Aku, Kepahitan Dan Kebahagiaan

Aku, Kepahitan Dan Kebahagiaan
Perkara Rujak


__ADS_3

melihat istrinya menangis, tentu Matthew cemas. dia mendekat, menekuk kaki dan berjongkok di depan Angel.


"Sayang kamu kenapa?"


Angel menepis tangan Matthew dan tidak mau melihat pria itu.


"hikkss, aku mau Rujak" pinta Angel sambil sesegukan.


"ahh rujak. baik. Bu, tolong ambilkan rujak yang saya pesan untuk disiapkan tadi" Perintah Matthew yang kebetulan ada seorang ART yang tengah membawa minuman untuk mereka.


"baik tuan" Jawab art tersebut dan segera berlalu. tidak lama, wanita itu muncul dengan satu kotak yang berisi berbagai potongan buah segar serta sambal kacang ulek yang tidak begitu pedas.


"silakan non, ini spesial kita siapkan" riang wanita itu karena dia juga antusias mendengar kehamilan majikannya.


Angel hanya mentap rujak itu datar tanpa berniat memakannya. Bahkan dia sangat kesal melihat Matthew menyodorkan sepotong buah berbalur bumbu kacang ke mulutnya. saking marahnya dia menepis tangan Matthew.


"aku tidak mau rujak yang ini. aku tidak suka!"


"tapi tadi kamu mau rujak kan"


"bukan rujak ini!!. ma aku mau rujak yang tadi"


dalam pelukan mama vita, Angel seolah mengadu. dia tidak ingin melihat Matthew, rasanya sangat kesal. inilah bawaan bayi. sepertinya anak-anak mereka ikut kesal karena sang daddy menolak membelikan rujak sejak pagi tadi. sementara dad marcel menahan tawa melihat usaha putranya menyenangkan sang menantu. 'rasakan itu' batinnya terkekeh.


paham akan menantunya seperti menahan sedih dan kesal, Mom Helena turun tangan.


"nak, ini juga rujak. semua rujak juga bentuknya seperti ini. mau mom yang suapi"


"aku tidak mau yang ini mom. aku mau rujak yang tadi. tapi kakak Matthew tidak mengizinkan"


keluh Angel dengan nada yang jengkel.


mom Helena bingung dan menatap kearah besannya.


"rujak yang mana, apa ada rujak lain?"


"rujak bapak buah, mom" kembali Angel merengek


tetap saja mom Helena tidak paham. Matthew yang menyadari maksud istrinya memberi penjelasan.


"tadi pagi dia mau rujak dari bapak buah penjual keliling mom. tapi aku tidak izinkan" ujar Matthew bangga seolah sudah memberi keputusan yang tepat.


"kenapa tidak dibelikan?" mom helena mendadak kesal.


"karena tidak higenis. buat sendiri lebih baik. sayang, ini cuma perkara siapa yang buat. Rujak rumahan lebih bagus" sekali lagi Matthew berujar bangga yang membuat dua orang calon nenek didepannya menepuk jidat. apalagi mom Helena kini merasa jengkel dengan putranya.


"Ya Tuhan Matthew. apa kau tidak sadar bahwa istri kamu sedang mengidam. kenapa tidak dibelikan, ha!. Kau bilang dia minta sejak tadi pagi, tapi kau tolak. Apa kau tahu bagaimana rasanya menahan rasa ngidam selama berjam-jam. apalagi tidak dituruti. Kasihan sekali menantu dan calon cucu ku. lagian, kalau memang tidak higenis tentu orang tidak akan beli. rujak dipinggir jalan tidak akan membuat orang keracunan apalagi mati"

__ADS_1


begitulah bentuk ungkapan kejengkelan seorang ibu dan calon nenenk yang pernah merasakan mengidam tapi tidak dituruti. mom Helena memarahi Matthew panjang lebar seperti membacakan UUD. dia begitu jengkel dan kesal. Matthew membuat menantunya menahan sedih seharian ini. kasihan sekali.


"nak, yang diminta sama istri kamu tadi itu namanya mengidam. jadi kamu harus turuti. itu permintaan anak kalian juga. kan kasihan sudah menahan keinginannya selama berjam-jam" sambung mama vita menyetujui ucapan besannya.


"ehh, oh begitu ya. aku tidak tahu. tadi khawatir istri dan anak-anak ku kenapa-napa, mom, ma"


Matthew menggaruk kepalanya asal. dia bingung, kikuk sekaligus merasa bersalah. membuat istri cantiknya sedih dan marah.


"Sayang maaf ya. sekarang, mari kita pergi beli rujak yang kamu inginkan tadi"


Angel menolak dan menepis lagi tangan Matthew. dia rasanya masih jengkel.


"aku mau rujak yang tadi, tapi bukan kakak yang beli. aku mau kak Leo yang belikan"


"eh, aku?" kaget Leo. sejak tadi dia hanya menyaksikan perdebatan itu. kini merasa dilibatkan


"Iya kak. bukankah kakak ingat tempatnya? aku mau rujak dengan banyak bumbu kacangnya yang pedas. kakak mau kan pergi beli untukku." Angel memelas penuh harap.


"Iya, ingat. tapi apa tidak sebaiknya Matthew saja yang pergi"


Leo menoleh ke arah Matthew yang kini masih membujuk Angel namun ditepis wanita itu.


"Jadi kakak Leo juga menolak membelikan rujak itu"


Angel kembali menagis sedih. dia merasa tidak ada yang mau menuruti keinginannya.


"Leo, segera pergi dan belikan menantuku rujak yang dia bilang tadi. kamu jangan ikutan menjadi pria bodoh seperti dia. istri mengidam saja masa tidak tahu"


'hehehehe.. rasakan itu. kau harus merasakan apa yang dad alami dulu' batin dad marcel tersenyum devil pada putranya tengah menatapnya kesal.


"baiklah, biar Leo yang pergi. tapi jangan beli yang pedas" akhirnya Matthew pasrah dimarahi sang istri. namun rupanya perkataan Matthew membuat tiga wanita di sana menatapnya horor.


"tahu apa kamu. lebih baik diam saja. Leo, segera pergi dan beli sesuai keinginan menantuku" titah mom helena tegas.


"baiklah aunty, aku pergi sekarang" akhirnya Leo berangkat menuju tempat rujak tadi. dia berharap orang itu masih ada di sana dan rujaknya belum habis. kalau tidak, sudah dipastikan akan ada drama ibu hamil mengidam lebih heboh lagi dari ini.


Setibanya di tempat tadi, Leo tidak menemukan pedagang rujak itu. dia akhirnya memutuskan untuk menyusuri jalan tersebut tanpa arah, hampir sejam berlalu, dia belum bertemu dengan orang yang dicari.


"apakah dagangannya sudah laku semua? kalau iya, bagaimana ini. Angel pasti merajuk lagi"


Leo rasanya putus asa dan memilih pulang saja. belum lagi dia merasa sedikit penat karena semalam kurang tidur menemani ayahnya di rumah sakit. Seharian sibuk di kantor. mungkin Angel akan menerima alasannya nanti. namun baru saja dia berbalik arah untuk pulang, sebuah pesan masuk dari angel membuatnya lemas seketika.


"kak, kenapa lama sekali? apakah sedang antri di sana. Aku tunggu ya kak. jangan balik sebelum rujaknya dapat. harus dari bapak yang tadi"


"Ya Tuhan, kuatkan aku"


Matthew dengan perasaan tidak yakin terus mengendarai mobilnya. hingga tidak sadar mobil itu justru sampai di rumah sakit keluarga Jhonson tempat Angel periksa kandungan tadi.

__ADS_1


" kenapa aku bisa nyasar sampai sini. Aduhh sepertinya aku butuh banyak minum. mana di sini macet lagi"


akhirnya Leo memilih menghubungi Matthew untuk meminta pendapat karena dia belum juga bertemu pedagang rujak tadi. kalau boleh memilih, dia bisa saja membeli rujak itu pada pedagang manapun. tapi dia tidak ingin Angel mengamuk.


ternyata menelepon Matthew bukanlah pilihan yang tepat, dari seberang jawaban pria itu justru membuatnya makin jengkel.


"turuti saja apa maunya istriku. Jangan kembali sebelum dapat"


Klik


telepon dimatikan sepihak.


"Matthew sialan, dia yang buat aku yang tanggungjawab"


Leo kesal pada dirinya sendiri juga pada sahabatnya, Matthew. pria itu bisa-bisanya tidak memberinya solusi di saat seperti ini. kenapa perkara orang mengidam begitu merepotkan.


Di tengah rasa kesal dan ingin menyerah, Mata Leo tanpa sengaja melihat sebuah gerobak rujak buah yang dikelilingi pembeli. Entah kenapa dia merasa perlu mampir ke sana. dengan langkah cepat dia menerobos orang-orang yang sedang mengantri. tidak sia-sia, ternyata pedagang itu adalah orang yang dia cari.


Matthew menarik napas lega dan tersenyum cerah. Dengan segera dia menyampaikan pesanannya kepada pedagang tersebut. walau rela mengantri lima belas menit, akhirnya Leo pulang dengan membawa barang yang dia cari.


Setibanya di kediaman Matthew, Angel menyambut Leo dengan antusias bahkan tidak berhenti mengucapkan terima kasih.


"wahhhh, kakak hebat sekali. bisa sesabar ini mencari pedagang rujak tadi. terima kasih kak. aku rasa anakku perlu mengenal paman mereka yang hebat ini"


puji Angel tiada henti. dengan lahap dia memakan rujak itu tanpa menghiraukan Matthew yang cemberut dan cemburu melihat Leo yang disuruh duduk dekat sang istri. sementara dia diabaikan.


Leo yang melihat Angel begitu lahap, tentu merasa ngeri. buah mangga muda dan kendondong, pasti sangat asem pikirnya. apalagi sambal kacangnya begitu pedas. Membayangkan saja dia tidak sanggup.


"kakak mau makan. ini sangat enak, aaaaaa...." Angel menyodorkan satu potong buah ke mulut elo namun segera ditolak pria itu. apalagi melihat mata Matthew yang hampir keluar karena melotot padanya.


"ehh tidak usah. aku tadi sempat makan rujak juga saat balik ke sini" bohong Leo menghindari rasa asam dan pedas yang mungkin akan membakar lambungnya.


Matthew cemberut hingga ingin memasukkan potong buat tersebut ke mulutnya namun ditarik kembali oleh Angel.


"aku saja sayang. ini pasti enak kan.. aaaaa.."


"tidak mau, enak saja. beli sendiri sana"


"phuffffff" Leo rasanya tidak sanggup menahan tawa melihat lesunya Matthew. namun mata Matthew kembali melototinya, dia pum menahan tawa sekuat tenaga.


Sore kini berganti malam, pasangan suami istri itu kini berada di tempat tidur. orang tua dan mertua mereka juga Leo telah pulang sejak sore tadi. saat ini pun Angel masih saja mengabaikan Matthew hingga membuat pria itu uring-uringan.


"Sayang, kenapa mengabaikan aku terus"


"Sayaangggg"


Angel yang saat ini tengah berbincang dengan Sahabatnya bestie melalui panggilan video bukan tidak mendengar rengekan Matthew, justru dia ingin melihat sejauh mana pria itu sabar dia abaikan. Sementara dia asik bertukar cerita bahagia dengan Bestie dan noval mengenai kehamilannya. Matthew datang memeluk dan kembali merengek. Pria itu bahkan tidak peduli sikap manjanya diperlihatkan kepada kedua sahabat sanga istri.

__ADS_1


"Sayang, sudah dong marahnya. aku minta maaf. aku salah. lain kali tidak ulangi lagi"


di seberang sana, bestie dan noval terkikik geli, meski tidak tahu ada apa, tapi melihat Matthew yang uring-uringan, sepertinya dia membuat Angel kesal.


__ADS_2