
"Bagaimana kalian mau kan membantu ku?." Kata Satria.
"Siap abang, kami siap membantu ." Serentak.
"Oke, klo begitu." Satria langsung menutup sambungan telp.
Sih Kembar 4 melakukan tugas masing-masing.
"Bagaimana kalian sudah selesaikan tugas kalian?." Tanya Lacynta.
"Sudah, tinggal tunggu konfirmasi selanjutnya dari Bang Satria." Ghoza menaruh handset.
"Aku juga sudah buatkan alat pelacak yang sangat bagus kegunaannya, karena ini alat bukan hanya untuk pelacak sekaligus bom yang akan meledak jika aku tekan tombol ini." Ghozi memperlihatkan alat yang baru dia buat.
"Bagus, kalau gitu. Aku juga sudah buatkan bubuk yang sangat bagus, bubuk ini bukan bubuk biasa. Ini Bubuk untuk musuh agar tidak bisa bergerak, sewaktu kita sebarkan dan terhirup." Kata Lacynda.
"Hahaha... Kalau aku tidak bisa buat apa-apa, aku hanya bisa menyuruh pasukan tanpa terlihat untuk menyerang musuh dan aku sudah menyuruh mereka untuk menjaga di rumah bang Satria.." Lacynta bangga.
"Dasar, saudara kita ini. Paling yang menakjubkan." Ghoza menepuk pundak Lacynta.
"Benar, kamu itu paling hebat di antara kami. Kemampuan kita jangan sampai ada yang tau, kecuali keluarga. Oke." Kata Lacynda.
"Oke." Serentak.
Di sisi lain
Dokter Chelsea di kamar.
"Queennya Mommy yang cantik, Mommy memberikan kalung khusus Mommy buat sendiri untuk mu." Dokter Chelsea memakaikan kalung ke leher anaknya. Kalung itu ia buat sendiri dari bahan yang aman untuk bayi.
"Wah! ternyata kamu tambah cantik memakai ini, nak." Dokter Chelsea mencium pipi Baby Queen.
Sudah sebulan tapi tidak ada gerakan musuh.
"Bagaimana Joe apa ada gerakan musuh?." Nufail sambil menikmati segelas kopi.
"Tidak ada, Bos. Tapi kita tetap waspada jangan sampai kita lengah." Kata Joe.
"Loe benar Joe, Oia Joe. Loe tau siapa dalangnya?."
"Saya belum tau, Bos. Tapi saya curiga dengan keluarga Eliana."
"Kenapa dengan keluarga Eliana dan kenapa juga loe bisa juga curiga dengan mereka?."
"Salah satu pengawal memberitahu kepada saya, saat tuan muda Satria sekolah ada wanita paruh baya mendekati tuan muda Satria dan mengaku kalau wanita itu Omanya. Sedangkan Satria tidak mengenal, kalau Oma dari pihak Dokter Chelsea pasti Satria mengenalnya. Jadi saya menyimpulkan kalau wanita paruh baya itu keluarga dari Eliana."
"Kenapa Loe baru kasih tau gw, Joe?. Gue pernah dengar kalau keluarga Eliana itu tidak perduli sama Eliana ataupun Satria, gue yakin mereka pasti ada niat yang buruk sama Satria. Kalau mereka ingin silaturahmi tidak begini, mereka akan mendatangi kediaman Dokter Erik dan Dokter Chelsea dengan cara baik. Tidak diam-diam, Joe. Cepat tugaskan pengawal untuk lebih waspada dan tambah pengawal lagi."
"Baik, tuan."
"Ya Allah, walaupun Satria bukan keponakan ku. Tapi lindungi dia dari segala bahaya yang akan dia hadapi." Nufail menatap ke langit-langit dan menghela napas.
Di kediaman Dokter Erik.
"Sayang, hari ini aku ingin mengajak kalian jalan-jalan." Seru Dokter Erik.
"Emang mau kemana Dad?." Satria menghentikan main games.
__ADS_1
"Rahasia, tempat ini pasti kalian suka."
"Tapi apa kita sudah aman, Mas? aku masih sedikit takut." Dokter Chelsea ragu.
"Tenang, sayang. Tempat ini sangat aman, karena tempat ini Nufail menjamin keamanan."
"Jadi tempat ini milik Nufail, mas?."
"Iya, sayang. Selama perjalanan Abbas dan Nufail menjaga kita, sayang."
"Mmm... Baiklah, aku akan menyiapkan semuanya."
"Tidak usah, disana sudah tersedia semua termasuk pakaian, keperluan, perlengkapan baby Queen dan kita."
"Wah! kapan Daddy Erik , Om Nufail dan Daddy Abbas siapkan semua?."
"Sudah jangan banyak tanya, kalian segera ganti baju dan bawa barang yang kalian anggap sangat penting."
"Siap."
Dokter Chelsea dan Satria ke kamar masing-masing, sedangkan Dokter Erik menggendong Baby Queen.
"Nak, semoga keputusan Daddy benar. Kita pindah ketempat lebih aman, Daddy tidak mau kalian kenapa-napa."
Skip
Keluarga Dokter Erik tengah perjalanan, tiba-tiba dari belakang mobil menabrak mobil mereka.
"Aarrgghhh..."
"Tuan, Nyonya dan Den Satria. Tunggu di sini saja biar kita yang turun." Sang Bodyguard.
"Tenang, sayang. Semua pasti baik-baik saja."
Dokter Erik melihat kaca spion mobil, ia melihat Bodyguard dan penabrak saling pukul.
Dor
suara tembakan membuat Dokter Erik dan keluarga panik.
Tiba-tiba Satria tangannya di tarik makhluk tak kasat mata.
"Sat, kamu mau kemana?. Kamu tetap di sini." Dokter Erik langsung menarik tangan Satria.
"Daddy, ikuti Satria. Pasti kita akan aman."
"Tapi..."
"Sudah ikuti Satria, Dad. Lihat Mommy sudah ketakutan, aku ngga mau Mommy malah kenapa-napa."
"Baiklah."
Satria, Dokter Erik dan Dokter Chelsea keluar dari mobil tidak lupa Baby Queen di gendongan Dokter Erik.
Mereka berjalan dan bersembunyi di semak-semak belukar.
Dduuaarrr
__ADS_1
Mobil yang mereka tumpangi meledak.
Dokter Chelsea melihat itu langsung pingsan, untung Dokter Erik ada di belakangnya. Kalau tidak Kepala Dokter Chelsea, Baby Queen sudah berpindah tangan ke Satria.
"Sayang, bangun." Dokter Erik menepuk-nepuk pipi Istrinya, lalu Dokter Erik memeriksa keadaan Dokter Chelsea. Sebelum melarikan diri Dokter Erik membawa perlengkapan kedokteran miliknya.
Dokter memegang tangan istrinya, denyut nadi sang istri melemah. Ia panik
"Sat, tolong kamu jaga adik. Tapi kamu ikut aja, kita bawa Mommy kerumah sakit terdekat." Dokter Erik menggendong Dokter Chelsea ala bridal style.
"Baik, Daddy."
Diam-diam Satria menghubungi sih kembar 4.
"Bang, tenang aja. Ikuti jalan yang ada tanda cakaran, itu bukan cakaran hewan buas. Tapi dari tim ku yang tidak kasat mata." Lacynta menjelaskan.
"Oke." Kata Satria.
"Daddy, ikuti tanda itu." Satria langsung memberitahu Dokter Erik.
"Bukannya itu cakaran dari hewan buas, Daddy ngga mau." Dokter Erik menggelengkan kepala, ia tidak percaya.
"Daddy, itu tanda anak-anak pramuka. Ya biasanya kita memberi tanda seperti itu biar kita tidak tersesat." Kata Satria berbohong.
"Mmm... Benar juga kamu, oke kita lanjutkan perjalanan." Dokter Erik percaya.
Mereka terus berjalan mengikuti jejak cakaran.
Tiba-tiba di perjalanan mereka di hadang beberapa orang berbadan besar dan bertopeng.
Melihat itu Satria sembunyi dan meletakkan Baby Queen di kardus, lalu membantu Dokter Erik.
"Ini bagaimana mereka sudah menghadang." Satria panik.
"Abang tenang aja, tim aku akan melindungi kalian." Kata Lacynta.
Benar apa yang di katakan Lacynta orang-orang tersebut tumbang sendiri tanpa di sentuh, membuat Dokter Erik terkejut.
"Daddy, Mommy semakin pucat. Cepat bawa Mommy." Teriakan Satria membuat Dokter Erik panik dan langsung menggendong istrinya.
Mereka lanjutkan perjalanan, tapi melupakan Baby Queen yang tertinggal di dalam kardus. Satria bahkan lupa dengan adiknya, saking ia panik melihat Mommynya pucat.
.
.
.
.
.
.
Bagaimana keadaan Dokter Chelsea apakah ia bisa bertahan atau tidak? dan Bagaimana nasib Baby Queen yang tertinggal di dalam kardus?
Saksikan kelanjutannya di novel berjudul "Pantaskah Aku Bahagia."
__ADS_1
Jangan lupa Vote, like dan komentarnya ya...
See you... 😘😘😘😘