
"Ayo cepat" ajak Willy begitu selesai mengganti pakaiannya, ia kini sudah memaki celana Levis dipadukan dengan kaos oblong dan jaket Levis.
Sebastian hanya diam membeku di tempatnya, ia bingung harus mengatakan apa, dilema.
"Yeee malah bengong, katanya mau pergi ke rumah sakit??? jadi gak???" tanya Willy lagi heran menatap adik bungsunya
"Kak, sebenarnya...
Aku mau menjenguk papa kandungku" ucap sebastian lirih
"okey, ayo" ucap Willy semangat
" Tapi...
Kak ada yang harus aku katakan sebelumnya" ucap Sebastian memberanikan diri.
Ia tak mau Willy tahu setelah tiba di sana dan akan membuat salah paham di antara mereka, yang lebih parahnya lagi, Sebastian rajut Willy dan ia akan berada dalam situasi bersitegang dan akan menjadi tontonan umum
"Kita bahas nanti, yang penting ayo cepat.
Mungkin beliau sudah menunggumu"ucap Willy langsung berjalan keluar rumah
"Kak, tapi mengenai siapa papaku kamu harus tahu, dia... dia Jimmy Chou" ucap Sebastian lirih di akhir kalimatnya
Langkah kaki Willy terhenti dan diam di tempatnya, ia tak menoleh pada Sebastian.
Willy terlihat menghela nafas pelan
#Flash Back
"Apaaaa??? bagaimana mungkin???"
"Memang begitu kenyataanya" ucap Davina santai sambil menyeruput minuman Boba di tangannya
"....." Willy speechless tak tahu harus berkata apa.
Ia tak terima adiknya ternyata anak penjahat seperti Jimmy Chou, sungguh tidak adil.
Bagaimana seorang anak sebaik Tian memiliki orangtua seburuk itu. Yang satu penjahat kawakan dan satunya lagi wanita berhati buruk, walau sekarang wanita itu sudah banyak berubah, namun kejahatannya tetap saja di kenang.
Karena pada prinsipnya manusia lebih sering merekam keburukan seseorang di banding kebaikannya.
Seribu kebaikan akan lenyap dengan satu kesalahan.
Sebenarnya ia dan Arjuna sudah menduga siapa ayah biologis Sebastian adalah Jimmy Chou, hanya saja kenyataan begitu menyakitkan.
Entah apa tanggapan Arjuna setelah mengetahui hal ini
Willy hanya menghela nafas dan memejamkan mata.
Sulit untuk menerima.
Namun rasa sayangnya lebih besar dari rasa kesalnya.
Pada dasarnya Sebastian tak bersalah, karena anak tak bisa memilih siapa orangtua nya.
Hanya saja nasib mempermainkan Sebastian, Willy merasa iba pada adik bungsunya tersebut.
"Apa kau membenci Tian??? om Tian tidak salah apapun" ucap Davina menatap lurus ke arah Om nya
"Aku...
Anak kecil, aku tak akan membencinya karena dia adikku. Tak akan berubah karena siapa penyumbang Sp"rma sehingga ia lahir ke dunia.
Aku tidak akan bisa membencinya, justru aku merasa kasian padanya. Kita sebagai saudara harus menguatkan, memberinya support dan jangan pernah menjauhkannya hanya karena asal usulnya.
Yang penting disini, hati kita" ucap Willy bijaksana
Davina tina-tiba memeluk om nya, ia sangat bangga dengan Willy. Di banding William, Willy lebih enak di ajak bicara, walau awalnya ia mengira Willy urakan, ceplas-ceplos dan playboy, namun di balik itu semua ada kedewasaan dan kecerdasan dalam pola pikirnya.
__ADS_1
"Ih lepasin dong, Eike kan normal, gak suka anak bocil" ucap Willy mengelap pipinya yang habis di cium Davina
"Om kau sungguh menyebalkan" ucap Davina mengerucutkan bibirnya
"Aku memang tampan" ucap Willy pede
"Menyebalkan om, siapa bilang tampan, narsis" cibir Davina menepuk keningnya
"Iya, iya ganteng kan????
gak usah di jelasin, aku sudah tahu.
Itulah makanya temanmu jatuh cinta padaku" ucap Willy membusungkan dada
"Dia katarak om, kebo di bedakin aja Agatha suka" ucap Davina cekikikan.
"Anak nakal, dia calon Tante mu"
"Om, kau yakin bisa menjinakkan gadis genit itu??" tanya Davina langsung beralih haluan membicarakan Agatha. Walau ia menyukai Agatha dan dekat dengan Agatha, ia tetap khawatir om nya akan tersakiti karena kelakuan bar-bar Agatha.
Pasalnya Agatha tipe yang mudah jatuh cinta asal melihat pria tampan dan menggemaskan ia akan langsung mengejarnya.
Jika Willy benar-benar serius ada Agatha maka ia harus memiliki sesuatu yang membuat Agatha tak bis berkutik.
"Tentu saja, Agatha gadis yang menggemaskan"
"Terserah om saja, tapi kalau di tinggalkan jangan lari ke aku terus mewek" ucap Davina cekikikan
"Itu gak akan terjadi padaku, percuma melalang dunia dong"
"Ngapain om???, belajar ilmu??"
"Bukan lah, cari cewek cantik hahaha" ucap Willy senang
"Dasar gesrek otak om" cibir Davina namun Willy tetap tak perduli, ia tertawa lepas
"Tapi ya om, aku berharap Agatha bisa berubah.
"Serahkan pada om mu ini.
Aku pertaruhkan rekorku sebagai penakluk wanita" ucap Willy menepuk dada
"Playboy cap botol susu" ucap Davina meledek om nya
"Kok botol susu???" tanya Willy heran maksud keponakannya
"Iya lah botol susu, di cari tapi saat udah gak di pake di buang kwkwkwkkw" Davina tertawa puas berhasil menyentil Willy membuat om nya itu tersenyum kecut
"Bocah tengil, kualat kamu nanti" ucap Willy cemberut
#Flash Back off
"Ayo cepat kita jalan" ucap Willy meneruskan langkahnya membuat Sebastian makin bingung, dengan ragu Sebastian mengikuti Willy, hingga naik ke mobil dan mobil mereka meninggalkan rumah, Willy tetap diam. Ekspresinya bisa saja tidak ada terkejut atau marah, benci dan lain-lain seperti yang Sebagian pikirkan
Sebastian terus melirik ke arah Willy, pikirannya berputar
"Awas melirik terus entar naksir lagi, asal loe tahu gue normal" ucap Willy santai membuat Sebastian melorot dengan candaan kakaknya
Ia ingin tertawa tapi merasa kikuk
"Kenapa??? kau pikir Kakak akan membencimu gitu hanya karena pria itu???"
"Tapi kak, dia...." Sebastian bingung harus mengatakan apa
"Tian , dengar.
Loe, ya loe, dia ya dia.
Bukan salah loe punya papa dia, karena kita tak bisa meminta siapa orangtua kita.
__ADS_1
Urusan dia dengan keluarga gak ada sangkut pautnya sama loe.
Loe tetap adik gue gak akan berubah" ucap Willy santai
Tiba-tiba Tian menangis tanpa suara, ke khawatiran ya sirna, namun apakah semua anggota keluarganya seperti Willy yang berpikiran terbuka???bagaimana dengan yang lainnya???
Bagaimana dengan Baskoro papanya??? apa sikap Baskoro akan tetap sama????
"Udah jangan banyak berfikir, ntar cepet tua sebelum waktunya. Enjoy aja nikmatin hidup.
Jangan loe bebani hidupmu sama memikirkan orang lain, terkadang kita juga harus egois untuk diri kita.
Lagi pula kalau loe mengerti sikap keluarga kita, loe gak akan se panik ini.
Kami semua memandang ikatan bukan karena darah, tapi hati, terlepas dari mana asal loe dan terlahir dari siapa loe. paham??
udah jangan nangis, nanti di kira kita pasangan gay yang lagi berantem lagi" ucap Willy asal membuat Sebastian langsung terdiam dan tertawa.
ucapan Willy ada benarnya sih, mereka dinihari di luar dan ia menangis, siapapun yang melihatnya akan salah paham DNA menyangka mereka pasangan gay yang sedang berantem.
"Kak makasih" ucap Sebastian merasa hatinya lega
"ITS ok, tapi itu gak gratis. loe harus bayar"
"Berapa kak??" tanya Sebastian polos, ia memang masih memiliki uang di tabungannya
"Bayar pake traktir makan gimana???" tanya Willy cengengesan sambil mengusap kepala Sebastian
"Siap kak, atur aja" ucap Sebastian
Suasana kembali hangat, Sebastian bisa kembali tersenyum.
Tak lama kemudian mereka tiba di rumah sakit, Davina terkejut melihat Sebastian datang dengan Willy.
Namun melihat sikap keduanya, Davina mau tak mau mengacungi jempol pada Willy
Walau Willy kadang terlihat tidak bisa diandalkan tapi ternyata dia om yang paling mengerti semua orang dan bisa diandalkan.
"Om thanks ya" ucap Davina begitu Sebastian masuk ke dalam ruang perawatan papa nya, Jimmy Chou.
"Untuk?????...."
"Untuk menjadi om yang bisa diandalkan" ucap Davina tersenyum lebar
"Apa itu pujian atau ..."
"Pujian" ucap Davina cepat
"Sayangnya aku tak terima pujian adik kecil.
Aku menerima berupa imbalan"
"Om kau memalukan dan matre" ucap Davina menyesal memuji Willy
"Kelurga kit. terkenal begitu, mengapa harus malu???
Aku minta kamu tetap menjadi anak kecil yang manja di usiamu, setelah semua selesai, kembali lah ada kodrat mu sebagai anak kecil"
"Apa itu permintaan atau perintah???"
"Sebabnya perintah, karena kau seperti ini membuat jiwa sukses ku menangis karena kau bisa melakukan semuanya di usia bau Pesing"
"Ooooommmmm"
"Itu benar walau kau terlihat dewasa tapi bagiku kau bau susu formula" ucap Willy terkekeh meninggalkan Davina yang terlihat marah
"Om, om Willy kau...
Kau...." Davina bingung harus membalas apa
__ADS_1
Bau susu formula??? apa dia balita????