
Mata Matthew tidak lepas mengamati pergerakan Angel di depan meja rias. Wanita itu sedang mengaplikasikan krim malam di wajah dan pelembab bibir. sebenarnya walau tidak memakai apapun angel sudah sangat cantik. namun wanita itu tetap menjaga diri untuk dinikmati sang suami.
Matthew tersenyum manis setelah matanya saling memandang dengan sang istri yang menatapnya dari kaca meja rias. bahu polos dan mulus sang istri terekpos indah apalagi leher jenjang yang selalu membuatnya tidak tahan mengecup, sungguh membangun gairahnya.
Setelah dipikir-pikir, belakangan ini, wanitanya itu sedikit ada perubahan. dia masih ingat saat menjemput Angel siang tadi untuk bersama menuju kediaman Leo menjenguk Ayahnya, yaitu paman Damian. Angel terlihat sangat senang, entah karena apa. setelah ditanya, wanitanya itu menjawab riang.
"aku senang kalau selalu berada di dekat kamu hubby, anak kita juga. Aku selalu rindu kamu akhir-akhir ini. tidak mau kita berjauhan" manjanya
namun mode cemburu dan taring garangnya keluar setelah Matthew bicara jujur Jovanka datang lagi ke kantor pagi tadi.
"hufftt, Aku merasa dia sangat punya niat menggoda kamu hubby. Apakah dia terang-teranangan mau jadi pelakor"
"dia ada urusan apa ke sana?"
"kamu tidak menatapnya kan, Hubby"
"kamu cuci mata setelah dia pergi? Sampai lima kali kan?"
dan masih banyak lagi pertanyaan Angel yang membuat Matthew bingung menjawab yang mana dulu.
bila mengingat itu, Matthew merasa terhibur dan merasa begitu dicintai sang istri. melihat bagaimana cemburu dan posesifnya Angel saat ada wanita yang mendekati dirinya. semenjak hamil, wanita itu memang sangat sensitif perasaannya. mudah cengeng, kesal, dan sangat cemburu.
setelah selesai melakukan perawatan rutinitas malamnya, Angel menuju kasur dan langsung disambut kungkungan badan kekar sang suami.
malam ini mereka kembali bergelut. Dan yang memimpin permainan adalah Angel. Matthew merasa sangat puas atas pelayanan wanita hamil muda itu. semenjak mengandung memang gairah Angel semakin tidak terbendung.
Saat ini keduanya tengah saling berpelukan di atas tempat tidur. masih mencoba mengatur napas setelah sama-sama selesai mereguk nikmatnya surga dunia.
"kamu selalu membuatku ketagihan sayang. nikmat dan sempit" jujur Matthew dan melabuhkan satu kecupan di kening Angel.
"Aku pun sangat melikmatinya hubby. kau memang luar biasa".
angel balas memuji suaminya yang memang sangat ahli dalam hal penyatuan.
jemari lentik Angel mengelus lembut dada telanjang Matthew. Dia tengah memperhatikan sebuah ukiran nama yang menghiasi dada bidang suaminya. Dan itu merupakan namanya. dia ingat perkataan Matthew kalau tato itu ada semenjak pria itu di Berlin. cuma dia tidak begitu tahu atas alasan apa dan sejak kapan pria itu ingin membuat tato atas namanya.
"hubby, sejak kapan kamu punya niat mentatokan namaku di sini?"
tanya Angel penasaran. mata bulatnya menatap wajah tampan Matthew. terlihat penuh harap dan menunggu penjelasan sang suami. Matthew tidak sanggup menolak melihat tatapan mata bulat lucu itu.
"Sejak awal aku sampai di Berlin. sedetikpun aku tidak bisa melupakan kamu sayang. Jantung ku terus saja berdetak tidak karuan saat aku rindu dan merasa bersalah sama kamu. akhirnya aku memutuskan memasang nama kamu di sini. Karena aku selalu yakin, sampai kapan pun, aku tidak akan sanggup melupakan kamu. kamulah pemilik ku" jelas Matthew sembari ikut menaruh tangan pada ukiran tato di dadanya.
Angel terharu dan mengeratkan pelukannya. Sungguh-sungguh merasa dicintai oleh Matthew.
"apakah kamu tidak ada niat menghapusnya?"
"tidak akan pernah. aku mengukirnya permanen di sana"
"Hubby, aku mencintaimu" mata Angel nampak berkaca-kaca saat mengucapkan perasaannya.
__ADS_1
"aku pun sama. bahkan lebih dari apapun mencintaimu sayang" balas Matthew lebih mesra.
malam kian larut. keduanya kini tidur berpelukan dan terbuai mimpi indah. terlihat senyum manis keduanya terukir indah di bibir.
Beberapa hari berlalu. akhir pekan kembali datang.
Pagi-pagi sekali angel sudah disungguhkan pemandangan indah nan menggoda. dia mengikuti Matthew ke ruangan fitnes dan melihat aktivitas suaminya di sana. badan kekar dan otot-otot badan Matthew dipenuhi keringat. sangat seksi.
Tanpa sadar mulut angel menganga saking terpesonanya. siapapun yang melihat pemandangan di depannya akan jatuh terpesona pada visual Matthew yang sangat menggoda iman.
Matthew sebenarnya sejak tadi menyadari mata terpukau angel padanya. sejenak saat beristirahat, dia menghampiri dalam keadaan dada telanjang dipenuhi keringat. badan atletisnya semakin membuat Angel jatuh dalam jurang pesona sang suami.
"terpesona sayang, hmm?" bisik Matthew seraya memandang lekat dan memasang senyum smirk andalannya. pesona nakal dan tampan begitu dominan di wajahnya.
Angel tersipu malu, karena ketahuan sang suami. mata bulatnya mengerjap lucu dan pipinya sudah semera Tomat cherry. sungguh menggemaskan dipandang mata. saking gemasnya Matthew sampai menggigit lembut pipi angel yang sejak hamil semakin caby.
"auhhh.. sakitt hubby" Angel merengek manja.
Matthew Justru terkekeh dan mengacak rambut halus wanita kesayangannya itu.
"kapan instrukturnya datang?" Matthew memulai obrolan lain, namun tangannya bergerak melingkar mendekap pinggang seksi Angel.
"mungkin sebentar lagi. Tadi katanya masih di jalan" Angel membalas dengan mengalung kan tangan di leher Matthew. ciuman panjang dan teramat mesra pun terjadi saat itu. setelah hampir kehabisan napas, barulah ciuman itu berhenti.
"nanti jangan bergerak terlalu aktif, ikuti saja arahan instrukturnya" pesan Matthew dan dijawab anggukan pasti oleh Angel.
di tengah perbincangan itu, seorang art menghampiri keduanya.
"permisi tuan, nyonya. istruktur yoga sudah sampai "
"oh begitu. baiklah bi. terima kasih. tolong kasih tahu untuk segera ke ruangan biasanya ya" ujar Angel ramah.
"baik nyonya"
art kembali berlalu. angel pun segera pamit untuk ke ruangan tempat biasa dia melakukan yoga.
"hubby, aku ke sebelah dulu ya"
"baiklah sayang. aku juga masih lanjut sedikit lagi. cupp"
Angel kemudian melangkah menuju ruangan yang letaknya di samping ruangan fitnes Matthew. di sana dia melakukan yoga sesuai arahan sang istruktur. setelah selesai dia beristirahat sejenak mengeringkan keringat kemudian kembali ke kamar untuk mandi.
sementara Matthew sudah selesai dan saat ini sedang menikmati siaran bola favoritnya di televisi.
pagi ini rencananya mereka akan ke rumah keluarga Jhonson mengunjungi melvin dan bayinya kemudian sore akan berkunjung ke rumah mama vita.
setelah bersiap mereka pun berangkat. sebelumnya meraka akan singgah di tokoh buah dan roti terbaik di kota itu sebagai buah tangan.
tidak sampi satu jam akhirnya mereka tiba di kediaman keluarga Jhonson.
__ADS_1
saat masuk, yang pertama kali menyambut mereka adalah seorang gadis cantik berlesung pipi. dia adalah dokter selena, anak angkat keluarga Jhonson. ibu dari selena adalah sahabat dari dokter yohana yang adalah mamanya Melvin.
"mari, silakan masuk kak" sapanya tersenyum hangat.
"kenapa sepi, pada Dimana?" tanya Matthew karena merasa rumah besar itu tanpa suara.
"ohh, sedang kumpul taman di belakang kak" jelas Selena"
"dengan dedek bayi juga" kali ini Angel yang bertanya
"tidak, aku baru saja menidurkan dia di kamarnya. sekarang memang jadwalnya bobo pagi" jelasnya sambil terus tersenyum ramah hingga nampqk jelas dua lesung pipinya.
Angel hanya beroriah kemudian menyerahkan bingkisan buah dan roti kepada seorang Art yang melintas di sana.
Mereka kemudian menuju taman belakang dimana keluarga Jhonson berkumpul. di situ mereka disambut hangat. mereka juga berbincang seputar kehamilan Angel. Sebenarnya Angel merasa kurang nyaman, apalagi melihat ada Diana di situ yang jelas sekali tidak mendapat bagian untuk bercerita. selain karena dia yang tidak ingin ikut berdialog juga memang ada kesan keluarga Jhonson menaruh amarah padanya.
"nak, gimana kehamilan kamu?" mommy Yohana bertanya pada Angel yang duduk persis di sampingnya.
"Puji Tuhan baik mom" Jawab Angel bahagia seraya mengelus perutnya yang kini sedikit membuncit.
mereka terus melanjutkan obrolan, sementara di sisi lain, tepatnya di balkon kamar melvin dua pria berstatus suami itu tengah berbincang serius.
"Jadi bagaimana?" tanya Matthew namun tangannya bergerak menolak sodaran bungkus rokok dari melvin.
"ckkk" melvin hanya bisa berdecak melihatnya.
"sorry, mel. Angel sedang mengandung. aku tidak ingin mengambil resiko. mereka teramat berarti untuk ku. Jadi gimana, apa ada perkembangan?"
kembali ke topik awal. Matthew menanyakan tentang kelanjutan niat melvin ingin berpisah dengan Diana.
"hufffttttttt" melvin menghela napas berat. sepertinya pria itu punya beban yang teramat berat
"Ini tidak semudah yang aku perkira kan matt. Gideon sudah mengakui kalau itu memang bayinya. Tes DNA melalui sampel rambut juga menunjukkan hasil yang sama. Namun Diana sama sekali tidak mau menandatangani surat perceraian kami"
jelas melvin dan matanya menatap langit cerah pagi itu. namun tidak secerah kehidupannya akhir-akhir ini.
"kenapa?" kembali Matthew bertanya.
"dia mengancam akan bunuh diri dan ikut membunuh bayi tidak berdosa itu kalau sampai kami berpisah"
Matthew mengernyit seolah tidak mengerti dengan sikap Diana. kenapa wanita itu tidak merasa malu setelah apa yang dia lakukan terhadap keluarga besar Jhonson.
"lalu rencana kamu ke depannya bagaimana?"
"mungkin akan menunggu sedikit lebih lama untuk mendapatkan tanda tangannya"
Matthew mengangguk mencoba memahami perasaan Saudaranya itu apa bila berada di posisi yang sama.
setelah menghabiskan waktu berjam-jam di rumah keluarga Jhonson, Matthew dan Angel kini dalam perjalanan menuju rumah mama vita. dari pesan yang disampaikan, mama vita sepertinya akan mengatakan sesuatu yang serius.
__ADS_1