(Anak Genius) YANG TERBUANG

(Anak Genius) YANG TERBUANG
Sumiatun II


__ADS_3

Willy merasa dadanya sakit bah di hantam oleh palu Godam, kenyataan ini membuatnya terluka.


Awalnya ia sangat mendukung mamanya bisa bersama dengan papanya, walau jatuhnya papanya turun ranjang karena menikahi adik iparnya, namun kenyataan ini membuat Willy bertekad akan menentang kedekatan mereka berdua.


"Pa, kenapa kau lakukan ini pada kami???


Kenapa kau juga memberikan harapan palsu pada mama Ratna??? kau menjijikan " ucap Willy lalu menaiki tangga masuk ke dalam kamarnya.


Willy terus terngiang-ngiang kalimat bi Atun yang manja dan lemah, bagaimana papanya bisa berbicara selembut itu dengan pembantu??? bukan, bi Atun bukan pembantu bagi Baskoro, lalu siapa bi Atun sebenarnya?


Apa benar dugaannya jika bi Atun kekasih papanya???


sejak kapan mereka seperti itu?


Willy masuk ke dalam kamarnya lalu bergegas mandi, ia sengaja berdiri di bawah guyuran air shower karena ia merasa otaknya kusut.


ia harus menjernihkan otaknya, membuang semua prasangka ya sambil mencari tahu sebenarnya apa hubungan Baskoro dan bi Atun?


Sejak kapan hubungan itu terjadi?


tiba-tiba Willy merasa mual membayangkan papanya dengan bi Atun.


Willy mual dan muntah.


"Aku tak akan memberi kesempatan pada papa untuk dekat dengan mama Ratna lagi, aku tak mau mamaku kecewa dan terluka.


Papa yang ku kira bersih dan kesepian ternyata berkelakuan buruk" gumam Willy memukul tembok kamar mandinya.


Setelah selesai mandi, Willy turun ke lantai bawah dan tanpa sengaja melihat Baskoro dengan rambut yang basah, sedang di suguhi kopi oleh BI Atun, namun keduanya berambut basah baik Baskoro maupun bi Atun.


Bi Atun membuatkan secangkir kopi untuk Baskoro terlihat keduanya sangat akrab, pemandangan tersebut terlihat seolah keduanya suami istri yang rukun dan bahagia karena senyum tersungging di bibir keduanya.


Willy bukan anak kecil lagi yang tak tahu apa yang di lakukan kedua manusia itu beberapa waktu lalu, tiba-tiba Willy merasa jijik.


ada perasaan benci yang melintas di hati Willy, entah ia menyalahkan bi Atun yang terlalu murahan atau menyalahkan papanya yang tak kuat menahan iman.


Baik bi Atun dan Baskoro keduanya bersalah Dimata Willy.


Willy hanya berdiri terpaku di atas tangga, ia enggan meneruskan langkahnya, rasanya ia ingin berbalik ke kamarnya sebelum kedua manusia di bawah itu melihatnya, namun Baskoro tanpa sengaja melihat Willy Yang sedang berdiri di sana dan ia tersenyum hangat.


"Hai Willy, kau di rumah??" sapa Baskoro pada putra angkatnya


"Iya pa Willy hanya sebentar saja kangen sama Sarah dan Vera" ucap Willy berjalan menuruni tangga mendekati papanya dan duduk di depan Baskoro.


Diantara semua anaknya, Willy lah yang paling perhatian pada adik-adiknya dan dirinya.


Sementara William setelah menikah ia memilih tinggal bersama istrinya di kediaman Ratna.

__ADS_1


sejak menikah baru dua kali William mengunjunginya di rumah, itupun ia tak menginap


Papa habis mandi??? tumben ini km masih siang???, kok Papa dan bi Atun rambutnya Basah??? habis mandi bareng ya" celetuk Willy membuat Baskoro yang senang meneguk kopinya tersendak dan batuk-batuk


Sementara bi Atun membulatkan matanya terkejut, namun sedetik kemudian ia bersikap biasa kembali.


hanya dalam beberapa detik bi Atun bisa mengendalikan perasaanya, sungguh luar biasa.


Willy jadi percaya atas perkataan Davina bahwa wanita yang bisa menyembunyikan perasaanya dengan sangat baik adalah wanita yang menyeramkan dan tidak sederhana.


Siapa sebenarnya bi Atun???


"Den Willy kalau ngomong ngaco aja, bagaimana kalau ada yang dengar den?


Bisa bahaya dong, lagian tuan kan majikan saya" ucap bi Atun dengan wajah merona merah


"Iya nih ngaco aja" timpal Baskoro kikuk sambil mengelap kopi yang tumpah dengan tisu.


Baskoro tak berani menatap putranya, jantungnya seakan berpacu cepat.


"Ya kan cuma becanda, jangan di ambil hati kecuali bener hehe.


lagi pula Willy juga gak percaya papa bisa suka sama.bi Atun, Willy tahu selera papa


becanda pa" ucap Willy setengah berbisik, namun masih bisa di dengar oleh BI Atun.


Willy mencoba membaca wajah bi Atun,. namun ekspresi bi Atun datar.


Baskoro terlihat tak suka dengan ucapan Willy, ia menatap putranya dalam diam


"Papa gak pernah mengajarkan kamu berbicara seperti itu Willy....


siapapun orangnya, kita tak boleh merendahkannya hanya karena status pekerjaannya" ucap Baskoro serius.


Willy melirik pada Bu Atun, wajah bi Atun datar namun sorot matanya terlihat ada kepuasan dan bahagia di sana. Mungkin karena mendapat pembelaan dari Baskoro, Willy tak mau membuat perkara dengan papanya


"Maaf bi Atun, aku cuma bercanda" ucap Willy kemudian


"Gak maslaah den, bibi mengerti" ucap bi Atun menyunggingkan senyum terpaksa


"Oh ya pa, kemana Sarah dan Vera pa???" tanya Willy tiba-tiba


"Di kamar kali tidur siang" ucap baskoro sambil meresap kopinya


"Tapi kalau den Vera kayanya jam segini lagi asik main game, soalnya beberapa jam lalu habis saya bawakan juice kesukaannya" ucap bi Atun menambahkan


Willy tersenyum canggung

__ADS_1


"Willy mau ke kamar Sarah dulu ah" ucap Willy berjalan menuju kamar Sarah, ia melirik ke arah belakangnya.


terlihat Bi Atun dan Baskoro yang hanya menggeleng melihat dirinya pergi


"Ya Allah keluarga macam apa ini???


apa hubungan papa dengan wanita itu?" ucap Willy lirih.


Willy menuju kamar Vera, terlihat adiknya itu sedang asik bermain game,


Seperti yang di katakan bi Atun. Vera asik main game sambil menyeruput juice alpukat kesukaannya dan sepiring spaghetti.


Willy langsung menghampiri Vera dan mengacak-acak rambut Vera.


ia menarik satu rambut Vera membuat gadis itu berteriak kesal karena di ganggu Willy


"Kak Willy sakit tahu" teriaknya menoleh sekilas kemudian fokus lagi kedepan layar komputernya


"Jeee, siapa suruh rambut kaya anak laki, mana tuh rambut ada yang berdiri kaya bulu landak tau, gemes kakak"ucap Willy kembali mengacak acak rambut Vera, Vera berkelit dan kesal karena kebiasaan Willy salah mengacak-acak rambut pendeknya, dan lagi Willy mencabut rambut Vera


"Kakak sakittt sue bener nih perjaka tua" maki Vera merasa terganggu


"Sembarangan, pacar kakak banyak tahu, lagian kamu lucu bener sih?? laki bukan perempuan bukan, siapa juga laki-laki yang mau deketin


"Ish Eike bukan badut Ancol kales, lagi mau paa sih tumben ganggu aku aja.


kakak jangan salah, cowok yang antri sama aku tuh banyak, hanya saja aku jomblo berkelas"


ucap Vera bangga


"Haha percaya, percaya....


Uhm Kakak mau ajak makan sih di luar, tapi Sarah tidur , kamu lagi sibuk"


"Kata siapa aku tidur ih, ayo kak.


Traktir sushi, ramen, teppayaki ya???" ucap Sarah tahu-tahu langsung masuk ke dalam kamar vera


"Ya apes deh si bawel dah bangun, niatnya cuma basa basi"


"Kakak, nyebelin, cepet ah


aku mau ganti baju. Vera woi, ganti baju loe, jangan pake topi paku-paku, malu-maluin kalau jalan sama gue loe harus stylish" ucap Sarah langsung melompat keluar lagi dari kamar Vera


"Ah nanggung banget sih, dua puluh menit lagi kak"


"Sekarang atau gak sama sekali, kakak tunggu di bawah tiga puluh menit" ucap Willy keluar dari kamar Vera, ia menuju kamar Sarah untuk mendapatkan rambut Sarah.

__ADS_1


Willy memasukkan rambut Vera ke dalam plastik klik yang bertulis nama Vera.


"Maafkan kakak adik-adikku, kakak hanya ingin kepastian. Walau kalian bukan adik kandung kakak sekalipun, kakak tetap menyayangi kalian bertiga" ucap Willy memejamkan matanya di depan pintu kamar Sarah.


__ADS_2