(Anak Genius) YANG TERBUANG

(Anak Genius) YANG TERBUANG
Kelakuan Pasutri Somplak


__ADS_3

" Jadi begitu Jo, mama ku meninggal saat aku masih kecil, beliau kena kanker kepala, dan hanya kakak yang aku miliki" ucap Emillia lirih


"Aku ingin membuang impianku disini dan memulai yang baru.


mungkin dengan tempat dan suasana baru pikiranku akan lebih tenang" ucap Emillia dengan suara bergetar


"Aku tahu ini berat untukmu. Aku tak bisa berkata apa-apa, aku selalu mendukungmu sahabatku.


satu hal yang harus selalu kau ingat, kamu tak pernah sendiri, ada aku, sahabatmu.


jika kau lelah maka datanglah padaku, pintu rumahku sellau terbuka untukmu" ucap Ayudia menitikkan air mata


Bibir Emillia bergetar, ia tak bisa berbicara, Emillia langsung memeluk ayudia dan menangis tersedu-sedu


"Terima kasih, terima kasih Jo" ucap Emillia lirih


"Aduh kenapa ini main nangis-nangisan??? Tya Ratna yang membawa teh hangat untuk mereka berdua


"Ibu.... Emil pasti akan kangen ibu" ucap Emillia gantian memeluk Ratna


"Ibu juga bakal sedih gak di bawelin kamu lagi" goda Ratna menghapus air matanya


"Ibu.... masa ingat sama aku cuma bawelnya aja sih???" ucap Emillia merajuk


"Ibu kangen semua yang ada padamu nak.


ibu tak bisa melarangnya pergi, walau hati ibu berat"


"Ibu... maafkan Emil ya Bu" ucap Emillia memeluk Ratna, Ayu juga ikut memeluk Ratna dan Emillia, sahabat karibnya.


Sementara di sudut ruangan Daffa,Daffi dan Davina menatap sedih.


Mereka ikut terhanyut suasana


"Kak, apa Tante Emilia harus pergi???


aku mulia menyukainya walau sedikit menganggu, tapi dia selalu membelikan kita makanan enak" ucap Davina menunduk sedih


"Bisakah ku jangan hanya memikirkan makanan?????" Dengus Daffi pada adiknya


"tapi itu memang benar kak, Tante kaleng rombeng selalu perhatian dan sayang pada kita.


Kakak berdua saja yang jahat padanya" protes Davina


*Sudahlah, bicara sama anak beruang kutub susah, ayo Daffi" ajak Daffa pada adiknya


Brugh


Tubuh Daffi tertabrak sesuatu dan ia terdorong kebelakang, jatuh terduduk


"Siapa sih punya mata ....,


eh papa" ucap Daffa menggaruk kepalanya yang tak gatal


"Mau marah??? mau bilang matamu dimana???? gitu???


Davina anak beruang kutub, lalu papa dan mamamu???lantas kalian apa???" tanya Arjuna tak terlihat marah, ia malah tersenyum membuat bulu kuduk Daffa dan Daffi berdiri, itu bukan senyum damai, tapi senyum sebelum badai


"Pa, papa salah dengar, ya kan Daffi???" ucap Daffa meminta dukungan Daffi , ia memelototi adiknya yang malah menggeleng,


"Iya" ucapnya tapi kepalanya menggeleng


Daffi menepuk dahinya frustasi


"Dasar bodoh" gumam Daffi lirih


"Jadi anak beruang kutub, apa kau masih mau mengatakan sesuatu"


"Papa salah paham,ini....woooo papa lepaskan" ucap Daffa berteriak terkejut.


Arjuna menenteng kedua putranya layaknya anak kucing berjalan ke arah istrinya


"Pa, lepaskan.


papa mau bawa kemana??, ampuni kami pa, kami janji akan jadi anak baik" ucap Daffa dan Daffi melihat kemana arah tujuan Arjuna


sontak Arjuna berhenti dan mengarahkan kedua putranya menghadapnya tanpa menurunkan mereka


"Apa benar begitu?? selama ini kalian membantu mama membully papa" ucap Arjuna datar


"Itu karena kami di ancam, kami akan membela papa" ucap Daffi langsung menjilat


"Papa mereka mengatai aku anak beruang"ucap Davina bersedekap dada

__ADS_1


"Anak gendut itu memfitnah kami pa"


"Mamaaaaaa, mamaaaaa, kak Daffa dan kak Daffi mengatai ku" teriak Davina berlari ke arah Ayudia membuat Ayudia menoleh pada putrinya ayang berlari kecil ke arahnya


"Kenapa sayang" tanya Ayudia lembut


"Kak Daffa bilang aku anak beruang" ucap Davina memasang mana memelas dengan bola mata berbinar membuat Emillia langsung mengelus kepalanya ksian


"Kakak cuma bercanda" ucap Emil mencoba membujuk


"Mereka kompakan mengatai aku Tante, aku bukan anak beruang, karena mamaku bukan beruang, tapi..


macan" ucap Davina bergumam


Emillia yang mendengar tertawa terbahak-bahak, sementara Ayudia yang tak mendengar bingung dengan reaksi Emillia


"Tapi apa??? "


"Katanya kamu cantik" ucap Emillia tersenyum ke arah Davina, ia tak mau gadis kec itu terkena masalah karena mengatai mamanya seperti macan


"Perasaanku mengatakan bukan ..." ucap Ayudia memicingkan matanya dengan alis terangkat.


"Mama, Davina berbohong, kamu cuma sedang bernyanyi, tanya saja papa" ucap Daffa tersenyum lebar


"Iya sayang, Davina salah dengar" ucap Arjuna tersenyum aneh


"Papa termakan bujukan kak Daffi dan Daffa mereka bersekongkol" ucap Davina bersedekap dada


"Anak manis papa gak bohong.


papa sama kakakmu mau beli bakso dan es campur, apa kau mau ikut???" tanya Arjuna yang tahu kelemahan Davina


"Enggak, jangan coba merayuku pa" ucap Davina membuang pandangannya ke arah lain


Emil sampai melongo melihat kelakuan putri Ayudia.


sombongnya Davina persis Arjuna!!!


"Ya sudah, padahal es campur di depan komplek ini kan paling enak, nenek, Tante, mama kalian mau gak???" tanya Daffi


"Pa, mama bilang mau, aku disuruh ikut papa, ya dengan terpaksa aku ikut deh" ucap Davina langsung turun dari pangkuan Emillia.


Ayudia melotot tak percaya putrinya demi gengsi memakai namanya sebagai alasan, astaga.


"Hahahaha, Davina perpaduan kau dan suamimu yang menyebalkan itu" tawa Emil pecah, begitu juga Ratna yang melihat pola tingkah anak-anak Ayudia


"Sayang, sejak kapan mama..." Davina langsung mencium pipi Ayudia membuat Ayudia bungkam


"Mama tolong jaga mukaku kali ini saja, atau aku akan malu pada papa dan kakak" bisik Davina


Ayudia tak percaya, ia pikir Davina paling normal diantara anak-anaknya, ternyata Davina sama menyerahkannya.


usia tujuh tahun sudah memikirkan meminta muka agar tak malu. Ayudia merasa mimisan panas dingin.


"Ayo pa, kak, cepetan sebelum aku berubah pikiran" tari Davina , mereka lalu berjalan mengikuti langkah Davin


"Aku pikir anakmu akan menjadi diplomat ulung atau setidaknya pengacara hahaha, ya kan Bu???"


"Ibu setuju hahaha dia gadis yang sangat imut, ibu gemas sekali melihatnya" Ratna tak berhentinya tertawa


"Ibu gemas, sini lemas karena shock" ucap Ayudia menghela nafas


"Hahaha, nikmati momen saat mereka masih kecil sayang, karena saat mereka beranjak dewasa, kau akan di abaikan karena mereka akan memiliki dunia mereka sendiri" ucap Ratna menepuk bahu Ayudia.


"Benar kata ibu Jo, kalau anak loe udah gede. mereka lebih memikirkan bersosialisasi dan sibuk dengan urusan mereka, jadi nikmatin aja.


by the way, loe mau taruhan gak sama gue???


Davina bakal punya pacar lebih cepat dari kedua kakaknya, mungkin kelas enam dia sudah mulai berpacaran hahaha, astaga aku ingin melihatnya" pekik Emil kegirangan, berbeda dengan Ayudia yang langsung pucat pasi


"Em loe gila??? anak gue masih se ucrit, masih kaya ****** mangga loe mikirin dia pacaran, sakit loe ya.


kalau doain anak gue yang baik-baik kek" protes Ayudia mengelus dadanya sendiri


sambil mengetok tangannya ke dahi lalu ke meja


"Amit-amit jabang beyby" ucapnya membuat Emillia sukses tertawa terpingkal-pingkal


"Daripada loe mikirin anak gue. mending loe mikir kapan buat anak"


"Dih amit-amit, masa iya gue gak punya laki suruh punya anak.


Bu lihat anak ibu yang satu itu, masa Emil suruh Dewo point sebelum nikah, aneh" ucap Emil gantian menggetok tangan ke meja

__ADS_1


"Ya kali gue suruh loe punya anak sebelum nikah.


maksud gue loe cepet gih cari laki-laki trus kawinin deh biar cepet punya anak" ucap Ayudia semangat


"Ya kali nyari laki kaya nyari beha, pake terus beli, Jo lama-lama Deket loe gue sotres


laku laga Gila iya" ucap Emil sewot.


Ayudia tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi kesal sahabatnya


setidaknya Emillia kini menunjukan emosinya daripada ia sedih melulu


"Ya kan loe bakal kangen punya temen kaya gue"


"Iya kangen soalnya yang model kaya loe udah limited edition ya kan???


mana ada cewe cakep bohay tapi otaknya kurang sekilo" ucap Emil asal membuat Ayudia makin tertawa terkekeh


"Kalian ya berdua, kalau udah ngomong bikin ibu sakit perut pipis di celana.


sudah kalian teruskan ngobrolnya, ibu mau buat minuman.


bentar lagi mereka pasti pulang, siapkan mangkuk sama sendok garpu" ucap Ratna berdiri


"Biar kami bantu Bu"


"Gak usah, kalian lanjut aja ngobrolnya, lagian cuma mau buat es teh manis aja kok"ucap Ratna menggeleng


"Beneran Bu??" tanya Ayu


"Iya, lanjut aja ngobrolnya, kalian pasti masih saling kangen kan???" senyum Bu Ratna


Sebenarnya Ratna menelpon William, ia harus menjalankan rencana B, karena rencana A yang ia atur bersama Ayudia gagal.


Ratna akan sangat sedih jika anaknya baru menyadari jika i menyukai Emillia saat gadis itu pergi.


Ia yakin William hanya tak menyadarinya.


Setelah membuat es teh manis dan menyiapkan mangkuk, Ratna pamit masuk kamar,


"Apa ibu baik-baik saja???" tanya Ayudia


Ratna lalu berbisik dan menceritakan rencananya pada Ayudia.


Ayudia membuatkan matanya dan menatap Ratna


"Ibu yakin??? tanya Ayudia meyakinkan


"Baiklah, ayu akan ambil peranan" ucap Ayudia mengacungkan jempolnya.


Tak lama terdengar suara gaduh anak-anak Jovanka, merek sesudah kembali


"Mana ibu sayang?? aku belikan bakso juga buat ibu"


"Dikamar mas" ucap Ayudia singkat


"Aku mau panggil ibu dulu ya" ucap Arjuna namun Ayudia buru-buru menarik tangan Arjun


mau tak mau ia membisikan rencana Bu Ratna


"Haha, demi bijak lapuk itu aku ambil bagian ah" ucap Arjuna menyeringai lebar


"Awas, senatural mungkin, ok???" ucap Ayudia memperingati suaminya


"Tenang saja aku ini artis" ucap Arjuna menepuk dadanya


"Artis sabun colek, dah itu bantu tuang baksonya, gak usah kebanyakan laga" ucap Ayudia memelototi suaminya


"Is ia galak bener yayang aku nih" ucap Arjuna menoel pipi Ayudia


"Woi, pasutri kadaluarsa.


jangan buat jiwa jomblo gue meronta dong liat kalian siang-siang bolong main toel- toelan gitu" ucap Emillia menutupi wajahnya dengan jarinya, tapi jari-jarinya di renggang kan , ia hanya berakting jadi gadis polos malu-malu


"Muaaaacchhh sayang, ada jomblo yang iri" ucap Ayudia sengaja mengecup pipi Arjuna membuat wajah Emillia merona merah dan buru-buru buang muka


"Dasar pasangan mesum dan gokil, sana teruskan dikamar. jangan kalian kotori pikiran jernih ponakanmu" ucap Emillia menghentakkan kakinya dan berjalan menuju si kembar


"Hahahaha, ada yang pengen" tanya Ayudia


"Tapi gak ada gacoannya" timpal Arjuna


"Dasar somplak" Dengus Emillia kesal, namun kedua pasutri itu malah tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


__ADS_2