Aku, Kepahitan Dan Kebahagiaan

Aku, Kepahitan Dan Kebahagiaan
Pelaku Dan Efek Jera


__ADS_3

Matthew tiba di sekolah bersama noval dan langsung menuju ke ruagan ke siswaan. Karena Kedua pelaku sudah diamankan oleh guru di sana. Matthew berjalan dengan emosi yang memenuhi kepalanya. Dengan tidak sabaran dia mendorong sangat kuat pintu ruangan tersebut dan hampir merobohkannya. Matanya menatap nyalang dua orang siswa yang tengah berlutut di hadapan guru Kesiswaan dan kepala sekah.


"Bugh"


"bugh"


"bugh"


"bugh"


empat bogeman dari Matthew menghantam wajah kedua pelaku tadi. Semua yang berada di sana langsung menghentikan Matthew yang terlihat emosional dan membabi buta..


"Lepas! jangan halangi aku! Aku akan memberi mereka pelajaran" Teriak Matthew penuh amarah karena dihalangi orang-orang.


"Sadar Matt, tindakan kamu ini termasuk kekerasan, nanti malah makin rumit urusannya " tergur Melvin seraya mendorong Matthew untuk keluar dari ruangan tersebut. Matthew masih memberantak dan memarahi Melvin karena menghalanginya.


"Jangan gegabah. pikirin Angel. tindakan kamu bisa menimbulkan masalah baru. Nanti kalau Angel tahu dia makin sedih. kita pastikan saja kedua pelaku mendapat hukuman yang setimpal" Tutur Martin memperingati Matthew yang sedang diselimuti rasa marah. Nampak dada Matthew kembang kempis. Dia masih mencoba menetralkan perasaannya. Noval datang memberi satu botol minuman untuk Matthew untuk menenangkan pikiran pria itu.


Ada hal lain yang justru membuat mereka terkejut.


"Plak"


"Plak"


masing-masing satu tamparan mendarat di pipi kedua siswa tadi dan pelakunya adalah Noval. Ternyata setelah memberikan minuman pada Matthew, dengan langkah pasti dia masuk dalam ruangan dan dengan sekuat tenaga memberikan cap lima jarinya pada pipi kedua siswa tersebut.


"untungnya aku masih punya nurani untuk tidak menghabisi kalian berdua" ujarnya dengan aura membunuh. para guru yang berada di ruangan tersebut bahkan begitu kaget dengan tindakan noval yang tiba-tiba. Setelah puas melihat hasil cap lima jarinya, dia keluar lagi dengan wajah datar. 3M sekawan menatapnya dengan senyum penuh arti.


"katakan, atas dasar apa kalian menyekap Angel?" tanya Pak Boby selaku guru bagian Kesiswaan.


kedua siswa tersebut tidak menjawab. Keduanya hanya terus menunduk. Mereka tidak berani bicara karena sudah mendapat ancaman dari orang yang menyuruh mereka tadi pagi.


"Kalau kalian tidak menjawab, ada banyak resiko yang akan kalian tanggung" Lanjut pak Boby. Namun 1 jam diintrogasi, mereka tetap tidak mau bicara. Akhirnya kepala sekolah turun tangan. Namun tetap sama. Mereka tidak mau bicara. Matthew yang sedari tadi diam dan geram melihat kedua pelaku tidak mau bicara mengambil tindakan.


"Alfansius. Siswa kelas XI IPS 4. Tinggal di jalan merpati, nomor 13. Punya dua orang adik perempuan. Orang tua bekerja sebagai pegawai swasta di perusahaan XX.


"Alexandro Bross. Kelas XI IPS 4. Tinggal di perumahan indah. pekerjaan orang tua dosen di universitas XO. Punya dua orang adik laki-laki dan perempuan"

__ADS_1


Matthew menutup dokumen sekolah di depannya setelah membaca profil kedua siswa tadi.


"Kalau orang tua kalian di blacklist dari pekerjaan mereka, saudara kalian dikeluarkan dari sekolah dan kalian masuk penjara, saya rasa hukuman itu setimpal, bagaimana?" ujar Matthew dengan senyum smirk yang menakutkan. Mendengar ancaman Matthew, kedua siswa tadi merasa risau dan tidak tenang. Mereka tahu ancaman Matthew tidak main-main. mengingat background keluarganya yang disegani banyak orang.


"Jangan, tolong jangan libatkan keluarga saya" Mohon Alfansius


"Tolong, jangan libatkan mereka, saya akan tanggung jawab dan jujur" Alexandro juga ikut memohon dengan ketakutan.


"jadi, cepat katakan. jangan menutupi apapun. saya tahu kalian tidak mengenal dekat dengan Angel. Ada yang menyuruh kalian, benarkan?" Tanya Matthew dengan sebelah alis terangkat.


kedua siswa tadi, kompak mengangguk.


"Kami disuruh, Vivi. Dia bilang kami hanya perlu membuat Angel pingsan dan menyekapnya di gedung belakang, Selebihnya kami tidak tahu lagi" jelas Alfansius dengan ketakutan.


mendengar itu, Guru-guru yang berada di sana, menjadi kaget. Ada masalah apa antara vivi dan Angel sampai vivi nekad melakukan tindakan kriminal seperti itu. Vivi adalah salah satu siswa berprestasi di sekolah belum lagi Ayahnya yang seorang polisi berbintang dua dan ibunya bekerja di kantor kementerian.


Melvin dan Martin bergerak cepat. Atas izin pihak sekolah mereka menuju Rumah Vivi dan menyuruh gadis itu ke sekolah.


Di rumah vivi


"Ada keperluan apa?" Tanya ayah Vivi, Pak Broto dengan datar yang kebetulan sudah berada di rumah. Dia mengenal dua pemuda di depannya. Dia sering mengurus perkara mereka yang dulunya seringkali tawuran antar pelajar dan orang tua 3M sekawan yang memang di kenal banyak orang.


"Bukankah waktu sekolah sudah selesai?"


"Iya, tapi vivi harus ke sekolah untuk mempertanggung Jawabkan kejahatannya" Ayah vivi syok mendengar perkataan Martin.


"Kejahatan apa?" Tanyanya


"putri anda terlibat dalam komplotan tindakan kejahatan di lingkungan sekolah. Dia terlibat dalam penyekapan salah satu siswa di sekolah." kali ini melvin yang memberi penjelasan.


"itu tidak mungkin. Anak saya tidak Akan melakukan itu" Bantah ayah vivi dan rasanya dia tidak percaya kalau anaknya melakukan kejahatan semacam itu.


"benar atau tidaknya, kita akan mendengarnya di sekolah. Bukankah anda selalu mengatakan kepada kami untuk mempertanggung Jawabkan setiap perbuatan kita" Ujar Martin mengingat akan perkataan Ayah vivi setiap kali membina mereka di kantor polisi saat terlibat tawuran.


"Viviiiiii" teriak Pak Broto dengan geram. Vivi yang tadinya sedang mengobrol bersama Laras tersentak kaget mendengar suara ayahnya yang menggema.


Dengan cepat dia Menutup telepon dan segera menuju ruang tamu. Dia nampak terkejut melihat adanya Melvin dan Martin di rumahnya. Perasaannya mulai tidak enak. Apalagi mendengar penuturan sang ayah untuk ikut kembali ke sekolah. Ayah vivi juga akan ikut ke sana untuk mendengar secara langsung penjelasan dari pihak sekolah.

__ADS_1


"Yah, ngapain sih ke sekolah lagi. Kan sudah selesai jam belajarnya. Vivi juga nggak ada urusan disana" Ujar vivi dengan tenang dan menyembunyikan perasaan takut serta gelisah.


"Diam! Nanti kau akan tahu di sana" bentak Ayahnya yang sekarang nampak sangat Marah. Dia makin yakin ada yang tidak beres dan mungkin akan membahayakan dirinya. Sepanjang perjalanan hanya ada suasana hening.


Sesampainya di sekolah, Martin mengarahkan Vivi dan Ayahnya ke ruang Kesiswaan. Saat masuk, vivi mendadak gugup dan berkeringat dingin melihat dua orang siswa yang hampir babak belur di depannya. Dia mengenal kedua orang tersebut.


Setelah mereka semua duduk, pak boby menceritakan duduk perkara dan juga Matthew ikut menjelaskan dengan penuh emosi saat-saat mereka mencari dan menemukan Angel di gedung belakang sekolah. Dan semua tuduhan mengarah pada vivi sebagai pelaku utama.


"Tidak, itu tidak benar. Aku tidak melakukan apapun. Ayah, percaya kan sama aku" Bantah vivi dengan gelapan.


"ini rekaman CCTV menuju toilet sebelum Angel menghilang. dan bisa dipastikan. tidak ada orang lain, selain Angel, vivi dan kedua manusia ini yang berada di sana sebelum akhirnya CCTV mati. Jelas Noval yang geram dengan vivi yang tidak mau mengaku.


'Sialan, kenapa masih tertangkap CCTV. bukankah harusnya agnes sudah mematikan sebelum kejadian.' Gumam vivi dalam hati. Agnes adalah teman sekelas vivi yang dia bayar untuk mematikan CCTV ke arah toilet dekat kantin. Namun rupanya temannya itu sangat ceroboh sehingga meninggalkan jejak yang membuat mereka tidak dapat membela diri.


"Vivi, ayah tidak pernah mengajari kamu untuk berbohong" geram Pak Broto kepada anaknya.


"Yah, aku tidak bermaksud melakukannya. Itu karena aku kesal dia selalu menjadi pusat perhatian " tanpa sadar vivi malah menceritakan alasannya. Padahal tidak ada pertanyaan ke arah sana.


"Itu berarti kamu adalah salah satu pelakunya " Skakmat Matthew. Vivi tidak berkutik setelah menyadari keceplosannya.


"Plak"


Satu tamparan keras mendarat di pipi vivi dari ayahnya pak Broto.


" Kamu sungguh membuat orang tua malu" ujarnya dengan perasaan kecewa juga marah pada putrinya. Sementara vivi sudah tidak dapat melakukan dan menjawab apapun. Dia hanya bisa menunduk karena malu juga menaruh dendam pada Angel yang selalu saja selamat dari bahaya yang dia buat.


Akhirnya, sesuai aturan dan hukuman sekolah, para pelaku dikeluarkan dari sekolah dan harus meminta maaf secara terbuka kepada korban di depan siswa SMA Jaya.


Mengingat Kondisi Angel yang masih membutuhkan perawatan dan takut untuk bertemu pelaku, keesokan harinya, vivi, Alfansius dan Alexandro meminta maaf secara terbuka di depan semua siswa dan mendapat surat pemberhentian aktivitas belajar dari SMA Jaya secara tidak hormat.


Mereka di soraki oleh banyak siswa, bahkan ada yang memaki, melempar dengan kertas dan menghina mereka.


Mungkin sanksi dikeluarkan dari sekolah belum seberapa, namun sanksi sosial yang mereka dapatkan akan membuat hidup mereka menjadi tidak tenang.


Dan itu efek jera yang setimpal menurut orang-orang di sana, sekaligus mengingatkan siswa lain agar tidak melakukan kejahatan dalam bentuk apapun karena akan ada resiko yang akan mereka tanggung.


3M sekawan yang juga ada di sekolah untuk melanjutkan Ujian try out menatap puas dengan hukuman yang diterima pelaku begitu juga dengan Bestie dan Noval. Tadinya Bestie ingin sekali mencakar-cakap wajah vivi yang penuh kepalsuan. Paras boleh saja cantik tapi hatinya seperti lucifer. begitulah pemikiran Bestie.

__ADS_1


Dari Rooftop sekolah, Laras menatap sinis dan kesal pada vivi. orang yang dia pikir dapat memudahkan jalannya untuk memberi pelajaran pada Angel tanpa dia harus melibatkan diri, justru sekarang menjadi bulan-bulanan siswa.


"Sungguh tidak berguna " gumamnya.


__ADS_2