
Sidang pertama kasus pelecehan seksual di gelar.
Ayudia datang dalam sidang perdana tersebut sebagai korban, ia di cecar dengan pertanyaan seputar kejadian.
dalam sidang tersebut juga di hadiri oleh pihak dari Komnas perempuan dan anak
Lia terus berteriak memprotes pernyataan ayudia hingga akhirnya hakim mengancamnya akan memberatkan hukuman Lia karena di nilai tak menghormati proses peradilan.
Setelah Ayudia selesai , kini gantian Lia yang maju, duduk di kursi pesakitan, ia di cecar oleh pertanyaan dari jaksa penuntut prihal keterlibatannya.
Lia terlihat lancar menjawab, terkadang pengacaranya menginterupsi pernyataan jaksa yang di nilai merugikan kliennya, Lia merasa diatas angin, terlebih Bellboy yang dulu yang di mintai membawa Ayudia ke kamar hotel datang sebagai saksi dari pihaknya
Setelah Lia turun, ia berjalan dan duduk di samping meja Aurel, Lia melirik pada anaknya sambil melemparkan senyum licik.
Kini giliran Aurel yang maju dan duduk di kursi pesakitan setelah disumpah.
Wajah Aurel pasrah, ia tahu mamanya akan berusaha melakukan apapun untuk lepas dari jerat hukum, Lia mencuci tangan dari segala kesalahannya, walau air cucian tangannya adalah darah putrinya sendiri.
"Jadi anda menyangkal perkataan mama anda jika andalah yang merencanakan semua, termasuk memasukkan obat perangsang ke dalam minuman saudara tiri anda???" cecar jaksa penuntut
"Saya tidak sepenuhnya menyangkal, saya memang yang memasukkan obat itu, tapi atas perintah Lia, mama saya, dan saya tidak pernah merencanakan ,mama saya yang merencanakan semuanya, karena ia terlilit utang judi" ucap Aurel membuat wajah Lia memerah karena malu, namun ia berusaha tenang.
"Kamu memfitnah mama Aurel????, mama berhutang untuk kuliahmu, mama sungguh kecewa padamu" teriak Lia dari bangku nya
Tok tok tok
"Tenang-tenang saudara sekalian" teriak hakim karena suasana langsung gaduh
"Saya tak pernah berbohong pak hakim, apa salah saya punya anak tak berbakti seperti dia?? hik hik hik" Lia menutup matanya dan menangis.
Ayudia yang melihat hal tersebut mengepalkan tangannya geram, wanita ini lebih licik dari seekor rubah sekalipun, wajahnya penuh penghayatan peran sebagai ibu yang terzalimi.
walau Ayudia tak menyukai Aurel, namun di hatinya ada rasa kasian.
"Ibu Lia, jika anda tidak bisa diam, terpaksa saya akan meminta petugas sipir untuk membawa anda kembali ke dalam tahanan" ucap pak hakim tegas.
Mungkin orang lain akan berfikir jika perkataan Lia benar, namun mereka memiliki hasil visum mengapa wajah Aurel saat sidang ini masih di hiasi biru lembab di beberapa bagian dan luka bekas cakaran di wajahnya.
Lia mengira bisa mengelabuhi hakim, namun ia lupa jika mata hakim dan par anggotanya sudah berpengalaman menghadapi beratus-ratus orang sepanjang karier mereka, tidak akan bisa di tipu dengan mudah.
Mereka bisa melihat dan menilai, yang mana yang memang tulus dan yang mana hanya isapan jempol belaka.
Mendengar ucapan hakim, Lia langsung diam, pengacaranya langsung memberi kode padanya untuk tenang dan menyimak.
sikap Lia bisa membuat rencana yang pengacara itu buat berantakan, terlebih sikap nya bisa mempengaruhi hasil sidang.
Tiba-tiba pintu ruangan sidang terbuka dan masuklah dua orang pria paruh baya, salah satunya memancarkan kharisma dan keangkuhan secara bersamaan
__ADS_1
Sontak semua mata menoleh ke arah belakang dan bertanya-tanya siapa orang yang masuk ke dalam sidang saat sidang sudah berlangsung.
"Siapa dia ma?" tanya Ayudia pada Khadijah
"Mama juga tak tahu sayang, sepertinya ...."
Salah satu pria tersebut maju dan memperkenalkan diri sementara satunya lagi duduk di kursi dengan anggun.
Wajah Lia terlihat tegang dan memancarkan kerinduan, sementara pria tersebut menatap tajam ke arah Lia, seolah ingin membunuhnya
Lia merasa merinding dan buru-buru menundukkan kepalanya.
ia gemetaran ketakutan.
Ayudia yang melihat interaksi antara Lia dan pria tersebut segera menarik kesimpulan
"Nona besar, di adalah Jimmy Chou yang beberapa waktu lalu bekerjasama dengan kakek anda" ucap pengacara keluarga nya
"Benarkan om? jadi dia adalah pria itu," ucap Ayudia menatap tajam kearah Jimmy dengan tatapan penuh kebencian. Jimmy yang merasa dirinya di perhatikan, menoleh ke arah Ayudia, ia mengerutkan alisnya karena mendapat tatapan aneh dari orang yang pertama kali ini ia lihat
"gadis aneh, mengapa sepertinya ia sangat membenciku?" gumam Jimmy dalam hatinya.
Pria paruh baya satunya maju dan menunduk dengan hormat pada hakim dan yakin anggota
"Pak hakim yang terhormat, Izinkan saya memperkenalkan diri, saya adalah pengacara yang akan mendampingi nona Aurel, nama saya Irawan, maaf jika saya telat datang karena terjebak kemacetan"
"Terima kasih pak hakim ketua" ucap Irawan lalu duduk di meja di samping tempat duduk Aurel.
Aurel menatap lekat sosok yang selama ini ia rindukan, papa kandungnya, mengapa pria dingin itu datang, apakah ia berubah pikiran dan mau mengakui nya anak?"
"Sidang kita lanjutkan" ucap hakim pendamping.
Pertanyaan demi pertanyaan di ajukan oleh jaksa penuntut, hingga akhirnya Aurel selesai di mintai keterangan dan duduk kembali di tempatnya
Sebelum duduk ia melirik ke arah Lia yang terlihat pucat pasi, sudut bibirnya tersungging senyum .
Selanjutnya menghadirkan saksi, salah satunya adalah Bellboy , resepsionis dan orang-orang yng berada di tempat kejadian, termasuk Khadijah yang mengetahui kepergian Ayudia , Lia dan Aurel
Akhirnya sidang pertama berakhir
Ayudia, Khadijah dan pengacara keluarga Benedito bernama Santiago meninggalkan ruang sidang.
Sidang hari pertama berjalan lancar, Ayudia langsung menelpon William untuk menceritakan kejadian di ruang sidang tadi.
"Benarkan pria itu hadir disana kak?" tanya William di ujung telepon
"Iya, ingin sekali aku mencekiknya Will, andai saja kau hadir, pasti kau juga memiliki keinginan yang sama" ucap Ayudia
__ADS_1
"Aku, mungkin aku akan membunuhnya kak, pria itu yang membunuh papaku dan membuat papa kak Samuel juga meregang nyawa demi menyelamatkan mama, aku membencinya sampai ke tulang sumsum ku" ucap William bergetar penuh kemarahan.
"Aku mengerti Will, akan tiba saatnya untuk membuat perhitungan pada pria itu, pria sumber penghasil wanita-wanita toxic seperti Deswita dan Lia."
"aku setuju kak"
"Will, apa materi gugatannya sudah lengkap, bagaimana jika sekali mendayung dua tiga pulau terlewati???"
"maksud kakak????"
"Aku akan mengatakan rinciannya padamu, bagaimana jika kita makan siang di restoran A?"
"Baiklah kak, kau yang traktir" goda William
"Tak maslaah, aku akan bersama mama Khadijah, telepon kak Samuel dan Willy, kita berkumpul untuk membahas masalah itu
"Baik kak, serahkan padaku" ucap william, lalu panggilan berakhir"
Sementara di ruang kunjungan tahanan, terlihat Jimmy dan pengacaranya serta ia dan Aurel yang sedang duduk di depan mereka
Lia meremas pakaiannya, wajahnya pucat.
"Jadi, ku pergi dariku hanya untuk berakhir di penjara???
Ku kira kira terakhir kali menolaknya karena mengatakan menemukan cintamu, dimana laki-laki bodoh itu????" cibir Jimmy menatap mantan kekasihnya
"Aku sudah bercerai" ucap Lia lirih
"Hahaha, Lia, Lia.... kau tak pernah berubah" ucap Jimmy sinis
"Apa yang kau lakukan pada anakku?" ucap Jimmy langsung merubah arah pembicaraannya
"Dia bukan anakmu" ucap Lia membuang wajahnya ke lain arah
"Kau pikir aku bodoh? aku sudah memeriksa siapa Aurellia, dia anakku yang kau bawa lari"
"Kalau kau tak selingkuh dan main tangan aku tak akan kabur" teriak Lia yang memendam kekesalannya dalam hati
Dua puluh tujuh tahun ia dibayangi oleh rasa marah, kecewa dan penyesalan, Lia menangis sejadi-jadinya
"Aku akan kembali lagi besok" ucap Jimmy bangkit, ia melirik ke arah Lia lalu menggelengkan kepalanya
"Terima kasih atas bantuan papa" ucap Aurel canggung
"Hmm" Jimmy hanya berdehem lalu pergi diikuti pengacaranya, sementara Lia dan Aurel kembali ke sel masing-masing.
kepala penjara memisahkan sel mereka karena takut Lia melakukan kekerasan lagi pada putrinya.
__ADS_1