
Hari ini berkas perkara gugatan Ayudia naik berkas, Aurel dan Lia di mintai keterangan, status mereka sat ini sebagai tergugat, namun sebentar lagi statusnya akan naik menjadi tersangka, Ayudia tak sabar menantikan itu.
Namun melihat rumitnya kasus ini karena saling terkait, dimana Ayudia juga korban dari Deswita dan ada campur tangan Aurel di dalamnya. Ayudia sangat yakin itu
Pasalnya, sehari sebelum kejadian, Aurel mendatangi rumah keluarga Baskoro, ia terlihat berbincang serius dengan Deswita, mertuanya yang merupakan mama tiri Arjuna.
Hubungan keduanya juga terlihat akrab, entah apa yg ada di pikiran Aurel, sepanjang yang Ayudia ingat, ia tak pernah membenci Aurel atau bermusuhan dengan kakak tirinya itu, namun Aurel selalu menabuh genderang permusuhan setiap kali merek bertemu.
bahkan setelah Aurel masuk ke dalam keluarganya, sikapnya malah makin menjadi.
Kini saatnya ibu dan anak itu merasakan pedihnya pembalasan.
Saat ini Ayudia juga di panggil untuk memberikan kesaksian mengenai kasus pelanggaran ham, dimana ia di jebak dan di perjual.belikan oleh Lia,
sementara untuk kasus mamanya, Khadijah dan Bi Nana yang di panggil untuk di mintai keterangan.
Ayudia memenuhi panggilan seorang diri, ia sengaja meminta Jacky menunggu di luar kantor polisi, ia tak mau terlihat mencolok karena di kawal pria bule.
Aurel yang baru selesai di interogasi memandang bengis kearah Ayudia dan menghampirinya
"Ini pasti ulah loe kan??? jangan loe pikir bisa melakukan ap yang loe mau, gak akan"
"Jadi loe sadar kalua loe salah? kita lihat aja, apa loe bisa lepas dari jerat hukum" ucap Ayudia tersenyum mengejek
"Loe gak punya apapun untuk membuktikan gue bersalah, jadi stop buang-buang waktu loe untuk hal yang percuma" ucap Aurel penuh percaya diri membuat Ayudia ingin sekali menampar wajah Aurel dengan bukti di tangannya, namun ia tahan, pembalasan yang perlahan lebih manis terasa, biarkan ia merasa diatas angin dan tak terjamah hukum, namun begitu ia bersikap arogan, saat itulah bukti terungkap, betapa sakitnya.
"Entahlah, apa menurut loe gue gak punya bukti???"
"Loe hanya gertak gue, percuma ngomong sama loe, unfaedah" ucap Aurel
"Sialan, seharusnya gue bunuh loe pakai tangan gue sendiri" ucap Aurel berbisik
"Ternyata loe gak ada takutnya ya??? udah mau masuk penjara, masih aja gak berubah"
"Gue tunggu mimpi loe jadi kenyataan, UPS atau hanya mimpi loe aja??? " Aurel meninggalkan Ayudia sambil tertawa, membuat Ayudia menggelengkan kepalanya melihat kelakuan mantan kakak tirinya itu.
Saat melewati sebuah ruangan, terlihat Lia keluar dengan wajah muram dan stress karena di periksa maraton, terlebih ia merasa sangat kelaparan.
ekor matanya melihat Aurel yang melintas ,segera ia memanggil anaknya itu, ia tak pernah tahu jika Aurel juga di periksa dan apakah menyangkut hal yang di tuduhkan padanya? tapi Aurel tak tahu menahu mengenai hal itu, atau mungkin sebagai saksi??? entahlah
"Aurel, nak, tunggu mama" teriak Lia, Aurel hanya menoleh sebentar lalu berjalan kembali, seolah tak mengenal wanita paruh baya yang memanggilnya.
Ayudia pun sampai mengerutkan alisnya bingung, bisanya ibu dan anak itu sangat akur, apalagi soal membully dirinya, namun dilihat dari ekspresi Aurel, sepertinya telah terjadi sesuatu yang membuat Aurel mengabaikan mamanya.
"Tumben itu duo ulat bulu cuek-cuek aja, apa mereka sedang bertengkar ya??
menarik...
Aku akan memanfaatkan hal ini" ucap Ayudia tersenyum penuh arti
"Ih tuh anak kesambet apaan sih, di panggil orangtua malah melengos pergi, dasar anak durhaka.
Apa dia masih marah gara-gara aku gak bantu ya???
ah bodo amat lah, nanti kalo udah ilang ngambeknya juga cari gue" gumam Lia dalam hati.
Lia memutar kepalanya yang terasa pegal, namun sudut matanya melihat Ayudia , anak tirinya,
" Ah mantan anak tiriku juga berada di kantor polisi yang sama denganku???"
Tiba-tiba Lia tersadar sesuatu, ia menduga jika Ayudia lah yang melaporkannya
__ADS_1
"Dasar anak tiri gak tahu diri, kamu kan yang melaporkan saya???" bentak Lia lupa jika posisi mereka sedang di kantor polisi
"Aku apa Tante yang gak tahu diri???
Tante menikahi papa hanya untuk harta, mengeruk harta pa seperti pindah menempel pada tubuh, saat papa sakit, Tante malah sibuk memikirkan bagaimana menguras harta papa, seperti itu apa bukan Tante yang tak tahu diri???.
Ingat Tan, Tante di pungut papa karena papa iba pada wanita seperti Tante yang terlunta-lunta dengan seorang anak, tapi nanya juga pernah gak tahu diri ya gak bisa ngaca" cibir Ayudia membuat wajah Lia merah padam karena marah, terlebih beberapa orang malah menonton pertengkaran mereka
"Dasar anak tak tahu diri, masih untung saya mau merawat anak sial seperti kamu,.
kamu anak sial yng membuat mamamu terbunuh" ucap Lia menyerang titik sensitif Ayudia
Plaaakkk
Sebuah tamparan keras mendarat di wajah mulus ,
kini pipi nya tercetak tangan Ayudia
"Kurang ajar, kamu berani....."
Baru saja Lia ingin memukul wajah Ayudia, tangannya di tahan oleh seorang polisi
"Siapa yang berani ikut campur?" bentak Lia yang tak melihat siapa yang mencekal tangannya
"Ibu mau apa??" ucap polisi tersebut tersenyum
Lia reflek menolehkan kepalanya, betapa terkejutnya ia saat melihat seorang polisi tersenyum padanya
"Jika wanita itu masih buat ulah, jebloskan ke penjara" ucap seorang pria paruh baya yang terlihat kharismatik dan tegas, Ayudia menduga jika pria paruh baya itu bukan orang sembarangan, melihat betapa tegas dan berwibawa
Lia langsung bergetar ketakutan, ia mengatupkan kedua tangannya memohon
"Maaf pak polisi, dia anak tiri saya, dia kurang ajar menampar saya, jadi saya ingin sedikit memberi pelajaran" bela Lia berharap mendapatkan dukungan mereka
Lia langsung mengkerut ketakutan
"Baik-baik" ucap Lia langsung langkah seribu, ia tak mau berbuat konyol di kantor polisi, yang ada sebelum kasusnya selesai, ia akan di dakwah dengan tuntutan baru, Lia tak sebodoh itu, ia berjalan setengah berlari hingga nafasnya ngos-ngosan dan baru berhenti ketika sudah keluar dari kantor polisi, ia mengumpat dan memaki kesal di dalam mobilnya
"Wanita jelang itu, awas saja, tunggu pembalasanku!!!" geram Lia memukul setirnya.
Sementara di dalam kantor polisi
"Ayudia, kamu Ayudia kan???" tanya pria paruh bay situ tersenyum hangat
"Be..benar, anda???"
"Saya Kuncoro, panggil saja om Kun.
Saya diminta oleh kakek mu untuk membantumu , ayo kita keruangan saya" ucap kepala kepolisian tersebut, Ayudia terkejut, bagaimana kakeknya bisa mengenal orang sepenting itu??? Ayudia menduga bahwa pria tua Bangka itu, tak sesederhana kelihatannya, Ayudia yakin kakeknya memilki orang berkedudukan penting di belakangnya.
Sementara di ruang kerja Arjuna
William hanya menggeleng pelan mendengarkan Arjuna yang masih saja mengomel.
beruntung William datang di saat yang tepat, jika saja telat sedikit sudah bisa di pastikan sekertaris itu akan di pecat oleh Arjuna.
William tak merasa keberatan dengan omelan Arjuna, ia sudah terbiasa dan tidak mau ambil pusing karena hal tersebut, daripada kakak sepupunya itu melakukan kesalahan memecat orang yang tak bersalah.
"Mau apa aku keruangan ku, aku sibuk" ucap Arjuna setelah memilih mengomel
"Aku datang karena hal penting, tapi kamu malah sibuk dan mengusirku, baiklah aku pergi" ucap William bangkit, wajahnya di hiasi senyum mengejek
__ADS_1
"Apa yang ingin kau katakan???"
"Aku??? bukankah baru beberapa menit aku kau usir, kakak sepupu????" kek William menyeringai lebar
"Will, aku sedang dalam mood buruk dan sedang tak ingin bercanda" pekik Arjuna kesal
"Aku juga sedang dalam mode cari aman dan tak mau mengganggu" balas William membuat Arjuna mengeram kesal, sejak William mengetahui jika ia adalah sepupunya, sikap William menjadi sedikit berbeda, William kini terang-terangan berani menentangnya tanpa rasa takut.
Arjuna tak akan berani menyiksanya lagi karena mereka saudara kandung.
"Mahendra William Scott, aku sedang tak mau bercanda, katakan apa tujuanmu datang kemari!!!!" pekik Arjuna sudah kehilangan kesabaran
"Haruskah menyebut nama lengkapnya??? cih...
itu sikap orang yang meminta informasi dariku???"
Arjuna melotot tak senang, namun ia kini berada di posisi orang yang kalah, ia butuh informasi dari William.
Mau tidak mau ia harus bersikap baik pada sepupunya yang menyebalkan ini.
Jika bukan karena ancaman papanya, sudah ia kirim William keluar kota mengurus cabang di kota terpencil.
Namun setelah tahu ia sepupu nya, Baskoro sudah mewanti-wanti agar Arjuna menjaga sikap, bagaimanapun William dan Willy adalah saudaranya yang malang.
"William saudaraku, apa kau punya informasi penting untukku??"
"Kau tahu kak? kalimat mu sangat aneh, jangan sampai orang mendengar ucapan mu, norak"ucap William memutar bola matanya malas.
Arjuna pingin sekali menjitak kepala William, namun ia tak bisa, sehingga ia menendang sofa di depannya secara reflek
Bugh
"Aduh, siaaalll, kenapa sofa ini jelek dan menyebalkan?" gerutu Arjuna
"Kau kesal padaku jangan lampiaskan pada sofa yang tak salah" cengir william namun Arjuna acuh tak acuh seolah tak mendengar
"jadi, apa kau mau memberitahukan ku atau gak, kalau kau tak mau berbicara, cepat keluar" usir Arjuna
"Kau pemarah, apa kau sedang PMS?" goda William tertawa kecil, Arjuna hanya melotot tanpa mau mengatakan apa-apa
"Baik, baiklah.
Ini" ucap William menyodorkan sebuah amplop coklat Yang sedari tadi ia bawa.
"Apa ini?" tanya Arjuna menaikan sebelah alisnya
"Kertas ..
Bukalah, kau banyak bertanya"
Arjuna mendengus kesal, ia lalu membuka map tersebut.
Sebuah flash disk dan bukti tertulis diatas materai, itu...
saksi sekaligus pelaku pembunuhan Ayudia!!!
"Dia tukang kebun yang bernama Parno, yang merupakan kaki tangan Deswita"
"Bagus, apa kita bisa mendakwa nya sekarang???" tanya Arjuna bersemangat.
"Belum cukup, kita perlu bi Mirna, orang yang membawa racun untuk istrimu.
__ADS_1
Aku sudah mencari keberadaanya, sepertinya ia bersembunyi."