Aku Bukan Siapa-siapa

Aku Bukan Siapa-siapa
Anak Sultan


__ADS_3

Mereka berdua menuju dapur.


"Udah sampai turunkan aku, Bay."


"Baiklah." Nufail perlahan-lahan menurunkan Alsava.


"Lihat tuh, di kulkas ngga ada apa-apanya." Alsava yang sudah menuju di depan lemari es.


"Bukan di situ, sayang. Yuk ikut aku." Nufail mengelus rambut Alsava dan menggandeng tangan Alsava.


"Emang mau kemana sih, Bay." Alsava penasaran.


Ceklek


Pintu di buka.



"Masya Allah, ini supermarket. Bay." Alsava terbelalak matanya.


"Iya, tepatnya supermarket pribadi khusus buat kamu." Nufail menowel hidung Alsava.


"Kapan kamu buatnya? kamu memang penuh kejutan, Bay." Kata Alsava senang, lalu memilih makanan yang dia suka.


"Semenjak kemarin, setelah tau kamu hamil kembar 4. Pasti kamu bakalan lapar terus, jadi aku langsung menelpon Joe mengurus semuanya. Agar kamu ngga repot ke supermarket, semuanya sudah ada dan komplit." Nufail memeluk Alsava dari belakang, Alsava tengah asyik memilih buah-buahan.


"Anak sultan mah bebas melakukan apa aja, aku salut sama kamu. Bisa tau apa yang aku mau." Alsava menaruh buah dan membalik badan.


"Iya, dong. Aku akan melakukan apa aja demi kamu, Yank. Apalagi demi sih twins 4 ini." Nufail mengelus perut Alsava.


"Terimakasih ya, Bay. Aku jadi makin terlope sama kamu." Alsava mencium pipi kiri Nufail.


"Di sini, disini, di sini dan di sini." Nufail menujuk pipi sebelah kanan, Kening, dagu dan terakhir bibir.


"Baiklah, Mmuuaacchh... Mmuuaacchh... Mmuuaacchh... Mmuuaacchh." Alsava mencium seluruh wajah ganteng Nufail.


"Terimakasih, sayang. Nah, sekarang kamu pilih mau makan yang mana." Kata Nufail mengecup kening Alsava.


"Dengan senang hati, Bay."


Alsava menuju buah-buahan dan ketempat cemilan, ia seperti anak kecil yang senang di ajak belanja dan memilih apa yang dia mau.


"Istriku ini sangat menggemaskan." Nufail tersenyum melihat tingkah Alsava.


Setelah puas memilih, Alsava dan Nufail menuju ruang tamu. Art sudah pada mulai sibuk dengan tugas masing-masing.


Tiba-tiba Joe datang menghampiri Nufail.


"Pagi Boss..." Sapa Joe.


"Pagi, kamu kenapa datang sepagi in?." Nufail heran.

__ADS_1


"Maaf Boss, kalau kedatangan saya mengganggu. Tapi ini penting saya sampaikan."


"Ngga kok Joe, kamu duduk aja dulu." Alsava mempersilahkan Joe duduk. Joe melirik kearah Nufail untuk minta persetujuan, Nufail menganggukkan kepala.


"Terimakasih Bu Boss." Joe ikut duduk.


"Jadi ada apa loe kesini?." Kata Nufail datar.


"Begini Boss, hari ini ada meeting penting. Harus Boss yang mewakili sendiri, karena ini untuk kemajuan perusahaan Boss. Rekan kita di Jepang dan Eropa secara langsung membahas ini."


"Baiklah, jam berapa rapat di mulainya?." Nufail tetap santai dan memasukkan mulutnya beberapa cemilan.


"Jam 7 pagi nanti, Boss."


"Baiklah, mumpung sekarang sudah waktunya jam 5 Subuh sana loe sholat dulu." Nufail menunjuk ke arah toilet di bawah tangga.


"Sial Boss, saya permisi terlebih dahulu


"Yuk, Yank. Kita mandi dulu junub abis itu kita sholat." Nufail menggandeng tangan Alsava.


"Iya, Bay."


Skip


Waktu sudah menujukkan pukul jam 6, ketika Nufail ingin berangkat. Alsava datang dengan penampilan sangat rapi.


"Tunggu, Bay." Teriak Alsava.


"Kamu mau kemana, Yank." Nufail heran.



"Hufh! baiklah, tapi kamu nanti ngga boleh kemana-mana di ruangan ku oke." Nufail memegang tangan Alsava.


"Iya, Terimakasih ya." Alsava terbinar.


Mereka masuk ke dalam mobil masing-masing, Nufail dan Alsava menaiki mobil kesayangan Nufail. Sedangkan Joe menggunakan mobil lain, ia mengikuti mobil Nufail dari belakang.


Tibalah mereka di perusahaan, sebagain karyawan menyambut kedatangan Nufail dan sang istri.


"Wah! mereka pasangan serasi ya."


"*Kaya pangeran dan putri dari khayangan."


"Jadi iri kapan mempunyai pasangan sempurna seperti mereka."


"Cantik dan ganteng*."


Itulah kata-kata dari karyawan.


"Babay, kita kaya artis aja." Bisik Alsava.

__ADS_1


"Ya, gitulah. Kitakan cantik dan ganteng." Nufail mengecup bibir Alsava.


Semua karyawan teriak histeris.


"*Jiwa jomblo ku meronta."


"OMG, mereka selalu bikin aku meleleh*."


"Ish! kamu malu tau di lihat orang." Alsava memukul lengan Nufail.


"Biarin, mereka tau kalau kamu cantik hanya untuk ku." Nufail memeluk Alsava dengan posesif.


"Ceritanya cemburu nih."


"Ya, jelas doang. Cuma aku aja yang boleh memuji kecantikan mu, lagian kamu dandan terlalu cantik. Aku tak bisa membiarkan orang melihat kecantikan mu."


"Mulai lebay dech." Alsava langsung masuk ke ruangan Nufail.


"Benaran, Yank. Aku cemburu kalau ada yang memuji kamu, apalagi yang Muji itu para laki-laki. Aku tak rela." Nufail memeluk Alsava dari belakang.


"Hhmmm, Maaf Boss rapat akan segera di mulai." Joe berdehem.


"Baiklah, loe kesana duluan. Nanti gue akan nyusul." Nufail melepas pelukkan.


Nufail duduk dan menghadap ke perut Alsava.


"Twins, jaga Mommy kalian dan jangan nakal di dalam sana ya. Cup." Nufail mencium perut Alsava.


"Iya, Daddy. Semangat kerjanya." Alsava meniru suara anak kecil.


"Menggemaskan sekali istriku ini, kalau ngga rapat penting udah aku lahap kamu." Nufail mencium bibir Alsava.


"Udah sana, kasihan mereka menunggu terlalu lama." Alsava melepas ciumannya.


"Baiklah, kalau apa-apa nanti kamu bisa minta tolong sama Joe. Oke." Nufail memegang pipi Alsava.


"Iya, Babay ku sayang yang paling ku cintai. Cup." Alsava mengecup bibir Nufail.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2