Aku, Kepahitan Dan Kebahagiaan

Aku, Kepahitan Dan Kebahagiaan
Permintaan Leo


__ADS_3

Senyum seorang diri dan sesekali bersenandung. itulah yang di lakukan Leo saat ini. Kadang geleng kepala, setelahnya kembali tersenyum. rupanya saat ini pria itu tengah membayangkan kehidupan bahagia dengan seorang gadis pujaannya. Matthew yang melihat itu di kursi belakang nampak bingung dan sedikit cemas. apakah temannya mengalami gangguan mental. ekspresi Leo sangat random. seperti orang gila.


"kau ini kenapa?" Matthew akhirnya bertanya. namun leo masih asik sendiri, walau tetap fokus menyetir.


"heiii!!" panggil Matthew sekali lagi dengan nada yang lebih tinggi.


menyadari ada suara yang memanggil, Leo terkesiap dan sedikit menoleh.


"kenapa?" tanyanya Bingung.


"malah nanya, aku yang harusnya tanya. kau ini kenapa. kamu masih sehat kan? dari tadi senyum tidak jelas seperti orang gila" dengus Matthew yang membuat Leo garuk kepala.


"Matt, apa aku boleh mengatakan sesuatu?" bukannya menjawab pertanyaan, leo malah berbicara hal lain. Matthew mendengus mendengar.


"katakan" Matthew melipat tangan dan sabar menanti ucapan leo selanjutnya.


sesaat Leo terdiam. dia mengingat, kemarin saat menemani ayahnya bermain catur, ayahnya Kembali meminta dirinya untuk segera menikah. permintaan itu terkesan seperti memohon dan entah kenapa Dia tidak sanggup menolaknya. hingga dia pun berjanji akan segera membawa calon Istri kehadapan ayahnya.


"Ayah meminta ku menikah walau bukan pertama kalinya, tapi kemarin sepertinya dia benar-benar ingin aku menikah dalam waktu dekat. menurut kamu kalau aku membawa Enzy untuk berkenalan dengan ayah sebagai calon Istri, apakah tidak terlalu mendadak?"


"Gimana kabar paman? apakah sudah lebih baik?" bukannya menjawab, Matthew justru menanyakan kabar ayah Leo. Sudah sejak setelah menikah dia tidka bertemu pamannya itu. Ayah dari Leo merupakan mantan asisten setia dad Marcel. mereka bagai saudara sampai sekarang.


"sudah lebih sehat dari sebelumnya " jelas Leo. Ayah Leo beberapa tahun terakhir memang sering sakit. makanya selalu meminta sang putra untuk segera menikah dan memberinya cucu. dia ingin melihat Leo bahagia dan menemukan pendamping yang tepat sebelum dia menyusul istrinya ke surga.


"syukurlah. sampaikan salam pada paman. aku dan angel akan berkunjungdalam waktu dekat" Matthew merasa lega. dia sebenarnya merasa bersalah, karena akhir-akhir ini jarang menemui pamannya itu, disaat sakit.


"oke, matt. Jadi gimana matt, soal pembicaraan ku tadi?" tanya Leo terkait pernyataan awalnya.


sebelum memberi pandangan pada sahabatnya, Matthew lebih dulu menanyakan tentang keinginan Leo.


"kamu ingin menikah? atau kamu menikah atas dasar dorongan dari paman?"


"dua-duanya matt. Aku sudah menemukan orang yang tepat untuk mendampingi ku" yakin Leo tanpa ada keraguan.


"Enzy?" Matthew kembali memastikan wanita yang dimaksud Leo


"Iya tentu saja" tegas leo dengan wajah penuh senyum bahagia.


"Kalau begitu, bawalah dia ketemu paman"


Leo tidak menjawab lagi, tapi dia saling membalas tatapan dengan Matthew melalui spion mobil. tatapan keduanya seolah saling meyakinkan.


hingga tidak lama setelahnya, mereka sampai di perusahaan.


keduanya turun dengan penuh wibawa. seperti biasa mereka selalu menjadi pusat perhatian. walau sudah menikah namun pesona Matthew selalu mampu membuat siapa pun menjerit jatuh hati. apalagi para wanita. Begitu juga dengan Leo yang kini menjadi rebutan wanita jomblo satu perusahaan.


kini mereka telah sampai di lantai paling atas gedung perusahan tersebut. langkah mereka mendekati seorang pria yang berdiri di samping meja sekretaris. pria itu tengah menanti keduanya.


"Selamat pagi, Tuan Matthew. Pagi pak Leo" sapa pria tadi yaitu sekretaris baru Matthew yang merupakan sepupu Leo dari pihak ibunya.


"pagi, Dean" kompak Matthew dan Leo ramah memanggil nama pria itu.


"selamat bergabung ya. saya tidak sabar menunggu dan melihat kinerja kamu di perusahan ini" lanjut Matthew seraya menepuk ringan pundak dean.


"good luck brother " Leo ikut menimpali. sementara Dean menjawab dengan sangat semangat.


"siap terima kasih tuan Matthew, pak Leo"

__ADS_1


setelah itu, dean terlihat seperti ingin menyampaikan sesuatu kepada Matthew. tapi ragu. gerak gerik itu tertangkap mata saudaranya.


"ada apa?" Tanya Leo melihat keraguan sepupunya.


"mohon maaf tuan, tadi ada seorang wanita yang memaksa masuk ke ruangan tuan. saya sudah cegah tapi dia memaksa masuk. katanya susah ada janji pribadi padi dengan tuan" jelas Dean sambil menunduk.


Matthew ingin bertanya siapa, tapi dia ingat bahwa dean baru mulai masuk kerja hari ini.


"baiklah. terima kasih Dean. Silakan melanjutkan pekerjaan kamu. Leo kamu di sini saja. bantu Dean menjelaskan apa saja yang menjadi pekerjaan dan tugasnya. aku masuk dulu"


Matthew segera berlalu. dia mau melihat siapa wanita yang dimaksud Dean tadi. sudah berani masuk tanpa izin dan bersikap tidak sopan. dia sangat tidak suka.


Matthew mendorong pelan pintu ruangannya. setelah masuk, dia melihat ternyata ada jovanka yang juga menyadari kedatangannya. wanita itu berjalan anggun mendekatinya. namun Matthew menatapnya datar.


Jovanka yang melihat tatapan itu sedikit takut namun karena tekadnya ingin menarik perhatian Matthew, maka dia mengedepankan ego dan sikap agresifnya.


"hai, morning Matthew " sapanya lembut.


"apa yang kamu lakukan di sini. bukankah tidak sopan masuk tanpa ada izin. Saya tidak punya kepentingan dengan kamu. keluar!" ujar Matthew sangat dingin


bukannya menurut dan takut, Jovanka malah semakin berani mendekati Matthew. dia merapat kan dirinya pada lengan pria itu. bahkan dada besarnya sampai menyentuh lengan kiri Matthew. tentu ia risih dan menghindar.


"Ini aku bawain kamu sarapan. aku masak sendiri, khusus buat kamu. ini makanan kesukaan kamu" terlihat Jovanka menyodor satu buah tas bekal.


"Saya tidak butuh. Keluar!! perintah Matthew galak


" setidaknya sarapan dulu matt" kekeuh Jovanka.


melihat sikap Jovanka, Matthew geram. dia paling tidak suka dengan wanita seperti Jovanka sangat pembangkang dan tidak tahu diri, dia bahkan sangat tahu jam terbang jovanka seperti apa. termasuk suka menjadi peliharaan pria kaya.


Jovanka syok mendengar ucapan Matthew. dari mana pria itu tahu, kalau dia pagi ini memesan makanan dari restoran 24 jam yang harga menunya sangat mahal.


sementara Matthew tersenyum miring mengucapkan itu. dia puas melihat keterkejutan jovanka. tentu saja dia tahu, kehidupan jovanka yang juga sering keluar masuk TV menjadi permintaan publik. apalagi kehidupan pribadinya.


melihat Jovanka yang tidak ada pergerakan sama sekali, Matthew menjadi geram.


"kamu keluar sendiri atau saya suruh sekuriti menyeret kamu"


ancamnya namun Jovanka seperti masih ingin merayunya. Kekesalannya pun tidak terbendung.


"Leo, Dean!!!" Teriak Matthew


tidak menunggu lama, Leo muncullah di susul Dean dengan ekspresi tidak kalah datar darinya. ternyata Dean pun punya sifat yang sangat tegas.


tanpa menunggu Leo berbicara, Matthew segera menyuruh pria menyeret jovanka keluar.


"bawa dia keluar dan pastikan tidak ke sini lagi"


"baik matt " Jawab Leo


"matt, kamu kok jahat banget, aku ke sini punya niat baik bawain kamu sarapan" Jovanka tidak terima diperlakukan seperti itu. dia akan malu kalau sampai ada yang melihat dia di seret keluar. karena tadi di meja resepsionis dia sudah berkoar-koar sangat dekat dengan Matthew.


Leo yang menerima perintah segera melaksanakan. dia menarik paksa jovanka.


"lepaskan, aku bisa jalan sendiri" berontak jovanka


"Kalau begitu silakan keluar nona" tegas Leo sembari mengikuti wanita itu dan memastikannya benar-benar keluar dari perusahaan.

__ADS_1


sementara di ruangan Matthew saat ini, dean masih mematung dan siap menerima perintah dari Matthew.


"dean!" panggil Matthew tegas


"Iya Tuan?"


"wanita yang tadi pastikan dia tidak datang ke sini lagi. saya dan perusahaan tidak punya kepentingan dengannya" perintah Matthew


"baik tuan"


setelah tidak ada pembicaraan lagi, dean undur diri. Matthew juga segera menduduki kursi kebesarannya.


moodnya sedikit berantakan. Pagi-pagi sudah dibuat kesal oleh tingkah jovanka.


Matthew tidak bisa berkonsentrasi jutru dia mengingat istrinya. apalagi ancaman bumil itu pagi ini. Beruntungnya Angel tidak ada di sini. dia tidak sanggup membayangkan akan seperti apa nasib tongkat sakti premiumnya kalau sang istri melihat keberadaan dan tingkah jovanka pagi ini.


Matthew menarik napas lega. entah kenapa dia merasa ngeri setiap membayangkan ancaman Angel. bisa-bisa burung premiumnya akan terpotong bagai sosis bakar.


"untungnya kamu selamat " Ucapnya seraya menunduk dan mengelus lembut miliknya.


masih serius merenungi, Ponsel miliknya bergetar, dia bahkan berjingkat kaget.


"ponsel sialann!!"


namun tak ayal, Dia mengecek ponsel itu padahal ada pesan masuk dari Istri tercinta. dengan penuh semangat dia membuka dan tidak sabar melihat isinya. dalam benak Matthew saat ini, dia membayangkan ucapan cinta dan sayang dari Angel serta ciuman jauh yang banyak.


namun justru matanya melotot melihat isi pesan itu.


"Hubby, jangan nakal. jaga mata kamu. Kalau tidak, burung kamu tidak selamat!!!


Matthew syok. apakah istrinya cenayang. apakah dia tahu kalau Jovanka kemari.


"Sayang, sejak hamil. entah kenapa kamu jadi sangat galak" keluhnya seolah diri sambil menatap ponselnya.


Matthew segera membalas pesan itu sebelum dia mendapat pesan baru dari wanitanya yang mungkin akan membuatnya semakin tidak karuan.


'Tidak kok sayang. jiwa ragaku hanya untukmu. I Love You'


dia mengirim cepat balasan itu dan tak berselang lama balasan Angel masuk ke ponselnya.


'hubby, mulut mu sangat pandai bicara manis. tapi aku suka. I Love you too. *oh iya, by. aku sekalian pamit ke restoran ya. hari ini ada rekap pemasukan dan rapat internal dengan pegawai resto'. aku merindukan mu hubby'


'iya sayang. Leon akan mengantar kamu. ingat jangan terlalu capek. segera hubungi aku kalau ada apa-apa. aku juga rindu kamu Sweetheart*'


senyum manis Matthew terbit melihat isi pesan angel. obrolan Singkat dengan sang istri membuat moodnya kembali bagus. di saat terpisah karena urusan pekerjaan seperti ini, obrolan melalui chat dan telepon wajib mereka lakukan untuk menjaga keharmonisan hubungan.


dia pun melanjutkan pekerjaan memeriksa dokumen yang sudah memenuhi meja kerjanya.


Ketika waktu menunjukan pukul sepuluh pagi, pekerjaannya tetap masih lumayan banyak. dia begitu serius mempelajari kalimat demi kalimat dalam dokumen dokumen itu hingga bunyi notifikasi ponsel mengagetkannya.


drt


drtt


ponsel Matthew bergetar. Dia sejenak mengalihkan perhatian pada benda pipi tersebut. di sana nampak ada beberapa pesan masuk dari orang berbeda pertama dari Istrinya yang berisi foto bumil itu dan rengekan Angel yang mengatakan rindu.


kemudian ada pesan lain, yaitu dari sahabatnya Martin yang mengatakan bahwa dia sudah berhasil bertemu vivi dan sedang berusaha membujuk wanita itu pulang bersamanya.

__ADS_1


__ADS_2