
Sejak balik dari Kantor, Matthew segera mandi lalu masuk ke dalam ruang kerjanya. Hingga menjelang jam makan malam, pria itu belum keluar. Angel berinisiatif memanggil Matthew. beberapa kali pintu ruangbkerja itu dia ketuk namun tidak ada sahutan hingga dia memutuskan untuk masuk. khawatir terjadi sesuatu. saat pintu terbuka, dia bisa melihat dengan jelas Matthew begitu serius membaca sesuatu di komputernya. Angel mendekat tanpa suara. Matanya tanpa sengaja melihat sebuah dokumen yang sedang dibaca Matthew. dia mengernyit bingung, menerka-nerka, hingga menemukan sebuah kesimpulan ada yang disembunyikan Matthew selama ini.
"Jadi kakak sudah tahu sejak lama?"
Matthew tersentak kaget mendengar pertanyaan tegas Angel yang entah sejak kapan masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Sweetheart, kau.."
"Jawab saja, hubby!" tegas Angel
"hufftt, iya. maaf sayang. apakah kau marah padaku?" ungkap Matthew sendu
"Iya aku marah. aku marah karena kamu membiarkan kak Martin sedih dan tersiksa begitu lama. jelas-jelas kamu sudah tahu Vivi dimana. Kan kasihan "
Angel sedikit jengkel karena suaminya sudah tahu sejak lama lokasi keberadaan Vivi. bahkan jauh sebelum mereka menikah. sangat jelas dari tanggal dan waktu yang tertera dari dokumen itu dikirim.
"kenapa hubby?" lanjutnya bertanya
Matthew menarik tangan Angel mendekat padanya hingga sekarang tepat berada di depannya. kedua tangannya memegang erat jemari sang istri lalu menatapnya dalam.
"maafin aku sayang. aku takut. aku khawatir, dia.. maksud ku vivi akan kembali menyakiti kamu. siapa yang tahu dia masih punya sifat seperti dulu. aku hanya ingin melindungi mu. maaf ya. kamu benar. aku salah menyembunyikan ini. Akibatnya Martin sedih dan menderita begitu lama. Makanya kemarin aku mengajak bertemu dan tadi aku dengan keyakinan memberitahu dia dan Leo"
sendu Matthew kini sadar dia salah menyembunyikan fakta itu.
"hubby, dengar. aku sudah melupakan semua yang terjadi di masa lalu. apalagi terakhir bertemu vivi. dia meminta maaf tulus padaku. aku bisa merasakan itu, hubby. terima kasih sudah sekuat tenaga melindungi ku. jangan khawatir, aku akan baik-baik saja.
keduanya saling memeluk saling menyalurkan perasaan hangat hingga suasana itu mereka tutup dengan kecupan mesra.
Matthew sadar dia salah. menyembunyikan fakta, bahwa keberadaan vivi sebenarnya sudah dia ketahui dua hari setelah wanita itu menghilang. dia sengaja menyuruh temannya di Berlin Jerman untuk menghilangkan jejak vivi agar tidak muda terlacak oleh Leo.
dia hanya takut, orang-orang jahat dimasa lalu sang istri kembali menyakiti wanitanya.
Bberapa jam berlalu
"Sayang, kemari"
Matthew memanggil Angel yang tengah merapikan bantal sofa di kamar itu akibat pergulatan nikmat mereka beberapa saat lalu. tadi sejam setelah makan malam, Matthew menyerang sang istri tanpa ampun. akhirnya dia bisa merealisasikan pikiran mesumnya yaitu bercinta di sofa. walau tadi di kantor sempat gagal karena ulah dua sahabat tengiknya, namun di sofa kamar dia bisa membuat istrinya lemas tak berdaya hingga kembali mandi untuk kedua kalinya.
"sebentar hubby" Jawab Angel masih merapikan bantal sofa terakhir.
"ada apa?" Tanyanya begitu duduk di samping Matthew, lebih tepatnya bersandar pada bahu kekar sang suami.
bukannya menjawab, Matthew malah menatap balik sang istri dengan penuh cinta.
"aku minta lagi, boleh?" mintanya ambigu
kening Angel berkerut dalam
"minta apa, hubby?"
"tadi cuma tiga ronde, tambah dua ronde lagi biar genap jadi lima" ujarnya dengan menatap mesum penampilan seksi istrinya saat ini. sebuah gaun tidur di atas lutut dan belahan dada rendah.
jelas saja, gejolaknya sebagai suami dan pria normal kembali naik.
__ADS_1
menyadari tatapan Suaminya mengarah pada dua dada sintalnya, angel segera menyilangkan tangan di depan dada.
"Hubby, kau mesum!. masa tidak ada puas-puasnya"
"Gimana bisa puas.. aku terus mengingat ******* kamu sayang. kamu terus mendesah dan meminta, Ahh hubby, di situ. Hubby jangan berhenti. enak.. sangat nikmat hubby. seperti itu kan" goda Matthew sekali lagi membuat wajah Angel merah padam.
"ihss, stopp"
Angel segera membekap mulut Matthew supaya berhenti bicara ngelantur. yang ada dirinya malah semakin malu. meski apa yang suaminya katakan adalah kebenaran. Saking terbuainya dia bahkan lupa apa saja yang dia ucapkan saat menjemput puncak. sungguh dirinya malu saat mengingat itu.
Matthew tertawa lepas melihat wajah tersipu Angel. meski sudah melakukan hal berulang kali, sang istri masih saja malu-malu padanya. tentu dia gemas.
tadi dia hanya bermaksud menggoda sang istri walau sebenarnya dia sudah sangat tergoda duluan.
"bukankah ada yang ingin kau sampaikan tadi, sayang?" tanyanya begitu berhenti tertawa
Angel memberenggut. tadi selepas makan malam, dia mengajak sang suami untuk membicarakan sesuatu. dia sengaja mengajak duduk di sofa untuk lebih leluasa berbincang karena dia pun belum mengantuk.
justru dia diserang habis-habisan oleh Matthew, meski akhirnya dia pun sangat menikmatinya.
"pihak kampus, meminta kesediaan ku kembali mengajar" beritahu Angel singkat.
dia ingat tadi siang sebelum ke kantor Matthew dia mendapat email dari pihak kampus tempat lamanya mengajar. kurang lebih isinya meminta angel untuk kembali ke sana karena tempatnya masih belum terisi oleh dosen baru dan mereka sengaja menanti Angel untuk kembali bergabung.
"lalu keputusan kamu, bagaimana sayang?" timpal Matthew
"menurut hubby gimana?"
hati Angel terenyuh melihat sorot ketulusan dari mata Matthew. dia pun memantapkan pilihannya. dia menarik napas panjang. sebelum akhirnya menjawab.
"aku akan menolaknya hubby. aku akan mengirim surat balasannya esok melalui email"
"kamu yakin?" bukankah mengajar sebagai dosen adalah mimpi kamu sayang?"
"yakin. sangat yakin. karena sekarang aku sudah bersuami dan tidak menutup kemungkinan sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. aku ingin mendedikasi kan banyak waktu untuk keluarga kecil kita, hubby. Apalagi sekarang mama menyerahkan restoran untuk aku kelola. jadi yang aku pelajari selama ini tidak akan sia-sia"
jelas Angel mantap tanpa ada keraguan. Matthew menariknya dalam dekapan hangat. melabuhkan banyak ciuman sayang dikepala wanitanya.
"Kalau itu keputusan aku, apa pun itu akan aku dukung, sayang"
"terima kasih hubby..cupp" kecupan singkat Angel berikan di pipi Matthew dan membuat pria itu tersenyum bahagia
"sama-sama sayang. ngomong-ngomong soal anak. apakah tidak seharusnya kita mulai rajin menyicil sayang. biar dia cepat hadir di sini" otak nakal Matthew sepertinya kumat lagi. tangannya kini meraba lembut naik turun dari perut hingga dada sang istri.
menyadari maksud dari suaminya, Angel segera melepas pelukan mereka dan menggeser duduknya lebih berjarak.
"kita selalu melakukannya, hubby, bahkan di luar batas yang dianjurkan. apa lagi yang harus dibuat rajin. itu pasti mau kamu saja" ujar Angel langsung rebahan dan menyembunyikan diri dalam selimut hingga terbungkus seperti kepompong.
Matthew tergelak melihat penolakan wanitanya. saking takutnya Angel di ajak bergelut lagi, wanita itu sampai tidak menyisakan sedikit selimut untuk Matthew karena telah habis dia gulung membungkus badannya.
dia pun ikut merebahkan diri di samping sang istri. sambil menatap dan menunggu gadis itu terlelap. hingga beberapa saat kemudian suara dengkuran halus terdengar lirih di telinganya. perlahan dia membuka bungkus selimut itu yang dia rasa cukup sesak membelit badan sang istri. dia takut Angel sampai kesulitan bernapas.
setelah terlepas. dia menarik wanita itu ke dalam pelukannya sambil memberikan beberapa kecupan di kepala sang istri kemudian terlelap bersama.
__ADS_1
Malam berlalu menjadi pagi. Di walk in closet, Angel tengah memilih satu setelan yang cocok untuk suaminya gunakan hari ini karena akan menghadiri pertemuan bersama rekan bisnis di luar saat jam makan siang ini. Dia pun akan ikut serta. namun akan menyusul menjelang siang dengan dijemput oleh Leon.
"tampan" puji Angel setelah Matthew selesai berpakaian rapi dan dia sendiri yang mengenakan dasi untuk pria tampannya itu.
"terpesona sayang?" tanya Matthew percaya diri
"emmm..." Angel nampak berpikir dan mengetuk jari di dagu
"sedikit" lanjutnya lagi seraya menujuk secuil kuku sebagai tanda seberapa besar dia terpesona
"whattt,, heiii. Aku ini sangat tampan. coba lihat betul-betul. tatap mataku" Matthew tidak terima istrinya bilang tidak terpesona padanya. pokoknya Angel harus selalu melihatnya tampan bahkan makin menawan.
dengan gerakan cepat dia membawa wajah Angel mendekat padanya hingga mata meraka saling menatap penuh arti. jika Matthew memasang wajah cool yang biasanya membuat kaum hawa histeris akan paras rupawannya, namun Angel justru menatapnya biasa saja.
"Gimana, tampan kan?" tanya nya lagi seperti memaksa.
"ya ya suamiku tampan" respon Angel namun Matthew belum juga puas.
"seperti terpaksa begitu. kamu tidak tulus mengatakan aku tampan" Matthew cemberut dengan mode manjanya.
"baiklah. dengar. suamiku ini sangat tampan. bahkan tanpa ditanya pun sudah jelas selalu tampan.
cup
cup
cup
"puas?!!" tanya Angel jengah
"sangat puas. istriku juga sangat cantik"
cuppppp
akhirnya setelah melewati drama pagi yang kini menjadi rutinitas mereka. tiada pagi tanpa drama manja seperti ini. siapa lagi pelaku yang bikin ulah kalau bukan Matthew.
mereka akhirnya ke meja makan untuk sarapan bersama.
setelahnya Matthew berangkat menuju perusahaan bersama dad Marcell dan Leo. walau dengan mobil berbeda.
di jalan mereka masih sedikit membahas tentang rencana Martin yang hari ini akan menyusul vivi ke Swiss. tempat di mana selama ini gadis itu bersembunyi dari Martin dan keluarganya. di sisi lain, Melvin hari pun akan bertemu dengan Gideon dibantu oleh exel yang diiming-iming kerja sama di sana. walau sebenarnya itu hanya bohong semata.
"semoga semuanya berjalan lancar hari ini" harap Matthew
"amin. semoga matt" timpal Matthew mengamini
"tapi ngomong-ngomong, Leo apakah kau sedang mendekati asistennya mertuaku Si Enzy? akhir-akhir ini kulihat kau sering mengganggu gadis itu"
pertanyaan spontan Matthew membuat Leo tersedak ludahnya sendiri
"uhukk uhukkk"
"sudah tidak usah sok kaget gitu" ledek Matthew membuat Leo menggaruk asal kepalanya karena kikuk
__ADS_1