
Eliana merasa tubuhnya remuk, udah beberapa kali ronde dia melakukan hubungan intim dengan berbagai pria yang di berikan anak buah Nufail.
"Sial badan gue remuk banget. Gue akan membalas apa yang terjadi saat ini, lihat aja Nufail siapa nanti yang akan bertahan." Gerutu Eliana, ia berjalan keluar kamar. Ketika Eliana berjalan melewati kamar yang pintunya kebuka, Eliana melihat tubuh Iwan yang kekar dan ada roti sobek. Membuat Eliana tergiur.
"Gila badannya oke banget, ini mah Abbas kalah. Gue harus coba kekuatannya." Kata Eliana dalam hati. Lalu ia memasuki perlahan-lahan. Kemudian Eliana menyentuh punggung Iwan yang terlihat menggiurkan. Merasa ada yang menyentuhkan Iwan membalikkan badan.
"Loe ngapain ke sini?." Iwan berlonjak kaget kalau yang menyentuhnya adalah Eliana.
"Ish! kaget ya melihat kecantikan dan keseksian diri ku." Eliana genit.
"Ck, pede banget. Sana loe keluar dari kamar gue." Iwan merasa merinding dengan sifat Eliana yang genit.
"Jangan malu gitu." Eliana memegang sang ular milik Iwan. Mata Iwan membulat.
"Apa yang loe lakukan, dasar ja**ng menjijikkan sana. Kalau loe ngga keluar gue akan tembak loe saat ini juga." Iwan langsung menodong kepala Eliana dengan pistol yang dari tadi dia pegang untuk di bersihkan.
"Oke-oke gue pergi." Eliana mengangkat kedua tangan dan langsung pergi.
"Ck, dasar cowok munafik. Lihat aja gue akan mendapatkan loe, sumpah itu ularnya gede banget. Aarrgghhh... gue pengen. Gue harus bisa ngerasain itu ularnya si kacung." Batin Eliana.
"Ih! Sumpah gue merinding banget. Gue harus mandi biar kumannya ja**ng hilang." Iwan merasa merinding dan buru-buru ke kamar mandi, bukan untuk menuntaskan hasratnya. Tapi membersihkan badannya yang abis di pegang Eliana.
Eliana menghampiri Cloe dan Bianca yang sedang tidur-tiduran di ranjang.
"Guys, gue punya berita nih." Heboh Eliana.
"Gue tau pasti kita di bebaskan ya?." Kata Cloe senang.
__ADS_1
"Iya, pasti kita kan udah lama disini." Kata Bianca.
"Kalau itu gue ngga tau, tapi si kacung Iwan body dan ularnya sangat mantap. Gue pegang itu ularnya bbbeeehh... gedang alias gede banget." Eliana membayangkan tubuh Iwan.
"Pea Loe, gue kira apaan. Gue udah cape begituan, walau itu obat masih pengaruh dari tubuh kita. Tapi jujur gue cape banget, lihat nih punya gue lecet." Cloe menonyor kepala Eliana dan menunjukkan **** * nya.
"Gue udah yakin itu, apalagi si Sony dia pasti tidak kalah sama si Iwan." Bianca menanggah dagunya dengan tangan kanan dan membayangkan menikmati tubuh Sony.
"Benar, itu kita harus kerja sama untuk mendapatkan tubuh mereka. Aarrgghhh... rasanya gue udah ngga tahan untuk mencicipi tubuh mereka." Kata Eliana.
"Dasar kalian ini maniak ****." Cloe ngga abis pikir dengan dua temannya yang begitu merasakan tubuh Sony dan Iwan.
"Loe belum lihat aja, kalau udah ngelihat juga penasaran juga. Benar ngga, Bi?." Eliana menaikkan alisnya.
"Benar banget." Kata Bianca.
"Ck... Dasar tuh manusia di kasih enak malah menolak." Kata Eliana.
"Udah biarin aja, lebih baik kita buat strategi bagaimana bisa mendapatkan tubuh mereka. Loe tau sendiri mereka bukan cowok hidung belang, bakalan susah banget dapatnya." Kata Bianca.
"Itu mah bisa di atur, gue mau rehat sebentar. Badan gue cape banget."
"Ck... Tadi semangat banget."
"Kan kalau kita buat strategi itu butuh tenaga."
"Terserah loe aja, Oia. Loe kagak kangen sama anak loe dan loe juga ngga takut penyakit apa loe kan baru abis melahirkan."
__ADS_1
"Gue ngga mikirin, gue udah muak dengan anak itu apalagi suami gue. Udahlah jangan bahas mereka, gue mau tidur."
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa like, komentar dan votenya ya...
Oia saran nih foto yang pas buat anak Alsava dan Nufail seperti apa?
.
.
.
__ADS_1