Aku Bukan Siapa-siapa

Aku Bukan Siapa-siapa
Ngidam


__ADS_3

Siang hari, matahari begitu terik sinarnya. Alsava mendatangi kantor Nufail.


"Siang Nyonya." Sapa Satpam.


"Siang semuanya." Alsava tersenyum.


"Wah! Nyonya semakin hari semakin cantik ya." Kata Nisa resepsionis.


"Terimakasih Nis, pujiannya. Aku ke ruang Nufail dulu ya, kalian rajin-rajin bekerja dan jangan menggosip. Oke." Alsava mengacukan kedua jempolnya dan mengedipkan matanya.


"Iya, nyonya." Serentak dan menunduk.


Alsava menuju lift khusus yang di gunakan Nufail sendiri, lalu Alsava memencet tombol buka lift.


Ting


Pintu Lift terbuka dan Alsava masuk kedalam lift, lalu menekan tombol 12. Ruangan Nufail berada di lantai 12.


"Duh! my quadruplet, kalian senang ya mau ketemu Daddy. Tunggu sebentar ya, my quadruplet. Bentar lagi kita ketemu Daddy." Alsava mengelus perutnya.


Alsava tiba di lantai 12.


"Hai, Joe. Suami saya ada?." Sapa Alsava yang berpapasan dengan Joe.


"Sedang meeting, Nyonya bos." Joe menunduk hormat.


"Oke, saya akan tunggu di ruangan saja. Oia, kamu jangan bilang kalau saya datang ya."


"Oke, siap Nyonya bos."


Alsava memasuki ruangan Nufail, lalu duduk di singgah sana Nufail biasa duduk.


"Kita beri kejutan buat Daddy, my quadruplet."


Beberapa menit kemudian, Nufail dan Joe memasuki ruangan.


"Aarrgghhh... kenapa mereka semuanya bodoh?mereka itu harusnya lebih serius lagi." Nufail marah, Nufail tadi meeting dengan bagian marketing. Karena kinerja marketing menurun.


"Sabar, bos. Sekarang bos minum dulu, biar tenang." Kata Joe, lalu menyodorkan minuman dingin yang menggoda. Nufail melihat gelas yang di pegang Joe, menelan ludah. Minuman itu sangat menggoda Nufail, semenjak Alsava hamil. Nufail selalu minum air dingin atau minum yang ada es batunya.


"Loe tau aja apa yang gue suka." Nufail langsung mengambil gelas di tangan Joe dan meminum sampai habis isinya.


"Babay." Suara lembut Alsava tepat di telinga Nufail.


Bbuuyyrr


Nufail menyebur kena wajah Joe.


"Sory-sory, Joe. Gue ngga sengaja, gue tadi mendengar suara bini gue." Kata Nufail dan memberi saputangan ke Joe.

__ADS_1


"Ck, tuh belakang Bos ada nyonya bos." Joe cemberut sambil mengelap wajahnya.


"Hah!." Nufail terkejut dan membalikkan badan.


"Sayang, kamu kapan datang?." Nufail memeluk Alsava.


"Lumayan, Kok." Alsava mengerat pelukan Nufail.


"Ck, mulai darkor. Lebih baik saya keluar bos." Joe undur diri.


"Sana ganggu aja." Usir Nufail.


Joe keluar sambil menggelengkan kepala melihat tingkah laku Nufail, kalau sudah ketemu Alsava. Dia menjadi pria lembut dan manja.


"Oia, kamu kesini sama siapa. Yank." Nufail masih memeluk Alsava.


"Lepasin dulu, aku cape berdiri terus." Alsava sudah merasa risih di peluk lama-lama.


"Hehehe... Maaf." Nufail cengengesan.


"Aku kesini sama mang supir dan mamang bodyguard."


"Ooo... Alhamdulillah... Kamu kesini ngga sendiri. Aku itu sangat mencemaskan mu, tapi aku senang kamu kesini." Nufail mencium bibir Alsava.


"Ish! Udah hentikan nanti kamu malah minta lebih." Alsava melepas ciuman.


"Lah emang kenapa kalau aku minta lebih hm?." Nufail mencolek dagu Alsava.


"Oke, tapi abis ini boleh ya." Nufail menaikkan kedua alisnya.


"Terserah." Alsava pasrah.


Mereka berdua menuju restaurant di depan kantor. Semua karyawan merasa kagum dan iri dengan Alsava dan Nufail, mereka merupakan pasangan serasi.


Mobil kesayangan Nufail sudah terpakir di lobi, sebelumnya Nufail memerintahkan Joe untuk mengeluarkan sih Hitam manis, mobil kesayangan Nufail.


"Silakan masuk Ratu ku." Nufail membukakan pintu untuk Alsava.


"Terimakasih, Raja ku." Alsava tersenyum manis.


"Uhu! itu bibir pengen aku lahap sepuasnya." Nufail merasa gemes dengan Alsava.


"Enak aja, nanti aku mau makan ngga bisa."


Nufail menutup pintu, setelah Alsava masuk. Lalu ia memutari mobil dan membuka pintu. Kemudian ia masuk kedalam mobil.


"Sudah siap, Baby." Nufail menutup pintu dan memasang seltbeth.


"Sudah, Babay." Alsava membenarkan duduknya.

__ADS_1


Mereka menuju restaurant dengan membawa sih Hitam manis. Padahal restaurant tepat di depan kantor, Nufail ngga mau nanti Alsava kepanasan dan kecapean jalan.


Mereka tiba di restaurant, lalu mereka turun. Nufail merangkul pinggang Alsava dan memayungi Alsava.


"Hari ini panas banget, aku ngga akan membiarkan kamu dan My quadruplet kepanasan."


"Ulu-Ulu... So sweet banget sih ini suamiku." Alsava mencium pipi Nufail.


"Ya jelas dong." Nufail juga mencium pipi Alsava.


Nufail memberikan payung ke satpam.


"Tolong jaga itu payung, ingat itu payung sangat berharga bagi gue." Nufail ketus.


"Ba-baik, tuan." Satpam ketakutan.


"Ish! kamu, jangan ketus gitu kasihan pak satpamnya." Alsava mencubit pinggang Nufail.


"Auwww... Sakit, Yank. Udah aku kan cuma bercanda... Maaf ya, pak satpam." Nufail mengelus pinggangnya.


"I-iya, tidak apa-apa. Tuan... Silakan tuan dan nyonya masuk." Satpam ramah dan membukakan pintu.


Mereka masuk dan memilih tempat VIP, ketika Nufail ingin memanggil pelayan. Alsava menghentikan.


"Stop, aku ingin kamu yang menggantikan pelayan itu. Karena ini permintaan my quadruplet." Alsava mengelus perutnya.


"Aku ngga mau, Yank. Masa aku ganteng dan tajir malah jadi pelayan sih, jangan aneh-aneh dech."


"Kamu ngga mau melakukannya, emang kamu mau nanti ke empat anak kembar mu nanti ileran. Lupakan kegantengan dan ketajiran mu ini demi anak-anak mu, Bay. Aku ini lagi ngidam." Alsava agak sewot.


"Oke-oke, aku turuti permintaan kalian." Nufail pasrah, Alsava berbicara dengan manager restaurant untuk memberikan pakaian pelayan ke Nufail.


"Nah! kalau gini kamu kan tambah ganteng, Bay. Aku jadi makin cinta sama kamu." Alsava mengecup bibir Nufail, agar Nufail tidak cemberut.


"Baiklah, demi kalian aku kaya gini. Kalian ini belum keluar aja udah nyusahin Daddy, kalau udah keluar kalian jangan nakal, ya." Nufail mengelus dan mencium perut Alsava.


"Iya, Daddy. Tapi nanti tergantung." Alsava berbicara seperti anak kecil.


"Ish! yaudah kalian mau makan apa?."


"Bukan aku kamu tawarin, tapi pengunjung disini. Abis itu baru kita makan."


"Huh! Baiklah." Nufail menghela napas dan mengiyakan permintaan Alsava, ia tidak mau lagi berdebat.


Nufail menjiwai perannya sebagai pelayan, agar ngidam istrinya itu sukses dan ia juga ingin cepat-cepat menyudahi perannya. Karena banyak wanita yang menggodanya, ia merasa risih dan tidak suka. Ia sudah beberapa kali minta menyudahi perannya, tapi Alsava masih kekeh dengan permintaannya.


"Nasib-nasib jadi seorang pria, untung gue sayang dan cinta sama bini dan My Quadruplet." Kata Nufail dalam hati.


Alsava merasa senang Nufail mau memenuhi permintaan konyolnya. Dia ingin melihat keseriusan Nufail, bahwa cuma ia aja yang di cintai. Nufail tidak tergoda satupun perempuan malah ia ketus dan dingin.

__ADS_1


"Babay, ternyata kamu benar-benar mencintai ku. Maafkan aku, tapi ini juga kemauan anak-anak mu juga." Alsava tersenyum senang.


__ADS_2