
Setelah kembali dari kediaman keluarga Jhonson. Matthew semakin mengerahkan beberapa anak buahnya untuk melacak keberadaan Gideon termasuk vivi. Leo pun terlibat penuh di sana. teknologi canggih dalam perusahn Matthew sekarang juga merambah ke bidang IT karena Leo adalah lulusan Sarjana IT terbaik. dia bahkan bisa menjadi hacker handal untuk mendapatkan informasi serahasia apapun.
namun kali ini sedikit sulit. entah karena Pencipta yang tidak merestui.
Disisi lain, Margaret masih merasa tidak terima dia mendadak dipindahkan ke kantor cabang di kota B. setelah kemarin ia tidak dapat menghadiri pernikahan Matthew bahkan diusir petugas karena tidak memiliki undangan, kini dia mendapat kabar lain dipindahkan.
artinya dia akan semakin sulit untuk menaklukkan pria idamannya si penerus Dirgantara Grup.
"sial..sial.. sial... ini pasti gara-gara si perempuan sok cantik itu. pasti dia yang memaksa Matthew memindahkan kan ku. lihat saja nanti. aku tetap akan mendapatkan Matthew "
Margaret mengumpat memaki Angel. menurutnya ini pasti permintaan Angel dan terpaksa Matthew menurut.
Dua hari berlalu, hari ini Matthew akan kembali bekerja. pekerjaan menumpuk telah menanti di perusahaan. sebagai istri, pagi-pagi sekali angel bangun dan membantu mom Helena menyiapkan sarapan, setelahnya dia kembali ke kamar menyiapkan pakaian dan handuk untuk Matthew kemudian membangunkan sang suami tercinta. Cara membangunkan pria tampan itu dilakukan angel sesuai permintaannya semalam. setelah mereka selesai berkuda-kudaan. Matthew meminta angel membangunkannya dengan mencium seluruh wajah pria itu. sangat manja bukan. angel yang lemas setelah tenaganya terkuras habis menerima begitu saja. Hal yang sama juga akan dilakukan Matthew apabila membangunkan sang istri.
Saat ini, Matthew dengan penuh cinta menatap sang istri yang tengah membantunya memakai kan dasi dan merapikan penampilannya.
"sayangku, kamu cantik" gombal pria itu. yang justru Angel merespon biasa saja.
"tentu saja. aku tahu. aku kan wanita. jelas aku cantik"
"tapi kecantikan kamu terlalu di atas rata-rata sayang " Matthew kembali mencoba menggombal wanita di depannya.
"aku tahu. kalau aku tidak cantik. kamu pasti tidak akan menikahi ku kan. kalau kamu melihatku jelek pasti untuk melihat saja kamu tidak sudih. tapi syukurlah aku ini sangat cantik. hingga bisa menaklukkan tuan Matthew Odilo Dirgantara" ujar angel percaya diri dengan memicing mata.
tawa Matthew meledak mendengar Jawaban sang istri.
"Sayang, mau kamu cantik ataupun tidak yang pasti cintaku bukan karena itu. Detak jantungku karena kenyaman dan kehadiran kamu yang begitu berharga. Yang pasti aku menyakini Tuhan sudah menjadikan kamu sebagai jodoh dan pendamping hidupku. dan aku bersyukur atas itu. I Love you "
mendengar jawaban Matthew, tangan Angel yang sebelumnya sedang merapikan posisi dasi pria itu seketika terhenti. tentu dia terharu. dia kemudian membalas pandangan Matthew.
"aku juga mencintaimu hubby" mata wanita itu nampak berkaca-kaca. perlahan bibir mereka kembali menyatu untuk menyalurkan apa yang sedang meraka rasakan.
saat ciuman itu terlepas. justru Matthew merasakan tongkat sakti premiumnya bangun.
"Sayang, see. dia bangun" ujarnya dengan pandangan berkabut gairah. Angel mengikuti arah tangan Matthew, mata bulatnya melotot melihat bagaimana benda keramat itu walau tertutup celana nampak bergerak ingin keluar.
"woww. dia bergerak hubby" Angel justru antusias melihatnya
__ADS_1
"dia mencari rumah lembah sempit milikmu sayang. mau dipuaskan" bisik Matthew mesra. bahkan tangannya kini meremas dua gundukan besar sang istri.
tentu Angel tersipu. kesemusaman Matthew sunggu tidak kenal waktu.
"satu ronde sebelum ke kantor kayaknya masih sempat sayang" lanjut pria itu masih berbisik dan perlahan menghimpit sang istri di lemari pakaian.
Angel gelapan. satu ronde yang dimaksud Matthew bukan sepuluh menit saja namun sampai setengah jam lebih. bahkan dia biasanya tidak mau berhenti satu ronde malah akan berlanjut lagi.
"nanti kamu terlambat hubby. yuk kita sarapan. kasihan mom dan dad pasti sudah menunggu" ajak angel seraya perlahan melangkah mencoba menghindari kemesuman suaminya.
"eitsss.. mau kemana sayang" Matthew menarik pergelangan tangan Angel yang mencoba menghindari kemudian menghimpitnya lagi ke lemari. bahkan kini dia dengan sengaja menggesek miliknya ke paha dalam sang istri mencoba menyalurkan gairah yang semakin berat.
"sebentar saja sayang. ini akan cepat kalau kamu mau bekerja sama, hmm. aku sudah tidak mampu menahannya " suara Matthew terdengar memberat. tatapannya pun sangat berkabut.
tanpa memberi angel waktu untuk menghindar lagi, dia menurunkan resetling celana dan sedikit menggeser boxernya kemudian terlihat loloslah sang tongkat sakti miliknya menyembul keluar dengan sangat tegak.
Angel melotot dan menggeleng.
"di sini. hubby akan melakukannya di sini?"
Matthew mendesah setelah miliknya dengan sekali sentakan sudah berhasil masuk ke lembah sang istri.
"eehmm.. ahh hubby.. pelan sakit" angel terpekik kaget karena tidak menyadari penyatuan yang dilakukan Matthew.
"ahhhh.. baby. kenapa kau selalu nikmat. aku selalu ingin melakukan ini dengan mu setiap saat" lenguh Matthew seraya menikmati desakan keluar masuk miliknya dilembah angel.
tubuh angel makin terhimpit seiring kuat dan cepatnya hentakan Matthew pada miliknya. dia hanya mampu terus melenguh dan memeluk erat tubuh Matthew takut dia jatuh karena tidak sanggup menahan gelombang nikmatnya.
Tiga puluh menit berlalu, Matthew belum menunjukkan tanda selesai. Angel bahkan sudah mencapai puncak dua kali.
"hubbyyyy.. kapan selesainya, ughh"
"ahhh aku belum ingin selesai sayang. ini terlalu nikmat" Matthew memejamkan mata menikmati sempitnya milik sang wanita.
sementara itu di meja makan, mom Helena dan dad marcel sudah sedari tadi menunggu. Bahkan pria itu terus menahan kesal mengumpati putranya yang dia yakini sedang meminta jatah pagi. dia yakin itu. karena dia dulu pun begitu saat masih jadi pengantin baru. dan sekarang pun masih sama.
"pasti dia sedang meminta jatahnya" gerutu dad marcel.
__ADS_1
mom Helena hanya bisa tersenyum. tanpa merespon sang suami dia langsung menyuruh seorang art untuk memanggil Angel dan Matthew. namun tidak berselang lama, art itu kembali dengan jawaban yang tidak memuaskan.
dad marcel mendengus dan berniat dia sendiri yang akan memangil kedua pengantin baru itu. namun mom Helena mencegah.
"sudah. tidak usah sayang. kita sarapan duluan saja. kamu ini seperti tidak pernah merasa jadi pengantin saja" mom Helena mengejak sang suami sembari tangannya mulai memindahkan nasi ke piring dad marcel.
"tapi ini sudah hampir sejam, sayang" dad marcel masih saja kesal.
"heiii, kamu dulu bahkan membuat orang tua kamu menunggu hingga dua jam" tutur mom Helena mengingatkan sang suami. tetap saja pria tampan diusia lewat setengah abad itu tidak mau dibandingkan dengan sang putra yang mesumnya memang diturunkan dari dirinya.
akhirnya mereka memilih memulai sarapan. Setelah makanan mereka hampir selesai barulah dua manusia yang mereka tunggu sedari tadi muncul dengan raut yang berbeda.
Matthew dengan wajah tampan lengkap dengan senyum sumringah dan puas. sementara angel nampak kelelahan dan dandanan simplenya terlihat berantakan.
"akhirnya kalian keluar juga" ujar mom helena diselipi senyuman penuh arti.
"maaf mom kami lama" ucap Angel merasa tidak enak dan bersalah.
"sudah tidak usah dipikirin. ayo duduk sarapan. mom paham kok. yang penting cucu mom segera jadi ya"
Angel tersipu mendengar Tuturan sang mertua. padahal mom Helena tahu aktivitas mereka tadi di kamar.
"Sebentar lagi jadi mom. iya kan sayang? mom dan dad harus banyak mengerti kalau kami terlambat keluar seperti ini di pagi-pagi selanjutnya"
ehh bukannya menyelamatkan angel dari rasa malu. justru perkataan Matthew membuatnya semakin ingin menghilangkan diri dari sana.
Angel menutupi wajah tersipunya dengan mencoba menyiapkan makanan Sang suami ke piring.
"ini hubby, silakan dimakan" Angel menyerahkan seiring nasihat goreng lengkap dengan lauk telur ceploknya.
"terima kasih sayang " Matthew menerima dengan penuh cinta.
sementara dad marcel yang memang sedari tadi hanya diam menatap putranya itu sembari menggeleng.
"benar-benar titisan sifatku" gumamnya yang masih terdengar mom Helena. Hingga wanita itu merespon dengan berbisik.
"tentu saja. karena buah jatuh tidak jauh dari pohonnya"
__ADS_1