
"Sayang, ini sudah sebulan kamu masih berbaring di tempat tidur. Aku sengaja tidak memberi nama untuk anak-anak kita, aku ingin kamu yang memberi nama untuk mereka. Maka cepatlah kamu bangun, sayang... Apa kamu tidak mau melihat anak-anak, mereka sangat membutuhkan mu. Saat ini mereka hanya minum susu formula, masa kamu tega membiarkan mereka minum susu formula. Padahal kamu sendiri bertekad mau memberi Asi hingga umur 2 tahun. Ayo, kamu bangun. Aku sangat merindukan mu, sayang." Nufail memegang tangan Alsava dan mencium tangan Alsava.
"Ya Allah, sungguh aku tidak sanggup melihat istriku seperti ini. Ku mohon sembuhkan istriku dan jangan Kau ambil istriku, aku tidak akan sanggup hidup tanpanya." Nufail berdoa.
"Tuan, saya sarankan. Bagaimana salah satu dari 4 bayi kembar di letakkan di sebelah Nyonya Alsava, siapa tau dengan adanya kontak batin dari anaknya Nyonya Alsava bisa siuman." Saran Dokter Chelsea, ia tidak tega melihat Nufail. Sudah sebulan Nufail tidak beranjak dari tempat duduk di samping ranjang Alsava, Nufail selalu menemani Alsava.
"Kamu benar, Dok. Saya akan membawa anak saya, kamu tunggu disini. Jangan kemana-mana." Mata Nufail terbinar dan langsung kekamar anaknya.
"Sayang, lihat ini aku membawa salah satu bayi kembar kita. Lihatlah sayang, mereka membutuhkanmu." Pelan-pelan Nufail meletakkan Bayi di samping Alsava. Lalu, Dokter Chelsea membuka bedongan baby, kemudian sih Bayi menggerakkan tangannya dan menyentuh pipi Alsava.
"Dok, lihat Alsava menggerakkan tangannya." Nufail senang, Alsava sudah bisa merespon.
"Iya, tuan." Dokter Chelsea turut senang.
"Terus, nak. Bangunkan Mommy mu itu." Nufail memberi semangat.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Alsava berada di ruangan gelap, ia nampak ketakutan.
"Hiks... Hiks... Hiks... Babay, Mama, Papa, Bang Alvan, Papi, Umi, Opa, Oma. Kalian ada dimana?Aku takut... Hiks.. Hiks... Hiks... tempat ini gelap banget." Alsava meringkuk menutup wajahnya dengan kakinya, ia merasa ketakutan. Tiba-tiba terdengar suara memanggilnya.
"Mommy...Mommy..." Panggilan anak kecil.
"Aku mendengar suara anak kecil memanggil Mommy... Hhuaa... Aku makin takut." Alsava semakin ketakutan.
"Mommy Alsava... Mommy Alsava..." Terdengar panggilan anak kecil kembali, kali ini memanggil nama Alsava.
"Itu namaku, aku penasaran siapa anak kecil itu. Lebih baik aku ikuti aja suara itu, siapa tau ada petunjuk agar bisa keluar dari ruangan ini." Alsava berdiri dan mengikuti suara anak kecil.
__ADS_1
Kemudian, Alsava melihat cahaya.
"Ada cahaya, apa itu jalan keluarnya dan suaranya juga semakin jelas." Alsava jadi semangat dan mengejar suara anak kecil yang semakin jelas.
Cahaya itu berubah menjadi taman yang indah, banyak bunga berbagai warna, rumput yang hijau dan air sungai yang jernih.
"Subhanallah indah sekali. Apakah aku sekarang berada di surga?." Alsava merasa takjub sekaligus bingung.
Dari kejauhan terlihat Nufail bersama 4 anak kecil, 2 anak perempuan dan 2 anak laki-laki. Mereka sedang melambaikan tangan dan memanggil Alsava. Mereka menggunakan pakaian serba putih.
"Mommy..." Kata 4 anak kecil.
"Sayang, kemarilah ini anak-anak kita. Lihatlah mereka cantik-cantik dan ganteng-ganteng, seperti kamu dan aku." Kata Nufail melambaikan tangan, memanggil Alsava.
"Babay, benarkah itu kamu?." Alsava tidak percaya.
"Ayo, Mom. Kesini kita pulang." Serentak 4 anak kembar.
"Iya, sayang. Kita pulang, aku dan anak-anak sangat merindukan kamu." Kata Nufail meyakinkan Alsava.
Alsava menghampiri Nufail dan 4 anak kembar.
"Ini anak-anak kita, Babay?." Alsava berjongkok agar bisa sejajar dengan 4 anak kembar.
"Iya, sayang. Mereka anak-anak kita, my quadruplet."
"Mommy..."
"Hiks...Hiks... Hiks... Anak-anak ku. Tapi kenapa udah gede aja, perasaan aku baru melahirkan?."
__ADS_1
"Aduh, Sayang. Ini bukan dunia kita, udah jangan banyak tanya. Ikut aja, kita pulang. Sebelum waktunya abis." Nufail kesel, keadaan seperti ini sifat lemotnya Alsava bisa muncul
"Baiklah, tapi tunggu aku sangat tidak yakin. Jangan-jangan kalian ini malaikat pencabut nyawa, ngga aku ngga mau ikut. Anak-anak ku masih bayi sangat membutuhkan aku, sana kalian pergi." Alsava memundurkan langkahnya, yang tadinya dia tidak ketakutan. Entah pemikiran dari mana bayangan malaikat pencabut nyawa muncul di otak Alsava, menjadi Alsava ketakutan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan Lupa Like, Vote dan Komentarnya ya...
See you... ππππ
__ADS_1