
Tanpa Dokter Chelsea sadari dari tadi Dokter Erik mengambil rambut dan darah sih bayi, ia sudah mempersiapkan alat untuk mengambil rambut dan darah. Untung si bayi tidak menangis.
"Dok, apa dokter masih di sini Gue mau ada urusan dulu." Tanya Dokter Chelsea menatap Dokter Erik yang sedang asyik memegang tangan bayi Satria.
"Maafkan Om ya. Bukannya Om tidak percaya kalau kamu anak Daddy Abbas, soalnya hasil diagnosa Daddy mu tidak bisa memiliki anak." Kata Dokter Erik dalam hati menatap baby Satria.
Tidak ada jawaban dari Dokter Erik, Dokter Chelsea memberanikan menepuk pundak Dokter Erik.
"Dokter Erik."
Dokter Erik menoleh dan Cup. Tanpa sengaja bibir mereka bersentuhan.
"Hah! Maaf." Dokter Erik menggaruk tengkuk lehernya.
"Eh! Iya, gue pergi dulu. Ya." Dokter Chelsea canggung.
"Ah! Iya, gue juga ada urusan." Dokter Erik juga merasa canggung.
Mereka berdua keluar dari kamar bayi, di depan pintu mereka sama-sama diam dan melemparkan senyum.
"Sumpah ini bukan gue banget, kenapa gue jadi canggung sama si Chelsea." Batin Dokter Erik.
"Duh! Kenapa gue jadi canggung banget dan ini kenapa juga berdetak kencang." Batin Dokter Chelsea.
"Gue."
"Aku."
Mereka bicara berbarengan.
"Loe dulu dech." Dokter Erik mempersilahkan.
"Ah! Itu gw pergi dulu." Kata Dokter Chelsea.
"Ooo... Gue juga." Ucap Dokter Erik.
Mereka pergi lawan arah, Dokter Chelsea sebelah kanan dan Dokter Erik Sebelah Kiri.
πΈπΈπΈπΈπΈ
__ADS_1
Inggris
Alsava dan Nufail mempersiapkan resepsi pernikahan.
Saat ini mereka sedang fitting gaun dan jas pengantin.
"Babay, ini udah beberapa kali aku ganti gaun dan kamu selalu menolak. Kamu mau yang gimana sana pilihin aku gaun dengan selera mu, aku sudah cape." Keluh Alsava.
"Aku mau jangan kebuka, aku ngga mau tubuh mu jadi santapan lelaki lain." Kata Nufail tegas.
"Lah emang aku telanjang, Bay." Alsava mengerutkan alisnya.
"Bukan begitu, Yank. Gini kalau kamu kelihatan belahan dada, punggung, lengan dan bahu mu. aku ngga suka. Yank." Nufail memeluk Alsava posesif.
"Kalau gitu ngga usah ngadain resepsi, lebih baik kamu kurung aku di rumah." Alsava kesel.
"Jangan gitu dong, Yank. Ya udah, kamu pakai itu aja ya." Nufail menunjuk gaun di patung
"No, aku ngga suka." Alsava menolak.
"Baiklah." Akhirnya Nufail pasrah.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Eliana terbangun dari tidurnya. Ia mengucek kedua matanya.
"Akhirnya gue lahiran jadi gue bisa bebas bergerak kemanapun, mumpung Pria Mandul dan Wanita itu masih di rumah sakit. Gue harus buru-buru mengahlikan hartanya menjadi nama gue." Eliana buru-buru turun dari ranjang.
"Aauuww... Sakit." Eliana merasa kesakitan di kelam***nya.
"Sumpah ini sakit banget gue ngga mau lahiran lagi." Eliana kesakitan, lalu ia berjalan gontai-gantai.
Ketika Eliana ingin keluar dari kamarnya, Dokter Chelsea datang.
"Loe mau kemana?." Tanya Dokter Chelsea.
__ADS_1
"Gue ada urusan." Eliana menahan rasa sakit di sekitar Kelam***.
"Jangan kemana-mana dulu loe belum sembuh banget." Kata Dokter Chelsea merangkul Eliana.
"Gue harus pergi ngerti ngga loe, ini demi masa depan gue." Bentak Eliana. Dokter Chelsea kaget dan melepas tangannya.
"Oke, terserah loe. Tapi kalau loe udah selesai urusan loe harus balik, kasihan anak loe nanti." Dokter Chelsea mengizinkan Eliana.
"Gue ngga peduli sama tuh bocah." Eliana ketus dan pergi.
"Orang tua macam apa dia, begitu tega sama darah dagingnya. Satria sungguh malangnya nasib kamu, nak. Tante janji akan selalu ada buat kamu." Kata Dokter Chelsea melihat kepergian Eliana.
Di tempat lain,
Dokter Erik sedang memeriksa dan mencocokkan rambut dan darah Abbas dengan Baby Satria.
"Bismillahirohmanirohim..." Dokter Erik menatap serius.
Setelah beberpa menunggu, akhirnya hasil tes DNA kelar.
"Astaghfirullah..." Kata Dokter Erik terkejut melihat hasil tes.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan Vote, like, dan komentar nya ya.... See you... πππ
__ADS_1