buntal, cowok mana nanti yang mau sama ikan buntal" celetuk Daffi yang di balas tawa Daffi
"Atu bukan ikan buntal" protes Davina
"Terus, kuda Nil ya? ucap Daffi makin cekikikan tertawa
"Kalau adikmu kuda nil kamu apa? mama juga kuda Nil dong, karena mama kan yang melahirkan kalian.
sudah cepat kamu ajak adik-adikmu cuci tangan," ucap Ayudia memandang putra sulungnya
Daffa hanya menoleh kepada kedua adiknya, namun tanpa berucap keduanya dengan patuh mengikuti Daffa menuju wastafel
__ADS_1
"Papa kehabisan kata-kata untuk putra sulungnya, dia memiliki kharisma sejak kecil" ucap Adhi menganggukkan kepala kagum
"Benar mas, anak itu beda dari saudara-saudaranya"timpal Khadijah yang melihat Daffa sedang bersedekap.dada memperhatikan dan memeriksa adik-adiknya cuci tangan.
Setelah keduanya selesai baru ia terakhir yang mencuci tangan.
Davina dan Daffi tidak menunggu kakaknya mencuci tangan, mereka sudah mendatangi tempat duduk keluarganya
"Kakek mana ma?" tanya Daffi
"Kakek sepertinya keluar, mungkin beli sesuatu"
"Ice cream, ice cream" teriak Davina semangat
"Mereka lalu memesan makanan sambil menunggu Adhi kembali, tak lama Adhi kembali dengan membawa kresek plastik berisi ice cream, namun Ayudia langsung mengambilnya, mereka tidaka akan makan siang jika makan ice cream, jadi Ayudia akan memberikan ice mereka setelah makan siang.
Walau cemberut ketiganya hanya menurut.
Adhi dan Khadijah tak mau berkomentar, takut si kembar akan manja dan mengandalkan mereka saat di hukum oleh mama mereka dan itu tak baik buat perkembangan mental mereka.
Adhi salut pada putrinya yang mendidik anak dengan tegas, namun tidak kasar, ia mengarahkan anaknya menjadi pribadi yang disiplin dan bertanggung jawab.
Setelah makan siang, Ayudia mengantar anak nya pulang, sementara ia sengaja membiarkan Adhi dan Khadijah pulang belakangan.
Sesampainya di kantor Ayudia lalu kembali ke ruangannya menyelesaikan pekerjaannya, sekertaris ya datang dan memberikan laporan keuangan dan rincian biaya dari bagian keuangan.
Ayudia memicingkan matanya, proposal ini seperti meledeknya, biaya produksi sebuah iklan dengan artis ternama seakan mencekik leher.
Ayudia langsung mengumumkan rapat keesokan harinya membahas biasa dan segalanya terkait dengan iklan shampo pria yang akan segera liris ke pasaran.
Entah apa yang ada di pikiran Ayudia, tiba-tiba senyumnya mengembang sempurna, ia ada ide
Setelah jam kantor selesai, Ayudia langsung meluncur kekediaman Ratna, selain ia merindukan wanita tua itu, ia juga ada urusan penting
Sejak Ayudia tinggal dengan kakek dan neneknya, William dan Willy memilih tinggal di kediaman Ratna, jika Willy memang kepinginnya, namun William atas permintaan mamanya, jika tidak menurut, Ratna akan menjodohkan William dengan anak sahabatnya
Saat Ayudia sampai, Ratna terlihat sedang menyapu halaman rumahnya, dan langsung menjatuhkan sapunya dan menyambut kedatangan Ayudia yang sudah dia anggap putrinya sendiri.
"Iya Bu, ayu mampir setelah pulang kantor karena kangen ibu" ucap Ayudia langsung memeluk Ratna
"Ibu juga kangen, ayo masuk"
"Pada kemana Bu??? kak Samuel kemana?"
"Samuel menginap di rumah mertuanya, besan kangen sama si kembar, ibu sendirian di rumah, Willy sama William kerja"
"Bu, ibu mau bantu Ayu gak??" tanya Ayudia
"Bantu apa?? kalau ibu bisa, pasti ibu bantu"
"Ayu lagi butuh model untuk iklan produk shampo, tapi belum ketemu modelnya" ucap Ayudia memasang wajah memelas
"Pakai saja Mahesa atau Mahendra" ucap Ratna langsung
"Tapi masalahnya Bu..." Ayudia sengaja menggantung kalimatnya, ia memilih memainkan jari tangannya sambil menunduk
"Asal kau memanggilku mama, aku akan bujuk anak nakal itu, bagaimanapun kau anak menantuku juga" ucap Ratna mengajukan persyaratan
"Baik ma" ucap Ayudia lngsung membuat senyum Ratna merekah
"Kau tahu, aku sangat menginginkan anak perempuan, dan aku sudah menganggap mu anakku"
"Makasih ma, ayu sayang mama" ucap Ayudia mencium pipi wanita setengah baya itu
"Besok Ayu sama anak-anak mah nginap disini, mereka sudah kangen neneknya.
Ayu kesini sekalian mengabarkan mama"
"Benar kah??? baiklah besok mama akan masak kesukaan mereka" ucap Ayudia antusias
__ADS_1
"Jadi cuma si kembar yang mama perhatikan???" ucap Ayudia memanyunkan bibirnya
"Tentu tidak sayang, mama akan masakan kesukaanmu juga" ucap Ratna mencubit hidung bangir Ayudia.
"Ma, tapi bisakah besok aku ajak Emillia juga?? kami sama-sama kangen mama"
"Tentu saja, mama suka perempuan bawel itu, siapa tahu dia berjodoh dengan salah satu anak mama" ucap Ratna cekikikan membayangkan memiliki menantu yang sesungguhnya
"Emillia menyukai William ma, maksud Ayu Mahendra,"
"Benarkah???? baik-baik kita comblangi mereka"
"Beres ma" ucap Ayudia mengacungkan jari jempolnya.
Keesokan harinya, Ayu membawa si kembar terlebih dahulu ke rumah Ratna, ia menurunkan mereka bertiga dan travel bag berisikan pakaian mereka, sementra Ayudia menuju kantor , membahas iklan shampo produk terbaru mereka.
Semua orang sudah berkumpul di ruang meeting, Ayudia masuk berjalan beriringan dengan asistennya Dewi dan Khadijah, rapat lalu di mulai
Ayudia memangkas budget iklan yang kan berlangsung, i harus menekan semaksimal mungkin namun tidak menurunkan kwalitas iklannya nanti, terlebih mama Ratna mengabarkan jika Mahesa sudah setuju, jadi tinggal menghadapi kemarahan Mahesa, namun ia punya backing kuat, siapa lagi kalau bukan Mama Ratna.
Ayudia tersenyum licik, kapan lagi mengerjai sepupunya itu, lagi pula wajah Mahesa atau yang bernama lengkap Mahesa William Anggara memiliki wajah dan postur tubuh yang seperti model.
Selama meeting Aurel terlihat beberapa kali menghela nafas, proposal itu memang di buat oleh anak buahnya namun dengan sepengetahuan dan pengawasannya, sehingga ia tahu jika bisa segitu sesuai dengan model yang akan mereka pinang, namun Ayudia merubah semuanya semaunya sendiri.
Beberapa karyawan saling bisik-bisik membicarakan keputusan Ayudia, mereka tak mengenal modelnya, terlebih akan sulit jika model tersebut awam, itu berpengaruh pada omset penjualan produk mereka.
Yang terpenting produk ini adalah produk baru yang baru kaan di lempar ke pasaran, terlalu beresiko tinggi.
Setelah meeting Ayudia langsung menuju kediaman Ratna, rencananya ikan menginap di hari di sana
Ayudia baru saja memarkirkan mobilnya, ia terkejut seseorang meneriakinya
"Kak Ayudiaaaa" teriak William marah, Ayudia memang wajah polos dan nyengir kuda membuat william makin jengkel
"Buat apa kau meminta mama untuk membujukku jadi model, apa perusahaan mu tak mampu membayar model hah???" bentak William kesal, kalau saja ia sayang mamanya yang menangis, ia tak kan Sudi jadi model.
Entah apa yang di iming-iming Ayudia sehingga mama nya bersikukuh memintanya jadi model iklan shampo
"Benar, perusahan ku sedang kesusahan, banyak tikus menggerogoti perusahaan ku.
apa kau tak mau menolong kakakmu ini??? kalau begitu biarlah perusahaan kakak merugi dan...."
Ayudia mulai menutup matanya, padahal dari cela jarinya ia bisa melihat jika William menarik rambutnya sendiri frustasi
"Sudah jangan menangis, aku benci melihat wanita menangis, kau sama mama, sama-sama menyebalkan" ucap William berjalan masuk ke dalam rumah.
"Apa artinya kau mau membantu??? Will William"
"Iya, iya bawel, sekali ini saja, tak ada lain kali" ucap William sudah menghilang di balik pintu
"sejak kapan jadi drama queen???" ucap Daffa menyenderkan tubuhnya di samping mobil Ayudia membuat Ayudia meloncat kaget
"Anak nakal, sejak kapan kau disana???"
"Sejak mama berakting buruk, jika aku om William, aku tak akan kemakan akting mama" ucap Daffa memutar bola matanya malas
"Diam, tutup mulutnya, atau...."
"Sogokan mana???? uang tutup mulut" ucap Daffa menyeringai lebar
"Astaga, apa kau anakku??? apa mau ku kutuk kau jadi monyet???" geram Ayudia merasa di tindas anaknya sendiri.
Bagaimana anak yang belum genap tujuh tahun bisa berfikiran ekstrem dan menindas nya
"Ampunnnn maaaaaa" teriak Daffa langsung lari masuk ke dalam rumah
"Inilah akibatnya kau hamil dengan iblis laki-laki, anaknya sungguh menguras energi seperti pria itu" gumam Ayudia kesal
Sementara di kantor Arjuna
__ADS_1
"Hachimmmmm, hachimmmm"
sepertinya ada yang memakiku....!!!!