
#ARJUNA POV
Setelah melihat papanya keluar perusahaan dengan Jovanka, Arjuna yang sangat penasaran mengikuti papanya ada jovanka, hatinya panas dan geram memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ia karang sendiri.
Arjuna sampai gila membayangkan jika ketiga anak kembar Jovanka merupakan anak papanya yang artinya adik-adiknya. Dia tidak rela.
"Awas saja pria tua itu jika memang dia lah yg menabur benih pada Jovanka, aku tak mau mengakuinya anak, bagaimana mungkin ia punya anak sekecil itu memalukan. bukankah seharusnya mereka anak-anakku??
Arrrggghhhh bisa gila Aku memikirkan ini" ucap Arjuna dalam hati, ia sampai meremas kasar rambutnya karena frustasi dengan imaginasinya sendiri
Hingga pada akhirnya mobil Baskoro memasuki halaman sebuah rumah sakit
"Gila apa yang mau mereka lakukan di rumah sakit??? apa?????? gila,gila penasaran ini membuat gue jadi gak sehat" gerutu Arjuna ikut memasuki pelataran rumah sakit menuju parkiran.
Arjuna memarkiran mobilnya tak jauh dari mobil papanya, beruntung di dalam mobil ada jaket bekas ia pakai olah raga kemarin dan topi William di kursi penumpang.
Arjuna mengerutkan keningnya, ia tak suka memakai jaketnya karena bau dan topi ini, bau aroma minyak rambut yang Arjuna benci, namun demi penyamarannya, ia terpaksa.
"Gue udah berkorban sejauh ini, kalau bukan karena mengikuti mereka, gue gak akan Sudi pakai jaket kotor dan topi bau ini, sial.
Besok bakal gue suruh William potong rambutnya biar gak pake minyak rambut lagi, selera orangtua dasar" Dengus Arjuna terus memaki dalam hati.
Arjuna merupakan sosok yang suka kebersihan wajar saja jika ia tersiksa dengan jaket dan topi yang kotor.
"Ngomong-ngomong bukannya ini rumah sakit tempat papa mertuaku di rawat??? sudah hampir dua tahun beliau lumpuh dan di rawat di rumah sakit ini, apa yang papa lakukan disini???"
Arjuna mengikuti Baskoro hingga papanya itu memasuki sebuah ruang perawatan yang tak asing, ya ruang rawat mertuanya,
"Mengapa papanya itu harus membawa Jovanka???? apa yang mereka mau lakukan??? Aku harus tahu apa yang mereka lakukan" gumam Arjuna, baru saja ia berjalan ingin melihat ke dalam dari jendela kaca, seseorang keluar dari ruangan tersebut, buru-buru Arjuna berjalan menjauh seolah ia hanya lewat.
Orang yang keluar dari ruangan itu adalah Aurel dan mamanya.
Aurell nampak berhenti sejenak melihat ke arah Arjuna, ia mengerutkan alisnya sejenak
"Ma, sepertinya orang itu gak asing deh, sekilas mirip mas Arjuna"
"Kamu ya, bilang aja kangen.
Mana mungkin Arjuna pake jaket begitu dan topi.
ini jam kerja sayang, kamu tahu sendiri penampilan tunangan mu itu, selalu perfeksionis" bantah Lia
"Iya juga sih ma, tapi parfumnya juga sama, mungkin hanya perasaan aku aja" ucap Aurell masih menatap lekat punggung Arjuna yang menjauh
__ADS_1
"Besok kamu tengok tunangan mu itu, kamu harus berjuang keras agar dia segera menikahi kamu.
Kita akan hidup nyaman tujuh turunan nak".
"Iya ma, entah mengapa mas Arjuna selalu punya alasan untuk menghindari ku, apa kurangnya aku coba di banding si ****** itu??? pengen rasanya aku menjebak dia agar tidur denganku ma, ah ma bagaimana usul ku???" tanya Aurell membuat Lia membekap mulut putrinya itu
"Kau bodoh apa tolol??? mulutmu itu bisa-bisanya berbicara seperti itu di tempat umum, itu nanti kita bahas, ayo sekarang kita beli kopi pesanan mertuamu itu, kamu harus bisa mengambil hati tua bangka itu, agar dia mendorong putranya agar menikahi mu.
Jangan hanya Deswita yang kau dekati terus, dia hanya ibu tiri yang tidak punya kekuasaan" ucap Lia menceramahi anaknya
"Iya, iya, Aurellia ngerti ma, udah ah cepat jalanya, aku juga mau segelas capuccino dingin" ucap Aurel mengalihkan pembicaraan.
Tepat setelah kedua wanita itu berbelok di ujung lorong, Arjuna kembali mendekati kamar Adhi, ia ingin melihat apa yang mereka lakukan di dalam, namun begitu melihat ke dalam lewat celah jendela, mulutnya melongo lebar, Arjuna mengucek matanya beberapa kali memastikan apa yang di lihatnya, Jovanka yang ia kenal memeluk Adhi, nampak mertuanya terlihat linglung, namun yang terjadi selanjutnya, Jovanka membuka kacamatanya dan meletakkannya di nakas, lalu menghapus make up nya, walau tidak jelas, namun Arjuna masih bisa melihat perbedaan yang signifikan dari sosok Jovanka yang biasa ia lihat, setelah itu wanita itu membuka ikatan ekor kudanya, selanjutnya seperti membuka softlens??? buat apa wanita itu melakukannya??
Kini Arjuna makin terkejut melihat Adhi, mertuanya memeluk Jovanka
"Alhamdulillah ya Allah, Engkau mendengarkan doa-doa ku, Allahu akbar " ucap Adhi menangis tersedu-sedu,
"Apaaaa?? apa Jovanka adalah Ayudia???" ucap Arjuna lirih, saat ia melihat Jovanka sedang berbicara dengan papanya, Arjuna bisa melihat jelas wajah cantik seorang Jovanka yang selama ini ia tutupi dengan make up
"Sial, dia, dia istriku??? sejak kapan papa tahu??? lalu siapa papa dari anak-anak itu???" Arjuna makin penasaran, Arjuna ingin membuka handle pintu, namun begitu mendengar seseorang tertawa, Arjuna mengurungkan niatnya dan berjalan menjauh dari tempat itu.
"Sial, kenapa mereka berdua kembali, bagaimana dengan Ayu di dalam??" Arjuna khawatir dengan istri nya , namun tak terdengar suara apapun, artinya aman dan tak la Baskoro keluar bersama Ayudia yang sudah kembali menjadi sosok Jovanka.
#FLASH BACK OFF
"Ka..kamu apa yang kamu lakukan disini??" tanya Baskoro, berusaha menutupi keterkejutannya
"Seharusnya aku yang tanya, buat apa papa ke sini dengan Jovanka??"
"Ah itu, William bilang Jovanka sakit, jadi papa membawanya untuk di periksa"ucap Baskoro berusaha meyakinkan
"Aku sudah tahu semua pa" ucap Arjuna datar, Baskoro menghela nafas panjang lalu menatap putranya
"Ikuti mobil papa" ucap Baskoro, lalu ia masuk ke dalam mobil dam mobil mulai meninggalkan area parkiran rumah sakit.
"Pa...."
"Ini sudah saat nya semua terbuka nak, semua keputusan ada di tanganmu, tapi sebagai papa dari anak-anakmu, ia berhak tahu, begitu juga anak-anakmu.
masalah pribadimu papa serahkan padamu sepenuhnya, apapun keputusanmu, papa akan mendukungmu."
Jovanka hanya diam, ia tak mengatakan apapun, keduanya larut dalam pikiran masing-masing
__ADS_1
"Tunjukkan arah ke rumahmu, kita selesaikan semua di rumahmu"
"Ba... baik pa" Jovanka tidak bis membantah, namun Baskoro tidak akan pernah menduga bahwa ia juga akan memperoleh kejutan di sana, Jovanka harap jantungnya kuat menerima kejutan demi kejutan.
Jovanka menghubungi William segera, dan meminta Samuel serta Willy juga pulang menuju kediaman Bu Ratna sekarang
"Will, ke rumah sekarang, papa dan aku sedang on the way ke sana, minta Willy dan Samuel juga pulang,
ya sudah, iya, baik"
Setelah mengakhiri panggilan teleponnya, Jovanka kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas nya
"Kenapa meminta William dan Willy pulang, dan siapa Samuel, setahuku kamu belum menikah lagi nak"
"Nanti papa juga akan tahu, Jo harap papa mempersiapkan diri juga" ucap Jovanka menatap Baskoro yang terlihat bingung
"Aku??? apa mereka bukan cucuku??" tanya Baskoro khawatir
"Bukan mengenai si kembar pa, ini mengenai orang lain"
"Kau membuatku takut nak" ucap Baskoro lirih, ia tahu Jovanka tak akan mengatakan apapun, terlihat ia memilih menatap jalanan yng di lewati dari balik jendela mobil.
Setelah satu jam perjalanan, mereka kini memasuki sebuah perumahan dan berhenti di sebuah rumah dengan halaman yang luas dan terlihat sederhana.
Jovanka membuka pintu gerbang dan mobil memasuki halaman rumah tersebut
"Mamaaa, mama, mama" tiga bocah kecil yang menggemaskan berhamburan keluar dari dalam rumah setelah tahu Jovanka yang datang
Arjuna lalu memarkirkan mobilnya dan hatinya berdetak cepat melihat ketiga anak kembar yang sedang memeluk Jovanka
"Nak Jo kok pulang gak bilang-bilang, apa kau sakit???" tanya seorang wanita paruh baya yang keluar dengan memakai celemek.
Baik Arjuna maupun Baskoro membeku di tempat, pandangan mata mereka tertuju pada sosok wanita paruh baya yang baru saja keluar dari dalam rumah
"Ra...Ratih???? ucap Baskoro lirih
"Ma..ma..mama......" Arjuna juga tak kalah terkejutnya
lalu....
"Bruuughhh"
Baskoro jatuh tak sadarkan diri
__ADS_1