
Angel merasa kasihan pada seorang setengah abad di depannya. tangan, perut dan kakinya melepuh. Wanita yang dimaksud adalah kepala karyawan restoran yang beberapa saat lalu terkenah tumpahan soto panas. saat ini Angel membantunya memberikan salep. usianya sudah 50 tahun, lebih tua dari mama vita. dia merupakan salah satu karyawan lama dan tetap bertahan bekerja di sana. usianya sudah tua, bukannya beristirahat malah masih mencari uang.
tanpa banyak bicara Angel hanya tersenyum hangat dan meminta maaf atas kejadian yang terjadi beberapa saat lalu. dia tahu, alasan wanita itu masih bekerja, karena dia orang tua tunggal yang harus membesarkan dan menyekolahkan 5 anak. suaminya sudah meninggal. sungguh kasihan. mungkin nanti dia akan mengobrol tentang ini dengan suaminya. barangkali Matthew punya solusi untuk meringankan beban wanita itu.
Tidak berselang lama, mama vita muncul dengan wajah yang menahan kesal dan mencoba untuk tenang. desi sangat menguji kesabarannya. entah bagaimana bisa dulu matanya buta melihat sifat asli wanita itu yang dia anggap sahabat padahal sangat licik dan jahat.
"nak, kau baik-baik saja"
Angel tersenyum heran mendengar pertanyaan itu. bukankah seharusnya dia yang bertanya seperti itu.
"ma, harusnya aku yang bertanya. apakah mama baik-baik saja. nyonya desi tidak berbuat kasar kan?"
tanya Angel meski pun dia tahu mamanya tidak lecet sedikit pun.
"semua baik-baik saja sayang"
"aku pun baik juga ma"
mama vita merasa lega. tadinya dia takut Angel banyak kepikiran tentang sikap desi padannya. maklum wanita hamil mudah sekali terbawa perasaan.
Tidak sampai berselang satu jam, Matthew tiba di restoran Selera Kita. pria itu nampak tidak sabaran bertemu istrinya.
"Sayang " panggilnya begitu membuka ruangan Angel.
"hubby?"
kaget Angel karena merasa belum genap tiga jam dia berpisah dengan suaminya. kenapa pria itu sudah kembali. dia menghentikan sejenak aktivitas rencana membuat menu baru untuk menyambut suaminya.
"Sweetheart kau tidak apa-apa? apa wanita tua tadi membentak atau berbuat kasar?"
sambil bertanya Matthew memindai seluruh penampilan istrinya barangkali ada goresan atau lecet, atau mungkin wajahnya yang sedih.
"aku baik. bahkan sangat baik hubby" jujur Angel tersenyum cerah.
"syukurlah sayang. aku khawatir, dia menyakitimu dan anak-anak kita juga mama"
Matthew menarik Angel dalam dekapan. memberikan banyak kecupan sayang di kening wanitanya.
"kita baik-baik saja. tapi seorang pelayan ada yang terluka. syukurnya tidak parah. tapi tetap saja aku tidak habis pikir kenapa nyonya desi sangat tidak punya perasaan malu berbuat onar di tempat orang "
"Aku akan membereskannya sayang "
Angel hanya mengangguk dalam pelukan suaminya. entah membereskan seperti apa dia tidak bertanya. Pada kesempatan itu juga dia menceritakan tentang kondisi kehidupan dari kepala karyawan resto kepada Matthew. angel berniat membantu membiayai seluruh pendidikan anak dari karyawan tersebut. Tanpa banyak berkomentar, Matthew menyetujui begitu saja. baginya itu hal mudah.
di sisi lain, pada hari yang sama. Enzy menemani mertuanya untuk check up kesehatan ke jhonson hospital Grup. Keduanya berangkat di temani dua pengawal.
serangkaian pemeriksaan dilakukan. setelah mendapat penjelasan dokter tentang perkembangan kesehatan mertuanya, enzy mengajak sang mertua untuk menunggu di depan ruang farmasi bagian pengambilan obat.
"ayah, tunggu sebentar di sini ya, aku mau memberikan resep obat ini"
__ADS_1
"Iya nak, pergilah "
Enzy menaruh selembar resep obat dari dokter ke dalam kotak antrean, tidak sengaja dia mendengar para apoteker berbicara tentang seorang pasien kecelakaan yang membutuhkan donor darah. sayangnya, stok golongan darah yang dibutuhkan sudah habis di rumah sakit. menurut pendengarannya, kondisi pasien sudah sangat kritis sehingga harus segera mendapat pendonor.
"kasihan banget ya, kondisinya sudah parah mungkin tidak akan selamat. siapa yang bisa mendonor darah untuknya di saat genting seperti ini" ucap apoteker satu.
"kalau ada berarti dia adalah malaikat. siapa yang tahu, artis terkenal sepertinya akan mendapat musibah tragis seperti itu" respon teman yang lain.
entah kenapa enzy tertarik bertanya lebih jauh lagi. hatinya seperti merasa perlu mengetahui kondisi pasien itu.
"permisi bu, maaf saya mau bertanya "
"Iya silahkan, ada yang bisa kami bantu?" Jawab seorang apoteker dengan ramah
"maaf tadi saya tidak sengaja mendengar kalian berbicara tentang pasien yang membutuhkan pendonor. memangnya butuh golongan apa?"
"oh, kalau tidak salah golongan AB bu, pihak rumah sakit sedang berusaha mendapatkan pendonor. kasihan pasien sudah menunggu lama"
deg, enzy merasa seperti terhantam sesuatu tepat di jantungnya. golongan darah pasien sama dengannya. dia merasa hatinya malah menjadi cemas mendengar kondisi pasien yang sudah sangat parah. maka secara spontan tanpa berpikir dia berniat mendonor darahnya karena tergerak oleh sebuah rasa di hatinya.
"bu, golongan darah saya AB, saya mau mendonor. tolong beritahu saya dimana saya harus melakukan pendonoran" ujar enzy tidak sabaran.
akhirnya apoteker tadi memberikan arahan padanya serta bersyukur ada orang yang bersedia mendonor. sejak tadi saat pasien kecelakan itu datang, ada orang yang memiliki golongan darah yang sama tapi tidak mau mendonor. ada juga yang mau mendorong tapi kondisi kesehatan mereka tidak memungkinkan.
saat itu juga resep obat untuk mertuanya sudah siap. setelah menerima obat dan mengucapkan terima kasih. enzy menghapiri om damian. dia pun mengatakan niatnya untuk melakukan donor darah. Mertuanya setuju tapi tetap harus melalui izin dari Leo, suaminya. Enzy mengangguk kemudian langsung menghubungi Leo.
om damian dihantar pulang lebih dahulu oleh pengawal kemudian pengawal yang sama akan kembali ke rumah sakit untuk menjemput enzy.
di sinilah enzy berada, di sebuah ruangan khusus untuk melakukan donor darah. setelah melewati serangkaian pemeriksaan, dia bersyukur kondisi kesehatannya baik-baik saja. entah kenapa dia merasa sangat lega dan senang. dia segera ingin menyelamatkan pasien kritis tersebut.
di ruangan dokter, sepasang ayah dan anak, merasa lega, karena ada sseeorang yang mau mendonor.
karena ingin berterima kasih secara langsung, jadilah ayah dan anak itu menunggu di depan pintu ruang dimana enzy sedang diambil darahnya.
enzy berhasil mengeluarkan darah sebanyak dua kantong penuh, sangat cukup untuk kebutuhan pasien.
dengan sedikit lemas. Dia segera keluar dan terkejut melihat dua orang di luar begitupun kedua orang itu sama terkejutnya.
"kamu?!"
"kalian"
ucap mereka saling menujuk. tentu enzy mengenal dua orang di depannya.
Laura dan Revan ayahnya.
Laura juga pria yang berdiri di sampingnya adalah pasangan ayah dan anak. Laura adalah teman masa lalu sekaligus mantan kekasih dari suami adiknya. sementara revan, seorang aktor terkenal saat dia masih usiah bocah hingga remaja. sekarang pun masih keluar masuk televisi.
dan dua orang di depannya pun kenal siapa enzy. Kakak dari Angel. namun secara detail seperti apa status antara enzy dan Angel sebenarnya mereka tidak tahu.
__ADS_1
"terima kasih" ucap Laura pelan dengan tatapan tanpa ekspresi. entah dia sekarang harus bersyukur atau malah mencibir enzy sebagai orang cari muka.
beda halnya dengan laura, revan terlesan ramah. sebagai seorang suami dan ayah tentu dia sangat berterima kasih. walau seperti apa masa lalu istrinya. sudah menyakiti dan menduakannya. perasaan itu tetap ada, apalagi ada Laura putrinya yang harus dia beri keluarga yang lengkap.
"nak, terima kasih " ucap revan tulus.
enzy hanya tersenyum dan mengangguk kemudian dia berpamitan untuk pulang. karena dia merasa sedikit lemas dan perlu beristirahat.
Laura dan ayahnya tidak mencegah.
"kenapa aku merasa dia tidak asing" batin Revan melihat enzy yang melangkah semakin jauh.
sementara itu, di rumahnya, Desi kembali berteriak dan marah-marah. dia menghancurkan segala isi kamarnya. bahkan beberapa pelayan ikut terkena amukannya. Dia merasa kondisinya sekarang cukup sulit untuk menyelamatkan kekayaan robby. dia sangat pusing memikirkan tentang kekayaan duniawi itu.
Belum lagi tadi, baru saja sampai di rumah dalam keadaan berantakan. masih merasa sangat perih pada kulitnya yang memerah akibat terkena soto panas. dia kembali mendapat kabar dari kepolisian jovanka melakukan percobaan bunuh diri di sel tahanan. sekarang sedang di rawat di rumah sakit kepolisian.
masalah lain menghantuinya juga, perusahaan robby, hampir gulung tikar. para pemilik saham sudah mundur, sekarang hanya satu yang bertahan yaitu saham milik Dirgantara Grup. entah apa maksud Matthew belum menarik saham dari perusahan itu.
"apa aku jual saja perusahaan itu untuk menyelamatkan aset yang lain"
gumam desi memutar otak untuk mendapat solusi. tidak memikirkan kondisi robby dan biaya pengobatannya. dalam benaknya biarkan saja suami tidak berguna itu mati dengan selingkuhannya.
saat hari mulai sore, Angel dan Matthew pulang ke rumah. pada saat yang sama, mereka melihat mobil milik dad marcel baru masuk gerbang rumah mereka.
mereka berpikir, dad marcel datang berkunjung bersama mom helena. karena tadi pagi pria itu tidak sempat ikut ke rumah sakit untuk mengetahui perkembangan dua calon cucunya.
namun saat, keluar mobil. ternyata dad marcel datang sendiri. dia ingin berbicara dengan Matthew mengenai pekerjaan. Matthew menyetujui saja. dia tahu, kalau bukan hal yang serius dad nya tidak akan datang seorang diri dengan mimik yang serius.
sementara keduanya tengah berbincang di ruang kerja Matthew, Angel menyiapkan minuman dan cemilan untuk suami dan mertuanya itu. kemudian membawa ke ruangan kerja Matthew setelah itu dia pamit untuk ikut menyiapkan makan malam. rencananya dia akan mengajak mertuanya itu untuk makan malam di rumah. tidak lupa dia menghubungi mom helena dan mama vita agar segera pulang.
mama vita sendiri, walau sudah tinggal bersama Angel dan Matthew, tetap kadangkala pulang sesuai jam tutup restoran. tapi khusus hari ini Angel memintanya pulang cepat agar bisa makan malam bersama di rumah.
di ruang kerja, Dad marcel menyampaikan rencananya. Tanpa mempedulikan ekspresi putranya. penjelasan dad marcel disambut perasaan heran oleh Matthew.
"tanam saham kita lebih banyak ke perusahan keluarga robby. kita akan jadi pemilik saham terbanyak di sana. buat perusahaan itu sepenuhnya atas kendali kita. aku akan memerintahkan Leo untuk mengurus semua berkasnya" jelas dad marcel dengan serius
Matthew melihat ayahnya dengan heran. bukankah kemarin dad nya sudah setuju akan mecabut semua saham mereka di perusahaan robby. membiarkan perusahaan itu bangkrut. kenapa malah jadi menanam saham lebih banyak.
"kenapa malah jadi menanam saham. aku malah sudah menyiapkan berkas untuk menarik saham kita disana"
"tidak usah ditarik. lakukan seperti yang dad katakan " ucap dad marcel santai sambil menyesap kopi buatan menantunya.
"kenapa? apakah dad menyembunyikan sesuatu?" mata Matthew memicing penuh selidik pada pria parubaya di depannya.
"lakukan saja. nanti kamu juga akan tahu"
Matthew berdecak sebal. Bisa-bisanya dad marcel bermain rahasia dengannya.
walau begitu dia tepat menyetujui. dia tahu pasti ada alasan kenapa dad nya meminta melakukan itu. untuk mengetahui alasannya, nanti dia akan cari tahu sendiri.
__ADS_1