
Hampir setiap hari ia belanja, menggunakan black cardnya Abbas.
"Senangnya jadi nyonya Abbas satu-satunya, apalagi hidup di Mansion utama yang luas dan besar. Hidup gue Benar-benar indah." Eliana berjoget-joged ria.
"Apalagi sih wanita tua dan pria bodoh di rumah sakit. Jadi sekarang gue penguasa di Mansion Utama." Ucapnya lagi.
"Gue heran dua manusia itu dari keluarga pendidikan, tapi bodoh gue mainkan. Hahaha... Pokoknya gue senang banget... Hey! anak ku kita sekarang kaya raya dan tidak akan orang yang berani menghujat kita, karena Daddy sambung kamu sangat berkuasa di negeri ini. Melebihi presiden Hahahaha..." Mengelus perutnya yang buncit.
Usia kandungan Eliana sebenarnya sudah memasuki 9 bulan, karena Eliana yang licik. Dia memalsukan usia kehamilannya. Tiba-tiba perutnya terasa sakit
"Ish!! Aauuww... Perut gue sakit, apa mau melahirkan. OMG, gue harus gimana?." Eliana panik.
"Gue harus bagaimana, Oia gue harus menghubungi Dokter Chelsea." Eliana mengambil ponsel di nakas, lalu ia buru-buru menghubungi Dokter Chelsea yang merupakan dokter yang menangani kehamilannya.
"Ha-halo, Chel. Perut gue sakit, gue mohon loe cepat dateng ke Mansion Utama Abbas Ferdinand sekarang. Gue udah ngga kuat." Eliana merintih kesakitan.
"Baiklah, selama gue perjalanan loe tarik nafas dan buang dari mulut. Terus seperti itu sampai gue datang." Kata Dokter Chelsea memberikan arahan.
Tak lama kemudian, Dokter Chelsea beserta bodyguard datang dan langsung membawa Eliana yang sudah kesakitan.
Pelayan dan satpam di rumah tidak berani berhadapan dengan Eliana, takut di adukan oleh Mami Siska dan Abbas. Mereka selalu menuruti permintaan Eliana, termasuk memanggilnya nyonya.
"Itu nyonya Eliana kenapa?." Kata Bi Minah, pembantu paling muda
"Tidak tau, Bi. Lebih baik kita bekerja aja." Ucap bi Iyem. Pembantu paling tua.
__ADS_1
Eliana langsung di larikan ke rumah sakit milik Erik.
"Duh! Chel. Sumpah sakit banget, Hiks... Hiks... Hiks... Kalau tau sakitnya mengandung gue ngga akan mengandung." Eliana merasa kesakitan yang luar biasa.
"Sabar, ya. Ini lah perjuangan ibu saat melahirkan, makanya loe jangan durhaka sama nyokap loe." Dokter Chelsea sewot.
"Hiks... Hiks.. Hiks... Iya, cepat dong bawa mobilnya. Gue udah sakit banget." Eliana menarik rambut bodyguard di sebelah kanan.
"Ya Allah, nona. Tolong lepaskan rambut anda, saya sudah kesakitan." Kata Bodyguard.
"Ngga bisa, kalau loe udah sampai rumah sakit akan gue lepasin." Eliana menolak.
Akhirnya sampai di rumah sakit, penampilan bodyguard udah berantakan.
"Kalau bukan istri tuan Abbas udah gue pites kaya remukan peyek." Kesel salah satu bodyguard.
"Bukannya itu Eliana, istrinya Abbas. Kok dia di masuki ruang bersalin, Apa dia mau lahiran. Tapi usia kandungan dia udah 7 bln jalan 8, ah! Ngga tau. Nanti gue cek dech." Kata Dokter Erik.
Di dalam ruangan bersalin, Dokter Chelsea dan suster memberikan intruksi atau aba-aba.
"Ayo, El. Loe trik napas dan coba loe ngeden." Kata Dokter Chelsea.
"Huh... Huh... Huh... Aarrgghhh..." Teriak Eliana
"Oek... Oek... Oek..." Suara tangisan bayi mungil.
__ADS_1
"Selamat, ya. El. Anak loe laki-laki." Dokter Chelsea menggendong bayi laki-laki Eliana.
"Ya... Ya... udah bawa sana, gue mau istirahat. cape abis lahiran." Eliana tidak mau menggendong atau melihat anak yang baru ia lahirkan.
"Tapi anak loe harus beri Asi pertama dulu." Ucap Dokter Chelsea.
"Terserah, tapi gue mau tidur." Eliana tidak peduli.
Eliana tertidur, sedangkan Dokter Chelsea membantu Baby Eliana untuk menyusu di punting ibunya.
"Benar-benar ini orang, bisa-bisanya nyusui Bayinya bisa tidur pulas." Dokter Chelsea menggelengkan kepala.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like, vote dan komentarnya yaa....