
Suasana pantai saat weekend seperti ini lumayan ramai, namun di bagian sebuah resort mewah suasananya justru sepi dan sangat tenang. Di sinilah mereka sekarang berada. Noval sibuk dengan kayu bakar, untuk memanggang ikan, Bestia yang masih berceloteh kenapa Noval mendadak membuat ide bakar-bakar ikan di pantai. Kan mereka bisa langsung bawa dari rumah. Matthew yang sedang memisahkan ikan ke wadah dan Angel menyiapkan bumbu. Di luar rencana, Martin dan Melvin ikut ke pantai, saat ini keduanya sedang menyanyi ditemani petikan gitar. Tadi sebelum berangkat, mama vita sudah memberi pesan agar Angel hati-hati dan dijaga dengan baik oleh mereka di sana dan semuanya menyanggupi.
"kamu kesulitan" tanya Matthew sambil melakukan pekerjaannya.
"gampang kok kak. Aku biasa membantu mama menyiapkan bumbu di warung"
"Syukurlah, kalau butuh bantuan, bilang saja ya" dijawab Angel dengan mengangguk. Martin datang menghampiri Angel dan membantu Angel memotong jeruk nipis untuk campurkqn dengan kecap. Sebenarnya Angel bisa sendiri namun Martin tetaplah Martin, dia juga mau mencari kesempatan untuk bisa merebut hati Angel.
"tidak usah kak, aku bisa sendiri"
"tidak apa-apa, lagian kakak juga cuma diam saja dari tadi. Angel memilih mengiyakan saja. Namun Matthew menjadi panas hati melihatnya. Sekarang dia nyesel, kenapa juga tadi dia bilang mau ke pantai ke dua temannya itu. Di sisi lain, suasana mereka saat ini diabadikan oleh Melvin melalui HP mahalnya.
"makan yang ini, sudah aku pisahkan tulangnya" Matthew menyodorkan ikan bakar pada Angel yang sudah dia pisahkan dari tulang-tulangnya.
"Eh, Terima kasih kak. Maaf merepotkan" Angel menerima dengan senyuman dan juga sedikit terkejut. Tadinya dia sudah mau mengambil ikan yang lain.
"Makan yang banyak, hem" lanjut Matthew dengan lembut dan tatapannya sangat manis membuat Angel tersipu.
"sudah jangan pacaran terus, kasihan kami yang jomblo berasa seperti obat nyamuk" sindir Bestie yang merasa gemas dan greget.
" Apa sih, bes. Siapa juga yang pacaran" Jawab Angel dengan tersipu.
"Kalau sama aku mau nggak?" Kini Melvin ikut menimpali dengan pertanyaan.
"Apa kak?" bingung Angel.
"Pacaran" Jawab Melvin dengan alis naik turun
__ADS_1
"Tentu saja tidak. Angel tidak boleh pacaran sama tukang jual gombal seperti kamu" Noval menjawab dengan sindiran pada Melvin. Mereka akhirnya menghabiskan makanan dengan obrolan yang ringan, kadang juga saling sindir yang tentunya hanya sebagai bahan candaan.
Saat ini, Angel berada di tepi lalut menghadap ke sisi barat pantai dimana saat ini langit mulai jingga tanda matahari sebentar lagi kembali ke peraduan.
"Kamu senang" tanya Matthew yang entah sejak kapan duduk di samping Angel.
"Sangat. terima kasih kak, sudah sudah mengajak ke sini. Angel menjawab dengan anggukan yang tulus.
"Kamu masih suka melihat senja saat ke pantai?"
"Iya kak. salah satu moment yang paling aku tunggu saat ke pantai ya menanti senja. Eh tapi, kok kakak tahu aku senang melihat senja?" Angel bingung, pertanyaan Matthew tadi seolah pria itu mengetahui kebiasaannya saat ke pantai. Mereka Bahkan tidak pernah ketemu di pantai sebelumnya.
"Kamu tidak ingat?" setahun lalu, tepatnya di ujung sana sebelah pohon kelapa dekat batu karang kamu juga melakukan hal yang sama seperti ini" Jawab Matthew memberi kilas balik ingatan Angel.
"Kok kakak tahu" Apakah kita pernah ketemu?" Tanya Angel semakin bingung.
"Rupanya kamu lupa ya? sebenarnya ini pertemuan kita yang ke sekian kalinya. Bahkan sebelum bertemu di sekolah kita sudah beberapa kali ketemu. lebih tepatnya pertemuan yang tanpa di sengaja" tutur Matthew pada Angel kemudian dia menceritakan awal mereka ketemu dan beberapa pertemuan selanjutnya .
Hari dimana Matthew dan Angel tanpa sengaja bertemu yaitu setahun yang lalu. Malam sebelumnya Matthew menghadiri acara bisnis dari perusahaan keluarganya di sebuah hotel berbintang. Di malam itu juga dia mengetahui untuk pertama kalinya Laras bermain dengan pria lain di belakangnya. Malam itu, hotel tempat Laras dan teman kencanyanya check in ternyata juga dipakai untuk acara bisnis perusahaan keluarga Matthew, melihat gelagat Laras yang Aneh apalagi bergandengan dengan seorang pria yang merupakan lawan mainnya dalam proyek film baru, Pria tersebut juga merupakan seorang model. Matthew menghampiri resepsionis hotel dan bertanya tentang Laras dan diberitahu setelah disogok segopok uang. benar-benar mata duitan, cibir Matthew dalam hati. Setelah mendapat info, padahal Laras sudah beberapa kali check in bersama pria yang sama di hotel tersebut. Mengetahui itu, Matthew menjadi kesal dan juga marah, Kok Laras gampang sekali menyerahkan diri pada lelaki lain, padahal dia selama ini selalu menahan diri untuk tidak menyentuh Laras lebih jauh. Malam itu, Matthew tidak mengejar Laras setelah mengetahui itu bukan pertama kalinya dia check in bersama teman prianya. Matthew kesal dan dia melampiaskan melalui minum beralkohol sampai mabuk dan akhirnya menginap di hotel tersebut. Paginya, saat Matthew hendak pulang, tiba-tiba sopir menghubungi bahwa ban mobilnya bocor terkena paku. Dengan segala kekesalan Matthew berjalan ke depan hotel sembari celingak celinguk mencari Taksi. Satpam memberi tahu, tidak akan ada taksi yang memasuki area hotel kalau belum dipesan sebelumnya. Matthew semakin jengkel dan memutuskan untuk berjalan ke arah jalan besar untuk menyetop taksi. Tanpa diduga, dari arah samping seorang gadis nampak terburu-buru mengayuh sepedanya hingga menabrak Matthew yang juga mendadak muncul menghalangi jalan. Akibatnya, Matthew terjungkal ke samping hingga pelipisnya mencium tanah pinggiran aspal dan tanganya sedikit lecet. Gadis tadi juga terjatuh dari sepedanya dan kedua siku dan lututnya nampak berdarah. Matthew bangun dan meringis kesakitan. Dia merasa sejak semalam dia selalu terkena sial. Karena sangat kesal Matthew membentak gadia tersebut.
"kamu bisa bawa sepeda, tidak. Jalan kok nggak lihat-lihat orang. Atau kamu sengaja mau bunuh saya, hahhh.." Suara Matthew bahkan sampai melengking saking marahnya. Gadis tadi mencoba meminta maaf dengan benar dan memberikan sebuah plaster luka bergambar doraemon pada Matthew.
"Maaf kak, saya benar-benar lagi buru-buru. Semoga lukanya lekas pulih kak, dan saya cuma punya ini" Jawab gadis tadi yang nampaknya entah sejak kapan menangis itu terlihat dari mata yang bengkak dan bibirnya bergetar serta hidung merah. tidak mungkin kan hanya karena jatuh barusan karena Matthew tidak mendengar Gadis itu menangis sejak tadi.
"Permisi ya kak" Gadis itu berlalu dengan kembali mengasuh sepedanya.
"Hei, kau. Mau kabur kemana kamu" teriak Matthew setelah dengan gesit gadis tadi melesat cepat dari pandangan Matthew.
__ADS_1
"Sial, awas ya kalau ketemu lagi, akan aku beri pelajaran" Emosi Matthew membumbung.
Lagian, apa-apaan dia kasih plaster luka doraemon, Emang dia pikir aku temannya Dora" Lanjut Matthew menggerutu kesal.
Seminggu setelah insiden sepeda, Matthew hari ini menemani mom Helena dan seorang ART ke pasar tradisional membeli sayur segar. ini pertama kalinya dia memasuki area pasar. Karena ngeri melihat orang berdesakan, Matthew memilih menunggu di mobil saja. Lama menunggu, Matthew merasa kehausan dan memutuskan pergi ke sebuah alfamart di dekat pasar. Di sana tanpa di duga dia bertemu dengan Gadis yang Seminggu lalu menabrak dirinya dengan sepeda. Saat ini, matthew sudah memasang ancang-ancang dan tampang galak untuk memarahi gadis itu namun malah perlahan mundur setelah menyadari Gadis itu sedang menggandeng seorang wanita paru baya yang sekiranya seusai mom Helena. Wanita Paru baya tersebut nampak sedikit pucat dan terdapat perban di kepalanya. Yang membuatnya mendadak kaku adalah, senyum lembut dan suara halus sang gadis yqng beberapa saat lalu mau dia labrak kini membantu dan memapah wanita paru baya tersebut. Mereka terlihat begitu dekat. Apakah mereka ibu dan anak, entahlah. Matthew pun tidak tahu, Sekilas pandangan mereka bertemu sebelum akhirnya sang gadis lebih dahulu kembali fokus pada barang belajaannya. Matthew masih kaku hingga gadis tadi menghilang dari pandangannya dan disadarkan dengan hp yang berdering. Setelah dicek padahal telepon masuk dari mom Helena.
Sebulan telah berlalu setelah dua pertemuan Matthew dan Angel di dua tempat yang berbeda. Ya gadis yang dua kali tanpa sengaja bertemu Matthew adalah Angel Abichail. Sejak pertemuan kedua tersebut malah menimbulkan adanya getaran aneh dalam dada Matthew apabila tanpa sengaja teringat senyuman Angel.
Dihari minggu siang akhir bulan Oktober, Matthew berada di resort mewah keluarga di sebuah pantai di pinggir kota. Karena merasa jenuh dengan suasana kumpul keluarga yang jadi ajang pamer prestasi anak, Matthew memilih kabur ke bagian sisi lain pantai yang dapat dengan bebas dikunjungi oleh siapapun. Sementara di bagian Resort menjadi area untuk keluarganya dan tidak dibuka untuk umum. Entah sekaya apa keluarga Matthew ini, sampai daerah pantai saja jadi area privat.
Matthew menikmati es kelapa muda sambil rebahan di bawah sebuah payung pelangi di pinggir pantai. Dia tengah asik bertukar pesan dengan dua sahabatnya yang kesal karena tidak diajak berlibur ke pantai. Tanpa sadar matanya bertemu dengan wajah yang cukup dia ingat. Pemilik wajah tersebut tengah menghadap ke sisi barat pantai dekat beberapa karang yang berbaris hingga ke tepi pantai. Sang gadis tengah memejamkan mata saat diterpa angin laut dan sesekali membuka ketika angin telah berlalu. Senyum manis dan lembut menghiasi wajah Ayunya.
Dialah Angel yang kini sedang menanti datangnya senja. Saat langit mulai jingga, Angin terasa mulai kencang menabrak helaian rambut Angel dan tidak berhenti memasang senyuman. Entah kenapa pemandangan tersebut menggetarkan hati Matthew dan hingga kini moment itu yang paling membekas dalam ingatannya. Setahun setelahnya, Matthew kembali berjumpa dengan Angel sebagai murid baru dan senior di sekolah, Namun rupanya Angel tidak mengingat atau bahkan tidak mengenal Matthew. hal itu justru dianggap Matthew sebagai Angel orang yang sombong.
Flashback off
mendengar cerita Matthew, Angel membuka mulutnya lebar seraya mengedip-ngedip mata seolah mengingat sesuatu. Melihat itu justru Matthew menjadi gemas, dengan lembut dan sayang dia mengusap kepala Angel.
"Ah jadi orang itu adalah kakak" Respon Angel seletelah perlahan mulai mengingat kepingin kejadian setahun lalu, lebih tepatnya pada kejadian insiden sepeda. karena dua pertemuan selanjutnya Angel sama sekali tidak ingat bahkan tidak tahu.
"Gimana, sudah ingat hem" Tanya Matthew mendekatkan wajahnya ke muka Angel hingga hembusan nafasnya menerpa kulit wajah Angel. Menyadari tatapan Dalam Matthew, Angel menunduk.
"Maaf ya kak, saat itu aku sedang buru-buru ke rumah sakit, karena mendengar mama kecelakaan. Saat itu, pikiranku kalut dan takut, karena Papa meninggal juga karena kecelakaan. Waktu itu aku kaget karena kakak tiba-tiba ada di depanku. Untuk kejadian yang di alfamart sepertinya hari dimana mama baru keluar rumah sakit. Kami singgah di sana untuk membeli beberapa keperluan di rumah. sekali lagi maaf ya kak" ucap Angel sesal dan terus menunduk.
"Hei, jangan sedih. itu sudah berlalu, dan sebenarnya kakak sudah tidak marah, kebetulan hari ini kakak sedang terkena sial saja, jadi ya gampang banget emosi" Ungkap Matthew menenangkan Angel yang mendadak melow karena merasa bersalah.
"tetap saja kak, waktu itu kakak terluka dan aku tidak bertanggung jawab. Pasti sakit ya lukanya" Angel masih tetap menunduk. dia tidak berani karena Sekarang Matthew tidak hanya memandangnya, kedua tangannya juga memegang dua sisi pipi Angel untuk diangkat membalas tatapannya.
__ADS_1
"Dengar, semua itu sudah berlalu, kakak tidak marah. justru kakak bersyukur, bertemu dengan kamu, Kamu tahu, kakak bahkan sudah terpesona sejak melihat kamu kedua kalinya di Alfamart. Hingga sekarang Getaran itu makin terasa" Jelas Matthew panjang lebar yang justru membaut Angel meremang karena Matthew meletakkan satu tangan Angel di dada sebelah kanan Matthew.
"Kamu merasakannya? Getaran ini bukan karena gugup tapi ini efek dari kamu yang selalu menggetarkan dada ini setiap kali mata kita bertemu, kamu tersenyum dan bahkan di sini sakit saat kamu sedih. Angel, sayang, Sweetheart, dengar, ini adalah kejujuran yang paling dalam yang pernah aku utarakan kepada seorang gadis, aku suka sama kamu melebihi rasa suka sebagi teman dan kakak. Bisakah kamu memberi kesempatan untuk hubungan kita yang lebih dari sekarang. Kamu tidak harus menjawab sekarang. Tapi aku berharap minggu depan aku bisa mendengar jawaban kami. Jangan dibawa beban. Kejujuran kamu nantinya akan menjadi moment yang paling aku ingat seumur hidup." Penjelasan panjang lebar Matthew dengan suara yang mendayu tenang justru membuat Angel menahan Napas karena gugup. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Namun satu yang pasti, kejujuran Matthew membuat jantungnya berkali-kali memompa tak karuan. Senja kali ini terasa sedikit berbeda dari senja yang dilewati Angel sebelumnya. Kali ini, pengakuan dan keberadaan pria di sampingnya menjadikan moment senja paling manis yang pernah dia nikmati.