
Mami Siska mendatangi kantor Abbas, tapi Abbas tidak ada di tempat. Ia semakin marah dan membanting barang-barang yang ada di meja kerja Abbas.
"Aarrgghhh... Kenapa aku begitu bodoh mempercayai wanita ja**ng, ini juga salah Abbas dia yang bawa wanita ja**ng kerumah." Mami Siska menarik rambutnya.
"Aku harus buat perhitungan sama wanita ja**ng, tapi dimana dia semenjak aku datang tidak pernah melihat dia."
"Aku tak peduli, syukur-syukur dia mati akibat penyakit kelamin. Karena dia suka berganti pria." Mami Siska berdiri dan keluar dari kantor Abbas.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Nufail mendengar Umi Aisyah berada di rumah sakit, langsung bergegas menuju rumah sakit. Ibu Salamah dan Ibu Ria sudah pulang.
"Oma, Mama. Bagaimana dengan Umi apa baik-baik aja." Nufail khawatir.
"Babay, kamu tenang dulu." Alsava menenangkan Nufail.
"Aku ngga bisa tenang, Yank. Kalau sudah menyangkut Umi, Yank." Nufail melepas tangan Alsava dan masuk ke kamar Umi.
Umi Aisyah tersenyum manis melihat kedatangan Nufail.
"Umi." Nufail memeluk Umi Aisyah.
"Kamu kebiasaan kalau datang itu harus ucapkan Salam." Umi Aisyah menarik telinga Nufail.
"Aduh!! Sakit, Mi. Walau Umi sakit, tetapi tenaganya tetap kuat." Nufail mengelus telinganya.
"Assalamualaikum Umi..." Alsava mencium tangan Umi Aisyah.
"Wa'alaikumsalam... Contoh tuh istrimu... Yah kaya begini baru anak Umi." Umi Aisyah mencium kening Alsava.
"Iya, Umi. Makanya aku cinta dengan istri ku ini." Nufail memeluk Alsava dari belakang dan mengecup pipinya.
__ADS_1
"Ck, Dasar Mr. Alay." Umi Aisyah tersenyum melihat anak dan menantunya selalu harmonis.
"Umi, siapa yang melakukan ini semua?." Nufail mulai menatap Umi Aisyah serius.
"Biasa wanita gila." Oma Anne jawab asal.
"Wanita gila???." Alsava dan Nufail berpandangan dan bingung.
"Hadeh!! Itu mantan mertua mu." Mama Savara menepuk jidatnya.
"Mami Siska?Loh kok bisa Umi berurusan dengan Mami Siska?." Kata Alsava.
"Katanya Mario menceraikannya gara-gara Umi, Umi aja baru tau dari dia sendiri. Dia terus mencengkeram tangan Umi hingga seperti ini, tapi tidak apa-apa." Kata Umi Aisyah tetap sabar.
"Aisyah, dari dulu sampai sekarang kamu selalu mau aja di tindas sama wanita gila. Kamu jangan lemah jadi orang." Geram Oma Anne.
"Mom, kalau kita terus balas tidak akan habisnya. Malah kita akan bertambah dosa, aku sudah serahkan kepada Allah, biarkan Allah yang menghukumnya." Umi Aisyah memberi ceramah.
"Hhh... Terserah kamu." Oma Anne duduk di sofa.
"Maaf semua, aku permisi dulu. Karena baru ingat ada meeting." Nufail beralasan, lalu Nufail mencium punggung tangan Umi Aisyah, Oma Anne dan Mama Savara.
"Sayang, aku kerja dulu. Ya, kamu di sini aja bersama wanita-wanita cantik." Nufail mencium kening Alsava.
"Mmm... Baiklah, kalau sudah sampai di kantor harus menghubungi ku. Walau itu cuma 5 menit aja." Kata Alsava.
"Iya, sayang. Ya, udah aku pergi dulu ya. Assalamualaikum semua wanita-wanita cantik." Nufail melambaikan tangannya dan pergi.
"Aku harus ikuti Nufail, takut dia berbuat nekad." Pikir Alsava.
"Wa'alaikumsalam." Serentak
__ADS_1
"Mam, Oma dan Umi. Aku lupa ada janji sama Icha dan Reina, aku pamit ya. Assalamualaikum." Alsava mencium punggung tangan Mama Savara, Oma Anne dan Umi Aisyah.
"Kamu harus di antar supir Oma, oke." Perintah Oma Anne.
"Iya, Oma."
Alsava langsung kepikiran, ia bukan ke mobil Oma. Tapi ia naik taksi online.
"Pak, maaf kalau nanti tujuan tidak sesuai aplikasi. Tenang nanti saya akan bayar lebih." Kata Alsava pas masuk kedalam mobil.
"Baik, Nyonya." Supir ramah.
"Untung aku sudah memasang GPS di Hp Nufail." Batin Alsava.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Pagii semua... Semoga kalian sehat selalu... Gimana novelnya masih di lanjut???
Jangan lupa Like, Vote dan Komentarnya ya... See you... ππππ