
Pagi itu, Baskoro sengaja masuk kantor, ia memang sudah menyerahkan kursi kepemimpinan pada putranya, sementara ia hanya menjadi penasihat anaknya di perusahaan itu.
William menyambut kedatangan Baskoro, ia sudah tahu kedatangan Baskoro karena semalam pria tua itu sudah menghubunginya dan memberitahu jika ia ingin menemui Jovanka secara langsung,
Baskoro ingin memastikan pengelihatannya, dan meredakan keresahan yang selama bertahun-tahun menghantuinya, rasa bersalah
Arjuna yang mendapat laporan dari Willy jika papa nya datang kekantor menghela nafas, pasalnya jika menyangkut perusahaan, mereka bekerja secara profesional, mengesampingkan hubungan mereka sebagai anak dan ayah.
"Siapkan semua laporan, jangan ada kesalahan atau aku akan kena Omelan pria tua itu sepanjang hari" ucap Arjuna pada Willy.
"Siap bos" ucap Willy langsung pamit dan melakukan tugasnya
Sementara Baskoro yang memang tujuan utamanya bukan menemui putranya, memilih masuk ke dalam ruangannya sendiri, ruangan yang masih berasa satu lantai dengan Arjuna, hanya saja letaknya yang berjauhan kantor Arjuna di sisi kanan, sedang kantor Baskoro di sisi kiri.
Setelah Baskoro masuk kedalam ruang kerjanya, William lalu berjalan menuju ruang kerja Jovanka, ia sendiri yang akan menyampaikan pesan Baskoro.
Tok Tok Tok
"Mba Jo, ada pak William ingin bertemu" ucap bawahan Jovanka bernama Airin pegawai magang di divisi mereka
"Pak William????" ucap Jovanka dengan nada bertanya, ia rasanya hanya mengenal satu orang bernama William yaitu wakil CEO perusahaan ini
"Pak William wakil pak Arjuna Bu" ucap Airin mengingatkan, mungkin Jovanka lupa
"Ah iya saya tahu, jadi dia, persilakan masuk, terima kasih ya Rin"
"Sama-sama Bu Jo" ucap Airin tersenyum manis
tak lama Airin tak lama kembali datang dengan William di belakangnya
Jovanka menatap bingung kedatangan William ke ruangannya, saat ini ia sedang sibuk memeriksa hasil kerja bawahannya, namun karena kedatangan Wiliam terpaksa ia menunda pekerjaannya
"Pagi pak William" sapa Jovanka berdiri dari kursi kerjanya menyambut kedatangan Wiliam
"Pagi Bu Jovanka, bisa saya minta waktunya sebentar???"tanya William sopan
"Maaf mau minum apa pak William?" tanya Airin sopan
__ADS_1
"enggak perlu mba , terima kasih"
"Kalau begitu saya permisi"
Airin pergi meninggalkan William dan Jovanka kembali ke tempat duduknya.
"Ada perlu apa ya pa, maaf"tanyA jovanka
"Ada yang ingin menemui anda, beliau pemilik perusahaan ini sekaligus papa dari CEO kita"
"Ada masalah apa ya pak sampai saya di panggil??? apa saya membuat kesalahan???” tanya Jovanka khawatir
"Jangan khawatir, mungkin big bos mau mengucapkan terima kasih secara langsung karena sudah berkenan mendonorkan darah untuk istri beliau, mari ikut saya keruangan beliau" ucap William sopan
"Ah baiklah,, tunggu sebentar" ucap Jovanka merapihkan mejanya lalu berjalan mengikuti William menuju lift khusus direksi menuju ruang kerja big bos.
Sepanjang jalan Jovanka berfikir keras, sepertinya ada maksud lain kenapa ia dipanggil menghadap pemilik perusahaan yang sudah mengundurkan diri dari kepemimpinan.
Jika untuk mengucapkan terima kasih, buat apa sampai repot-repot meminta Willian yang menyampaikan pesannya, bukankah ia hany. harus memberitahu sekertaris ya lalu menghubunginya melalui telepon pararel yang tersambung ke ruangannya.
Jovanka merasa perasaanya tak enak, namun ia tak bisa menolak begitu saja, terlebih yang memintanya adalah pemilik perusahaan tempatnya bekerja
Sambil mengagumi, ia terus mengikuti langkah kaki William, terkadang ia berlari kecil mengimbanginya
Sebuah meja sekertaris menyambut mereka, Jovanka tak begitu menegak orang walau ia sudah hampir enam bulan di perusahaan ini, ia hanya mengangguk saat sekertaris big bos menyapanya
Tok Tok Tok
"Masuk" ucap suara bas penuh wibawa dari dalam ruangan
William membukakan pintu untuk Jovanka lalu mereka masuk, terlihat seorang pria setengah baya sedang menunduk membaca dokumen-dokumen di hadapannya
"Silahkan duduk dulu, saya sedikit lagi selesai" ucap Baskoro tanpa menoleh
William lalu mempersilahkan Jovanka duduk, ia lalu meninggalkan ruangan itu, jovanka merasa pernah mendengar suara pria itu, sangat familier tapi di mana dan kapan ia bertemu dengan pria ini??? atau....
"Maaf membuat anda menunggu Bu Ayudia Larasati" ucap Baskoro sengaja memancing reaksi Jovanka.
__ADS_1
Mendengar namanya di panggil, Jovanka terkejut bukan main, bibirnya langsung bergetar, nama yang sudah lama terlupa, entah mengapa pria paruh bawa ini tahu namanya
Perlahan Jovanka menaikan kepalanya menatap lawan bicaranya dan bola matanya membulat sempurna, walau sudah enam tahun lamanya tidak bertemu, namun Jovanka mengenal pria itu,
"Pa..papaa mertua....????" ucap Jovanka tanpa sadar , senyum tipis terukir di bibir Baskoro.
Jovanka merasa sudah melakukan kesalahan, ia berusaha menetralkan perasaanya yang ketakutan dan deg degan, semua campur jadi satu
"Maa.maaaf pak, anda salah orang" ucap Jovanka menundukkan kepalanya
"Walau saya sudah tua, namun ingatan saya belum buruk, saya tahu kamu masih hidup nak" ucap Baskoro tiba-tiba duduk dan memeluk Jovanka, sementara Jovanka masih terdiam, belum lepas keterkejutannya, ia sungguh shock.
Bagaimana ia begitu bodoh tidak mengetahui jika perusahaan tempatnya bekerja adalah perusahaan keluarga Baskoro, bagaimana pun Baskoro adalah pengusaha sukses dan memiliki anak perusahaan yang bergerak di berbagai bidang.
Kini Jovanka mengutuk kebodohannya sendiri, ia sangat berhati-hati dalam setiap tindakannya bahkan ia memaksakan diri memakai kacamata tebal yang selalu menyiksanya untuk mengelabuhi orang-orang yang kenal dengannya, namun satu lagi kesalahan Jovanka, ia melupakan jika kekuatan keluarga Baskoro bisa mencari identitasnya dengan mudah, walupun Adrian sudah menutup sebagian informasi tersebut, namun tak mudah bagi Baskoro mencari kebenarannya.
Jovanka merasa tubuhnya mengigil, ia sangat ketakutan hingga akhirnya ia tak sadarkan diri dalam pelukan Baskoro
"Astaghfirullah, nak, Ayudia, Ayu sadar nak" panggil Baskoro panik, beruntung William masuk dan ia bergegas memanggil dokter pribadi Baskoro
lima belas menit kemudian dokter sampai dan langsung memeriksa Jovanka alias Ayudia
"Bagaimana dok menantu saya???" tanya Baskoro khawatir
"Tenang saja pak, menantu bapak baik-baik saja, hanya sedikit shock dan sangat tegang di tambah kurang istirahat, sebentar lagi juga siuman" ucap dokter Rahmat
"Apa dia tidak perlu di bawa kerumah sakit???"
"Tidak perlu pak, saya kan meresepkan vitamin saja, karena sepertinya menantu bapak terlalu lelah dan kurang istirahat" ucap dokter Rahmat, setelah memberi resep pada William, ia pamit pulang
William berdiri menatap kakak iparnya itu, kini wajah Jovanka tanpa kacamata tebalnya sehingga William bisa melihat wajah cantik kakak iparnya itu
"Pa, ini benar-benar kak Ayu ....!!!!!" pekik William
"Amankan situasi, jangan sampai ada yang tahu jika Ayu pingsan, dan jangan sebut nama Ayu, ingat disini namanya Jovanka, jangan buka penyamarannya.
Papa rasa ia punya alasan kuat untuk menutupi jati dirinya dan juga papa punya alasan juga untuk tidak membocorkan jati dirinya, papa harap kamu bisa menyimpan rahasia ini untuk sementara waktu dan urus kedua sekertaris ku agar bungkam, beri mereka insentif yang besar untu tutup mulutnya"
__ADS_1
"Baik pa" ucap William lalu keluar dari ruangan Baskoro