
Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Saat ini Khumaira sudah melahirkan anak perempuan yang cantik dan imut, Abbas begitu bahagia melihat putrinya yang ia tunggu selama ini akhirnya lahir.
"Terima kasih ya Allah kau hadirkan putri cantik, ku beri nama Jauharah Hasna Fathinah yang artinya Perempuan yang bagaikan batu permata yang cantik dan bijak." Kata Abbas mencium putrinya.
"Bagus sekali mas, kenapa tidak mencantumkan nama keluarga mas?." Khumaira sangat senang Abbas mencari nama untuk putrinya, tapi ia merasa aneh kenapa tidak di cantumkan nama keluarga.
"Sayang, bukan aku ngga mau mencantumkan nama keluarga. Di sini aku bingung keluarga mana yang harus aku cantumkan."
"Nak, ngga usah cantumkan nama keluarga juga ngga apa-apa. Yang penting bayi kalian sehat dan menggemaskan." Kata Mami Siska yang baru saja keluar dari rumah sakit. Sebelumnya Mami Siska tidak mau di ajak pulang, ia lebih senang bersama orang-orang di rumah sakit. Karena bisa membantu mereka untuk menjalankan sholat.
"Iya, Mi. Aira senang akhirnya Mami mau pulang kerumah." Khumaira memeluk Mami Siska.
"Iya, Nak. Mami ingin bersama cucu Mami dan Mami disana hanya untuk membantu suster untuk menangani orang-orang sakit jiwa untuk melakukan sholat lima waktu, yah. Walau susah ya, mengajarkan orang-orang sakit jiwa belajar sholat dan mengaji. Tapi itu sangat seru dan Mami bisa melatih kesabaran Mami, Nak." Kata Mami Siska merangkul Khumaira.
"Alhamdulillah, Mi. Aira tambah bangga mempunyai mertua seperti Mami." Khumaira memeluk lagi Mami Siska.
"Mami, malah yang bangga mempunyai mantu seperti mu. Nak."
"Ish!, kebiasaan kalian kalau sudah bertemu aku selalu di lupakan." Kata Abbas merajuk.
"Hahaha... Kamu jangan cemberut gitu dong, mas. Masa kamu cemburu aku dekat sama Mami."
"Mas bukan cemburu sayang, mas merasa kesal aja. Setiap kalian bertemu selalu saja aku di lupakan."
"Sudah-sudah, sini kamu Mami peluk juga." Mami Siska menarik tangan Abbas dan memeluk anaknya.
"Mi, aku mau menanyakan dari dulu. Siapa ayah kandung ku? Maaf kalau Abbas menanyakan seperti ini, Mi." Abbas melepaskan pelukan dab memegang tangan Mami Siska.
Mami Siska menarik napas dan menatap Abbas.
__ADS_1
"Huh!, Ngga apa-apa nak. Kamu memang berhak tau, ayah kandung mu itu rekan bisnis Papi Mario. Karena saat itu Papi mu dulu masih mengejar cintanya, Mami sangat panik dan ngga mau kehilangan semuanya. Jadi Mami melampiaskan ke rekan bisnis Papi mu itu, lama-kelamaan Mami sangat menyukai rekan bisnis Papi mu. Karena dia lebih perkasa dari Papi, beberapa kali kami berhubungan intim akhirnya Mami hamil. Mami memberitahukan Papi, betapa senangnya Papi. Karena sebelumnya kakak mu meninggal di dalam kandungan, menjadikan Papi ingin kembali mengejar cintanya kembali. Tapi ini semua salah Mami, karena terlalu mencintai Papi mu. Mami bersedia melakukan apa saja agar bisa mendapatkan Papi mu, sampai Mami relakan keperawanan Mami untuk Papi. Alhamdulillah sekarang Mami sudah merelakan semuanya, Mami ngga mau lagi haus cinta, perhatian dan harta. Saat ini Mami ingin menikmati masa tua Mami bersama kalian."
"Iya, Mi. Aira senang kita bisa berkumpul."
"Mi, Ayah kandung Abbas siapa namanya?."
"Namanya Alex Sebastian Scott. Sampai saat ini Mami ngga tau keberadaannya, karena Mami terlalu asyik dengan Papi mu dan hartanya. Kalau kamu mau mencari silakan, Mami ngga melarangnya. Itu sudah hak kamu, Nak."
"Iya, Mi. Terimakasih, Mi. Sudah mau berubah, aku lebih suka dengan Mami yang seperti ini. Mami lebih hangat, aku baru merasakan pelukan hangat dari seorang ibu."
"Maafkan Mami, ya. Mami selalu cuek sama kamu."
"Ngga apa-apa, kok. Mi."
πΈπΈπΈπΈπΈ
Nufail dan Alsava sedang repot mengurus si kembar 4 karena mereka sudah mulai aktif, ya. Mereka sudah bisa berjalan dan tidak mau berhenti berlari kesana kemari.
"Ya ampun, sayang anak mu itu membuat ku kewalahan. Aktif banget sayang." Keluh Nufail, ia menghempaskan tubuh di sofa.
"Hahaha... Baru seperti itu aja sudah lelah, bagaimana dengan ku yang mengandung mereka selama sembilan bulan di perutku. Mereka selalu aktif." Alsava menggelengkan kepala.
"Iya, sayang. Maaf ya."
"Dad-dad, Mo-mo." Panggil Sih kembar 4 yang sudah bisa bicara tapi kurang jelas.
"Iya, sayang. Ada apa?." Kata Nufail mengelus rambut sih Kembar 4
"Cu... Cu... Cu... Cu..."
__ADS_1
Nufail menaikan alisnya.
"Daddy ngga ngerti apa yang kalian inginkan, coba ulang dengan jelas."
"Cu... Cu... Cu... Cu." Sih Kembar 4 sudah mulai merengek. Alsava tertawa melihat Nufail kebingungan.
"Maaf Nyonya, ini susu tuan-tuan muda dan nona-nona muda." Kata Pelayan menyerahkan nampan.
"Terimakasih, Bi."
"Nih susu buat kalian." Alsava memberikan satu persatu botol susu.
"Oh! kalian mau susu, maaf Daddy ngga tau."
πΈπΈπΈπΈ
Papi Mario dan Umi Aisyah lebih menikmati berkebun, mereka lebih senang berkebun. Banyak yang mereka tanam, seperti sayuran dan buah-buahan.
rumah yang mereka tempati sangat luas dan asri, karena mereka tinggal di daerah Bandung. Papi Mario tidak mempermasalahkan untuk memiliki anak dari Umi Aisyah, ia sadar betul. Karena umur mereka sudah tua dan ngga mungkin memiliki anak, lebih baik mengurus cucu dari Alsava dan Nufail. Juga Abbas dan Khumaira.
--------------------------- TAMAT ------------------------
Hufh, Akhirnya tamat juga... Maaf ya selama ini banyak kesalahan dalam penulisan dan mungkin novel ini jelek atau tidak berkesan buat kalian. Author maklumi, karena aku sedang belajar menulis novel.
Menjadi penulis merupakan salah satu cita-cita ku. Banyak sekali hambatan aku menulis novel ini, dari kerjaan kantor, mengurus anak, suami dan orangtua. Bahkan Sampai Mama dan Abang ku di rawat di rumah sakit, aku masih menulis novel. Tapi Alhamdulillah berkat dukungan kalian aku menjadi semangat, yah walau ada yang keritik pedas aku tetap menulis novel dan memperbaiki kesalahan.
Terimakasih ya... Kalian masih setia mendukung novel ini... Insya Allah aku kedepannya akan menulis novel yang lebih seru dari ini...
See you.... ππππππ
__ADS_1