
1 bulan kemudian
Tak terasa sudah 1 bulan sejak resepsi pernikahan Alsava dan Nufail. Papa Alvendra, Mama Savara, Opa Smith dan Oma Anne sudah kembali ke London. Sedang Bang Alvan mengurus perusahaan keluarga smith di bantu oleh Umi Aisyah dan Papi Mario, karena Nufail tidak mengizinkan Alsava berkerja.
"Babay, aku besok bekerja ya. Kasihan Umi dan Papi harus gantiin aku." Alsava duduk di samping Nufail yang sedang asik dengan laptopnya. Nufail menghentikan kegiatannya dan menatap Alsava.
"Aku ngga mau kamu kelelahan, Yank." Nufail menaruh Laptop di meja dan memegang pipi Alsava.
"Ish! aku kan di sana cuma duduk aja, lagian aku itu bosan di rumah terus. Bay." Alsava bergelayutan manja di tangan Nufail.
"Kamu kan lagi hamil, Yank. Kamu bukan bawa 1 anak di dalam kandungan kamu melainkan 4 anak, Yank. Aku ngga mau kalian kenapa-napa, kalian itu hidup aku." Nufail mencium tangan Alsava.
Author jelaskan ya, kemarin Nufail dan Alsava periksa kandungan. Hasilnya Alsava benar mengandung kembar, malah 4. Karena pas waktu pertama periksa itu kurang jelas titiknya. Maaf nih kalau ada yang kurang jelas.
"So sweet banget sih suami ku ini." Alsava mencubit gemas pipi Nufail.
"Sakit, Yank."
"Hehehe... Biarin." Alsava berlari, pas di tangga ia membalikkan badan dan tersenyum.
"Kamu sangat menggodakan, sayang." Nufail mengejar Alsava.
Alsava menggunakan dress putih dan terbuka, membuat Nufail tergiur.
(Sorry peran Alsava aku ganti ya...)
"Ayo, kejar."
"Lihat aja, nanti ketangkap ngga akan ampun."
Nufail berhasil menangkap Alsava, lalu menggendong Alsava gaya bridal style.
__ADS_1
"Kenakan kamu. Cup." Nufail mengecup bibir Alsava.
Alsava tersenyum dan mengalungkan tangan ke leher Nufail.
Nufail mencium bibir Alsava dan melumatkan sampai tiba di kamar mereka.
"Sayang, aku menginginkan lebih." Nufail melepas ciumannya.
"Lakukanlah, tapi ingat pelan-pelan. Ada anak mu disini." Alsava mengelus perutnya.
"Oke, My twins. Daddy akan menengok kalian." Nufail melepas pakaian dan pakaian Alsava.
Mereka melakukan pergumulan hingga waktu tengah malam. Nufail menyudahi pergumulan dengan Alsava, ia sadar saat ini Alsava sedang mengandung anaknya.
"Sayang, Terimakasih ya. Aku ngga mau melakukan hingga pagi, takut kamu dan twins kenapa-napa." Nufail mencium kening Alsava.
"Iya, Babay." Alsava memeluk badan kekar Nufail. Mereka tertidur.
Alsava turun dari ranjang dan menggunakan dress yang di buka Nufail tadi malam, untung tidak di sobek.
Kemudian Alsava menuju dapur, melihat isi kulkas kosong. Ia mengerucutkan bibirnya.
"Duh! lapar banget, ngga ada apa-apa lagi di kulkas. Sabar ya twins, kita bangunkan Daddy." Alsava mengelus perut ratanya.
Alsava kembali ke kamarnya.
"BABAY." Teriak Alsava di pintu.
Nufail terjungkal jatuh kelantai, ia kaget teriakan Alsava.
"Ya Allah, Bay. Kamu ngapain tidur di lantai." Kata Alsava tanpa dosa.
__ADS_1
"Ish! kamu itu, kenapa teriak-teriak. Ini masih gelap, Yank." Nufail berdiri dan melihat jam di dinding.
"Aku lapar, Bay. Di kulkas isinya kosong, masa rumah segede ini kulkas bisa abis sih." Gerutu Alsava, lalu ia duduk di ranjang sambil melipat kedua tangan di dadanya.
"Masa sih, coba kita lihat." Kata Nufail tidak percaya.
"Benaran, ya udah kita cek." Kata Alsava agak kesal.
Nufail menggendong Alsava gaya bridal style.
"Kenapa aku di gendong, Bay?." Alsava terkejut yang tiba-tiba di gendong.
"Biar kamu ngga lelah, sayang. Cup." Nufail mengecup bibir Alsava.
Mereka berdua menuju dapur.
"Udah sampai turunkan aku, Bay."
"Baiklah." Nufail perlahan-lahan menurunkan Alsava.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1