Aku Bukan Siapa-siapa

Aku Bukan Siapa-siapa
Kedatangan Keluarga Besar


__ADS_3

"Oia, Mi. Aku punya kabar bahagia." Kata Abbas duduk di samping Khumaira.


"Apa itu nak?." Kata Mami Siska.


"Akhirnya aku bisa menghamili istri ku dan Mami bentar lagi Benar-benar memiliki cucu kandung." Abbas mengelus perut Khumaira yang masih rata. Mami Siska terdiam, apakah harus senang atau sedih. Karena ia masih takut anak yang di kandungan istrinya bukan anak kandung Abbas. Khumaira melihat Mami Siska terdiam, ia menundukkan kepala, ia sedih Mami Siska tidak menyukai kalau ia hamil.


"Mi... Mami..." Abbas menggoyangkan tangan Mami.


"Eh! iya kenapa?."


"Ish! Mami, Abbas tadi kasih tau kalau Abbas bisa hamili istri Abbas. Kali ini Abbas benar-benar bisa membuahi istri Abbas, Mi."


"Mami bukannya ngga senang, tapi Mami takut kecewa Nak."


"Mi, dengar ya. Khumaira bukan wanita macam Eliana, ia Benar-benar wanita soleha. Di keluarganya mengharamkan dia berpacaran dan di dari kecil sudah memakai pakai syar'i dan bercadar seperti ini, Mi. Tidak seperti Eliana yang selalu gonta-ganti pacar dan berpakaian seksi, aku ngga bisa menghamili Alsava dan Eliana itu. Karena waktu aku dalam keadaan koma, ada seseorang yang menyuntikkan aku agar lumpuh. Tapi yang dia suntik itu ternyata KB yang dosisnya tinggi dan berjangka panjang, Mi. Teman dari Nufail sepupunya Khumaira adalah dokter kandungan yang sudah terkenal, jadi aku terapi sama dia dan akhirnya aku bisa membuahi istriku ini. Mi... Mami percayakan apa Abbas ceritakan, Khumaira lah yang sudah banyak merubah diriku lebih baik. Mi, aku seperti kembali hidup lagi. Mi." Abbas menceritakan semuanya akibat dia mandul.


"Astaghfirullah, tega banget itu orang telah mencelakakan kamu, Nak. Khumaira maafkan Mami ya, bukan Mami ngga percaya sama kamu. Mami trauma sama masa lalu." Mami Siska memeluk Khumaira.


"Iya, Mi. Aku tidak pernah sama Mami, hanya saja sedikit tersinggung. Mi." Khumaira mengelus pundak Mami Siska.


"Assalamu'alaikum... Wah! pada lagi ngumpul nih." Kata Papi Mario yang baru datang.


"Wa'alaikumsalam... Mas... Aisyah... Alsava... Kalian datang?." Mami Siska terkejut dengan kedatangan Papi Mario, Umi Aisyah, Alsava, dan Nufail.


"Iya, kami datang. Sis." Kata Umi Aisyah.


"Hiks...Hiks...Hiks.... Maafkan aku Syah, aku banyak salah sama kamu." Mami Siska berlari dan memeluk Umi Aisyah.


"Aku sudah memaafkan kamu, sudah dari dulu. Malah aku berterima kasih, karena aku bisa menikah dengan Mas Adam." Umi Aisyah tersenyum dan memegang bahu Mami Siska.


"Kamu dari dulu selalu baik, padahal aku sudah berbuat jahat sama kamu. Tapi kamu ngga pernah marah sama aku, terimakasih sudah selalu sering memaafkan aku." Mami Siska bergantian memeluk Alsava.


"Alsava, Maafkan Mami... Mami juga banyak salah sama kamu, Mami telah memisahkan kalian. Hiks...Hiks...Hiks... Maafkan Mami, Nak."


"Mami, Aku sudah memaafkan Mami. Jauh sebelum Mami meminta maaf, aku juga mengerti keputusan sama Mami dulu. Mami hanya ingin, Abbas bahagia dan mempunyai keturunan." Alsava membalas pelukan Mami Siska.


"Kamu sungguh baik, Nak. Sama seperti mertua mu ini." Kata Mami Siska melepas pelukan.

__ADS_1


"Mas, Maafkan aku... Aku bukan maksud untuk membohongi kamu, karena aku takut kehilangan kamu dan... Harta mu." Mami Siska mengantupkan tangannya dan menunduk.


"Sama seperti mereka aku sudah memaafkan kamu, walau aku sedikit kecewa sama kamu. Telah membohongi ku, kalau Abbas bukan anak kandung ku. Padahal aku sudah terlanjur sayang sama laki-laki ini." Papi Mario merangkul Abbas.


"Nufail, Maafkan saya.... Mmhh, saya ucapkan terimakasih banyak. Karena kamu telah banyak membantu Abbas, hingga sekarang." Mami Siska mengantupkan tangannya lagi ke arah Nufail.


"Iya, Mi. Bolehkan saya memanggil, seperti Abbas dan lainnya?." Kata Nufail, mengantupkan kedua tangannya.


"Iya, Nak. Silakan, Mami malah senang."


"Baiklah, Mami."


"Oia, selamat ya. Atas pernikahan kalian, akhirnya kalian berjodoh. Aku begitu bodoh memisahkan kamu, Syah."


"Iya, Sis. Sudah kamu jangan sedih mengingat masa lalu, saat ini kita mulai lembaran baru menjadi keluarga besar." Umi Aisyah memeluk Mami Siska.


"Iya, Syah. Aku ngga nyangka kita bakalan jadi keluarga."


Di sis lain.


Joe mendekati Suster Dyah.


"Wa'alaikumsalam... Ada angin apa? Singa dingin bisa ramah seperti ini pada ku, apa kamu kesurupan?." Kata Suster Dyah Judes.


"Singa dingin?kesurupan? Hahaha... Kamu semakin lucu, walau kamu judes seperti ini membuat aku tidak akan melupakan mu. Mungkin ini terlalu cepat bagi mu, tapi aku tidak mau terlalu lama membiarkan kamu menjomblo. Karena akan semakin banyak nanti saingan ku."


"Ngga jelas dan ngga ngerti apa yang kamu bicarakan." Sebenarnya Suster Dyah sudah berdebar-debar.


"Begini, Sus. Aku sebenarnya dari pertama kita ketemu, aku sudah jatuh hati sama kamu. Tapi aku begitu pengecut untuk mengutarakan isi hatiku pada mu, aku takut kamu menolak aku."


"Masa singa dingin seperti diri mu itu bisa jatuh hati sama ku, paling kamu hanya mengerjai aku saja. Biar aku terhanyut dan kamu akan melemparkan aku ke jurang."


"Ya Allah, aku tidak akan tega seperti itu sama kamu. Karena aku benar-benar sangat mencintaimu, percayalah aku sungguh mencintaimu dan ingin kamu menjadi pendamping ku, menjadi ibu dari anak-anak ku?." Joe memegang tangan Suster Dyah, ketika Suster Dyah ingin pergi.


Deg-deg


Jantung Suster Dyah berdetak kencang, baru kali ini seorang pria yang langsung melamarnya. Bukan menjadikan dirinya pacar. Suster Dyah terdiam, ia bingung harus jawab apa.

__ADS_1


"Aku tau mungkin ini terlalu cepat, tapi aku tidak mau berpacaran."


"Iya, ini sangat mendadak banget. Dari awal kita ketemu, kamu dan aku selalu aja berdebat dan sekarang kamu tiba-tiba mengatakan cinta kepada ku. Bukan menjadikan aku kekasih mu, tapi kamu langsung menjadikan aku istrimu. Membuatku bingung, berikan aku waktu untuk memikirkan ini. Karena pernikahan itu sakral, menikah sekali seumur hidup. Aku hanya ingin kita lebih mengenal diri kita masing-masing dulu. Agar nanti kita menikah nanti tau sifat kamu dan aku."


"Baik aku akan memberikan waktu, tapi izinkan aku selalu ada di samping mu. Walau kita hanya sekedar teman atau sahabat."


"Terimakasih kamu sudah mau memberikan aku waktu... Iya, kamu aku izinkan. Tapi ngga pegang-pegangan tangan, peluk, dan... Cium, karena kita bukan Muhrim." Suster Dyah menunduk malu untuk berkata cium.


"Masa Allah sungguh cantiknya calon ku ini. Tapi sayang ngga bisa ku sentuh." Kata Joe.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸


"Kita sekarang sudah menjadi keluarga besar Al Ghazali, jangan sungkan meminta bantuan. Aku siap membantu kalian." Kata Nufail.


"Iya, Bro. Gue ngga akan pernah sungkan sama loe." Kata Abbas.


"Loe, mah. Emang orangnya ngga tau malu."


"Sue Loe..."


"Sudah-sudah jangan pada ribut, nanti akan lama... Pulang, yuk. Bay, aku ngga bisa lama-lama. Karena My quadruplet di rumah, aku ngga tenang meninggal mereka terlalu lama Bay." Alsava memisahkan perdebatan Nufail dan Abbas.


"Hehehe... Aku lupa, Oia. Umi dan Papi masih mau disini?aku dan Alsava akan pulang."


"Kalian berdua pulang aja duluan, kami nanti pulang sama Supir nanti." Kata Papi Mario.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan Lupa Like, Vote dan Komentarnya ya....


See you... 😘😘😘😘😘


__ADS_2