
Abbas dan Sekretaris Roy mendatangi perusahaan Nufail dan Alsava.
"Mereka Benar-benar kaya ya, Tuan. Lihatlah bangunan perusahaan sangat unik, terletak di pinggir pantai. Bakalan betah nih lihat pemandangan kaya gini." Kata Sekretaris Roy terpesona.
(Contoh ya, anggap aja ini perusahaan berada di Indonesia. Harap maklum di dunia halu... 😄😄😄😄).
"Astaga Roy, loe kenapa jadi norak kaya gini sih. Bikin malu gue aja." Abbas menggeleng-geleng kepalanya.
"Ya kan, kita baru pertama kali lihat bangunan seperti ini. Tuan, membuat saya merasa takjub akan keindahan di sekitar perusahaan." Kata Sekretaris Roy.
"Selamat pagi, Tuan. Bisa saya bantu." Resepsionis ramah.
"Selamat pagi, mba. Saya Sekretaris Roy dan ini Tuan Abbas. Kita mau bertemu dengan Tuan Nufail dan Nyonya Alsava." Sekretaris Roy tersenyum ramah.
"Ck, sama perempuan cantik. Bisa tersenyum ramah gitu." Gerutu Abbas.
"Hehehe... Sekalian cari jodoh, Tuan." Sekretaris Roy cengengesan.
"Terserah loe dech... Gimana mba bisa kami bertemu dengan mereka, kami juga sudah buat janji sebelumnya." Kata Abbas, ia tidak suka berlama-lama.
"Tunggu sebentar saya harus informasikan kembali ke Pak Joe, selaku asisten Tuan Nufail."
"Baik, kami tunggu."
Resepsionis menelpon Asisten Joe. Kemudian, Asisten Joe turun menemui Abbas dan Sekretaris Roy.
"Selamat pagi, Tuan. Perkenalkan saya Asisten Joe, anda sudah di tunggu. Mari ikuti saya." Asisten Joe tegas.
"Baik." Serentak.
"Tuan, Asistennya terlihat menyeramkan." Bisik Sekretaris Roy.
"Udah, loe diam aja." Balas Abbas.
Ting.
"Silakan Tuan-tuan." Asisten Joe mempersilahkan Abbas dan Roy memasuki Lift Khusus tamu.
"Hebat sekali ini kantor memiliki lift khusus tamu, biasanya cuma lift khusus presiden dan karyawan. Benar-benar menajubkan ini kantor." Kata Roy dalam hati.
__ADS_1
Tak lama kemudian, mereka tiba di lantai khusus presiden. Yaitu lantai 50, lantai paling atas. Tapi kalau mau ke rooftop tinggal naik tangga jalan, sebelah lift.
"Maaf Asisten Joe, tangga ini mau arahnya kemana?." Sekretaris Roy bingung, karena masih ada tangga lagi.
"Itu menuju rooftop." Jawab Joe cuek dan melanjutkan jalannya.
"Dasar pria dingin." Kata Roy dalam hati, ia menghina Joe.
Abbas dan Roy mengikuti Joe.
"Silakan masuk, Tuan... Kalian menunggu sebentar, saya akan panggilkan Tuan Nufail dan Nyonya Alsava."
"Baik, Terimakasih."
Abbas dan Roy berjalan menuju sofa, lalu seorang OB datang membawakan minuman dan beberapa cemilan.
Tok...
Tok...
Joe mengetuk pintu ruangan Nufail.
"Ya, masuk." Teriak Nufail.
"Oke... Sayang, kamu disini aja. Aku ngga mau kamu ketemu dia, aku sangat cemburu melihat dia memandangi mu terus nanti." Kata Nufail terus terang.
"Baiklah, demi menjaga hati suami ku aku akan tetap disini." Alsava memegangi pipi Nufail.
Cup
Nufail mengecup bibir Alsava.
"Nak, Daddy pergi sebentar ya. Jaga Mommy kalian untuk Daddy, Oke." Nufail mengelus perut Alsava yang sudah terlihat buncit.
"Baik, Daddy. Semangat kerjanya ya." Alsava meniru suara anak kecil.
Nufail dan Joe keluar dan menuju ruang khusus tamu.
"Selamat Pagi, Tuan Abbas." Kata Nufail, ia datang bersama Joe.
"Kemana Alsava, apakah dia tidak datang atau dilarang sama suaminya untuk ketemu Gue. Padahal gue ingin minta maaf sama dia." Batin Abbas, ia nampak kurang semangat.
__ADS_1
"Pagi, Tuan Nufail, perkenalkan saya Sekretaris Roy dan ini bos saya, namanya Abbas Ferdinand." Sekretaris Roy menjabat tangan Nufail.
"Saya sudah kenal dengan kalian, silakan duduk." Kata Nufail, Joe duduk di sebelah Nufail.
"Ini proposal dan dokumen-dokumen mengenai perusahaan kami dan ada beberapa proyek yang sedang berhenti, karena kami sedang membutuhkan dana dari para investor." Roy menjelaskan.
"Baik, saya akan memperlajari. Nanti bila oke, biar Asisten Joe yang menghubungi kalian." Nufail memberikan proposal dan dokumen-dokumen kepada Joe.
"Baik, Tuan. Kami sangat menunggu kabar dari Anda." Kata Abbas, ia ingin menjabat tangan Nufail. Tapi Nufail cuek tidak membalas jabatan tangan Abbas.
"Kalau begitu saya permisi dulu." Nufail bangun dari tempat duduk dan berjalan keluar ruangan.
"Sumpah, Tuan. Saya tegang abis, walau tuan Nufail terlihat ramah. Tapi bikin tegang wajahnya, sama seperti Asistennya." Sekretaris Roy menghela napas dan menyenderkan badannya ke sofa.
"Uh!, dia masih terlihat marah sama Gue. Padahal Gue tadi ingin minta maaf dan menjalin pertemanan, eh! Tapi wajahnya begitu. Gue mengurung niat Gue, loe berdoa aja. Biar Nufail setujuh menjadi investor di perusahaan kita." Abbas memegang pundak Roy, lalu berdiri.
"Yuk, kita kembali ke perusahaan." Katanya lagi.
"Siap, Tuan." Sekretaris Roy ikut bangun dari duduknya.
Setelah Joe mengantar Nufail keruangannya, ia kembali keruang khusus tamu.
"Silakan, Tuan. Saya akan mengantar sampai bawah." Kata Joe.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa Like, Vote dan Komentar ya...
See you.... 😘😘😘😘😘