Aku, Kepahitan Dan Kebahagiaan

Aku, Kepahitan Dan Kebahagiaan
Milik Ku Milik Kamu Juga


__ADS_3

Hampir satu jam Angel mematut diri depan cermin meja riasnya. memantaskan diri untuk mendampingi sang suami yang siang ini melakukan pertemuan bersama rekan bisnisnya. Dia menggunakan sebuah gaun berwarna kuning lembut, senada dengan kemeja yang digunakan Matthew pagi tadi.


Setelah dirasa penampilannya tidak ada yang berlebihan, dia segera turun dan menghampiri sang mama mertua yang juga akan berangkat menuju butiknya.


"mom, aku pamit, duluan ya. mungkin baliknya sore nanti"


"baik sayang. hati-hati"


"Iya, mom juga hati-hati" Angel segera mencium tangan mom Helena dan segera berlalu.


melihat Leon akan segera memasuki mobil mom Helena dengan tegas memberi peringatan.


"Leon, jangan ngebut. ingat kau sedang membawa menantuku!"


"siap nyonya. Nona muda akan aman bersama saya"


mobil yang ditumpangi Angel berlalu dengan cukup pelan sesuai titah sang nyonya besar.


"Leon, apakah Kak Matthew sudah ada di hotel? atau masih di jalan?"


Angel bertanya demikian karena Matthew belum menjawab pesannya sedari tadi.


"Iya non. tadi tuan muda menitipkan pesan, Ponselnya kehabisan arus" jawab Leon. sepertinya dia menyadari kerisauan nona mudanya. Angel pun lega setelah mendengar jawaban Leon.


setelah menempuh perjalanan setengah jam lebih, mereka tiba di hotel berbintang tempat diadakan pertemuan tersebut. nampak Matthew dengan senyum manisnya menyambut sang istri di depan pintu masuk ballroom hotel.


"Sayang kau sangat cantik" puji Matthew melihat sang istri nampak bersinar dengan gaun kuning sepanjang lutut.


"terima kasih hubby. Kamu juga tampan. jadi aku hanya mencoba memantaskan diri" Angel mencoba merendahkan dirinya dihadapan Matthew dan membuat pria itu tidak setuju.


"kamu selalu dan akan tetap pantas bersamaku. tidak peduli apapun keadaanmu"


Angel terharu mendengarnya hingga mereka saling memberi kecupan sebelum akhirnya masuk dan bergabung bersama tamu lain.


Di sana, Angel selalu menempel kemana pun Matthew melangkah. dia pun turut berkenalan dengan para istri dari rekan bisnis sang suami dan mertuanya, dad Marcel.


"Hai, tuan Matthew, senang bisa bertemu anda kembali di sini" sapa Tuan Robby yang merupakan mantan relasi bisnis dad marcel.


pria tua itu, pernah menawarkan perjodohan antara Matthew dan putrinya Jovanka namun ditolak oleh dad marcel. baginya anak bukan untuk kepentingan bisnis. Dia berbisnis untuk menghidupkan keluarganya dengan cara yang benar. jovanka pun nampak hadir di situ menemani ayahnya dan nampak jelas melihat Matthew dengan pandangan berbeda. Tatapan damba dan suka.


Angel menyadari itu. dan dia tidak suka suaminya dilirik wanita lain dalam maksud tertentu.


"selamat siang tuan Robby, senang juga kembali melihat anda di sini" Respon Matthew biasa saja.


"oh iya Tuan muda Matthew, saya juga membawa putri saya. masih ingat kan sama, Jovanka?" Tuan Robby dengan pelan mendorong putrinya ke depan untuk menyapa Matthew.


Matthew hanya melihat wanita itu sekilas tanpa berusaha mengingat. Lagian itu tidak penting menurutnya.


"terlalu banyak orang yang saya temui beberapa tahun terakhir, jadi maaf saya lupa"


"Hai, Matthew. Aku Jovanka. senang bertemu kembali denganmu" Jovanka dengan gaya anggun dan manisnya mencoba kembali berkenalan dengan Matthew namun tangannya diabaikan begitu saja oleh pria dihadapannya.


"iya" singkat Matthew dengan wajah datarnya.


menyadari sang istri di sampingnya samar mulai memberi tatapan cemberut padanya. dia menjadi senang. istrinya cemburu. Matthew sebenarnya gemas. istrinya cemburu namun tidak pandai untuk jujur.


dia pun bermaksud memperkenalkan sang istri kepada dua orang di hadapannya. Dia sadar bahkan sangat sadar. Tuan Robby seperti punya niat tersembunyi dibalik senyumnya apalagi jovanka yang nampak terang-teranangan menunjukkan rasa suka dan tertarik padanya. dia ingin membungkam dua orang itu dengan memperkenalkan istri cantiknya.


"oh yeah, Tuan Robby dan Jovanka. perkenalkan ini istri saya, Angel. wanita yang sangat saya cintai dan tidak akan tergantikan oleh siapapun di dunia ini. maaf kemarin kami tidak sempat mengirim undangan pernikahan kami kepada kalian."


"cupp"

__ADS_1


jelas Matthew bangga dan sengaja sengaja memberikan ciuman mesra di bibir Angel di hadapan Jovanka dan tuan robby.


tentu saja, jovanka kesal dan sangat iri pada Angel. belum lagi tuan Robby mengepal tangannya karena merasa Matthew terang-teranangan menolak maksudnya dan putrinya.


"hubby malu" lirih Angel namun dia tetap menunjukan kesopanan dengan memperkenalkan diri pada dua orang di hadapannya.


"Hallo Nona Jovanka, Tuan Robby. Saya Angel. Istri Matthew "


Jovanka menerima uluran tangan Angel dengan tatapan tak suka. Baginya Angel biasa saja. tidak pantas bersanding dengan Matthew. Begitulah Jovanka, dari dulu selalu membanggakan diri dan melihat orang lain rendah darinya.


"kami permisi dulu" pamit Matthew dan menarik lembut sang istri dari sana. tanpa melihat respon dua orang tersebut yang merasa jengkel.


"dia menyukai mu" ujar Angel begitu menjauh.


"siapa?" Matthew pura-pura tidak tahu


tentu Angel berdecak malas mendengar respon Matthew


"ckk.. siapa lagi. tentu saja Jovanka. aku bisa melihat dan merasakannya"


terang saja Matthew terkekeh tanpa bermaksud mengejek sang istri


"tapi aku tidak peduli. aku hanya menyukai dirimu. mata dan hatiku hanya ada kamu"


Angel tersipu mendengarnya. dia selalu saja bergemuruh dan tak karuan saat Matthew mengeluarkan kata-kata manisnya.


"gombal" lirihnya pelan namun masih terdengar ditelingah sang suami.


tidak terasa dua jam berlalu, setelah mengikuti proses pertemuan bisnis dan makan siang bersama di sana. kini Matthew membawa Angel pulang. bukan pulang ke rumah utama melainkan ke arah lain. hingga sejak tadi Angel terus bertanya kemana tujuan mereka.


"hubby, sebenarnya kita akan kemana?"


"nanti kamu juga akan tahu sayang" Matthew masih merahasiakan tujuan mereka.


dari gerbang, Angel dapat melihat sekitar puluhan meter dari situ sebuah rumah lantai tiga dengan gaya gabungan modern-klasik-eropa menghipnotis pandangannya. dia begitu terpukau. apalagi taman dan pepohaan rindang di depan rumah itu mengingatkan dia akan rumah impiannya dulu.


"yuk sayang turun" ajak Matthew begitu mobil mereka tiba di depan rumah.


tidak menunggu lama, Angel segera keluar. masih dengan tatapan kagum. Angel bertanya sembari mendekati pintu utama bagian depan rumah tersebut.


"hubby ini rumah siapa"


bukan menjawab, justru Matthew balik bertanya.


"kamu menyukainya sayang?"


"tentu. rumahnya bagus dan cantik"


"Kalau begitu bukalah, sayang"


Matthew menyerahkan satu buah gantungan yang lengkap dengan beberapa jenis ukuran kunci. satu diantaranya yang paling besar dan merupakan kunci pintu utama.


Angel bingung. dan belum menerima kunci tersebut.


"maksudnya hubby?"


Matthew mengangguk menyakinkan sang istri.


"bukalah sayang"


dengan ragu-ragu Angel menerima kunci tersebut dan perlahan membuka pintu coklat besar yang menjulang di depan mereka.

__ADS_1


hingga terdengar bunyi klik dua kali pintu tersebut berhasil terbuka sempurna.


mata Angel memanas karena kembali dengan rasa terkejutnya. pemandangan di depannya membuatnya semakin bingung juga terharu. sebuah bingkai berukuran besar berisi foto pernikahan dirinya dan Matthew nampak tergantung indah di ruang utama rumah tersebut.


"hubby itu" lirihnya menujuk bingkai foto tersebut.


"Iya sayang itu foto pernikahan kita"


Matthew perlahan mensejajarkan posisi mereka. memandang sang istri dalam dan penuh cinta.


"Sayang, rumah ini adalah rumah kita. kelak akan menjadi kediaman bersama keluarga kecil kita. tempat kita membesarkan anak-anak kita dan menua bersama. rumah ini aku serahkan untukmu sebagai kado pernikahan kita" jelas Matthew tulus seraya menyerahkan sebuah amplop lengkap dengan sertifikat dan surat-surat penting lainnya atas nama Angela Abichail.


air mata Angel luruh antara terharu dan masih terkejut. Matthew memeluknya erat.


"maaf sayang, kalau belum mampu memberikan yang lebih baik dari ini"


Angel menggeleng. justru dia merasa ini sangat luar biasa. dia merasa tidak pantas menerimanya.


"tidak hubby. ini sangat besar. aku merasa tidak pantas menerimanya. Aku bahkan tidak memberikan apapun untuk kamu." dengan sesegukan Angel seakan merasa kurang pantas.


Matthew membelai lembut pipi sang istri seraya menghapus air mata yang terus mengalir. dia begitu menyayangi dan mencintai wanita di depannya. hingga untuk alasan apapun dia tidak pernah ingin wanita itu mengeluarkan air mata.


"Sayang, hey lihat aku. Kamu tidak perlu memberikan apapun padaku. kehadiran kamu sudah menjadi alasan kebahagiaan dan perjuangan ku ke depannya. Sayang ingat, setelah menikah kita tidak lagi dua melainkan satu. artinya, Milik ku juga milik kamu. jangan pernah merasa tidak pantas. Kamu sangat pantas menerima dan memiliki apapun yang aku miliki, hmmmm... Aku mencintaimu "


tidak sanggup menjawab lagi. Angel hanya mampu semakin memeluk erat suami tercintanya. matanya terus saja mengalirkan air mata terharu. dia bahagia dan bersyukur memiliki Matthew.


"hubby terima kasih " ujarnya tulus dan dibalas anggukan penuh arti juga oleh Matthew.


"yuk kita lihat-lihat rumah ini. untuk isinya belum lengkap. aku serahkan sepenuhnya ke tangan kamu. mau kamu isi dengan apapun itu terserah kamu sayang"


sekali lagi Angel terharu. Matthew benar-benar menjadikannya istri sesungguhnya yang ikut serta dalam tanggung jawab tentang perabot rumah.


setelah berkeliling di lantai satu dna dua, Matthew mengajak Angel menaiki lift menuju lantai 3 rumah tersebut.


begitu keluar, mereka berjalan sedikit ke sisi kanan, kemudian tiba di depan sebuah pintu tulang putih yang cukup besar.


"masuk sayang" ajak Matthew setelah membuka pintu tersebut. lagi-lagi Angel terpesona. rupanya ruangan tersebut adalah sebuah kamar super luas dengan segala perlengkapannya. tempat tidur super besar, meja rias, sofa dan meja mini, walk in closet, kamar mandi dalam, TV ukuran sedang.


" ini kamar kita sayang. kamu suka.. hmmm?" Matthew bertanya sembari memeluk mesra sang istri dari belakang.


"suka. sangat suka. terima kasih hubby. kamu sendiri yang mendesain kamar kita?"


"Iya tentu. sesuai rumah dan kamar impian kamu sayang. Beberapa bagian di desain dengan bentuk rumah kayu modern. termasuk kamar kita dan anak-anak kita kelak, dinding, lantai dan perabotnya dari desain kayu terbaik"


"Darimana hubby tahu?" Angel bingung karena tidak pernah mengungkapkan apapun termasuk rumah impiannya kepada Matthew.


"apa yang tidak aku ketahui tentang kamu sayang"


ujar Matthew yakin dan percaya diri. karena memang sedari awal dia tahu. bermula dari dia yang tidak sengaja menemukan buku diary Angel lalu menumbuhkan rasa penasaran akan isi buku tersebut. setelah dibaca dari situlah dia tahu tentang kehidupan, perjuangan termasuk segala mimpi dan harapan sang istri di masa depan. salah satunya juga adalah rumah impian dan cita-citanya.


kembali Angel merasa bahagia. Matthew benar-benar membuatnya bahagia dengan semua kejutannya hari ini.


"terima kasih Hubby. aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi. kamu membuat aku terkejut dengan kebahagiaan hari ini"


"cuppp"


Angel hanya berniat memberikan satu kecupan dibibir suaminya. tapi tengkuknya ditahan Matthew hingga ciuman panjang meraka lakukan di sana. bahkan tangan Matthew sudah mulai meraba sana sini. nafas pria itu mulai tidak beraturan dan mendesah pelan.


nampak jelas matanya berkabut dan bergairah.


"Sayang, satu ronde dengan gaya baru sepertinya akan terasa lengkap untuk mencoba suasana kamar baru kita"

__ADS_1


"hahhhh?"


__ADS_2