
Matthew berdiri di depan kaca besar transparan di ruangan miliknya, melihat seisi kota yang sangat sibuk di siang hari. dia termenung dan mengingat kembali pembicaraan dengan istrinya kemarin saat makan siang bersama. tentang enzy yang mendonor darah pada tante isabella, dia mengenali wanita itu karena putrinya yaitu Laura merupakan teman dan mantan kekasihnya. Matthew juga mengetahui perselingkuhan tante isabella dengan tuan robby karena beberapa kali dulu saat sekolah, saat dia masih jadi cowok liar, melihat keduanya bersama di VIP club malam. mereka selalu beralasan ada hubungan pekerjaan. karena saat itu isabella menjadi model untuk bisnis keluarga robby. Laura juga membenarkan itu.
masih serius dengan pemikirannya. Leo masuk dengan wajah kusut.
"matt" lirih pria itu
"hemm" respon Matthew belum melihat wujud asisten sekaligus teman baiknya.
"kapan Uncle sampai?" tanya leo sambil menghempaskan diri ke sofa.
"mungkin sebentar lagi"
Matthew akhirnya berbalik dan melihat Leo yang kurang semangat.
"ada apa denganmu?" lanjutnya bertanya
pria di depannya menghembus napas panjang. mengingat kembali obrolan dengan enzy semalam.
Leo mulai bercerita bahwa enzy sangat sedih saat disinggung soal orang tua kandungnya. dia juga marah. karena bagi wanita itu hanya ada satu mama untuknya yaitu mama vita, sekarang dia juga punya ayah yaitu om damian.
Matthew mengangguk menyetujui. baginya sangat wajar kalau enzy sedih ataupun marah. karena sejak bayi berada dipanti asuhan. di siksa dan dicaci maki sebelum akhirnya menemukan kebahagiaan dan rasa kekeluargaan bersama mama vita dan Angel.
"ini" Leo menyodorkan sebuah alat perekam dan bukti video cctv.
"dia mau mengaku kan?"
Leo hanya menjawab dengan anggukan. sepertinya banyak sekali hal yang dipikirkan pria itu.
di sampingnya Matthew bernapas lega, akhirnya ada titik terang mengenai fakta kecelakaan papa Michael, mertuanya belasan tahun silam. Polisi yang menangani kasus saat itu telah pensiun dan beberapa hari terakhir selalu di pantau aktivitasnya oleh anak buah Leon.
Semalam, setelah berhasil menidurkan istrinya. Leo melakukan misi lain yang ditugaskan Matthew yaitu membuat polisi itu buka mulut dengan membawa bukti beberapa kasus kejahatan yang dia tangani tapi berakhir tidak jelas karena polisi itu menerima penyogokan dati para tersangka. karena merasa tersudut, polisi tua itu akhirnya buka suara. bukan hanya itu, leo juga mengancam dengan membawa beberapa pengawal sangar dari markas. polisi itu semakin takut dan akhirnya membuka fakta kejadian.
"apakah tebakanku benar?" Matthew melirik leo sambil mengambil beberapa barang bukti yang diberikan leo tadi.
"Iya" singkat pria itu
Matthew seperti menyadari ada hal lain dipikiran leo.
"ada yang kau pikirkan?"
__ADS_1
Leo menatap Matthew dengan pandangan tak terbaca. antara menggeleng dan mengangguk, dia pun bingung.
"nanti saja. aku belum bisa pastikan. tunggu setelah penjelasan uncle"
saat itu juga pintu ruang Matthew terbuka. yang muncul adalah dad marcel. Leo dan Matthew kompak menatap datar dad marcel bagai tersangka pelaku kejahatan berat.
"hei, kenapa menatap dad seperti itu?" tanyanya bingung. kedua pria di hadapannya seperti polisi yang akan melakukan mengintrogasi.
"kau sangat lambat dad" cibir Matthew.
"ck. kau pikir jalan kota ini punya nenek moyangmu yang bebas dad gunakan. tadi sangat macet" dengus pria tua itu.
"sudahlah, tidak usah berdebat. langsung saja bicara pada intinya "
dad marsel mendelik mendengar putranya. tadi siapa yang mulai dulu mengajaknya berdebat. anak itu benar-benar titipan dirinya.
sementara Leo hanya melihat keduanya datar. sebenarnya dia tidak sabar mendengar penjelasan dad marcel.
di sisi lain, di Restoran Selera Kita saat ini. tidak biasanya wajah enzy mendung dan tidak semangat. pagi ini dengan sengaja dia datang ke restoran pusat. bukan ke restoran cabang yang selama ini dia pegang di pusat kota.
Angel yang baru saja keluar dari ruangan mengahampiri kakaknya itu.
"kakak baik-baik saja dek" bohong enzy
"tapi muka kakak pucat. istirahat di ruangan ku saja ya"
enzy menggeleng bertanda menolak.
"nak, kamu di sini?" tanya mama vita yang baru saja masuk. karena tadi dia melakukan pertemuan dengan seorang yang akan melakukan reservasi VIP room di restoran.
"kenapa tidak istirahat di rumah saja. sepertinya kamu kurang sehat. muka kamu pucat nak" lanjut mama vita seraya mengusap lembut kepala enzy.
"nah kan apa aku bilang" Angel ikut menimpali.
mendapat ucapan lembut itu, enzy memeluk mama vita. pundaknya bergetar dan naik turun bertanda dia sedang menangis. tentu saja mama vita panik. dia mengira ada masalah dalam pernikahan putrinya itu. Angel pun juga kaget melihat itu.
"Sayang, kamu kenapa? cerita sama mama, nak"
"nggak apa-apa ma. pikiran ku sepertinya sedang kacau " ujar enzy beralasan.
__ADS_1
tapi mama vita bisa tahu ada yang mengganggu pikiran putrinya.
"pasti ada yang mengganggu pikiran kamu. tidak biasanya kamu seperti ini. ayo cerita sama mama. di sini juga ada adik kamu. jangan dipendam kalau ada beban sayang" mama vita mengusap punggung putrinya itu memberi ketenangan.
enzy melonggar pelukannya dan menatap mama vita.
"ma, aku ini putri mama juga kan? mama sayang sama aku kan, walau bukan anak kandung." tanya enzy lirih terdengar seperti berharap mendapat pengakuan.
hati mama vita mencelos dan perih. apakah ini yang dipikirkan putrinya itu. Angel pun mendadak melow, apakah kakaknya merasa kurang disayang.
"nak, apa yang kamu bicarakan. Dengar. kamu adalah putri mama. jangan memikirkan hal yang lain. satu yang perlu kamu tahu rasa sayang mama ke kamu tidak berbeda dengan rasa sayang ke adik kamu, angel. apapun yang mengganggu pikiran kamu sekarang, ingatlah, sampai kapan pun, putri tertua mama tentu saja kamu sayang. kita adalah keluarga"
kini mama vita mengusap lembut lelehan bening dari sudut mata enzy. dia ikut meluruhkan air mata. entah apa yang terjadi hingga putrinya menanyakan hal demikian.
Angel pun menjadi sedih. dia mendekat dan ikut memeluk kedua wanita tersayang di depannya.
"kak, sejak awal aku sudah bilang. kita adalah keluarga dan kau adalah kakakku. Apapun yang mengganggu pikiran kakak sekarang. harus selalu ingat. kakak tidak sendiri. ada aku dan mama. suami dan mertua kakak juga"
enzy semakin terisak. dia merasa terharu dan bahagia. harusnya dia tidak berpikir macam-macam. gara-gara semalam leo menyinggung soal orang tua kandungnya. dimana pria itu ingin membantu mencari keberadaan orang tua kandung enzy. tapi enzy menolak dan sedih. kalah dia mengingat perjuangannya dulu sebelum akhirnya bertemu Angel dan mama vita. sejak awal dia sudah menanamkan pikiran bahwa dia anak yang tidak diinginkan. kalau memang orang tuanya mengharapkan kelahirannya, tentu dia tidak akan berakhir di panti asuhan.
Kembali ke perusahaan Dirgantara.
setelah melihat ketenangan dari wajah dua pria di hadapannya. barulah dad marcel mulai bicara.
"Enzy adalah putri dari Isabella dan Robby. dua orang ini juga yang menyebabkan papa mertua kamu meninggal " ujar dad marcel to the point.
tidak ada mimik kaget dari wajah leo dan Matthew. keduanya justru mendesah panjang sambil mengusap wajah dengan kasar. mereka sudah mencurigai ini sejak awal. apalagi leo setelah mendengar langsung penjelasan polisi yang dia intrograsi semalam.
"dad mengetahui segalanya lalu kenapa tidak pernah bercerita?"
"menunggu waktu yang tepat" yakin pria parubaya itu.
"apakah ayahku tahu hal ini juga uncle?"
Leo ikut bertanya.
"ya" Jawab dad mercel singkat
"Bisakah uncle menjelaskan segala yang uncle tahu?"
__ADS_1
pria yang mengetahui segala duduk perkara itu pun mengangguk pasti.