Aku Bukan Siapa-siapa

Aku Bukan Siapa-siapa
Permintaan Maaf


__ADS_3

Hai readers...


Maaf ya baru update...


Minggu kemarin Author baru berduka, karena mama Author meninggal. Author sangat terpukul.


Ada rasa penyesalan, marah, sedih dan kecewa. Marah dan kecewa, sekarang setiap rumah sakit itu penuh. Author udah cari 5 rumah sakit penuh, supir ambulance menyarankan ke rumah sakit di jakarta selatan. Author pun mengiyakan sarannya.


Tiba disana, Mama Author belum di tanganin Author marah. Suster bilang "Anda harus tanda tangan ini agar ibu anda di tanganin, karena kami ngga mau nanggung resiko."


Author baca, ya inti dari surat itu Author harus tanda tangan menyatakan nyokap covid. Author bingung harus apa?😭😭😭 Author melihat nyokap yang sudah lemah, mau ngga mau Author harus tanda tangan. Author ngga tega. Setelah Author tanda tangan, nyokap baru di tanganin tepat jam 1 malam.


Besok paginya suapin nyokap, memberi minum dan obat. Ya, di rumah sakit itu kita boleh keluar masuk.


Jam 10 Nyokap HD, Author dan suami menunggu di luar sambil mengisi perut. Jam 16.30 Author kembali lagi kedalam, Author menyuapi nyokap kembali. Tapi nyokap seperti orang linglung dan bubur ngga di telan, lalu Author beri minum menggunakan sedotan, tapi ngga di sedot. Author menggunakan sendok. Airnya tumpah dari mulutnya hingga kena selang oksigen, Author mengelapnya. Tiba-tiba nyokap memeluk, seakan aku ngga boleh pergi. Aku beri semangat nyokap.


"Mah, semangat ya. Papa, Mba Herma, Mas Ray, menantu-menantu dan cucu-cucu sedang menunggu mama di rumah. Kami sayang sama mama, mah. Maafkan yanti, banyak salah sama mama. Mama harus semangat lawan penyakitnya, yanti dan mungkas ada di luar nunggu mama." 😭😭😭😭


Suami datang dan video call dengan anak kami Reina, nyokap semangat melihat cucu kesayangannya.


Reina : "Uti harus semangat, ya. Nanti kalau Uti udah sembuh kita jalan-jalan."


Nyokap : " Iya."


Reina : "Reina sayang Uti."


Nyokap senyum dan menganggukkan kepala.


Nyokap : "Dadah Reina." Nyokap melambaikan tangannya.


😭😭😭😭😭😭😭


Tak lama kemudian, kakak perempuan ku datang dan kami gantian jaga. Karena aku dan suami mau ganti baju.

__ADS_1


Baru sampai rumah, kakak mengabarkan nyokap ganti oksigen dan kritis. Aku dan suami langsung kerumah sakit lagi.


Tiba di rumah sakit, aku langsung ke dalam. Nyokap lagi di keliling dokter dan Suster.


"Mah, ini yanti. Datang lagi."


Nyokap melirik dan menangis.


Tttiittt....


Garis lurus di monitor.


"Ibu anda udah meninggal." Kata salah satu dokter.


"Hhhuuuwwwaaa..." Aku menangis histeris tanpa peduli orang ngomong apa. Aku langsung lari keluar dan memeluk suami.


"Pap, Mama udah ngga ada. Mama meninggal." Aku lemas dan pingsan.


Hasil PCR, nyokap negatif. yang aku kesel itu dari rumah sakit Bintaro memvonis mama positif, pas di rumah sakit jaksel. Susternya bilang mama belum di swab, karena di lihat dari bukti pembayaran dari rumah sakit Bintaro. Author menyesal kenapa karena udah tanda tangan covid. 😭😭😭😭😭😭


3 Hari kemudian, Author datang kerumah Mas Ray. Ya, Mas Ray ngedrop mendengar mama meninggal.


"Yan, gue banyak salah sama mama. Di saat seperti ini gue ngga bisa melihat mama untuk terakhir kalinya." Mas Ray menangis.


"Udah mas, Mama udah tenang di sana. Mama udah ngga merasakan sakit lagi, loe harus semangat ya. Masih ada anak-anak dan istri loe." Aku mengelus dada mas Ray.


Badan Mas Ray kurus banget dan dy lemah berbaring di tempat tidur.


"Gue mau ikut mama aja, gue cape begini terus." Mas Ray dengan tatapan kosong.


"Hus, Mas loe jangan ngomong ngaco. Anak-anak loe itu masih kecil, loe ngga kasihan sama anak-anak dan Bini loe." Aku masih mengelus dadanya Mas Ray biar tenang ngga emosi.


"Udah yuk, loe berobat soal biaya gampang." Ajak Aku.

__ADS_1


"Gue ngga mau di rumah sakit, gue ngga mau di swab." Mas Ray, trauma juga waktu pertama kali covid ada, Mas di nyatakan covid padahal dy cuma check up tiap bulan. Dan di rumah sakit di pasar minggu, Mas Ray di ikat oleh suster. Waktu itu aku sempat protes dan marah-marah sama rumah sakit. Karena hasil swab cuma pernyataan bukan surat hasil lab yang biasa kita terima.


"Kalian jangan membodohi saya ya, ini saya juga bisa bikin saya mau hasil lab bukan surat pernyataan seperti ini. Kalian mau saya laporkan." Aku gebrak meja dan melempar surat pernyataan. Abis itu Mas Ray langsung di pindahkan. Itu membuat Mas Ray trauma.


Setelah Mas Ray di bujuk akhirnya Mas Ray mau berobat, tapi di klinik dekat rumah. Ngga apa-apalah yang penting mas di tanganin dulu.


Sorenya aku dan suami datang lagi kerumah Mas Ray, aku beliin salak. Mas Ray senang banget dan tangannya bisa di gerakan.


Skip


Senin siang, aku datang kerumah Mas. Kulihat wajah mas udah pucat dan tak ada gerakan napas. Aku langsung cek nadi dan dada ngga ada detakkan, napaspun ngga ada. Aku langsung nangis histeris.


Baru aja selesai tujuh harinya mama, loe pergi mas. Ya Allah kenapa kamu berikan hamba cobaan seperti ini, hamba baru aja mengikhlaskan kepergian mama. Kenapa Kau ambil lagi Abang hamba. Ya Allah, aku harus bilang apa sama papa. Pasti beliau terpukul banget. Kehilangan istri dan anaknya secara bersama. Baru aja papa udah mendingan mau makan dan udah mulai semangat. Ya Allah sungguh aku tak tega menyampaikannya.


Aku mengurus surat kematian dan lagi-lagi aku harus menandatangani covid baru surat kematian keluar. Mau ngga mau aku harus tandatangan. Aku heran kenapa prosedurnya seperti ini, sampai aku bilang petugas.


"Saya tandatangan surat ini, dosa kalian yang nanggung. Memanfaatkan orang yang lagi susah." Bentak ku.


😭😭😭😭😭😭😭😭


Mama dan Mas, kalian tenang disana. Kalian udah ngga merasakan sakit lagi. Kalian selalu di hati kami. Mama dan Mas Ray maafkan semua kesalahan ku yang di sengaja atau pun ngga di sengaja. Maafkan aku belum bisa membahagiakan kalian...


Selamat Jalan Mama dan Mas... Aku tidak bisa berkata-kata lagi, aku masih syok. Ngga nyangka kalian pergi begitu cepat.


Ya Allah ampunilah dosa-dosa mama dan mas Ray semasa hidupnya, lapangkanlah kuburannya, terimalah amal dan ibadahnya. Tempatkan mereka di golongan orang-orang beriman atau surga Mu.


Ya Allah berikanlah kami kesabaran dan ketabahan menerima ini semua. Amiin... Amiin... Amiin Ya Robbal'alamin...



***Maaf ya para readers ku yang setia, aku belum bisa update banyak-banyak dulu. Author masih syok... ini aja Author belum tidur dari semalam hingga azan subuh kumandang. Author sedih dua orang yang Author sayangi pergi bersamaan.


Maaf kalau di Bab ini Author curhat...

__ADS_1


Terimakasih yang selalu mendukung novel ini... Ya walau ada yang menghujat novel ini, Author ngga peduli. Malah memberi Author masukan biar semangat updatenya***.


__ADS_2