
Dalam perjalanan pulang, Angel tidak mengeluarkan suara. dia lebih memilih melihat ke arah luar dan merenung. Exel yang sedang mengemudi pun tidak berani membuka suara. Tentu saja dia sangat kenal dengan orang yang mereka lihat di hotel tadi. Masa lalu dari gadis di sebelahnya. Melihat tatapan keduanya tadi yang terkejut namun menyirat kerinduan, membuat harapan Exel seolah putus begitu saja. karena hingga sekarang dia masih berharap bisa merebut hati wanita di sampingnya.
Angel beberapa kali menghela napas panjang dan itu terdengar oleh Exel. Pikirin gadis itu berkecamuk. Dan suasana hatinya ikut kalut.
Angel Pov
Entah respon seperti apa yang harus aku tunjukan sekarang. kaget? senang? sedih? Kesal? biasa saja? atau bersyukur? Intinya pertemuan dadakan tadi sungguh membuatku merasa seperti orang bodoh yang Bingung mau berekspresi seperti apa.
aku bahkan mengela napas panjang berkali-kali untuk meredakan gejolak dihatiku yang seakan mau meledak.
Ya Tuhan, kenapa aku harus lihat dia lagi? kenapa kita harus ketemu lagi? Batinku terus menerus.
Selama ini bahkan aku sudah merasa baik-baik saja dan terbiasa tanpa adanya dia.
Matthew, ya nama itu yang sekarang memenuhi pikiran ku. Dalam pandangan sekilas tadi, aku melihat dia semakin tinggi dan aura dewasanya sangat terlihat. Tentu pesonanya juga semakin memikat. Apa ini alasan jantung ku yang sedari tadi terus berdetak kencang? Apa sebenarnya selama ini aku menyimpan rindu untuknya?
Aku menggeleng kepala seolah mengusir pikiran itu. Aku tidak mungkin merindukan dia. Karena bagiku kisah kami hanya cerita di masa lalu dan tidak akan terulang lagi. Ya, itu hanya masa lalu. walau rasa sakitnya masih membekas tapi cerita itu tidak akan terulang.
serius melamun, aku tidak menyadari mobil sudah berhenti tepat di depan rumah. Aku kaget saat exel menepuk pelan pundakku.
"hey... Angel. Kita sudah sampai " ujar Exel dan membuatku terkejut.
"oh..i..iyaa. terima kasih xel. hati-hati di jalan" ujarku terbata. setelahnya aku keluar dari mobil exel tanpa menyuruh pria itu mampir. saat ini suasana batin dan pikiran ku sedang tidak baik-baik saja, jadi aku berpikir lebih baik dia pulang saja.
Sesampainya di dalam, aku berpapasan dengan mama yang baru saja dari arah dapur. Dia membawa secangkir teh. Mungkin dia akan mengecek penghasilan resto hari ini atau yang lain. Aku hanya menyapa mama sebentar dan kemudian masuk ke kamar. Aku memutuskan untuk langsung membersihkan diri agar sedikit bisa menenangkan pikiran.
Setelah mandi aku langsung mengalihkan pikiran dengan membuka kembali tugas-tugas dari mahasiswa. walau sebenarnya sangat sulit untuk fokus namun aku harus bisa. Aku tidak ingin kembali mengingat manis dan pahitnya kisah asmara di masa lalu.
hingga sejam duduk di depan laptop, nyatanya kini air mata meluncur begitu saja dari sudut mataku. ternyata hatiku mudah goyang dan tudak begitu kuat.
"tidak Angel, kau tidak boleh seperti ini. Kakak Matthew hanya sepenggal kisah dalam hidupmu dan itu di masa lalu" gumamku pada diri sendiri.
__ADS_1
"Kau tidak boleh merindukannya. Harusnya kau marah, kesal dan kecewa. Kau hanya taruhannya di masa lalu. Hanya taruhan" lanjutku dengan kedua tangan mengepal agar bisa menahan gejolak perasaan yang seakan mau meluap.
"Iya, sekarang hanya tersisa rasa kecewa dan marah. Hanya itu tidak ada lagi" Aku berusaha berdialog dengan diriku agar menyakini hatiku bahwa Tidak ada apapun lagi yang tersisa setelah perpisahan beberapa tahun silam.
Hingga pagi Menjelang aku kesulitan menutup mata. aku susah tidur dan terus menghela napas panjang.
Angel Pov End
Tidak berbeda jauh dengan Angel, Matthew pun sejak kedatangannya ke Hotel tadi, membawa sejuta rasa di hatinya. Antara gugup, senang, bahagia, ragu dan tidak yakin. Namun besarnya kerinduan membuat Matthew segera mendatangi Hotel MB setelah mengetahui keberadaan Angel dari percakapan mama Vita dan pelayanan resto tadi pagi. Walau niatnya hanya sekedar melihat dari jarak yang cukup jauh, setidaknya rindu itu sedikit bisa terobati nantinya.
Namun kedatangannya di sana justru membuat perasaannya kecewa sekaligus sedih. bagaimana tidak. Gadis yang dia rindukan selama delapan tahun, di dapatinya sedang bersama seorang pria. walau tidak ada perlakuan mesra, namun dari panggilan sayang yang disematkan lelaki itu seakan menandakan keduanya tengah menjalin hubungan serius.
Matthew dengan sekuat tenaga memutar langkah dan pulang ke rumah. Di kamarnya, dia hanya mampu menekan semua perasaan rindu yang teramat dalam. Kini terganti dengan perasaan sedih dan kecewa.
Di tengah perasaan kecewanya, masih ada sedikit perasaan kurang percaya dalam diri Matthew pada hubungan Angel dan Exel. Akhirnya dia menghubungi Leo anak dari Asisten Dad Marcel yang juga menjadi asistennya. Sebenarnya Leo sudah bekerja padanya sejak dua tahun lalu sejak dia masih berada di Berlin, Jerman.
"Tolong cari tahu info lengkap tentang Exel" suruhnya saat telepon telah tersambung dengan Leo.
"........"
Klik.
Matthew mematikan panggilan begitu saja tanpa mau mendengar lagi jawaban Leo.
"Sweetheart, aku akan pastikan, Kau hanya milikku. Aku tidak akan membiarkan laki-laki lain memiliki kamu selain aku"
monolog Matthew dengan perasaan menggebu. Dia menatap ukiran indah wajah Angel yang hingga sekarang masih menjadi wallpaper ponselnya. Hingga malam menyongsong pagi, Matthew baru benar-benar bisa tidur saat mendekati jam empat pagi.
Pagi ini, di kediaman Angel, dia tengah melakukan panggilan Video Bertiga bersama Noval dan Exel. Ketiganya memastikan kembali persiapan untuk kejutan sebentar malam. Semuanya sudah siap 70% sekarang hanya menunggu kue ulang tahun selesai dihias dan makanan yang akan selesai dipersiapkan sekitar satu jam sebelum acara di mulai.
Sementara tugas Angel yang lain adalah berusaha mengajak Bestie untuk mau di bawa ke Hotel MB dan sebelumnya mengantar gadis itu akan ke salon XI untuk melakukan perawatan di sana. Angel merasa ini tidak akan mudah, mengingat sahabatnya itu seorang yang sangat berisik. Dipastikan dia akan banyak bertanya sebelum menerima atau pun menolak ajakan Angel.
__ADS_1
Di Kediaman Noval saat ini
pria itu beberapa kali menghela napas panjang. Sambil sesekali juga melihat sebuah cicin berlian dalam kotak kecil berwarna biru dongker. perasaannya sekarang antara gugup, tidak sabar dan bahagia. Sampai Maria Ibunya menatap penuh senyum pada putranya yang sebentar lagi akan melamar seorang gadis untuk menjadi istri sekaligus menantu untuknya dan sang suami.
"Sudah, tidak usah cemas begitu. yakin saja semuanya baik-baik saja dan lancar" ujar Maria seraya mengusap lembut punggung Noval setelah melihat raut kecemasan pada wajah putranya tersebut.
"Iya bu. Aku hanya merasa waktu sedikit berjalan lambat. Aku sudah tidak sabar" tutur Noval dengan senyuman yang mengembang.
Maria hanya menggeleng melihat putranya yang tidak sabaran.
Di sisi lain, saat ini. Bestie sedang sibuk mengurus semua pekerjaannya yang semakin menumpuk karena sedang melakukan rekap laporan akhir bulan. Bestie bekerja di sebuah Perusahaan media dengan posisi sebagai sekretaris dua. Sebab di kantornya membutuhkan dua orang sekertaris.
Tadi sebelum jam delapan pagi, Angel mendadak menghubunginya meminta bertemu saat makan siang. Bahkan Angel mengatakan sudah meminta Izin pada Bosnya secara langsung agar hari ini diberi cuti setengah hari. Ada urusan penting yang tidak bisa ditunda, alasan Angel. Meski diliputi perasaan bingung dan bertanya-tanya, namun bestie tetap profesional menyelesaikan pekerjaannya.
Sementara, di rumah Matthew pagi ini juga sedang kedatangan sang asisten. Leo pagi-pagi datang ke rumah, ingin bertemu Matthew. Leo dan Matthew seumuran hingga di luar kantor mereka terbiasa memangil dengan sebutan nama saja. Mereka berteman dengan baik. mengingat juga Ayah Leo sudah mengabdi lama sebagai asisten dad Marcel dan dianggap sebagai keluarga.
tokk
tokk
tokk
"Matt, kau di dalam? Ini aku Leo" panggil Leo dari luar kamar Matthew
"masuk Leo" Jawab Matthew dari dalam.
begitu Leo masuk dia bisa melihat Matthew yang masih mengenakan jubah mandi. sepertinya pria itu baru saja selesai mandi.
"Nhi. semua yang ingin kamu cari tahu tentang bocah itu ada di sini" ujar Leo dan menyimpan beberapa dokumen hasil kerja begadangnya semalam.
"Thanks Bro. Kamu memang bisa diandalkan" Puji Matthew pada Leo yang tidak pernah mengecewakannya.
__ADS_1
Leo segera berlalu dari sana. karena masih menemani Dad Marcel untuk melakukan pertemuan internal di kantor. Ayah Leo sudah pensiun sejak setahun lalu. Kini dialah yang akan menggantikan tugas tersebut menjadi asisten di kantor keluarga Dirgantara.
Di kamarnya, Matthew dengan tidak sabar, membuka dokumen yang dibawa Leo tadi. dia nampak fokus dan serius membolak balik lembar dalam dokumen tersebut. Hingga tiba di halaman terakhir nampak senyum penuh kebahagiaan menghiasi wajah tampannya. entah apa maksud dari raut senyum tersebut.