
"selamat sore Tuan muda Matthew. maaf mengganggu. menu apa yang tuan inginkan untuk makan malam?"
sapa dan tanya seorang gadis muda begitu Matthew di susul Angel membuka pintu kamar.
"apa saja"
Matthew menatap datar gadis di depannya. seharusnya hal seperti ini tidak usah ditanyakan lagi. Bibi Han pengurus Villa yang juga ibu dari gadis di depannya sudah tahu. Karena Matthew juga sudah mengatakan ingin makan apa saja sebelum datang ke villa.
sementara Angel menatap gadis di depannya dengan perasaan yang entah seperti apa. dia bisa melihat gadis itu nampak memandang Matthew dengan kerinduan. sebagai sesama wanita dia paham, gadis tersebut memiliki perasaan suka pada Matthew. hatinya mendadak tidak suka melihatnya. apalagi gadis itu terang-teranangan mengabaikannya. padahal dia jelas-jelas berada di samping Matthew.
"kenapa masih di sini. pergilah"
usir Matthew yang juga menyadari tatapan berbeda gadis itu. Dia mengenalnya. Delapan tahun lalu, sebelum mengajak Angel ke Villa tersebut, Matthew beberapa kali ke sana bersama keluarga atau juga sekedar liburan bersama Melvin dan Martin. Gadis tersebut selalu membantu bibi Han saat mereka di villa. semenjak delapan tahun itu juga dia tahu, gadis itu menyukainya. dari caranya memandang, berbicara dan bersikap Matthew dapat menyadari dengan jelas.
"e--ehh, i-iya tuan. saya permisi.
gadis itu kaget karena telah melamun memandang wajah Matthew.
"siapa?" tanya Angel begitu mereka kembali dalam kamar
"yang mana" tanya Matthew pura-pura tidak tahu
"ckk, yang tadi?" tanya Angel lagi namun dengan berdecak dan sedikit ketus.
Matthew duduk di pinggir kasur dan tidak langsung menjawab melainkan dia menarik tangan Angel mendekat padanya . Angel yang masih cemberut bahkan tidak menyadari, Matthew mengangkatnya dan mendudukan dirinya di atas pangkuan Matthew.
"namanya Merlin. Dia anak bibi Han yang menjaga villa ini" Jawab Matthew menatap dalam wajah ayu gadisnya. tangannya juga ikut membelai pipi Angel dengan perasaan teramat sayang.
"sepertinya dia menyukai kakak"
Saat mengatakan itu nampak jelas raut Angel menunjukkan rasa tidak suka. Melihat itu matthew merasa bahagia. sepertinya Angel sudah sangat menerimanya. Dia pun semakin mengeratkan dekapannya di pinggang Angel.
"kenapa? kamu cemburu sayang, hm?"
"haaa, cemburu? tentu tidak"
Elak Angel dan memalingkan wajahnya saat menjawab. dia tidak mau Matthew melihat wajahnya yang bersemu saat ini. Namun tetap saja, posisi mereka yang sangat dekat, membuat Matthew melihat jelas wajah bersemunya.
Matthew terkekeh gemas. Angel menolak mengakui kalau sedang cemburu.
"Kalau kamu cemburu, aku justru senang sayang"
"kamu tahu kenapa, hm?"
Angel tidak menjawab melainkan menanti perkataan selanjutnya dari Matthew. Mereka saling menatap dengan lekat.
"karena di sini, di sini dan di sini, cuma kamu"
ungkap Matthew seraya membawa tangan Angel menyentuh kepala, bibir dan dada bidangnya yang berdetak sangat kencang. Matthew ingin menunjukkan bahwa pikiran, mulut dan hatinya sangat sejalan hanya menuju satu gadis, yaitu Angel.
Perasaan Angel menjadi hangat dan bahagia namun dibaluti kegugupan. Ungkapan perasaan Matthew yang entah untuk ke berapa kalinya membuat jantung Angel bertalu-talu tidak karuan. Tatapan mereka saling mengunci, berdialog melalui mata bagaimana perasaan mereka saat ini.
perlahan wajah Matthew mendekati wajah Angel. hingga jarak yang kini tidak sampai sejengkal Matthew kembali berujar yang membuat Angel meremang dan perasaannnya membuncah.
"aku mencintai dan menyayangimu Angela Abichail. Sangat" lirih Matthew dengan suara yang sangat dalam. masuk hingga ke dasar hati Angel. tidak sampai dua detik setelahnya bibir mereka menyatu. Angel menutup mata saat Matthew dengan lembutnya meng*hisap, melu*mat bahkan menggigit dengan lembut bibir atas dan bawahnya secara bergantian. Angel pun terbuai. hingga secara spontan melingkarkan tangannya di pundak Matthew dan perlahan membalas setiap lu*matan dan his*apan Matthew walau terasa masih kaku. Di sela ciuman itu, Matthew tersenyum bahagia. Angel-nya membalas ciuman itu. Tautan bibir mereka terlepas saat pasokan oksigen yang masuk mulai berkurang. dengan napas yang masih terengah-engah, Matthew membersihkan sisa saliva di bibir Angel. bibir gadis itu juga nampak merah akibat ulahnya.
__ADS_1
sementara angel saat ini bisa dipastikan semerah apa mukanya. Dia begitu malu dan gugup karena menyadari respon spontannya tadi.
"a--aku mau mandi. ini sudah malam"
ujar Angel gugup. dia pun merasa semakin malu saat menyadari polisi duduknya. di atas pangkuan Matthew dan terasa sangat intim. maka dengan cepat dia turun dari pangkuan pria itu kemudian berlari kecil menuju kamar mandi. namun dia semakin salah tingkah, saat menyadari ruangan yang dia masuki bukan kamar mandi, melainkan ruang ganti.
"ishhh, ya Tuhan. ini sungguh memalukan. rasanya aku ingin mengubur diriku ke dasar laut" monolog Angel sambil menutup wajah dengan kedua tangannya. Dia pun keluar dengan langkah kaku.
sementara di luar, Matthew sekuat tenaga menahan agar tawanya tidak meledak. Gadisnya yang sangat gugup membuatnya tidak menyadari tingkahnya yang sekarang terlihat lucu.
"Gimana, ketemu kamar mandinya, sayang" ledek Matthew membuat Angel cemberut dan juga malu.
"sini" panggil Matthew lagi hingga Mau tidak mau Angel mendekat namun tetap menjaga jarak.
"kamar mandinya, di sana. semua perlengkapan mandi dan handuk sudah ada di dalam. segeralah mandi. aku akan tunggu di bawah untuk makan" Ujar Matthew masih menahan senyum lucu. Dia pun mengacak rambut Angel dengan gemas.
dia menunjuk salah satu pintu yang merupakan kamar mandi dan bersebelahan dengan ruang ganti tadi. setelahnya Matthew ke luar menuju kamarnya untuk mandi juga.
Hingga lima belas menit berlalu, Kini mereka sudah berada di Meja makan. beberapa hidangan sudah tersaji di sana. Angel memandangnya dengan penuh minat. namun tetap menunjukan kesopanan dan posisinya sebagai seorang wanita. dia ingin melayani Matthew di sana.
"kakak mau makan apa? biar aku ambilkan "
mendengar itu, tentu Matthew langsung tersenyum bahagia. entah kenapa sekarang dia merasa sedang dilayani Angel sebagai istrinya.
"aku mau ikan bakar, buncis telur asin dan capcai, sayang" Jawab Matthew dengan binar bahagia.
"oke" kemudian Angel segera mengisi piring Matthew sesuai menu permintaan pria itu. untuk lauk seperti ikan bakar dia menaruh secara terpisah, supaya nanti mudah saat memisahkan daging dan tulang. setelahnya dia juga mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Mereka makan dengan suasana yang hangat tentunya di sini, Matthew yang merasa paling bahagia.
Tiga puluh menit berlalu, makanan mereka habis tanpa sisa. Matthew semakin mengagumi Angel. gadisnya itu tidak berubah. dia makan tanpa bersikap jaim. tidak memilih dan tidak peduli dengan porsi yang banyak.
Sementara Matthew menyalakan api. Angel sibuk mengamati sekeliling ruangan itu. di sana, nampak ada sofa berukuran panjang muat duduk untuk 6 orang, sebuah karpet coklat berbulu tebal juga ada alat musik seperti gitar dan piano.
sibuk mengatur seisi ruangan, Angel tidak sadar kini Matthew duduk di karpet sambil memangku gitar hingga terdengar sebuah petikan nada mengalihkan atensi Angel. dilihatnya Matthew sedang menatap dirinya sambil mainkan sebuah instrumen indah 'kiss the rain'.
"ada lagu yang ingin kamu dengar aku nyanyikan, sayang" tanya Matthew sambil memetik gitar.
Angel menggeleng tanpa bersuara. sebenarnya dia terpanah sekaligus kaget, melihat Matthew bisa bermain gitar. dia tidak pernah tahu akan hal itu.
"baiklah. kalau gitu duduk di sini" Ujar Matthew sambil menepuk sisi depan karpet. Angel menurut dan segera duduk. kini mereka saling berhadapan.
"Sayang, aku bukan pria romantis yang mungkin berbeda dengan apa yang ada dalam pikiran kamu. tapi, semoga dengan lagu ini, kamu bisa merasakan sedalam apa aku mencintaimu" tutur Matthew sebelum akhirnya mulai memainkan nada gitar untuk sebuah lagu yang mewakili perasaannya saat ini.
'thingking out loud' dari Ed Sheeran
Dengan perasaan campur aduk, Angel juga ikut menghayati setiap lirik yang dinyanyikan oleh Matthew. hingga tiba pada bagian lirik yang membuat mereka menatap dengan perasaan yang sama. Binar mata penuh cinta dan perasaan hangat melingkupi keduanya.
Darlin’ I wil
Kasih, aku akan
Be lovin’ you
Mencintaimu
Till we’re seventy
__ADS_1
Hingga usia kita tujuh puluh
Baby my heart
Kasih, hatiku
Could still fall as hard
Masih bisa jatuh sama kerasnya
At twenty three
Seperti saat usiaku dua puluh tiga
I’m thinkin’ bout how
Aku sedang berpikir tentang bagaimana
People fall in love in mysterious ways
Orang-orang jatuh cinta dengan cara misterius
Maybe it’s all part of a plan
Mungkin semua ini bagian dari rencana
Me I fall in love with you every single day
Aku jatuh cinta padamu setiap hari
I just wanna tell you I am
Aku hanya ingin memberitahumu begitulah adanya
Hingga akhir lagu, Matthew sungguh menghayati setiap lirik yang dia nyanyikan. dan terbukti. kini mata Angel mengembun. sepertinya dia dapat merasakan bagaimana besarnya cinta dan harapan Matthew untuk terus bersamanya hingga tua nanti.
And we found love right where we are
Dan kita telah temukan cinta di tempat kita berada
saat lagu itu berakhir, tanpa menunggu lama Angel segera menghambur memeluk Matthew. Air matanya mengalir. dia bahagia, perasaannya membuncah. sekarang dia pun bisa merasakan bagaimana dia tidak mampu menghilangkan barang sedikit pun perasaan cintanya terhadap Matthew seperti delapan tahun lalu. mungkin selama ini, perasaan itu terselimuti perasaan kecewa, sakit hati dan yang paling besar adalah rasa takut dibohongi lagi. Namun setelah mendengar bagaimana tulusnya perasaan Matthew melalui lagu tadi. Dia tidak mampu berbohong lagi, betapa dia juga mencintai bahkan merindukan pria itu.
"kakkkkk.. hiksss..hiksss. Aku kangen, aku rindu dan aku juga mencintaimu kak" Ungkap Angel akhirnya.
Matthew membalas pelukan itu tak kalah erat.
cup
cup
cup
kecupan bertubi-tubi juga dia berikan di puncak kepala Angel. Terharu sekaligus bahagia. Angel akhirnya membalas perasaannya. Hingga dia pun juga ikut menangis.
"aku tahu sayang. Aku juga sangat mencintaimu"
__ADS_1