Aku, Kepahitan Dan Kebahagiaan

Aku, Kepahitan Dan Kebahagiaan
Sekutu


__ADS_3

desi keluar dari mall menuju basemant dengan napas naik turun akibat emosi meledak-ledak.


"benar-benar sial. Awas saja nanti. vita dan putrinya sama-sama jalqng" gerutu desi masih tidak terima dengan nasibnya.


seseorang yang sejak tadi sedang memperhatikan itu, tersenyum smirk dengan sebuah ide besar di kepalanya. dia pun segera mendekat dan menyapa.


"hallo nyonya mau minum kopi bersama" tawarnya tanpa basa basi dengan senyum penuh arti.


"siapa kau berani mengajak ku. menyingkir sana"


desi semakin marah saat melihat ada orang yang entah datang dari belahan bumi mana, dengan sok kenal mengajaknya minum kopi bersama. dia yang sangat marah mendorong orang tadi hingga mundur beberapa langkah.


terdengar desisan menahan kesal dari bibir orang itu.


'sial. dasar tua bangka' batinnya.


kalau bukan karena sesuatu yang ada dalam otak liciknya, dia tidak mungkin mau menemui orang seperti desi yang punya sifat angkuh dan sombong mirip dirinya.


"Angel, istri dari pemilik Dirgantara grup. bukankah kau membencinya?"


wanita itu sengaja secara langsung menyebut nama Angel dan Dirgantara Grup untuk memanasi wanita tua angkuh di depannya.


dan berhasil. desi yang hendak masuk mobil menghentikan gerakan saat nama Angel terdengar dari bibir wanita tadi.


mereka pun saling memandang penuh arti.


dan di sinilah mereka sekarang. di salah satu restoran tidak jauh dari mall. sejak beberapa menit lalu saling memandang angkuh dan tidak ada yang mulai bersuara.


"jadi, apa yang ingin kamu sampaikan?" tanya desi akhirnya menutup keheningan namun tetap dengan gaya sombongnya.


"aku Margaret. aku punya dendam dengan angel. dia membuatku di pecat dari Dirgantara Grup. karena tidak ingin Matthew maksud ku tuan Matthew punya sekertaris wanita"


jelas Margaret berbohong. ya wanita itu adalah Margaret. sejak di mall tadi, dia menyaksikan segala perdebatan yang terjadi. dia tersenyum senang, akhirnya menemukan orang yang tepat yang bisa diajak kerja sama menjadi sekutu untuk menyingkirkan angel. padahal dia hanya ingin memanfaatkan Desi untuk mencapai tujuannya.


"apa yang bisa aku percaya dari ucapan kamu. bisa saja kamu berbohong " respon desi tetap angkuh.


Margaret membantin kesal. rupanya susah juga meyakinkan wanita tua di depannya.


diapun mengeluarkan ponsel menunjuk beberapa bukti foto saat dia masih bekerja di perusahan Dirgantara. barulah desi mempercayainya.


sementara di sisi lain. semenjak balik dari mall beberapa hari terakhir Angel menjadi sering diam dan melamun. dia memikirkan kata-kata desi tentang mamanya yang disebut sebagai wanita perebut atau pengganggu hubungan orang. dia juga makin kepikiran karena beberapa hari terakhir mama vita lebih intensif mengirim nya pesan. setiap hari bertanya hal yang sama. apakah sehat, apakah ada yang terjadi akhir-akhir ini. apakah ada yang mengganggu rumah tangganya. dia menjadi resah sendiri.


" apakah ini ada kaitannya dengan omongan nyonya desi tempo lalu" monolognya.


"sayang"


Matthew memanggil tapi Angel masih bengong. rupanya pria itu sejak tadi setelah menyelesaikan pekerjaannya, duduk di sofa yang sama memandang istrinya yang serius melamun. entah memikirkan apa.

__ADS_1


"Sayang, hei"


"haa, iya. kenapa hubby?"


"aku memanggil sejak tadi. kamu melamun, ada apa hm?" Matthew mengelus lembut rambut Angel memberi ketenangan. dia merasa ada yang sedang dipikirkan istrinya.


"oh, tidak ada hubby" bohong Angel lengkap dengan senyum manisnya.


"sayanggggg" panggil Matthew penuh penekanan meminta kejujuran Angel.


"aku hanya memikirkan mama" ujar Angel mulai menceritakan semua yang dia rasakan dan khawatir kan akhir-akhir ini.


"tidak usah khawatir, semua akan baik-baik saja. aku akan melindungi kamu dan keluarga kita" ucap Matthew menenangkan sembari memeluk istrinya erat.


saat ini keduanya berada di perusahaan. tadi Angel ke sana membawa makan siang untuk Matthew. sendiri di rumah membuatnya bosan, karena belum diizinkan Matthew beraktivitas di restoran selain memantau semua laporanya dari rumah.


mereka berpelukan tanpa mau melepaskan. perut buncit sang istri begitu gemas dimata Matthew, hingga dia terus melabuhkan banyak kecupan di sana.


"kapan mereka mulai bisa mendengar kita"


mata Matthew tertuju pada perut polos Angel karena dia mengangkat gaunnya untuk melihat langsung perut buncit itu.


"mungkin dua atau tiga bulan lagi. mereka akan bisa merespon saat kita berbicara, bergerak dan menendang"


jelas Angel dengan mengelus kepala sang suami


responnya antusias kemudian kembali melabuhkan kecupan di sana dan menurunkan gaun itu.


"hubby, bukankah hari ini kakak Leo dan Kak enzy balik dari Finlandia? apakah kita juga perlu menyambut mereka di rumah mama?"


Angel teringat pesan enzy kemarin melalui pesan singkat bahwa sore ini mereka akan mendarat di kota j setelah menghabiskan waktu seminggu lebih untuk bulan madu di Finlandia.


Matthew menatap istrinya, memperhatikan mimik wanita itu.


"kenapa, kamu ingin menginap, hm?"


"apakah boleh?


"hei kenapa malah bertanya. tentu saja boleh. kapanpun kamu ingin kita akan menginap di rumah mama"


Angel tersenyum lembut. suaminya memang sepengertian itu padanya.


"sebenarnya ada beberapa hal yang harus aku obrolkan dengan mama"


"tentang kejadian kemarin?"


Angel hanya menjawab dengan anggukan. Matthew pun menyetujui. dia juga merasa mungkin ada baiknya menceritakan kejadian kemarin juga bertanya ada hubungan apa antara mertuanya dan nyonya desi.

__ADS_1


tok


tok


tok


seseorang mengetuk pintu saat keduanya masih berpelukan.


"masuk"


ternyata orang itu adalah dean. Yang kembali mengingatkan tuannya bahwa akan ada meeting sebentar lagi.


"tuan, 15 menit lagi meeting di mulai"


"baik. saya akan menyusul ke sana"


setelah memberi tahu tuannya, dean undur diri untuk mempersiapkan segala yang dibutuhkan.


selama kurang lebih satu jam setengah Matthew di ruang meeting. karena mengantuk dan lama menunggu Angel akhirnya tertidur di sofa dan kembali bangun saat waktu menjelang pukul 6 sore. dia bangun tidak lagi di sofa ruangan Matthew melainkan di kasur kamar miliknya. dia sudah berada di rumah. ternyata tadi, dia tertidur pulas saat Matthew membawanya pulang.


"Sayang, sudah bangun, hm?"


nampak Matthew baru saja keluar dari kamar mandi. tubuhnya masih berbalut handuk menampakkan badan dan otot kekarnya. pria itu melangkah mendekati ranjang, mengelus kepala Angel kemudian melakukan satu kecupan di bibir seksi wanitanya.


"Iya hubby. aku mau mandi"


"Iya sayang. sebentar lagi enzy dan Leo sampai. bukankah kamu mau menyambut mereka?"


terlihat Angel mengangguk antusias. apalagi ini malam terakhir enzy tinggal di rumah mama vita. karena esok dia akan pindah dan tinggal bersama suami dan mertuanya. walau nanti tetap sekali-kali menginap seperti yang di lakukan Angel.


jam 7 malam lebih pasangan pengantin baru yang di nanti akhirnya tiba juga. wajah mereka terlihat lelah tetapi tetap memancarkan kebahagiaan setelah melewati masa indah berbulan madu.


mereka menyambut pasangan pengantin baru itu dan berpelukan. setelahnya langsung menuju meja makan untuk menikmati hidangan yang sudah di siapkan mama vita.


obrolan ringan juga mengisi di sela kunyahan mereka. apalagi kalau bukan menggoda pasangan pengantin yang baru saja selesai bulan madu.


selepas makan, leo dan enzy berpamitan untuk membersihkan diri ke kamar. sementara yang lain duduk mengobrol di ruang depan. tidak menunggu lama enzy dan Leo kembali bergabung. di situlah Angel bermaksud menanyakan hal yang beberapa waktu terakhir membuatnya kepikiran.


"ma?"


panggil Angel lembut namun wajahnya nampak serius. Matthew berada di samping Angel, merangkul pinggang istrinya. dia tahu apa yang akan dibahas. makanya dia tetap tenang untuk mendengar segalanya.


"Iya nak. ada apa?"


"mama kenal nyonya desi, mamanya Jovanka?"


pertanyaan Angel membuat mata mama vita membola karena mulai merasa khawatir.

__ADS_1


__ADS_2