Aku Bukan Siapa-siapa

Aku Bukan Siapa-siapa
Mengikuti Nufail


__ADS_3

Alsava langsung kepikiran, ia bukan ke mobil Oma. Tapi ia naik taksi online.


"Pak, maaf kalau nanti tujuan tidak sesuai aplikasi. Tenang nanti saya akan bayar lebih." Kata Alsava pas masuk kedalam mobil.


"Baik, Nyonya." Supir ramah.


"Untung aku sudah memasang GPS di Hp Nufail." Batin Alsava.


Alsava mengikuti jejak Nufail menggunakan GPS di ponselnya.


"Mau kemana sih sebenarnya Babay, aku takut dia kenapa-napa dan ini perasaan ku dari tadi gelisah." Gumam Alsava sambil melihat ponselnya.


Tak lama kemudian, terlihat tidak jauh mobil kesayangan Nufail.


"Pak, kita ikuti mobil hitam yang di belakangnya tertulis NUCIAL. Tapi kita jaga jarak biar tidak ketahuan." Tunjuk Alsava ke arah mobil Nufail.


"Baik, bu." Pak Supir menganggukkan kepala.


"Babay, kamu mau kemana sih sebenarnya?." Batin Alsava, ia terlihat cemas. Alsava bukan cemas Nufail mau mencelakai Mami Siska, tapi Alsava takut Mami Siska melukai Nufail. Karena Mami Siska itu wanita gila, bisa aja mencelakai Nufail itulah pemikiran Alsava yang saking mencintai Nufail. Ia begitu khawatir, takut Nufail kenapa-napa.


Nufail menelpon Joe.


"Joe, gue ngga mau tau dan caranya bagaimana membawa wanita gila itu di hadapan gue. Dia udah berani-beraninya bermain dengan gue." Kata Nufail, ia udah sangat marah.


"Baik, bos. Tapi saya mau infokan, saat ini nyonya mengikuti bos. Saya takut kalau melihat sifat aslinya bos, dia akan melarikan diri Hahahaha..." Ledek Joe.


"Sue, Loe. Eh! Iya Loe betul, gue lihat dari tadi itu mobil putih selalu berada tidak jauh dari gue. Tapi gue hafal sama plat nomornya." Nufail melihat di kaca spion.


"Hahaha... Anda benar bos, itu nyonya Alsava, siap-siap menjadi duren. Melihat Babay yang sangat lemah lembut, tapi kalau marah melebihi singa kelaparan." Kata Joe, ia senang meledek Nufail. Joe sudah seperti keluarga bagi Nufail, kadang mereka saling mengejek. Tapi tidak pernah berantem.


"Jangan asal ngomong loe, gue potong gaji dan bonus loe." Ancam Nufail.


"Wah! Ngga bisa gitu bos, saya kan memberi info aja. Jangan sampai nyonya tau, kalau saya tidak memberikan info bisa gawat bos."


"Ck, ya udah. Loe urus wanita gila, Loe udah tau kan bagaimana."


"Siap, Bos. Tenang aja bos, pasti beres dan terkendali."


Nufail mematikan sambungan telpon.


"Dasar bos, langsung di matiin. Gimana nasib gaji dan bonus ane nih." Ucap Joe.


"Sayang, kenapa kamu mengikuti ku sih. Kalau begini kan, aku ngga bisa memberi pelajaran sih wanita gila. Aku ngga mau kamu pergi meninggalkan aku, setelah kamu melihat sifat asli ku." Ucap Nufail, ia menjadi cemas. Gara-gara ucapan Joe, membuat Nufail kepikiran.


"Mmm... Sekarang kamu udah berani menjadi penguntit. Oke, aku akan membuat kamu menyesal jadi penuntit, sayang." Nufail senyum devil.

__ADS_1


Nufail membelokkan mobilnya ke hotel, Alsava bingung. Karena tiba-tiba mobil Nufail belok ke hotel kecil.


"Loh! Kok, malah kesini?. Apa mungkin Mami Siska berada di hotel?." Alsava menggaruk kepalanya.


Nufail turun dari mobil dan bersikap biasa, lalu menuju resepsionis. Alsava membayar ongkos taxi.


"Bu ini kebanyakan." Kata Supir melihat uang 10 lembar warna merah.


"Udah, buat bapak dan keluarga." Alsava pelan-pelan turun dari mobil.


"Terimakasih, ya bu." Supir senang.


Nufail melihat dari kaca melihat Alsava sedang sembunyi di pilar.


"Hahaha... Kamu lucu jadi penguntit sayang, Aku jadi tidak sabar melahap mu, sayang." Kata Nufail dalam hati, ia tersenyum.


"Ck, malah tebar pesona. Lagian Babay mau ngapain pesan kamar... Ish! apa mungkin Mami Siska ada di hotel ini. Tapi kok malah Nufail memesan kamar sih." Kata Alsava, ia bersembunyi di pilar.


Setelah Nufail mendapatkan kunci kamar, ia menuju lift.


"Ayo, sayang. Kita akan bersenang-senang hari ini." Batin Nufail.


"Loh! Dia udah naik lift lagi, duh! di kamar dan lantai berapa lagi sih Babay... Ah! Aku tanya sama resepsionis aja dech." Alsava berjalan menuju meja resepsionis.


"Siang, mba. Mau tanya bapak yang tadi itu di kamar dan lantai berapa ya?." Kata Alsava.


"Terimakasih, mba." Alsava menuju lift.


Tibalah Nufail berada di kamar yang ia pesan.


"Sayang, aku menunggu mu." Kata Nufail, lalu masuk kedalam kamar.


Alsava mencari kamar Nufail.


"Nah ini nomor kamarnya... Duh! aku harus bagaimana ya? masa aku mengetuk, pasti ketahuan dong?." Alsava bingung, ia memegangi dagunya.


Pelan-pelan Nufail membuka pintu.


Greb


Nufail menggendong ala bridal style Alsava.


"Kamu sekarang, jadi penguntit ya. Sayang, Mmuuaacchh." Nufail mengecup bibir Alsava.


"Ih! Apaan sih, turunin aku." Alsava merona, ia malu karena ketahuan.

__ADS_1


"Ngga mau, aku ingin menyantap mu." Nufail menaruh pelan-pelan Alsava ke ranjang.


"Ih! emang aku makanan apa!!." Alsava memajukan bibirnya.


"Ini bibir sangat menggoda."


Nufail langsung mencium dan melumatkan bibir Alsava, tangannya memegang dan meremas squishy. Tempat salah satu favorit Nufail.


"Aahh... Babay." Alsava berdesah.


"Terus memanggil ku, sayang... My childs... Daddy coming." Nufail membuka bajunya dan Alsava.


Naga pun bermain di goa, hingga waktu sudah menunjukkan malam.


"Dasar onta bucin, kamu selalu aja membuat ku lelah." Alsava kesal.


"Tapi kamu suka kan?." Nufail menaikkan alisnya.


"Ck, tau ah! Aku mau mandi dan cepat pulang, badan ku sakit semua. Ini gara-gara kamu." Keluh Alsava.


"Ini hukuman buat kamu, yang jadi penguntit sekarang." Kata Nufail.


"Tau, ah!." Alsava dengan kasar menarik selimut, lalu menuju kamar mandi.


.


.


.


.


.


.


Kira-kira Joe memberi hukuman apa buat Mami Siska?


Tunggu kelanjutannya...


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa Like, Vote dan Komentarnya ya...


😘😘😘😘


__ADS_2