Aku Bukan Siapa-siapa

Aku Bukan Siapa-siapa
Welcome In Indonesia


__ADS_3

Inggris


Acara resepsi pernikahan Nufail dan Alsava di majukan, karena permintaan Opa Smith. Malam ini Nufail dan Alsava sedang bicara dengan Opa Smith di ruang kerja.


"Pokoknya kalian sudah berangkat ke Indonesia, minggu depan resepsi pernikahan kalian Opa majukan. Karena banyak relasi yang ingin mempersunting kalian." Kata Opa Smith.


"Aku setuju Opa, biar tidak ada pria yang berani mendekati Alsava lagi." Nufail menyetujui dan merangkul Alsava dengan posesif.


"Loh! kok gitu Opa, mendadak banget kami kan belum menyiapkan semua." Kata Alsava menolak.


"Alsava sayang, Opa seperti itu demi kebaikan kita." Nufail membelai rambut Alsava yang panjang sebahu.


"Kalian tenang aja semua sudah di persiapkan disana. Kalian tinggal duduk manis." Opa Smith kekeh.


"Baiklah." Alsava pasrah.


"Opa kami undur diri dulu, ada yang mau kami urus sebelum pergi." Pamit Nufail.


"Ya, sudah. Sana." Opa Smith melambaikan tangannya.


"Assalamualaikum." Serentak, lalu pergi.


Setelah sampai di rumah mereka.


"Babay, kamu yakin kita harus mengadakan resepsi pernikahan di majukan. Bagaimana dengan perusahaan kamu?." Kata Alsava, ketika memasuki rumah mereka.


"Yakin dong sayang, untuk urusan perusahaan kan masih ada asisten aku. Udah kamu jangan mikir yang macam-macam." Nufail memeluk Alsava.

__ADS_1


"Ya sudah, yuk. Kita bereskan barang-barang yang mau kita bawa nanti." Alsava menarik Nufail.


"Tadi katanya ngga mau di majukan, sekarang malah buru-buru. Bilang aja kamu ngga sabaran mau ketemu mantan kamu." Kata Nufail yang sebenarnya ia takut Alsava ketemu dengan Abbas.


"Ish! Siapa Juga mau ketemu borokokok, ih! amit-amit dech. Kamu jangan berpikir seperti itu, cinta aku hanya untuk mu. Babay Nufail sayang. Mmuuaacchh..." Alsava mengecup bibir Nufail, membuat empunya tersenyum.


"Kamu mau menggoda ku ya... Tak akan ku biarkan kamu lepas." Nufail menggendong Alsava dengan bridal style.


"No, besok kita udah berangkat. Aku ngga mau nanti kamu beri stempel banyak di leher ku, bikin aku malu nanti di perjalanan." Alsava menolak.


"Tidak ada penolakan." Kekeh Nufail.


Tibalah di kamar, Nufail menaruh pelan Alsava di ranjang. Lalu mencium dan melumatkan bibir Alsava yang sudah membuat candu.


"Mmmmhhhffppo..." Alsava berontak, tapi Nufail tidak mempedulikan. Malah ia asyik bermain dua gunung kembar, lama-kelamaan Alsava menyerah dan menikmati sentuhan Nufail.


"Malam ini kita bergadang dan kamu akan menikmatinya, ini beda dengan yang lain." Nufail dengan senyum liciknya.


"Ish! Suami Onta mau ngapain, sangat mengerikan. Abislah aku ngga akan bisa berjalan nanti." Kata Alsava dalam hati, ia menelan silvana.


Yah, perkataan Nufail memang benar. Alsava sangat menikmati, hingga ia malu sendiri. Karena baru kali ini Alsava merasakan sensasi yang sangat luar biasa.


Mereka melakukan pergumulan hingga subuh. Membuat Alsava tidak bisa berjalan, merasa kakinya lemas.


"Ini gara-gara kamu, gendong aku mau kekamar mandi." Kata Alsava.


"Iya, sayang. Tapi menikmati kan." Nufail mengangkat kedua alisnya.

__ADS_1


"Ish! tau ah! cepat gendong, aku mau mandi." Wajah Alsava merah merona.


Mereka mandi bersama dan abis itu mereka tidak lupa menjalankan sholat subuh.


Setelah sholat Subuh, mereka membereskan barang-barang yang mau di bawa.


"Kita jangan membawa pakaian terlalu banyak, disana kita beli aja." Nufail memeluk Alsava dari belakang.


"Iya, Babay." Alsava melipat pakaian.


.


.


.


.


.


.


.


Semangat update... 💪💪💪💪


Jangan lupa like, vote dan komentarnya...

__ADS_1


__ADS_2