
Khumaira terus merengek agar ia bisa ketemu Mami Siska, Abbas mulai jengah dan akhirnya menuruti permintaan Khumaira.
"Mas, sebelum kita ke rumah sakit. Kita mampir ke toko baju, aku ingin membeli sesuatu buat Mami. Bolehkan?." Kata Khumaira, ia nampak senang.
"Terserah kamu aja, sayang. Yang penting kamu tidak kecapean." Abbas memegang pipi Khumaira di balik cadarnya, dalam hati Abbas masih segan ketemu Mami Siska. Ia begitu membencinya.
"Kalau bukan Khumaira membujuk ku untuk ketemu Mami, aku ngga akan sudi ketemu Mami. Aku masih sangat membencinya, tapi melihat istriku cantik ku senang. Untuk Melihat Mami, akan ku tutup rapat-rapat rasa benci ku kepada Mami. Apa yang ku lakukan kalau aku ketemu Mami nanti? Ya Allah, kuatkan hati ku ini. Apapun terjadi nantinya." Kata Abbas dalam hati.
"Aku tau mas, kamu tidak suka ketemu Mami. Tapi harus sampai kapan harus seperti ini mas, aku tidak mau kamu membenci terus menerus kepada Mami mu. Itu sangat dosa, apalagi mengabaikannya." Kata Khumaira dalam hati.
Mereka tiba di toko baju.
"Subhanallah, toko baju ini tidak hanya menjual baju saja. Tapi perlengkapan sholat juga ada, aku beli ini dan beberapa gamis." Khumaira mengambil mukena putih, adem dan sangat lembut. Khumaira sangat antusias, Abbas melihat Khumaira senang. Ia ikut senang, walau masih ada rasa benci di hatinya.
Setelah membeli barang keinginan Khumaira, mereka melanjutkan pergi menuju Mami Siska di rawat.
Beberapa jam kemudian, mereka tiba di rumah sakit jiwa. Tempat Mami Siska di rawat, Abbas ragu mau turun dari mobil atau tidak. Di benaknya masih menyimpan sakit hati yang amat dalam, atas perilaku Mami Siska.
"Apakah aku harus memaafkan Mami?Mami telah banyak menyakiti ku dan Papi." Batin Abbas, seketika ingatan masa lalu datang. Masa lalu yang sangat menyedihkan dan menyakitkan.
"Mas." Khumaira menyadarkan Abbas dari melamunnya.
"I-iya sayang, ada apa?." Kata Abbas kaget.
"Mas, dipanggil dari tadi malah melamun. Memang ada apa?atau kamu masih ragu untuk ketemu Mami kamu?... Buat Apa mas?Kamu kalau kaya gini sama aja kamu mengajarkan aku untuk membenci kepada orangtua, ingat mas Suami itu panutan dan memberikan contoh kepada istrinya" Khumaira Marah.
"Bu-bukan begitu, sayang. Aku ngga mau ketemu Mami, karena bayangan masa lalu yang membuat aku sedih dan menyakitkan itu terulang kembali." Abbas menjatuhkan kepalanya di pundak Khumaira.
"Mas, kita hanya manusia biasa yang penuh khilafan. Mas, harus melawan rasa benci mas kepada Mami Siska. Aku tau itu sangat menyakitkan dan menyedihkan bagi mu, tapi kalau kalian seperti ini. Hidupnya akan merasakan penyesalan yang bertubi-tubi, berilah contoh untuk anak kita mas. Jangan biarkan anak-anak kita kelak seperti ini, mas. Aku yakin Mas bisa mengubah Mami, agar menjadi wanita yang pantas buat mas jaga. Di saat usianya sudah tidak muda lagi dan menemani masa-masa tuanya bersama anak, menantu dan cucu-cucunya."
"Iya, sayang. Aku akan usahakan menerima dan memaafkan Mami, bantulah aku agar aku bisa menghadapi Mami."
"Iya, Mas."
Kedatangan Abbas dan Khumaira di sambut oleh Suster Dyah.
"Selama datang, tuan dan Nyonya." Suster Dyah menunduk.
"Iya, bagaimana keadaan Mami sekarang?." Abbas dingin.
"Tuan dan nyonya bisa melihatnya langsung, biar tuan dan nyonya yang menilainya seperti apa."
"Baiklah, kau antarkan kami bertemu Mami." Abbas menarik tangan Khumaira.
"Mari, tuan dan nyonya saya antar. Ketempat Ibu Siska berada."
__ADS_1
"Terimakasih, mba Suster." Kata Khumaira.
Mereka menuju kamar Mami Siska.
"Subhanallah, apa benar itu Mami kamu mas?." Kata Khumaira, melihat Mami Siska sedang sholat Azhar. Abbas matanya terbelalak, ia terkejut melihat Maminya berubah.
"Itu benar ibu Siska, beliau sudah banyak perubahan." Yang jawab malah Suster Dyah. Abbas masih tidak percaya itu benar Maminya atau orang lain.
"Alhamdulillah, Mba Sus. Oia, Mbak Sus. Aku mempunyai hadiah buat Suster dan Mami, tolong bisa ambilkan di mobil. Disana ada pak supir kok, Mba Sus."
"Iya, Nyonya. Saya mau mengambilnya, silakan Tuan dan nyonya menemui Ibu Siska" Suster Dyah pamit dan pergi.
"Mas, lihatkan. Ini adalah kebesaran Allah yaitu membukakan hati Mami untuk ke jalan yang benar, yuk. Kita ketemu Mami." Khumaira menarik tangan Abbas.
"Iya, sayang. Tapi aku ragu, apakah Mami Benar-benar taubat atau hanya pura-pura saja?Agar Mami bisa keluar dari sini." Abbas ragu melihat perubahan Maminya sendiri.
"Mas, kamu jangan berpikir buruk dulu sama Mami. Tidak baik, kalau kamu masih tidak percaya perubahan Mami. Lebih baik kamu suruh Roy buat mantau Mami dan kamu jangan ikut aku menemui Mami." Khumaira kesal.
"Loh, sayang. Kok, kamu jadi marah sih."
Khumaira melototi Abbas.
"Iya-iya, aku minta maaf. Dan aku akan membuka hati buat Mami."
Mereka menemui Mami ketika Mami sudah selesai sholat.
"Assalamu'alaikum Mami..." Abbas gemetar.
"Wa'alaikumsalam... Ab-Abbas, benarkah ini kamu, nak?." Mami Siska meneteskan airmata dan tidak percaya, yang di hadapannya adalah anak yang sangat ia temui.
"Iya, Mi." Tidak terasa air mata Abbas jatuh di pipinya.
"Terimakasih Ya Allah, Engkau sudah mengabulkan permintaan ku." Mami Siska memeluk Abbas. Khumaira melihat mereka merasa terharu.
"Maafkan Mami, nak. Mami begitu banyak salah sama kamu."
"Iya, Mi. Abbas sudah memaafkan Mami."
"Terimakasih, Nak." Mami Siska mencium seluruh wajah Abbas.
"Stop, Mi. Aku malu di lihat istriku." Abbas menghentikan aksi Maminya.
"Hahaha... Iya-iya, Oia mana istrimu, Nak?."
"Sayang, sini aku kenalkan Mami." Abbas memegang tangan Khumaira.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum Mi, aku Khumaira." Kata Khumaira sopan.
"Wa'alaikumsalam, Masya Allah sungguh cantiknya kamu. Nak... Maafkan Mami ya tidak datang pas pernikahan kalian." Mami Siska memeluk Khumaira.
"Iya, Mi. Tidak apa-apa, aku mengerti keadaan Mami."
Tok
Tok
Tok
"Assalamu'alaikum... Maaf ini barang-barang mau di taruh mana nyonya?." Suster Dyah membawa barang-barang yang Khumaira beli.
"Wa'alaikumsalam... Di taruh sana aja dulu, Mba Sus. Oia itu paper bag yang warna pink punya kamu silakan di ambil."
"Terimakasih nyonya, kalau begitu saya permisi dulu. Assalamualaikum..." Setelah mengambil paper bag Suster Dyah pergi.
"Mi, ini aku beliin buat Mami semoga Mami suka." Khumaira memperlihatkan barang-barang.
"Terimakasih, Nak. Mami sangat suka, kebetulan Mami belum ada baju gamis."
"Iya, Mi. Alhamdulillah Mami mau berhijab."
Abbas melihat dua wanita yang berbeda usia sedang melihat baju-baju dan mengobrol dengan asyik, hingga melupakan dirinya.
"Kalian melupakan aku." Kata Abbas pura-pura sedih.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan Lupa Like, Vote dan Komentarnya ya...
See you...😘😘😘😘😘
__ADS_1