Aku, Kepahitan Dan Kebahagiaan

Aku, Kepahitan Dan Kebahagiaan
Semuanya Selesai


__ADS_3

Matthew Pov


Hari ini aku akan mengikuti Laras ke sebuah hotel. Semalam salah seorang asisten Laras memberi tahu bahwa hari ini Laras dan pacar artisnya lebih tepatnya selingkuhan akan check in ke hotel tempat biasa mereka bermesraan. Ya, setelah mengetahui Laras memiliki pria lain di belakangku, aku memutuskan untuk menyewa seseorang yang dapat memantau dan memberi tahu aktivitas Laras. Asistennya ternyata mau saja setelah aku imingi bayaran yang lebih banyak. Aku tidak akan membuang peluang ini, dengan menangkap basa Laras memudahkan bagiku untuk lepas darinya. Dengan begini, tidak ada lagi drama tangisan, atau mogok sekolah dan sebagainya. Aku sudah memutuskan akan tetap memilih jalan berteman saja. Itupun kalau Laras masih punya muka nanti saat ketahuan. Tepat pukul setengah 6 sore, mobilku memasuki parkiran hotel. Aku keluar setelah melihat Laras masuk sambil bergandengan tangan dengan seorang laki-laki. Aku susul dia, setelah bertanya kepada resepsionis. Awalnya dia menolak mengizinkan untuk memberi tahu kamar Laras, Asistennya juga tidak tahu nomor kamarnya. Setelah diberitahu dalam artian berbohong bahwa aku adalah sepupunya dengan bukti foto kami berdua barulah resepsionis tersebut percaya. Laras padahal berada di lantai 5 dengan nomor kamar 5**6. Aku menyiapkan mental dan juga menguatkan tekad bahwa yang kulakukan ini adalah jalan yang benar.


Matthew Pov End


Saat ini, Matthew telah berdiri di depan kamar hotel tempat laras dan kekasihnya berada. Matthew datang dengan satu petugas housekeeping sebagai alibi untuk mengetuk pintu kamar.


tok.. tok.. tokk "permisi" panggil petugas tersebut dengan Matthew yang masih berdiri tenang di sampingnya. Tiga kali mengetuk akhirnya terdengar jawaban seorang wanita dari dalam. Matthew dengan segera menyuruh petugas tadi untuk segera pergi setelah memberi tip. Pintu terbuka dan nampaklah sosok Laras yang hanya menggunakan pakaian yang bisa dibilang sangat minim. Tentu saja dia terkejut melihat Matthew berdiri di depannya dengan tatapan datar.


"Siapa sayang" itu adalah suara dari dalam yang mengikuti laras menuju pintu. Laras mendadak kaku bahkan tidak sanggup berucap sepatah kata. Laki-laki tadi muncul dengan bertelanjang dada bahkan tidak sadar beberapa titik di lehernya terdapat bekas ****** sama halnya juga dengan Laras.


"Akhirnya ya Ras. Aku nggak perlu berbicara banyak untuk mengakhiri semuanya. Kita selesai sampai di sini" setelah mengatakannya Matthew berlalu begitu saja tanpa mendengar teriakan Laras yang ingin memberi penjelasan. Anehnya Matthew merasa sangat lega seperti telah berhasil menjalankan satu misi besar.


Setelah misi putus dengan laras berhasil, kini di sekolah Martin dan Melvin memandang Matthew


dan laras secara bergantian dengan rasa penasaran dan aneh. Khususnya si Laras yang biasanya selalu menempel dan menggandeng Matthew sekarang nampak lebih banyak diam, tenang bahkan sering menunduk. Meski penasaran dengan aksi mogok bicara kedua temannya, mereka tetap menyimpan rasa penasaran itu untuk nanti ditanyakan langsung ke Matthew.


"Ada apa" Kini mereka di rooftop. Melvin yang tidak bisa menahan lagi rasa ingin tahu dan paling kepo langsung bertanya pada Matthew.


"apanya"


"kamu sama Laras" kali ini Martin yang mewakili Melvin bertanya.


"kita selesai" Jawab Matthew datar kemudian menceritakan hasil perjalanan misinya kemarin. Melvin menarik napas entah karena apa. Mereka akhirnya memilih diam.


"Terus rencana kamu ke depannya gimana? Lanjut taruhan, atau mau menyerah? Adek Angel kelihatan lebih jinak sama kamu, huhuhu...sepertinya kapal pesiarku tinggal hayalan" Sepertinya Laras yang lebay dan mendrama kini berpindah ke Melvin yang bahkan tidak bisa bedakan bertanya dan memberi pernyataan.


"Kesempatan kita sama. Tunggu hasil akhirnya saja" ini bukan Matthew yang menjawab melainkan Martin.


"Kalau boleh jujur, aku sudah tertarik dengannya sejak pertama kali lihat dia saat MOS" Lanjutnya lagi.


"Nggak ada yang tanya sejak kapan kamu suka sama Angel" nyinyir Melvin.


"Terus si vivi apa kabar? bukannya dia nempel terus sama kamu, kemarin di minimarket saja sok kenal. Nggak di sekolah, nggak di jalan, itu anak nongol terus kayak setan yang ada di mana-mana" Melvin mengingatkan Martin akan si Vivi anak anggota Mading yang terang-terangan menunjukkan rasa sukanya pada Martin. Martin jadi teringat dan jadi kesal saat kemarin tanpa sengaja bertemu vivi di salah minimart. anak itu bersikap seolah mengenal Martin dan menempel padanya, menunjukan ke teman-temannya bahwa dia dan Martin punya hubungan spesial.


"Kalau kamu mau rubah haluan, ambil saja. aku tidak minat" ucap Martin dengan tampang jengah.


"kayak barang saja kamu main serah-serahan. Lagian ogah banget sama dia. lebih baik sama dedek rabit rabitt ah" mendengar jawaban Melvin Matthew yang dari tadi diam saja menjadi kesal.


"sampai akhir bulan ini. kalau ada yang berhasil dapetin Angel dia yang menang" suara dan keputusan Matthew membuat melvin dan Martin bengong. Bukan soal keputusannya tapi mengingat hitungan waktu ke akhir bulan berarti tinggal 10 hari lagi. Apa iya Angel akan mau menjalin hubungan sementara dia masih tahap penyembuhan dari trauma.


Mereka tidak tahu bahwa ada seseorang di balik pintu yang mendengar obrolan mereka dari tadi dengan tangan mengepal penuh emosi. Orang itu adalah Laras. Laras mengepalkan tangan, dia marah, jadi ini alasan Matthew memutuskan hubungan mereka gara-gara Angel. Dia harus memberi pelajaran pada gadis penggoda itu. Sementara itu, setelah mengatakan keputusannya, Matthew memilih untuk segera pulang dan diikuti oleh kedua temannya. Mendengar langkah yang mendekat, Laras segera pergi dari sana sebelum ketahuan.

__ADS_1


waktu menunjukan pukul tujuh malam saat Angel selesai mandi. Dia sedang mengeringkan rambut dengan handuk ketika handphonenya berdering tanda ada panggilan masuk. Setelah dicek ternyata Matthew yang menelepon. Angel mendadak grogi namun ibu jarinya tetap bergerak menggeser ikon tanda menjawab panggilan. Dari seberang sapa seorang lelaki membuat dirinya kaget.


"Hallo" sapa Matthew


"Hallo kak" Angel menjawab dengan grogi. Mereka sudah sering bertemu dan bertukar pesan, duduk bersama sambil mengobrol masa ditemenin saja Angel grogi. Entahlah, jantungnya saja sekarang bahkan lompat lompat tak karuan.


"sedang apa" tanya Matthew


"selesai mandi kak"


"Kok mandinya malam?"


"Tadi mengobrol tidak ingat waktu"


"sudah makan" suasana telepon ini malah seperti Matthew yang seorang polisi sedang mengintrogasi seorang saksi.


"Setelah ini makan kak. Apakah Kakak sudah makan?" sekarang Angel baru mulai berani bertanya. Dia merasa aneh pada dirinya yang hanya terus menjawab tanpa bertanya kembali ke sang penelpon.


"barusan selesai. Jawab Matthew sambil terkekeh dia gemas dengan Angel yang kedengaran kaku dari caranya berbicara.


"Terus sekarang kakak ngapain?" pertanyaan yang tidak perlu dijawab sebenarnya karena sudah pasti saat ini Matthew sedang meneleponnya.


"telepon kamu"


"Eh, hehehe.. iya ya. Ada apa melepon kak?"


"Kenapa diam, nggak boleh ya aku kangen kamu?" Sebenarnya pengakuan dan pertanyaan Matthew mengarah pada kejujuran tentang perasaannya namun dia juga ingin menggoda Angel. Kira-kira bagaimana respon gadis itu. Karena Angel yang mendadak diam Matthew pun menyampaikan tujuannya menelepon.


"Angel, esok kakak mau ke pantai, ikut yuk. Kita healing. Cari suasana tenang. Ajak Teman kamu juga kalau ragu pergi berdua. kamu mau?"


"mau kak, tapi aku mesti izin mama dulu" Rupanya mendengar kata pantai kebekuan Angel menjadi cair. Dari kecil dia selalu antusias ketika diajak ke pantai. Di sana dia bisa merasa tenang, damai dan jauh dari kebisingan Kota.


"esok kakak juga akan langsung minta izin ke mama kamu. Kalau nanti mama setuju jangan lupa beritahu kakak ya?"


"baik kak"


"oh iya, jangan lupa kasih tahu teman kamu berangkatnya dengan mobil kakak saja, jadi mereka sudah harus ada dirumah kamu sebelum berangkat"


Iya kak, nanti aku sampaikan" Saat menjawab, Angel melihat mama berdiri di pintu kamar mengajaknya makan malam.


"Kak, Aku mau makan dulu ya. Nanti aku kabari lagi.


"Oke, kakak tunggu. Salam buat mama kamu ya" Telepon berakhir dengan senyum yang melebar di wajah keduanya seperti orang yang tengah kasmaran dan baru saja mengobati rindu melalui panggilan suara. Ahh.. mereka menggemaskan sekali.

__ADS_1


Saat ini Angel tengah makan malam bersama mama vita. Sore tadi Bestie dan Noval kembali ke rumah mereka tanpa menunggu makan malam. Setiap suapan nasi yang masuk ke mulut Angel selalu diiringi doa sang mama yang terus mengucap syukur atas kembalinya keceriaan sang putri dan berharap dia selalu dikelilingi orang-orang baik. Dia selalu takut akan Usia, entah kapan dia tiba-tiba menyusul sangat suami yang lebih dulu kembali ke sang Illahi. Saat ini, satu-satunya alasan dia terus berjuang adalah putrinya yang kini menjelma menjadi remaja yang cantik dan tetap mengemaskan seperti bayi.


"Ma, esok weekend, Kakk Matthew ajak ke pantai, sama Noval dan Bestie juga. Boleh? Angel memberi tahu akan perbincangan dengan Matthew tadi yang mengajaknya untuk healing ke pantai.


"Kamu mau ke pantai?" bukannya menjawab justru mama vita memberi pertanyaan, dia masih khawatir.


"mau. Esok pulangnya cepat. Kak Matthew bilang, dia akan datang izin ke mama esok. Salam juga dari dia untuk mama"


"Baiklah, kalau kamu mau, mama tidak akan melarang yang penting kamu nyaman sayang" Mama vita tidak akan melarang yang penting itu kemauan Angel sendiri.


" salam kembali ya buat nak Matthew" lanjut mama vita yang dibalas anggukan oleh Angel.


Setelah makan dan membantu mama membersihkan piring dan meja, Angel kembali ke kamar. Dia mengirim pesan kepada dua sahabatnya terkait ajakan Matthew. Beruntungnya, kedua sahabatnya mau. Apalagi Noval, mana mungkin dia membiarkan Angel jalan berdua dengan Matthew atau hanya ditemani Bestie dia tidak akan setuju. Akhirnya dia memilih ikut.


'Kak, mama bilang boleh ke pantai. Bestie dan Noval juga akan ikut' Ini adalah bunyi pesan singkat yang dikirim Angel ke Matthew setelah kedua sahabatnya setuju. Tak berselang lama, Muncul panggilan dari Matthew.


"Hallo kak, sudah baca pesan ku?"


"sudah. Ini makannya kakak telepon"


"Kenapa tidak lewat chat saja?"


"Pengen dengar suara kamu, gimana dong" Angel rasanya bingung menjawab kalau dikasih pertanyaan yang mengurus ke situasi manis begini.


"padahal tadi kakak sudah telepon"


"hehehe.. kakak mau tahu keadaan kamu. khawatir, kamu masih sering mimpi buruk?"


"tidak lagi kak" Matthew tahu, jawaban Angel tidak sesuai yang sebenarnya. Gadis itu pasti tidak ingin orang-orang di sekitarnya khawatir.


"Kalau takut gelap, nggak usah matiin lampu, atau kalau takut sendiri, bobo sama mama dulu, hem" tutur Matthew lembut memberi asupan senyum di wajah Angel.


"Iya kak. lampu kamar tidak aku matikan"


"sekarang bobo, jangan begadang"


"kakak juga akan tidur?" entah dapat keberanian dari mana Angel bertanya seperti ini.


"Iya" Sebenarnya Matthew masih akan pergi ke rumah Martin. mereka berjanji akan bermain game bersama malam ini.


"benaran? kok aku nggak yakin" pertanyaan Angel entah kenapa seperti posesif membuat Matthew mengulum senyum karena merasa Angel meminta kejujuran Matthew sebagai pasangan.


"Iya, setelah telepon ini berakhir kakak juga akan tidur" Jawab Matthew mantap, dia memutuskan untuk tidak ke rumah Martin dan memilih menepati janjinya ke Angel. Meski nanti dia harus mendapat umpatan dari kedua sahabatnya karena membatalkan janji dengan tiba-tiba.

__ADS_1


"Oke, selamat malam, dada kakak"


"malam juga Sweetheart. Bobo yang nyenyak, sampai ketemu esok" setelahnya layar hp Angel kembali ke menu utama. Namun dia masih diliputi kebekuan akan ucapan Matthew pada salam penutup tadi. Apa tadi katanya 'sweetheart' demi Tuhan, jantung Angel akhir akhir ini sering sekali berolahraga dan penyebabnya adalah si senior tampan Matthew. dia Yakin malam ini dia akan lalu dengan penuh senyuman lagi.


__ADS_2