
Hingga kedatangan mama vita mengagetkannya.
"Sayang, Matthew.. itu" ucap mama vita dengan sedikit tergesa
"Kakak Matthew kenapa ma?" tanya Angel dengan penasaran dan cemas.
"Nak Matthew ada di depan, barusan sampai." Ucap mama vita. Dari tadi sebenarnya mama vita mau secara langsung menyampaikan kedatangan Matthew, cuma putrinya itu tidak sabaran dan malah menyela pembicaraannya.
"sungguh, ma. kak Matthew di depan?" Tanya Angel seakan tidak percaya
"Ya, lekas temui dia. Jangan di bawah diam kalau ada masalah nak. Komunikasi kan." Ujar mama vita menasihati anaknya. Oh god, bagai mendapat seteguk air di tengah gurun pasir, Angel begitu bergemuruh dengan gejolak rindu di dadanya yang hampir meledak. Dengan segera dan terburu dia menuju ruang tamu. Sementara mama vita memperhatikan Putrinya seraya tersenyum. Dia memutuskan ke kamar dan memberi ruang untuk kedua sejoli itu untuk membicarakan permasalahan mereka.
Perasaan rindu Angel semakin tidak terbendung saat menatap punggung lebar kekasihnya yang tengah duduk di sofa dan membelakanginya. Dengan suara bergetar dia memangil Matthew
"Ka..kkk" panggil Angel lirih namun masih bisa di dengar Matthew. Matthew yang sedari tadi menunggu dengan tidak sabar, segera berdiri dan menoleh begitu mendengar suara lirih dari gadisnya yang selama berhari-hari sangat dia rindukan. Dia melihat bagaimana kedua mata gadisnya berkaca-kaca dan bibir yang perlahan bergetar menahan isakan. Dia membuka lebar tangannya seraya mengangguk, seolah memanggil Angel untuk masuk dalam dekapan hangatnya. Tidak tahan dengan rindu, Angel segera berlari menabrak dan masuk dalam dekapan hangat Matthew. Lelaki itu memeluknya dengan sangat erat. Mereka saling memejamkan mata seolah menyalurkan rasa rindu yang menggebu. Mulut Matthew tidak berhenti mengucapkan "Maaf" dan "rindu" bahkan suaranya serak karena menahan tangis. Dia sangat merindukann gadis dalam pelukannya ini. Sungguh sangat rindu. Kecupan sayang dia labuhkan terus dipuncak kepala Angel. Sementara Angel juga sesegukan dan terus mengatakan kalau dia "Rindu".
"Kakak maaf, aku kekanakan. Aku kangen" Ujar Angel dengan sesegukan.
"Aku juga sangat merindukanmu sayang. Sangat sangat rindu. Maaf aku laki-laki brengsek yang membuat terjebak dalam dalam hidupku." Tutur Matthew dengan air mata yang perlahan mengalir di pipinya.
Setelahnya dia melepaskan pelukan dan mengajak Angel duduk di sofa sementara kedua tangan mereka saling bertautan. Mereka memandang dengan menyalurkan rasa rindu.
"Marahnya udahan ya, hem?" ujar Matthew seraya mengelus pipi Angel. Sementara Angel hanya sanggup menjawab dengan deheman karena masih sesegukan.
"Terima kasih telah menerima dan memaafkan masa lalu ku sayang." ujar Matthew lagi.
"Maaf kak, aku kemarin egois dan jujur aku kecewa dan sakit hati. Tapi setelah berpikir, harus aku akui bahwa setiap orang memiliki masa lalu yang berbeda. Terima kasih karena kakak mau jujur sama aku." tutur Angel dan diangguki oleh Matthew.
"Aku mencintaimu sayang " ungkap Matthew denagn segenap perasaan jujur
"Aku juga mencintai kakak" Balas Angel dengan malu-malu dan membuat Matthew gemas. Tengah asik saling tatap, mama vita muncul dengan senyum hangatnya.
__ADS_1
"Gimana sudah selesai bicaranya?" tanya mama vita yang membuat dua sejoli di depannya tersentak kaget. Mereka berdua menoleh ke arah mama vita dengan wajah yang sembab. Mama vita jadi tahu, kalau keduanya habis menangis.
"Nasihat mama ya, kalian sudah besar. kalau ada masalah jangan di diamkan. Harus dikomunikasikan biar cepat selesai." ujar mama vita menasihati Matthew dan Angel. Sementara keduanya mengangguk setuju.
Matthew berada di rumah Angel hingga selesai makan malam. setelahnya dia pamit pulang.
"mom nitip salam buat kamu. Katanya disuruh main ke rumah. Rindu sama menantu" Ujar Matthew dengan menggoda Angel.
"ishh kakak apa-apaan sebut menantu. pasti mom nggak bilang seperti itu. Tapi salam balik ya buat mom. Kapan-kapan aku main ke sana. " Jawab Angel masih dengan malu-malu meong. Matthew selalu gemas dibuatnya. Akhirnya Matthew berpamitan pulang dan sebelumnya melabuhkan kecupan hangat di dahi kelasihnya itu. Angel terkejut karena mereka berada di teras rumah. Takut mama vita melihat dan salah paham. Matthew malah biasa-biasa saja.
"Udah sana masuk. Entar masuk angin kelamaan di luar. Bobo nyenyak sayang jangan lupa mimpiin aku ya. Suruh Matthew pada Angel dengan mengacak gemas rambut kekasihnya
"Kakak hati-hati di jalan. Jangan ngebut kak. Nggak boleh main di luar. Kakak pulang harus bobo. Janji?" tanya Angel dengan perintah tegasnya seraya menyodorkan kelingking meminta Matthew berjanji.
"Janji" Jawab Matthew dan menautkan kelingking mereka.
"dah sayang"
"Love you "
"love you too" Angel masih saja tersipu kalau menjawab pernyataan cintanya.
"masih kangen " rengek Matthew
"Ish kakak, sana pulang " ujar Angel seraya mendorong Matthew untuk melangkah. Dengan tidak kerelaan Matthew segera pulang ke rumah. Dia bahkan lupa kalau sudah ada janjian game bersama dengan kedua sahabatnya. Di sana, Martin dan Melvin sedang menunggu. Kedua temannya itu pasti sedang menggerutu sebal sekarang. Karena mereka sudah janji bermain game dari Sore. Justru Matthew pergi melepas rindu dengan Kekasihnya.
Benar saja, begitu sampai di rumah, dia langsung mendapat semprotan dari mulut cerewet Melvin.
"Sudah puas melepas rindunya. Muka sembab gitu, habis nangis. Dasar cengeng, bucin!" ujar Matthew kesal dan meledek Matthew. Martin dan Melvin menjadi tempat uring-uringan Matthew selama 5 hari belakangan karena galau diabaikan Angel. Untuk pertama kalinya dia bersikap seperti anak kecil, merengek bahkan marah-marah tidak jelas. kedua sahabatnya menjadi pelampiasan kegalauannya.
"Sudah selesai?" tanya Martin yang tadi masih sibuk dengan game di ponselnya sekarang ikut bertanya.
__ADS_1
Ditanya kedua temannya dengan ekspresi kesal, Matthew justru hanya menggangguk. Yang lebih membuat Martin dan Melvin kesal bukan main adalah, Matthew menguap seolah mengkode dia sedang mengantuk.
"mengantuk, mau tidur" ujar Matthew dengan tidak merasa bersalah. Nah benarkan. Matthew ini benar-benar teman tidak tahu diuntung, sudah ditunggu berjam-jam sekarang malah mau ditinggal tidur. Karena kesal Melvin dan Martin menarik Matthew dan menghempaskannya keatas sofa, dengan kompak keduanya mengelitik Matthew hingga Matthew tertawa kegelian sampai mengeluarkan air mata. Ini adalah salah satu titik sensitif Matthew, dia mudah merasa geli.
"Aduh, stop.. stop. Geliiiii.. ahhhhh geli" teriak Matthew namun kedua sahabatnya menulikan telinga. mereka masih kesal dan dongkol hingga terus menggelitik Matthew.
"stoppp... Mom helpppppp, Mom bantu akuuuu" teriak Matthew dengan nada merengek. kalau seperti ini, dia kelihatan hanya badan saja yang kekar, pesona yang tegas dan tampan, tapi aslinya seperti bayi yang selalu merengek pada mom Helena.
Setelah puas dan perasaan dongkol hilang, barulah Martin dan Melvin berhenti menggelitik Matthew. Keduanya nampak menarik napas seolah kelelahan. Nah mereka saja kelelahan, lalu bagaimana korban kejahilan keduanya. See, Matthew nampak lemas tak berdaya. Dia menutup mata dan mengatur napasnya yang ngos-ngosan. Kedua sahabatnya itu akan selalu menggelitiknya kalau sedang kesal terhadapnya.
Kini ketiganya nampak berbaring di lantai. memandang langit-langit ruang playstation Matthew yang penuh dengan alat game. Hingga ketiganya tidak sadar tertidur sampai pagi di ruang tersebut. Mom Helena yang sedang mencari keberadaan putranya untuk sarapan Justru menemukan ketiganya tidur dengan posisi berpelukan seperti teletubbies. Lucu sekali.
Mom Helena membangunkan ketiga pemuda tersebut dengan sedikit usaha karena ketiganya justru semakin mempererat pelukan saat dipanggil.
Dad Marcel yang tengah menunggu di meja makan, merasa istrinya cukup lama memanggil putranya yang dia ketahui di ruangan playstation. Dia pun menyusul ke sana. Sesampainya di sana dia melihat istrinya kesusahan membangunkan ketiga pemuda yang nyenyak sambil berpelukan. Namun Fokus dad Marcel justru ke tangan istrinya yang memegang tangan Melvin dan mencoba membangunnya. Dad Marcel justru cemburu. Dengan kesal dia menyalakan musik dengan volume tinggi dan diarahkan pada ketiga pemuda dihadapannya. Karena Melvin yang berada di pinggir, kencangnya volume musik terasa sangat menggema di telinganya. Dia akhirnya duduk dengan mata melotot karena kaget diikuti oleh kedua sahabatnya. Dia menatap horor pada pamannya yang menatap dengan senyum kepuasan.
"Aduh paman kau ini makin tua, banyak keriput, makin banyak tingkah" ujar Matthew karena kesal dan jamin dad marcel akan semakin kesal padanya, karena mengatai dirinya tua dan berkeriput. Dad marcel tidak mau dibilang tua, meski sebenarnya dia sudah tua. Dia masih mau dibilang muda karena istrinya masih terlihat awet karena usia mereka yang terpaut 8 tahun. karena kesal Dad Marcel mau menjewer telinga Melvin namun dicegah istrinya. bisa panjang urusannya kalau keponakan dan suaminya berdebat. pusing tujuh keliling jadinya.
"Kenapa kalian tidur di sini. Di lantai lagi." cecar mom Helena
" capek mom" keluar Matthew
"capek kenapa? memangnya kalian habis kerja rodi." cecarnya lagi.
"mom, mereka mengelitik aku" Aduh Matthew seraya merengek
"Dasar tukang mengadu, cengeng " sindir Martin
"Biar kau tahu rasa" ujar Melvin
"Mommmmm" rengek Matthew. Benar-benar seperti bayi yang tukang mengadu. Sementara mom Helena dan dad Marcel hanya menggeleng kepala dengan tingkah ketiga anak-anak mereka. Ya, buat keduanya Melvin dan Martin adalah saudara Matthew. maka tidak mengherankan kalau kedua sahabat anaknya disayang dan bebas ke rumah tersebut. Akhirnya mom Helena menyuruh ketiganya untuk membasuh muka dan bergabung di meja makan untuk sarapan. Mereka menikmati sarapan dengan suasana hangat. Melvin selalu saja menggoda pamannya yang membuat pria tua itu sangat dongkol dengan keponakannya.
__ADS_1