
"Hoek... Hoek... Hoek..."
Alsava terbangun mendengar suara orang muntah, dia melihat ke samping tidak ada Nufail, lalu menuju kamar mandi.
"Hoek... Hoek... Hoek..."
"Ya Allah, Babay." Alsava Panik melihat Nufail muntah-muntah.
"Aku lemas, Yank." Lirih Nufail, ia menjatuhkan diri ke lantai.
"Bay, Babay ku... Suamiku... Sayang ku... Bangun... Jangan membuat aku khawatir. Hiks... Hiks... Hiks..." Alsava memeluk erat Nufail dan menangis.
"Aku ngga apa-apa, sayang. Istriku... Cinta ku... Cup..." Nufail mengecup bibir Alsava.
"Tenang aja, oke. Aku cuma lemas, Yank." Nufail memegang pipi Alsava.
"Hiks... Hiks... Hiks... Aku takut kehilangan mu, Babay."
Nufail merasa senang dan dia pun tersenyum mendengar perkataan Alsava.
"Aku ngga akan pernah meninggalkan kamu, Yank." Nufail memeluk Alsava.
"Janji ya."
"Iya, Istriku."
"Udah yuk, kita mandi."
"Ya udah, yuk."
1 Jam Kemudian.
"Ish, kamu kebiasaan. Aku ngga mau mandi bareng lagi sama kamu." Alsava mengerucutkan bibirnya dan melipatkan tangan didadanya.
"Maaf, abis aku ngga bisa tahan melihat mu tanpa busana. Yank, tubuh mu sudah membuat ku kecanduan." Nufail duduk di samping Alsava dan memegang tangan Alsava.
"Tau ah!." Alsava membuang muka.
"Maafin aku, Yank. Please maafin." Nufail duduk di bawah dengan wajah sedih dan mengantupkan kedua tangan.
"Hufh... Baiklah, tapi aku boleh ikut kamu kekantor ya." Alsava menghela napas, ia tidak tega melihat Nufail.
"Aku ngga mau, aku takut kejadian kemarin menimpa mu lagi." Nufail bangun dari duduk.
"Ya udah, jangan harap kamu aku akan memaafkan mu." Alsava hendak pergi langsung di cegah Nufail.
"Baiklah, tapi kamu janji jangan pernah keluar dari ruangan ku. Tanpa seijin ku dan aku." Nufail memeluk Alsava dari belakang.
Alsava membalikkan tubuhnya dan mengecup bibir Nufail.
"Iya, Babay."
__ADS_1
"Menggemaskan sekali istriku ini, Mmuuaacchh." Nufail mencium bibir Alsava.
"Udah ah! aku mau siap-siap dulu." Alsava melepas ciuman.
"Oke, aku tunggu kamu."
Alsava keluar udah rapi dan ia sedang memakai parfum, membuat mata Nufail terbelalak.
(Anggap aja perut Alsava perutnya agak buncit ya).
"Ya Allah, cantik sekali istriku ini." Nufail memeluk Alsava dari belakang.
"Memang aku cantik."
"Tapi ini terlalu seksi, Yank. Aku ngga mau orang lain melihat kemulusan paha kamu, yang boleh menikmati cuma aku aja." Nufail memegang paha Alsava.
"Tapi aku mau pakai ini, Yank."
"Kalau kamu ngga mau, lebih kamu ngga usah ikut." Nufail melepas pelukkan dan mengambil jasnya.
"Oke-oke, aku ganti."
Alsava keluar dengan cemberut.
"Nah! kalau begini kan cantik luar dalam, aku sangat menyukai. Udah kamu jangan cemberut, nanti siang terserah kamu mau kemana." Nufail menarik hidung Alsava.
"Iya, sayang."
"Kalau gitu kita ke mall ya."
"Terserah kamu aja. Ya udah, yuk. Kita sarapan."
"Tapi gendong." Alsava melingkarkan tangannya keleher Nufail.
"Bayi besar ku, Mmuuaacchh." Nufail menggendong Alsava seperti Kuala.
Mereka turun menggunakan lift, bodyguard dan pelayan melihat kemesraan majikannya. Merasa senang dan bahagia.
"*Mereka selalu romantis ya, jadi pengen cepat-cepat nikah."
"Duh! Bikin hati aku meleleh melihat kemesraan mereka."
"Kapan aku mendapatkan jodoh?."
"Semoga mereka selalu bahagia, hingga akhir hayat."
"Awas aja nanti kalau ada pelakor, nanti ngga segan-segan aku beri. Tapi mana mungkin mereka begitu saling mencintai*."
__ADS_1
Itulah kata-kata dalam hati para bodyguard dan pelayan.
"Selamat pagi Tuan, Nyonya." Serentak para bodyguard dan pelayan.
"Pagi Semua..."
"Mmm..." Nufail hanya mengangguk.
"Ish!! Kamu jangan begitu, mereka kan juga sama seperti kita. Aku ngga mau nanti my quadruplet seperti mu dingin dan datar ke semua orang." Alsava memukul pelan pundak Nufail.
"Iya, sayang... Pagi semua." Nufail mendudukan Alsava di kursi.
"Nah gitu dong, ini baru suami ku." Alsava merasa senang.
"Kamu makan yang banyak, yank." Nufail mengambil beberapa lauk dan nasi untuk Alsava.
"Terimakasih, Bay."
Skip
Nufail dan Alsava tiba di perusahaan.
"Sayang, aku ada meeting sebentar. Ingat pesan ku, kamu jangan pernah keluar dari ruangan ku." Nufail memegang pinggang Alsava dan menarik hidung Alsava.
"Iya, Babay ku. Tapi jangan lama-lama meetingnya, ya. Aku nanti bosan menunggu." Alsava menjatuhkan kepala di dada bidang Nufail.
"Iya, Sayang. Cup... My quadruplet jaga Mommy ya... Jangan biarkan Mommy kabur lagi oke." Nufail mengecup bibir Alsava, lalu mengelus perut Alsava.
"Ck, malah ngadu. Udah sana kamu meeting." Alsava mendorong pelan Nufail.
"Iya, sayang. Mmuuaacchh..." Nufail mencium bibir Alsava.
Nufail dan Joe keruang meeting, sedangkan Alsava duduk di meja kebanggaan Nufail. Lalu ia menyalakan laptop Nufail, matanya terbelalak melihat foto dirinya ada di laptop.
"Kapan dia ambil mefotoku, malah di jadikan wallpaper lagi."
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan Lupa like, vote, komentar dan hadiahnya...