Aku Bukan Siapa-siapa

Aku Bukan Siapa-siapa
Siuman


__ADS_3

"Baiklah, tapi tunggu aku sangat tidak yakin. Jangan-jangan kalian ini malaikat pencabut nyawa, ngga aku ngga mau ikut. Anak-anak ku masih bayi sangat membutuhkan aku, sana kalian pergi." Alsava memundurkan langkahnya, yang tadinya dia tidak ketakutan. Entah pemikiran dari mana bayangan malaikat pencabut nyawa muncul di otak Alsava, menjadi Alsava ketakutan.


"Astaghfirullah, sayang. Jangan berpikir seperti itu, lihat baik-baik ini aku Nufail Zhafran Al Ghazali suami dari Alsava Putri Alvendra dan anak-anak ini adalah kita, sayang." Nufail berusaha meyakinkan Alsava.


"Aku tetap ngga percaya... Ah! aku baru tau jangan-jangan kalian ini pasti setan, kamu itu pocong atau sejenisnya dan anak-anak ini pasti tuyul... ngga-ngga... aku ngga mau ikut kalian." Alsava semakin ketakutan dan melangkah mundur.


"Kamu yang ngaco... Baiklah, secara halus kamu ngga mau ikut terpaksa aku melakukan ini." Nufail kesal, lalu menggendong Alsava seperti karung beras.


"Turunkan aku... Aku ngga mau ikut... Tolong aku di culik dedemit..." Teriak Alsava, ia memukul Nufail.


🌸🌸🌸🌸🌸


Alsava membuka mata dan melihat sekeliling ruangan.


"Alhamdulillah, sayang. Akhirnya kamu bangun juga... Hebat nak, bisa membangunkan Mommy, terimakasih sayang. Mmuuaacchh... " Nufail senang, lalu menggendong bayinya dan mencium kening sih bayi dan Alsava.


Alsava diam melihat interaksi Nufail dengan bayinya.


Dokter Chelsea memeriksa Alsava.


"Alhamdulillah, tuan. Nyonya Alsava tinggal menunggu kesembuhan aja." Kata Dokter Chelsea.


"Terimakasih, Dok." Ucap Nufail.


"Sayang, lihatlah ini salah satu bayi kita." Nufail mendekati bayi ke Alsava.


"Babay, ini benaran kamu dan ini benaran anak kita. Bukan tuyul?." Alsava menyentuh pipi Nufail dan Bayinya. Dokter Chelsea tersenyum.


"Astaghfirullah, sayang. Ini anak kita, ganteng-ganteng begini anak kita di bilang tuyul." Nufail terkejut dengan ucapan Alsava.


"Hehehe... tadi aku bermimpi sangat aneh. Ya sudah jangan di bahas, sini anaknya. Aku ingin menggendongnya." Tangan Alsava ingin meraih bayi.


"Sayang, biar aku aja." Nufail duduk disamping Alsava.


Dokter Chelsea dan suster mencabut alat-alat yang masih di tubuh Alsava.

__ADS_1


"Semua alat-alat sudah di cabut, nyonya Alsava bisa dipindahkan keruang inap." Kata Dokter Chelsea.


"Baik, siapkan kamar yang paling bagus dan bisa muat dengan kami berenam dan keluarga." Perintah Nufail membuat Dokter Chelsea.


"Dia pikir ini penginapan apa, sultan mah bebas." Kata Dokter Chelsea dalam hati.


"Baik, tuan. Kami akan sediakan, kalau begitu saya pamit undur diri dan membawa kembali baby ke ruang bayi." Kata Dokter Chelsea sambil menggendong bayi. Empat bayi Alsava dan Nufail sudah di pindahkan di kamar inap khusus bayi. Tapi harus tetap steril.


"Baik, dok. Jangan lupa pesanan saya yang tadi." Nufail mengingatkan.


"Baik, tuan."


Setelah Dokter Chelsea keluar, Nufail memeluk Alsava dan mencium Alsava bertubi-tubi.


"Aku sangat merindukan kamu, sayang. Aku tidak sanggup melihat mu menderita, maafkan aku selama ini selalu membuat mu marah, kesal atau benci." Nufail memeluk Alsava.


"Ish... Kamu, untung aku masih lemas kalau tidak udah aku cubit gemas kamu." Alsava merasa senang bisa kembali lagi ke sisi Nufail.


"Terimakasih, sayang. Kamu sudah melahirkan anak-anak kita, hingga mempertaruhkan nyawa mu. Aku semakin mencintai mu, sayang." Nufail mencium tangan Alsava.


"Istirahat lah kamu, untuk masa penyembuhan. Besok kita cari nama untuk ke empat anak kita." Nufail membelai rambut Alsava.


"Iya, Babay. Kamu jangan kemana-mana, temani aku disini."


"Iya, sayang."


Di luar kamar.


Semua keluarga dan sahabatnya Alsava sedang menunggu kabar Nufail untuk keadaan Alsava saat ini.


"Kebiasaan itu menantu mu, kalau udah sadar Alsava di kekepin. Ngga tau apa kita ini penasaran." Ucap Umi Aisyah penasaran.


"Hahaha... Anak mu itu, Syah." Mama Savara tertawa.


"Aku heran sifat dia dari mana, padahal Abinya ngga kaya gitu." Umi Aisyah duduk di samping Mama Savara.

__ADS_1


"Entahlah, mungkin noh. Dari calon Abi barunya Nufail hahaha..." Bisik Mama Savara, lalu menunjuk kearah Papi Mario yang sedang ngobrol bersama Papa Alven dan Opa Smith.


"Syah, terima aja Mario. Sudah terlalu kamu mempertimbangkannya, Mommy ingin melihat kamu bahagia bersama orang yang kamu cintai. Lagi pula Nufail sudah setujuh, begitu juga Abbas." Oma Anne ikut nimbrung.


"Iya, Syah. Terima aja Mario, kalian berdua itu masih saling mencintai." Kata Mama Savara.


"Aku akan menjawabnya nanti setelah Alsava keluar dari rumah sakit ini." Ucap Umi Aisyah.


"Semoga jawaban itu membuat kami senang." Oma Anne senang.


"Iya, Mom. Insya Allah." Kata Umi Aisyah.


"Mommy jadi merasa hidup lebih bahagia melihat anak-anak mempunyai pasangan dan mendapatkan cicit sekaligus 4, kebahagiaan Mommy ini tidak bisa Mommy ucapkan dengan kata-kata." Oma Anne memeluk Umi Aisyah dan Mama Savara.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan Lupa Like, Vote dan komentar ya...


See You... 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2