
"apa?! dipingit? oh no mom, please!" ujar Matthew lantang tidak terima. bagaimana tidak, pagi ini saat dia masih berseri-seri membayangkan kejadian romantis kemarin bersama Angel tiba-tiba diminta untuk dipisahkan sementara atau dilarang bertemu hingga hari pernikahan tiba. Apa-apaan itu, pikirnya. di zaman semodern ini masih ada tradisi semacam ini, tentu dia menolak keras.
"tapi ini tradisi turun temurun keluarga kita nak. kamu juga harus dipingit. dan itu mulai detik ini" Jelas mom Helena pada putranya yang menolak keras.
"whatt!" pekik Matthew kaget.
"mom, kalau itu mulai saat ini, berarti seminggu ke depan aku tidak bertemu Angel?!"
"betul. kau cukup pintar rupanya " bukan mom Helena yang Jawab melainkan dad marcel. sejak tadi pria tua itu melihat dengan senang wajah kesal putranya karena akan dipingit. dia juga merasakan hal yang sama dulunya. rasanya dia puas sekali melihat Kekesalan Matthew.
sebenarnya mom helena tidak mengingat lagi tradisi pingit dalam keluarga mereka. mengingat dia tidak punya anak gadis yang seharusnya menerima tradisi semacam ini. namun dad marcel justru mendesaknya melakukan pingit pada putranya. dia ingin sekali menyiksa putranya itu karena selama ini sudah semena-mena padanya. dengan merebut kasih sayang sang istri.
"pokoknya aku tidak mau" ujar Matthew menolak.
"Kalau kau tidak mau, kau akan mendapat kutukan keluarga. karena kau satu-satunya garis turun Dirgantara yang berani melanggar tradisi ini" respon dad marcel mencoba menakutkan putranya yang kini terlihat lemas.
"kalau begitu izinkan aku bertemu Angel hari ini ya mom" mohon Matthew memelas.
"tidak perlu, menantuku sudah tahu. dan satu lagi, bukan cuma tidak bertemu. kalian dilarang berkomunikasi dalam bentuk apapun seminggu kedepan " jelas mom Helena yang makin membuat Matthew sangat lemas.
"mommmmm" lirih Matthew seperti merengek.
"kenapa ada tradisi semacam ini" gumamnya lirih seperti tidak bertenaga. mukanya kusut dan sekarang makanan lezat yang sudah terhidang justru dia kehilangan Selera. Diapun berangkat ke kantor tanpa sarapan dan lesu.
"Matt, are you oke?" Leo bertanya karena semenjak berangkat hingga sampai perusahaan Leo melihat tampang sahabatnya yang kusut. Calon pengantin kok lusuh.
"Leo tolong aku " rengek Matthew
"eww, kenapa?" kaget Leo sekaligus geli melihat sahabatnya merengek seperti anak kecil.
"aku dipingit. cepat bawa Angel ke sini. aku tidak sanggup. aku kangen " Ya Tuhan rasanya Leo ingin sekali tertawa tetpingkal-pingkal melihat Matthew dengan ekpresi tidak berdaya.
"Ya ella matt, cuma seminggu kok. kayak delapan tahun kayak kemarin saja" Ujar Leo yang lebih ke arah sindiran pada Matthew yang seolah lupa pernah jauh selama delapan tahun dari Angel.
"rasanya percuma saja bilang sama kamu yang jomblo abadi. mana paham soal beginian. jangan bilang Junior kamu sudah ******* karena belum coba masuk lembah" tutur Matthew kesal seraya menatap ke arah daerah pusat kehidupan Leo
__ADS_1
"Nah itu kamu tahu. makanya jangan minta bantuan ku kalau soal beginian " respon Leo menerima saja ejekan Matthew.
keduanya terus berjalan hingga masuk ke dalam ruangan Matthew.
"Matt, Melvin kirim pesan. minta bantuan tolong lihat Martin ke apartemen. sepertinya dia sedang ada masalah" Leo yang baru saja membuka ponsel mendadak mendapat pesan dari melvin tentang keadaan Martin.
"kenapa dia tidak langsung menelepon ku?" tanya Matthew heran.
"memangnya kamu bawa ponsel yang satu lagi. bukankah kamu di larang memegangnya selama seminggu ke depan " Perkataan leo seolah menyadarkan Matthew, tadi pagi mom Helena juga turut meminta ponselnya untuk dia simpan sampai hari pernikahan tiba. Alasannya karena bisa saja Matthew mengambil kesempatan untuk menghubungi Angel. sebetulnya itu cuma alasan saja. nyatanya dad marcell lah yang punya ide di balik semuanya. dia sengaja membuat putranya itu tersiksa menahan rindu.
Matthew yang sudah ingat langsung mengumpat kasar.
"pingit sialan" geramnya kesal.
Sorenya setelah menyelesaikan pekerjaan yang masih saja menumpuk, Leo dan Matthew menuju Apartemen Martin.
Di sana mereka cukup kaget melihat Keadaan tempat itu yang sangat berantakan dan penuh aroma alkohol. Leo langsung berinisiatif menghubungi petugas kebersihan apartemen. sementara Matthew langsung mengecek kamar. benar saja di sana dia menemukan Martin yang tergelak tidak berdaya sambil terus bergumam
"maaf kan aku. aku salah. aku egois. sayang tolong kembali. aku mencintaimu "
tentu saja gumaman Martin sedikit membuat Matthew bingung juga penasaran.
"sebaiknya kita bawa dia ke rumah sakit. dia overdosis alkohol. tolong beritahu Melvin keadaannya. Jangan lupa Uncle dan aunty juga" Perintah Matthew yang segera di lakukan Leo.
setibanya di rumah sakit, Martin langsung mendapat perawatan intensif. tak berselang lama kedua orang tuanya muncul dengan raut wajah teramat khawatir.
"nak Leo, Matthew. gimana keadaan saudara kalian?" tanya seorang wanita parubaya yang merupakan ibunda Martin. Semua sahabat Martin juga dia anggap seperti anaknya. maka tak heran perlakuannya yang lembut akan merata bagi siapapun orang terdekat putranya.
"kami masih menunggu dokter keluar aunty " Jawab Leo diangguki Matthew.
kemudian mereka turut menyapa ayah Martin yang juga ada di sana.
"sebenarnya ada apa dengan anak itu. Tiga hari terakhir tidak masuk kantor. malah ujungnya seperti ini" ujar ayah Martin heran juga khawatir.
"entahlah uncle mungkin nanti kita tanyakan saat dia sadar" respon Matthew dan disetujui mereka di sana.
__ADS_1
kini mereka sudah berkumpul di ruangan perawatan Martin. sejak 30 menit yang lalu pria itu sudah sadar namun tidak mau berbicara. dia nampak seperti merenung.
Di sini ibunya yang paling khawatir juga cemas, takutnya sang putra depresi atau ada gangguan kecemasan. karena Martin hanya bengong tanpa mau bicara.
"apa ini ada kaitannya dengan Vivi?" pertanyaan ini akhirnya lolos dari bibir Matthew yang dia tahan sedari tadi.
benar saja setelah mendengar nama gadis itu, Martin langsung bereaksi bahkan memohon pada Matthew.
"Matt, tolong bantu aku cari dia. dia membawa bayi kami pergi. padahal dokter bilang kandungannya lemah karena kebanyakan pikiran. ini semua salahku. aku menolaknya bersama bayi kami. aku menyuruhnya menggugurkan bayi itu"
jelas saja perkataan Martin membuat semua syok apalagi ibunya yang langsung lemas dan jatuh terduduk. untung sang suami langsung menahannya.
"Ya Tuhan, mar. apa kamu sudah hilang akal. kamu menghamili anak gadis orang dan kamu membuang keduanya. apa kamu sudah gila. tida waras?" pekik sang ibu yang tidak habis pikir dengan tindakan putranya.
tidak beda jauh, ayah dari martin yang ada di sana tentu saja emosi. Martin sungguh tidak tahu bersyukur dia bisa langsung mendapat dengan cepat keturunan. andai martin ingat akan cerita orang tuanya yang begitu sulit memiliki keturunan, dulu untuk memilikinya saja, Kedua orang tuanya harus menunggu hingga 7 tahun karena kandungan sang istri yang lemah pasca keguguran pada kehamilan awal.
"ayah tidak mau tahu. bawa wanita itu segera ke hadapan kami dan nikahi dia. Kalau tidak jangan harap masih menjadi putraku" Setelah mengucapkan kemarahannya. Ayah Martin meninggalkan rumah sakit dan kembali ke kantor. Dari pada dia berada di sana yang ada dia ingin memberi bogeman pada putranya.
Leo dan Matthew juga akhirnya pulang. namun sebelum pulang mereka sudah sepakat akan membantu sahabat mereka untuk menemukan keberadaan vivi.
sementara ibu dari Martin masih di sana untuk menjaga putranya walau tidak mau berbicara pada anak semata wayangnya itu. rasanya dia sangat kecewa.
"Leo" panggil Matthew saat di jalan pulang
"Iya, kenapa Matt?" tanya Leo menaikkan satu alisnya
"bisa kau belok ke jalan JS?"
"untuk apa?" Tanya Leo lagi. jelas saja dia tahu jalan itu arahnya kemana
"aku tahu sebenarnya kau tahu kan maksud ku"
"Kalau begitu kau pergi sendiri saja, aku tidak mau menerima amukan bibi Helena. bisa-bisa telinga ku putus dijewer" tolak Leo sambil bergidik mengingat betapa sakitnya jeweran mom helena.
"kau ini sunggu tidak setia kawan. tidak bisa diajak kerja sama" ujar Matthew sebal karena rencananya mau melihat Angel dengan cara sembunyi sembunyi tidak di dukung oleh Leo.
__ADS_1
"Sudahlah Matt, terima saja nasibmu" ledek Leo dengan tawa puasnya
"sialann kau leo. tunggu nanti pembalasanku. ujar Matthew bersungut sungut sebal