
Empat Baby kembarnya sudah tertidur dan di jaga oleh Baby Sister. Alsava turun dari tangga, semua mata memandangi dirinya mulai dari bawah sampai ke atas.
"Subhanallah, sayang. Kamu cantik sekali, Nak." Umi Aisyah senang. Akhirnya menantu kesayangan mau berhijab.
Alsava menggunakan gamis pink dan kerudung berwarna senada dengan gamisnya, pakaiannya membuat aura kecantikan Alsava terpancar.
Nufail ternganga dan matanya tidak berkedip sama sekali, Abbas melihat tingkah Nufail malah tersenyum. Dia sudah tidak memperdulikan Alsava.
"Woi! Itu iler netes." Abbas menyenggol tangan Nufail.
"Hah! Masa sih." Nufail mengelap bibirnya.
"Hahaha... Dasar Onta Arab." Abbas menggelengkan kepala.
"Assalamualaikum semuanya." Sapa Alsava.
"Wa'alaikumsalam." Serentak.
"Masya Allah, Yank. Sumpah kamu tambah cantik berhijab, aku jadi makin cinta." Nufail memegang tangan Alsava.
"Terimakasih Babay, aku juga makin cinta mempunyai suami selalu tampan, perhatian, pengertian dan masih banyak lagi." Alsava tersenyum.
"Alhamdulillah, Nak. Kamu berhijab tinggal mama dan Oma yang belum, insya Allah. Mama akan cepat menyusul kamu berhijab." Mama Savara memegang pipi Alsava.
"Iya, pelan-pelan saja. Aku itu sebenarnya dari dulu ingin berhijab, tapi hati ku bertolak belakang alias menolak. Saat aku melahirkan ke empat anak kembarku, aku mendapatkan hidayah Allah. Makanya aku langsung berhijab, Umi. Alsava mohon bimbing Alsava untuk mendapatkan ridho Allah." Kata Alsava.
"Iya, sayang. Doakan mama dan Oma bisa berhijab seperti kamu dan keluarga lainnya." Kata Mama Savara.
"Amiin Ya Robbal'alamin."
__ADS_1
"Hai calon kakak sepupu yang cantik." Goda Abbas membuat Nufail menatap Abbas dengan tajam, Abbas senang menggoda Alsava agar Nufail cemburu.
"Loe ngga boleh memuji kecantikan Bini gue, jangan harap loe bisa menikah dengan Khumaira." Nufail memeluk Alsava dengan posesif.
"Ya elah, gue kan hanya menggoda loe. Gitu aja marah, cepat tua loe nanti. Ayo, baby kita langsung ke KUA." Ketika Abbas ingin menarik tangan Khumaira. Papi Mario menarik kuping Abbas.
"Jangan pegang-pegang belum sah. Lagian anak orang langsung di tarik ke KUA, izin dulu sama pawangnya." Kata Papi Mario.
"Auw... Sakit, Pi. Deman amat narik-narik telinga aku. Abis aku tidak mau dicurigai terus masih menaruh hati, padahal hati ku sudah berlabuh di Khumaira. Walau belum pernah melihat wajah Khumaira, tapi aku yakin Khumaira Jodoh yang di kirimkan oleh Allah." Abbas menatap Khumaira, sedangkan Khumaira malu-malu.
"Ih! gemas banget melihat kamu malu-malu gitu ingin cepat halalin kamu." Batin Abbas.
"Alhamdulillah kalau gitu."
"Oia, Pak Ibrahim kapan mereka melakukan pernikahan?." Kata Papi Mario, lalu menghampiri Abi Ibrahim.
"Minggu depan aja, Pi. Biar dia tidak menggoda Alsava lagi dan aku jadi tenang." Kata Nufail.
"Oke, Joe dan Sekretaris Roy yang akan mengaturnya. Jadi loe tinggal duduk manis aja, semua biaya tenang aja." Kata Nufail.
"Widih! Kalau Sih Bos yang ngatur semua gue bisa tenang, apalagi di biayain sangat Alhamdulillah gue. Hahaha..." Kata Abbas.
"Iya, dong. Sultan, kalau untuk Papi dan Umi lebih baik bulan depan aja. Tapi terserah kalian aku mah ikut aja dan ngga mungkin juga Umi minta di biayain, kan kekayaan Umi lebih dari Nufail."
"Ish, apan sih kamu. Umi mau hanya akad nikah aja, udah tua malu pake di rayakan."
"Ngga apa-apa syah, apalagi kamu nikah bareng Abbas dan Khumaira. Pasti seru tuh." Saran Mama Savara.
"Ngga mau, udah jadi nenek-nenek dan kakek-kakek malah di rayakan. Apa kata dunia nanti, inti dalam pernikahan itu adalah ijab qobul untuk di rayakan itu belakangan. Soal mahar juga jangan memberatkan pihak laki-laki, kalau seandainya pihak laki-laki cuma mampu hanya segemgam emas atau selembar uang. Terima aja dan jalankan ijab qobul saja terlebih dahulu, siapa tau abis nikah rezekinya malah bertambah. Karena kita ikhlas melakukannya, tujuan nikah adalah menjalin silaturahmi dan mempererat hubungan antar keluarga." Umi Aisyah mulai ceramah.
__ADS_1
"Iya, Ustadjah." Kata Mama Savara.
"Aku tidak salah pilih, kamu memang wanita luar biasa dan sempurna. Aisyah, terimakasih mau menerima aku kembali." Papi Mario menatap Umi Aisyah.
"Iya, aku juga masih ada kekurangan yang belum kamu ketahui. Cuma Allah yang maha sempurna." Kata Umi Aisyah.
"Wah! kalau begini, lebih baik besok langsung ijab qobul aja. Bagaimana setuju kan?." Nufail menggoda Uminya.
"Benar itu, biar aku dan Khumaira bisa ikut nikah juga besok." Sahut Abbas.
"Itu emang mau loe." Nufail melempar bantal ke arah Abbas.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like, Vote dan Komentarnya ya...
See you... 😘😘😘😘