
"Kalau tidak ada yang mau dibicarakan saya permisi" ujar Angel yang merasa jengah dan hendak berdiri karena sedari tadi Matthew hanya terus menatapnya dan tidak bersuara. sebenarnya gadis itu sedang berusaha menyembunyikan semua perasaan yang tertampung di dadanya.
"jangan pergi sebentar saja ya hanya Sebentar" tahan Matthew dengan sedikit memohon.
"tiga menit" ujar Angel
"itu tidak akan cukup, aku minta 10 menit, ya" Mohon Matthew penuh harap. dia ingin puas melepas rindu walau hanya dengan menatap gadisnya dari jarak dekat.
"tiga menit atau tidak sama sekali " tegas Angel dengan wajah datarnya.
"baiklahh tiga menit"
pasrah Matthew. Dia menjeda sebentar dan menatap penuh kerinduan dan perasaan bersalah pada wanita di depannya.
"Aku minta maaf untuk segala sesuatu yang terjadi di masa lalu. Tentang apa yang kamu dengar waktu itu dari Laras, Aku akui itu benar. Namun aku punya alasan kenapa aku menyetuinya. Huuufffttt...." Matthew menjeda sejenak dan menarik napas panjang.
"Saat kembali bertemu kamu di sekolah, aku langsung tertarik namun aku tidak menyadari arti perasaanku. Hingga aku melihat Martin yang begitu gencar mendekati kamu, dia mengakui kalau dia menyukai kamu. Saat itu aku mulai merasa tidak suka mendengar pengakuannya. semakin ke sini, kalian semakin dekat hingga rasanya aku ingin marah. sampai pada saat Melvin menawarkan untuk membuat taruhan itu. Aku menerimanya. Waktu itu aku berpikir ingin membuktikan pada mereka kalau aku bisa mendapatkan kamu. bukan dalam artian sebagai sesuatu yang ditaruhkan Tapi murni karena perasaan sayang dan cinta. Aku menyadari cara itu salah. Hingga akhirnya kamu terluka. Aku minta maaf, sungguh maaf.
Beberapa tahun ini, aku selalu merindukan kamu dan merasa sangat tidak tenang juga selalu merasa bersalah. Karena belum menceritakan yang sebenarnya ke kamu. aku tidak akan memaksa kamu untuk memaafkan. setidaknya aku bisa memastikan rasa bersalahku sudah tersampaikan. sekali lagi aku minta maaf. Hahhhhhhh..Huffttt."
Matthew menjelaskan dengan terburu-buru dan panjang sekali. Dia akhirnya menghela napas lega setelah semua hal yang tertampung di dadanya selama delapan tahun terakhir bisa dia katakan semua hari ini. walau terkesan buru-buru.
"apakah sudah selesai?"
tanya Angel datar tanpa memberi ekspresi apapun atas penjelasan Matthew.
pria itu mencoba memahami suasana hati Angel.
"iya"
"waktunya sudah cukup. kalau begitu saya permisi"
"tunggu, apakah tidak ada yang ingin kau katakan?" Matthew menahan pergelangan tangan Angel hingga gadis itu berhenti melangkah.
"mengatakan apa?" Tanya Angel dengan sebelah alis terangkat
"apa saja mungkin" ucap Matthew. dia bingung cara menjelaskan bahwa dia masih ingin Angel berada di situ. Dia masih kangen. Masih ingin bersama wanitanya di sana.
"maaf tuan, yang membawa saya ke sini adalah anda, yang ingin berbicara juga anda. Saya tidak punya urusan apapun. Permisi"
Angel berlalu tanpa mau mendengar lagi penjelasan Matthew. sudah cukup. Dia tidak mau kembali goyah dan menangis seperti orang bodoh.
Dari jauh Matthew memandang sendu Kepergian Angel. Apakah benar-benar tidak ada lagi harapan. Apakah dia harus menyetujui permintaan dad Marcel dan uncle Lucas untuk segera melangsungkan pertunangannya dengan Morena.
melihat Gadis itu tidak lagi bergabung bersama para sahabatnya melainkan langsung pamit pulang, Matthew segera ikut melangkah. Dia harus memastikan Angel pulang ke rumah dengan selamat.
Nampak Exel memaksa untuk mengantar Angel, namun di ditolak gadis itu dengan alasan ingin sendiri dulu.
__ADS_1
Saat ini dalam perjalanan, Mobil Matthew mengikuti dari jarak yang cukup aman di belakang mobil Angel. Pria itu harus memastikan gadisnya berkendara dengan baik dan tiba di rumah dengan selamat. setelah hampir 40 menit, mobil Angel memasuki halaman rumah. seorang satpam segera mengunci gerbang begitu mobil Angel masuk. Sementara Matthew masih berada di luar sana. Dia sengaja menunggu lebih lama. hingga 10 menit kemudian barulah dia berkendara pulang ke Apartemen lamanya.
Begitu sampai Angel tidak menemukan mama vita baik di ruang depan maupun di ruang makan. Akhirnya dia masuk kamar dan segera membersihkan badan. Selesai mandi dan berpakaian, dengan rambut yang masih terbungkus handuk, Angel melangkah menuju kamar sang mama.
tok
tok
tok
"ma, ada di dalam?" panggil Angel namun tidak ada sahutan.
karena merasa lama menunggu akhirnya dia memutuskan untuk masuk saja ke kamar. "ma, aku masuk ya"
Di dalam, Angel melihat mama vita sudah terbaring di atas tempat tidur. pikirnya sang mama mungkin sangat mengantuk hingga tidak biasanya tidur duluan seperti ini tanpa menunggu dia kembali.
Angel perlahan mendekati tempat tidur. Namun dia langsung terkejut begitu melihat muka mama vita yang sangat pucat hingga bibirnya nampak mengering. Angel segera meletakkan punggung tangan di atas dahi mamanya. Rasa terkejutnya makin bertambah setelah merasakan suhu tubuh wanita itu yang sangat panas di punggung tangannya.
"ma, mama bisa dengar aku kan. Mama kenapa? mama sakit?" tanya Angel khawatir dan memegang erat jemari tangan mama vita.
"nakkkkk, kau sudah pulang. maaf mama ketiduran tadi"
Angel menjawab dengan mengangguk sekilas
"mama sakit? badan mama panas banget. kita ke rumah sakit ya"
"tapi maaaa"
"sudah. yuk bobo"
"apa tidak sebaiknya ke rumah sakit saja ma?"
tanya Angel masih saja khawatir. Muka mama vita sangat pucat dan badannya panas.
"tadi mama sudah minum obat. nanti setelah istirahat yang cukup pasti sembuh kok. Ayo bobo"
ajak mama vita seraya menepuk sisi lain kasur itu. Entah kenapa dia ingin sekali tidur dengan putrinya.
"tapi nanti kalau mama merasa tidak kuat, bilang sama aku ya, supaya kita ke rumah sakit "
"iya sayang. yuk bobo"
mau tidak mau Angel segera melepas handuk di kepalanya, dan segera bergabung dengan mama vita di tempat tidur. dia memeluk sang mama erat. seolah takut kehilangan.
Pagi tiba, Angel tidak mendapati sang mama di sampingnya. dia begitu khawatir hingga tidak sengaja berteriak mencari wanita tersebut.
"mamaaa"
__ADS_1
"mamaaa di mana"
"hey, sudah bangun, nak. mama di sini" Jawab mama vita yang keluar dari kamar mandi, dia nampak kelihatan segar sehabis mandi. Namun ditanggapi lain oleh Angel.
"mama mandi pagi-pagi begini? mama kan semalam demam, mama sakit. kok langsung mandi maaaa"
"badan mama lengket nak, keringatan dari semalam. Demam mama juga sudah turun makanya mama mandi saja"
"serius mama sudah baik-baik saja"
Angel menghampiri wanita paru baya itu dan memeriksa suhu tubuhnya.
"ahh iya, sudah turun" lirihnya dan masih terdengar sang mama.
"Buruan sana mandi. katanya ada kelas pagi ini"
"Eh iya, betul ma. aku ke kamar dulu ma, mau mandi"
mama vita menggangguk dan lanjut untuk bersiap-siap ke resto.
setelah menikmati sarapan, keduanya berangkat ke tempat tujuan masing-masing. sebenarnya Angel tadinya melarang mama vita ke resto. dia ingin wanita itu beristirahat saja di rumah. Namun mama vita beralasan sudah sehat. Angel akhirnya menyetujui dan meminta wanita itu untuk menelepon dirinya kalau merasa sakit.
Sesampainya di kampus, Angel berpapasan dengan Lauro di depan ruangan dosen. rupanya pria itu juga akan ada kelas pagi ini.
"morning Angel" sapanya dengan tersenyum manis
"morning juga Pak Lauro " Jawab Angel
"ada kelas?" tanya Lauro
"Iya pak"
"di ruang mana?" tanya pria itu lagi
"203"
"oh kita satu lantai, aku di 205. kalau begitu bareng saja yuk"
"oh okey"
mereka berjalan beriringan dan siapapun yang melihat ini, pasti mengira keduanya terlibat dalam hubungan asmara. apalagi Lauro yang terang-teranangan menunjukkan perhatiannya ke gadis itu di kampus.
Sementara di Resto saat ini. Mama vita tengah serius mengisi buku-buku pemasukan resto. Bukan di ruangan khusus seperti biasanya, melainkan di samping meja kasir yang tersedia satu meja kosong yang juga sering dia gunakan. Wanita itu sangat serius dengan kaca mata hitam bertengger di hidungnya.
"permisi, selamat pagi" sapa seseorang yang refleks menghentikan gerakan tangannya.
deg
__ADS_1
" Suara ini?" batinnya