Aku, Kepahitan Dan Kebahagiaan

Aku, Kepahitan Dan Kebahagiaan
Aku di Sini, Semua Baik-Baik saja


__ADS_3

Menyadari Tindakan kasarnya kepada Martin, Matthew langsung meminta maaf dan memeluk Martin. Sebenarnya Martin masih kesal. Namun melihat penyesalan di mata Matthew, Martin memaafkan Matthew. Lagian keadaan seperti ini sudah sering mereka rasakan dari masa kecil. Maka tidak heran kalau mereka selalu bertengkar kemudian berdamai. Rasa persahabatan dan persaudaraan adalah hal yang paling mereka junjung tinggi.


Hari ini di ruangan sekertariat, Anggota pengurus mading tengah diskusi tentang tema yang akan mereka pakai untuk mading sekolah edisi baru. Martin selaku ketua, memimpin diskusi dengan meminta anggota mengusulkan tema menarik, dia lebih menyarankan kepada murid baru karena kedepannya mereka akan menjadi pemimpin untuk anggota yang baru.


"Gimana kalau temanya tentang Perjuangan atau pahlawan, kak. Sebentar lagi kan kita bakal mengenang dan merayakan Hari kemerdekaan. Dengan tema ini saya berharap banyak siswa yang berpartisipasi untuk mengisi dan mengambil bagian dalam merayakan kemerdekaan". Usul Angel dan tak disangka semua yang berada di situ menyetujui karena tema tersebut saat cocok dengan bulan edisi terbitan mading baru.


"Terima kasih Angel, usulan kamu sangat bagus dan teman-teman menyetujui". Ungkap Martin seraya tersenyum bangga. Dia dari awal yakin kalau Angel adalah orang yang cerdas dan aktif dalam mengusulkan ide.


"Selanjutnya kita akan membagi anggota dalam beberapa tim untuk mulai mengerjakan mading dan membagi tugas menyampaikan info ke setiap kelas tentang isi mading kita, Gimana setuju? Lanjut Martin seraya menanyakan persetujuan anggota.


"Kak, untuk tulisan isi mading sepertinya harus kita bahas dulu. Tema tadi baiknya dibuat dalam bentuk tulisan apa saja" usul Vivi yang duduknya paling dekat dengan Martin.


"Betul kak" timpal anggota yang lain.


"Bagus, akhirnya kalian bersuara, dari tadi saya menunggu kapan kalian berani mengusulkan ide" timpal Martin dengan tersenyum.


"lalu, baiknya tulisan apa saja yang cocok mengisi mading kita dengan tema Pahlawan atau perjuangan tadi? Silakan mungkin ada yang mau memberi ide" tanya Martin lagi.


"menurutku untuk isi mading mungkin tidak berneda jauh dari sebelumnya kak. Tapi saya usul, mungkin sebaiknya lebih banyak ke puisi, cerpen, pantun dan sketsa tentang Perjuangan" Angel kembali memberi usul dan tentunya langsung disetujui oleh anggota. Martin semakin menatap Angel kagum. Melihat senyum Martin Angel membalas dengan senyuman namun itu hanya sebatas senyum biasa. Setelahnya dilakukan pembagian kelompok tugas, dimana kelompok satu isinya Vivi, Nova dan Tasya bertugas untuk menyebar informasi ke setiap kelas dan meminta partisipasi siswa untuk ikut dalam membuat tulisan mading. Sedangkan kelompok 2 yang isinya Angel, Martin dan Lusi akan bertugas di sekertariat sebagai editor dan penelaah tulisan, Kelompok 3 yaitu Reza, Agnes dan Johan akan bertugas sebagai pendekor mading. Setelah diskusi selesai semua kembali ke rumah masing-masing. Esok siang mereka akan kembali berkumpul di ruang yang sama untuk menyampaikan hasil kerja masing-masing tim pada hari pertama.


Saat ini Angel menuju parkiran untuk mengambil sepeda. Dia berjalan beriringan dengan Martin dan Vivi. Vivi sangat menyukai Martin, dia selalu memperhatikan seniornya itu secara diam-diam. Namun dia kesal saat tahu kalau Angel dekat dengan Martin. Dia masuk anggota mading juga semata-mata ingin dekat dengan Martin dan tidak mau kalah dari Angel yang selalu menjadi yang paling aktif.


"Angel, kamu anak dari pemilik Warung makan dan kue di pinggir jalan Blok B itu ya?" tanya Vivi yang lebih ke arah menyindir.

__ADS_1


"Iya Vi, kapan-kapan mampir ya. Masakan mama ku enak lho" saking polosnya Angel hanya menjawab seadanya saja tanpa mengetahui niat Vivi yang sebenarnya ingin menunjukkan Angel tidak selevel dengan mereka yang belajar di sekolah elit tersebut.


"Tapi di sana tempatnya bersih nggak, higenis, dan sehat kah makanannya?" tanya Vivi lagi dengan senyuman mengejek. Bukannya marah Angel Justru menjawab dengan tenang.


"semuanya dijamin aman Vi, kalau pun ada yang salah pasti ada pelanggan mama yang komplain. Sedari awal usaha mama berdiri hingga sekarang, Puji Tuhan semuanya memuaskan pelanggan" Jawab Angel dengan senyum bangga. Dia bangga bahwa mamanya sangat pandai memasak dan disukai oleh pelanggan.


"Wah, sepertinya kapan-kapan kakak mampir nhi ke warung makan keluarga kamu. Jadi penasaran, pasti masakannya enak-enak" Martin yang dari tadi diam kini ikut menimpali seolah menyelamatkan situasi.


"datang saja kak, saya tunggu, bila perlu ajak sekalian dengan teman kakak yang banyak supaya dagangan mama cepat habis. Dijamin kakak puas dan tidak akan menyesal. Respon Angel dengan antusias dan mata yang bersinar. Dia tidak pernah gengsi dengan kondisi perekonomian keluarganya bahkan dia bangga dengan mamanya yang mampu bertahan dan berusaha hingga saat ini sebagai seorang single parent. Melihat kepolosan Angel, Martin menjadi gemas hingga tangannya mengusap kepala Angel. Melihat itu Vivi semakin kesal dan marah. Baginya Angel adalah penghalang. Selama ini dia selalu mendapatkan apapun yang dia inginkan, termasuk soal asmara dengan laki-laki, dia selalu beruntung. Tapi kali ini dia merasa sial dengan adanya Angel. Sesampainya di parkiran, Vivi segera masuk ke dalam mobilnya tanpa berpamitan. Melihat itu Martin hanya menggelengkan kepala. Dia Tahu kalau Vivi tertarik padanya. Namun dia tidak peduli karena dia tidak menganggap Vivi lebih dari rekan anggota mading.


"Kak, Aku juga pamit duluan ya. Sepertinya mau hujan" Pamit Angel pada Martin.


"Baiklah, hati-hati" Jawab Martin dengan lembut dan tersenyum.


Angel mengangguk dan segera mengasuh sepeda keluar dari gerbang sekolah. Namun belum jauh dia keluar dari sekolah, Sepedanya menjadi tidak bertenaga dan sedikit oleng. Saat dicek padahal ban sepeda kempes dan nampak beberapa paku yang menancap di ban sepeda. Angel tahu, ini pasti ada yang sengaja membuang paku di jalanan. Seperti orang Yang sengaja membawa nasib sial buat orang lain. Belum selesai di situ, kesialannya bertambah dengan turunnya hujan yang tiba-tiba sangat deras. Angel berusaha untuk mencari tempat berteduh. Di sana ada sebuah toko yang sudah tutup. Angel segera berteduh dan sedikit merasa takut karena area situ lumayan sepi juga rawan kejahatan.


"mau kemana adik manis. main sama kita dulu yuk. enak lho lagi hujan-hujan gini mainnya bertiga, pasti hangat de" Tutur laki-laki tadi yang sontak membuat Angel menangis ketakutan dan berontak.


"Lepas" Angel berusaha melepaskan diri dari pegangan kedua laki-laki tersebut.


"tidak usah buang tenaga sia-sia. Lebih baik kamu simpan saja energi kamu untuk melayani kami" timpal laki-laki yang tadi hanya diam saja.


"Tolong, Tolong" teriak Angel berusaha untuk mendapat pertolongan barangkali ada yang lewat.

__ADS_1


"Diam!" bentak salah satu preman seraya menyeret Angel untuk masuk ke gang sempit di samping toko tersebut yang tempatnya agak gelap. Angel semakin berontak dan air matanya semakin deras mengalir, dia sangat ketakutan, berharap ada pertolongan yang datang. Satu preman tadi, saat ini berusaha membuka pakaian Angel yang membuat gadis itu makin kalut dan tidak berdaya karena kekuatannya yang sangat tidak sebanding dengan kedua preman tersebut. Angel memejamkan mata dan terus memanjatkan doa dalam hati.


"Bugh.. bugh...bugh..buggh.. brakkk. Sialan, kalian mau apakan dia, rasakan ini" Angel segera membuka mata saat mendengar adanya suara pukulan. Dia kaget dan juga bersyukur, kenapa bisa ada Matthew di sana dan memberi pelajaran kepada dua oreman tadi. Namun melihat betapa garangnya Matthew menghajar dua preman tersebut justru membuat Angel histeris dan semakin menangis. Menyadari itu, Matthew segera menghentikan pukulannya dan berlari ke arah Angel.


"Kamu tidak Apa-apa " Tanya Matthew dengan ngos -ngosan dan terlihat sangat khawatir.


"Takut. Tolong" Angel hanya bisa mengucapkan dua kata tersebut dan segera memeluk Matthew dengan erat. Dia menagis kencang karena masih takut dan trauma. Badannya sangat lemas. Matthew menyambut pelukan itu dengan membalasnya tak kalah erat. Bahkan tanpa sadar memberi satu kecupan di kepala Angel. Tangannya terus mengusap punggung gadis itu seraya menenangkannya dengan lembut.


"Aku di sini, semua baik-baik saja, hem" tuturnya lembut dan masih memeluk Angel dengan erat. Sementara badan Angel malah bergetar akibat ketakutanya. Dia terus memejam mata dan terisak.


"Hei, look at me, tidak perlu takut, aku di sini. semua baik-baik saja" Matthew berusaha menenangkan Angel dengan tenang dan sabar. Karena masih takut, Angel menggelengkan kepala seolah dia takut membuka mata. Melihat itu, Matthew segera berisik lembut di telinga Angel.


"Hei, sayang buka mata kamu. Ini Aku Matthew. Semua baik-baik saja, aku di sini" Matthew berucap dengan sangat pelan dan lembut. dan benar saja, Angel perlahan membuka mata, dia masih ketakutan. Namun ketika melihat tatapan teduh dan anggukan Matthew membuat air matanya kembali mengalir.


"Kakak aku takut. tolong bawa aku pulang. Aku mau mama. mau mama" ucap Angel sambil terisak. Dia ingin dipeluk mamanya saat ini. Dia rindu sang mama memeluknya saat terpuruk.


"Iya kita akan pulang, tapi kamu tenang dulu hem" Jawab Matthew dengan masih tetap lembut kemudian Matthew menarik kepala Angel ke dadanya, memeluk gadis itu, kemudian mengambil handphone dan menghubungi seseorang.


"segera ke jalan cempaka putih, Belokan satu samping sekolah. bawa satu lagi mobil tambahan. tidak pakai lama. 5 menit harus sampai" Setelah mengatakan itu, Matthew menutup telepon dan tersenyum hangat pada Angel yang menatapnya dari balik pelukan dada hangatnya. sementara orang yang di balik telepon justru mengumpat dengan permintaan Matthew yang mengganggu tidurnya. Dia tahu betul Matthew, permintaannya tidak boleh ditolak. Benar saja 5 menit berlalu, kini dua mobil sport keluaran terbaru sampai di depan toko. Dari dalam keluar Melvin dengan tampilan acak-acakan satu mobil lagi dikemudi pwngawal keluarga Sata turun dati mobil bahkan Melvin tidak sadar bahwa dirinya masih memakai kolor. Dia berjalan ke samping Toko dan dahinya mengkerut mendapati dua orang laki-laki yang mirip preman terkapar babak belur. Dia juga kaget, kenapa bisa ada Angel di sana dengan tampilan acak-acakan dan sedang di peluk Matthew, dia ingin bertanya ada apa namun instruksi Matthew tidak dapat dia tunda.


"Telepon polisi, dan laporkan kedua orang tersebut dengan kasus percobaan pemerkosaan. Aku pergi dan kamu urus sisanya di sini" Suruh Matthew pada Melvin dan seraya berlalu dengan membawa Angel dalam gendongannya.


"What the fu***k" Melvin yang masih bingung justru di suruh menyelesaikan masalah. Namu dia tetap menuruti perintah Matthew dengan terus mengumpati saudaranya itu. Akhirnya dia menghubungi Martin untuk segera ke Lokasi dan meminta Ayah Martin sendiri yang menangani kasus tersebut. Sekarang kurang lebih dia paham sepertinya Angel menjadi korban kasus percobaan pemerkosaan.

__ADS_1


Saat ini, Matthew mengantar Angel ke rumahnya. dia terus mendekap gadis itu dan mengelus punggungnya supaya lebih tenang. Mobil dikemudi oleh pengawal. Dia dan Angel duduk di kursi belakang. Sejak tadi gadis itu tidak mau lepas darinya. Mungkin masih sangat ketakutan. Bahkan Wajahnya masih setia bersembunyi dalam dekapan hangat Matthew.


Sementara di lokasi, Martin sudah sampai, mendengar cerita Melvin dia menjadi sangat marah dan juga menyesal, harusnya tadi dia mengikuti Angel dari belakang dan memastikan gadis itu pulang dengan selamat.


__ADS_2